
Lima tahun berlalu ….
Fleur masih teringat peristiwa menyedihkan yang terjadi pertama kali dalam hidupnya itu. Ucapan ibunya tentang kutukan Selena untuknya menjadi nyata. Seumur hidup, gadis itu tidak memercayai segala hal soal kutukan, apalagi mengingat ibunya yang merupakan seorang penyihir. Namun, kejadian malam itu membuatnya berpikir dua kali dan membenarkan perkataan Hera.
Tangan Fleur terulur dan menyebarkan segenggam potongan bunga di atas sebuah pusara. Batu putih itu bukanlah milik James—mendiang suaminya—melainkan milik Hera, sang ibu. Wanita yang menjadi pondasi hidup Fleur itu meninggal sekitar dua bulan yang lalu karena sakit.
Hera tidak pernah memberitahu jika dirinya menderita sakit yang teramat parah, sampai akhirnya ketika dia meregang nyawa, putri tunggalnya menyaksikan hal itu. Fleur telah merasa kehilangan segala-galanya. Kini, dia hanya tinggal sendirian di pondok dan memulai hidup yang baru sebagai manusia normal. Beruntungnya, kondisi di sekitar kediamannya sudah mulai ramai. Banyak orang mendirikan rumah di sana.
Sepulang dari tempat pemakaman, gadis itu mendapati sebuah amplop di kotak surat di depan rumah. Dia mengambil dan membukanya sejenak. Tiba-tiba tangannya gemetar sampai menjatuhkan amplop beserta isinya itu.
Fleur menghela napas. “Berapa kali aku harus bilang kepada orang-orang kalau aku tidak mau datang ke acara pernikahan,” gumamnya, lalu merunduk mengambil benda yang dijatuhkannya barusan.
“Pernikahan siapa?” sahut seseorang sampai kembali menjatuhkan amplop yang sudah dipegang gadis berambut merah itu. Dia mencebik sejenak. “Aku, kan, tidak mengagetkanmu!”
“M-maaf,” ucap Fleur masih sedikit gemetar. “Dari Baron Elgrove,” imbuhnya kemudian.
Wanita gempal yang merupakan tetangga baru Fleur itu mendesah. “Kemarin Duke Morfir, lalu sekarang Baron Elgrove,” celetuknya. “Kamu benar-benar populer di kalangan orang berdarah biru, ya?”
Fleur hanya tersenyum tipis menimpali. “Sebenarnya, mereka mengenalku karena aku sering mengantar obat racikan ke kastelnya,” jawabnya. “Mereka hanya mengenalku sebagai seorang tabib, tidak lebih dari itu.”
“Iya, iya. Lagipula, usiamu juga sudah cukup matang kalau mau mencari pasangan,” timpal wanita gempal itu, lalu mengangkat satu tangan hampir menutupi mulutnya. “Kalau kamu mau, mungkin dengan datang ke acara pernikahan itu, kamu bisa mendapatkan pria yang kamu inginkan.”
Gadis bermata hijau itu terdiam. Seutas senyum simpul kembali terukir di sudut bibir. Dia memutuskan untuk izin masuk ke pondok karena dirasa topik pembicaraan membuat sesuatu dalam dirinya berkecamuk. Beruntung sekali tetangganya itu tidak cerewet dan cukup peduli padanya.
Fleur mendaratkan bokongnya dengan kasar di kursi. Dia mengamati dengan jeli amplop undangan pernikahan di tangannya. Gadis itu ingat sekali kalau dia mendapatkan banyak sekali undangan acara selama ini, tetapi tidak ada satu pun yang pernah didatanginya. Bukannya Fleur malu, tetapi gadis itu tidak cukup berani meski hanya sekadar hadir. Takut kalau orang yang menyentuhnya akan bernasib sama seperti James.
“Ah, itu lagi!” gerutunya karena mengingat kejadian nahas tersebut.
Boro-boro datang ke acara pernikahan orang lain, mendapatkan undangan bahkan sampai mengingat sosok James dan kutukan Selena pada dirinya saja sudah membuat Fleur sesak napas. Gadis itu memegangi jantungnya yang berdegup cepat seolah diburu sesuatu.
“Aku tidak mau datang ke sana,” lirihnya di sela lenguhan sesaknya. Fleur hanya bisa mendaratkan kepalanya di meja, menutupi rasa sakitnya dengan kedua lengan.
***
Namun, di sinilah Fleur sekarang. Entah apa yang mendorongnya datang ke pesta pernikahan Baron Elgrove. Fleur hanya bersiap dengan gaun terbaiknya dan datang ke acara itu dengan membawa sebuah bingkisan yang tentu saja isinya obat-obatan terbaik.
“Aku yakin kamu akan datang kemari, Nona Fleur,” ucap Baron Elgrove yang tampak tampan dengan setelan putihnya. Dia menerima bingkisan dari gadis berambut merah itu. “Terima kasih.”
Fleur mengangguk menimpali. Setelahnya, dia hanya bisa beringsut minggir ketika pesta dimulai. Jantungnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama sekarang. Sesak dan mual yang dirasakannya bukanlah main-main, malah membuatnya ingin muntah sekarang. Fleur yakin peluh sebesar jagung sudah membasahi ketiaknya yang tertutup gaun detik ini.
“Sedang apa, Nona?” Seorang pria tiba-tiba saja mengejutkan gadis tersebut.
__ADS_1
Pria itu mengulurkan tangan. Rambut hitam dengan mata ash-blue-nya sangat kontras dengan setelan biru yang dikenakannya. Pria itu sangat tampan.
“A-aku ….” Fleur tidak bisa berucap sepatah kata pun. Dia justru mengedarkan pandangan hingga membuat pria di depannya itu turut memandang ke arah yang sama.
“Anda sedang mencari siapa?” tanya pria tersebut.
Fleur menggeleng. “T-tidak,” jawabnya. Menyadari tangan pria itu masih terulur, Fleur buru-buru menyalaminya.
“Hans,” ucap pria tersebut dengan ceruk manis terukir di sudut bibir. “Dan Anda?”
“A-aku … Fleur.”
Lagi, Fleur hanya bisa pasrah. Sebenarnya, dia tahu kalau dirinya masih ingin bersosialisasi dengan banyak orang, termasuk dekat dengan pria sekali pun. Namun, entah kenapa sisi lainnya masih mengusung ketakutan kalau nasib yang menimpa James akan terjadi pada pria lain yang mendekatinya juga.
Bahkan, saat Hans mengajaknya berdansa pun Fleur masih sempat-sempatnya tersenyum. Ini kali pertama untuknya, tetapi yang dia rasakan justru cemas berlebihan, bukan bahagia tanpa syarat. Senyuman Hans justru
menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi seorang gadis sepertinya.
“M-maaf, aku harus pulang,” ucap gadis itu kemudian.
Fleur melepaskan kaitan tangannya di tangan Hans, lalu meninggalkan pria tersebut. Sementara itu, Hans menatap kepergian Fleur. Ada sebuah rasa yang menyambangi batinnya detik ini. Apalagi ketika dansa mereka berakhir, sinar sang dewi malam di langit sana seolah meredup.
***
Fleur mendesah. “Kenapa harus dia yang kuingat sih?” gerutunya.
Sosok pria bermata biru yang menjadi pasangan dansanya malam itu masih bergelayut dalam ingatan Fleur. Dia sampai tidak bisa dibuat tidur karenanya. Hans memang tampan dan benar-benar sempurna, tetapi menurut Fleur, pria itu tidak cocok untuknya. Fleur tidak ingin terikat hubungan apa pun dengan pria tersebut.
DAK! DAK! DAK!
Seseorang terdengar menggedor pintu depan pondok dan membuat gadis berambut merah itu tersentak. Dia bangkit dan menelisik sejenak tamunya. Namun, ketika dia membuka pintu, keterkejutan Fleur bertambah. Seorang
pria terkulai lemas di depan pondoknya.
“T-tuan! Ada apa denganmu?” Fleur berlutut. Sesekali matanya mengedarkan pandangan, takut kalau-kalau tetangganya melihatnya.
Cairan merah hampir menggenangi teras pondok sebelum akhirnya Fleur membopoh pria itu masuk ke rumah dan merebahkannya di brankar kayu di ruang periksa. Gadis itu mengobati luka di dada pria tersebut dengan perlahan, tetapi cekatan dan tidak lupa membalutnya dengan perban.
“T-terima kasih,” ucap pria tersebut. Dia menatap intens kepada gadis yang mengobatinya.
Mendapati tatapan seperti itu, Fleur lantas membuang muka. Sedikit pun dia tidak mau berurusan dengan pria selain berhubungan dengan obat-obatan. Fleur akhirnya beralih merapikan kotak obat yang tadi sempat dibukanya.
__ADS_1
Namun, belum sempat dia berhasil membereskan obat-obatan tersebut, pria yang ditolongnya tadi memeluk tubuhnya dari belakang. Kotak obat jatuh dan isinya berserakan.
“A-apa yang Anda lakukan?” Fleur memelotot ketika dia berbalik dan mendapati tatapan pria itu berubah. Makin lekat menatap dirinya.
Pria itu menyeringai. “Ayolah, aku telah berusaha sampai sejauh ini agar kamu mau membawaku masuk ke pondokmu,” ucapnya sambil terus mendekati gadis berambut merah tersebut.
“A-apa maumu?” Tubuh Fleur gemetaran. Dia beringsut mundur, mencoba melarikan diri dari pelukan pria itu.
Nahas, gerakan gadis itu kalah cepat. Pria itu berhasil mencekal tangannya dan langsung membanting tubuh Fleur ke lantai. Gadis itu memberontak, tetapi usahanya sia-sia.
“T-tolong jangan dekati aku!” seru Fleur ketakutan.
Pria itu seolah tidak memedulikan erangan gadis yang dikungkungnya. Kepalanya terus merunduk, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Fleur dan mendaratkan kecupan ganas di sana. Perlakuan kejinya berlanjut hingga bibirnya hendak menyentuh ranum gadis tersebut. Namun, saat sentuhan itu tercipta, tiba-tiba saja pria itu mengerang kesakitan. Dia bangkit dan menjauh dari tubuh Fleur.
Fleur beringsut mundur, berusaha menggapai apa pun untuk pancangannya. Mata hijaunya memelotot ke arah pria yang tubuhnya terbakar itu. Sampai akhirnya, hanya dalam hitungan detik, pria itu terbakar habis sampai menjadi setumpuk abu.
Gadis berambut merah itu terpaku dalam hening. Butir air matanya menetes dari pelupuk, membasahi pipinya yang putih mulus. Dia terisak dengan kondisi tubuhnya yang gemetar hebat.
“Mama … tolong ….”
***
Beberapa jam usai kejadian nahas tersebut, Fleur mengumpulkan abu pria tadi. Dia memasukkannya ke sebuah kain dan menguburnya di belakang rumah. Malam-malam begini memang horor bagi sebagian orang untuk memakamkan jasad seseorang, apalagi sudah dalam bentuk yang tidak utuh. Namun, dengan ketegaran hati, Fleur terpaksa melakukannya.
Dia menangis setelah menumpuk tanah terakhir di kuburan tersebut. Tubuhnya masih gemetar saja sejak tadi. “Mama, tolong aku …,” lirihnya di sela isakan.
Gadis berambut merah itu segera masuk ke rumah. Dia membereskan sisa-sisa perlakuan keji pria tadi sampai tidak berbekas. Namun, fokusnya goyah ketika mendengar pintu pondok diketuk.
“Aku tidak mau membukanya,” desis gadis itu. Dia justru meringkuk di sudut ruang periksa. “Aku tidak mau membuka pintu rumah,” ulangnya masih dengan nada yang sama.
Fleur membiarkan orang-orang yang mengetuk pondoknya berlalu begitu saja, meskipun itu wanita gempal yang menjadi tetangganya. Gadis itu menjadi muram dan takut berhubungan dengan banyak orang selama beberapa
waktu. Bahkan, ketika surat undangan pernikahan dari orang-orang yang mengenalnya datang dan dibiarkannya menumpuk begitu saja di kotak surat.
Pernah sekali saja, Fleur keluar rumah demi mengambil beberapa surat tersebut karena rasa penasarannya. Namun, semuanya berakhir di kamar mandi. Entah kenapa dadanya terasa sesak hingga mual tidak berkesudahan.
“Apa aku sakit, ya?” gumamnya usai mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi sembari memeriksakan dirinya sendiri. “Tidak tuh. Aku baik-baik saja.”
Fleur menghela napas. Dia segera bangkit dan menuju ke kamarnya. Namun, ketukan pintu di pondoknya kali ini benar-benar membuatnya gusar. Gadis itu berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Amarahnya berubah ketika mendapati pria terkapar di teras dengan luka tusukan di punggungnya.
“T-tuan!”
__ADS_1
Pria itu menengadah menatap Fleur. “T-tolong ….”
***