
Tahun demi tahun berlalu, Fleur tidak pernah menduga jika dirinya mampu melewati semua kesulitan sendirian. Dia menghela napas, lalu sesekali melirik ke arah belakang rumah. Sesuatu merenggut pikirannya.
Entah sudah berapa orang pria yang menghampiri pondok dan hendak memerkosanya. Mereka terluka, ya, benar-benar terluka. Namun, Fleur tidak menyangka jika para pria itu mendatangi dirinya hanya untuk meloloskan nafsu mereka saja.
“Sudah berapa? 50 orang?” gumam gadis berambut merah tersebut.
Fleur meneguk saliva, berjalan menuju belakang rumah. Dia memeriksa sebuah tungku berisikan ramuan obat-obatan. Meskipun dia tidak pernah bertemu banyak orang, tetapi banyak yang memesan obat racikan darinya.
Namanya memang cukup populer, mengingat Hera—sang ibu—dulunya adalah peracik obat juga.
“Sudah hampir matang.” Gadis itu mencicipi sedikit ramuannya. “Och, pahit!”
Fleur menghela napas dan segera mengangkat tungku kecil itu, lalu meletakkannya di meja. Sayup angin musim gugur menerpa rambut merahnya. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang seputih porselen.
Gadis itu menatap ke luar dapur, mendapati tanah lapang yang terlihat seperti bekas galian. Dia terdiam. Di sanalah Fleur menguburkan abu para pria penggodanya selama ini tanpa ketahuan siapa pun.
Fleur berbalik mengurus ramuannya. Namun, tiba-tiba seseorang mengejutkannya. Seorang perempuan gempal yang merupakan tetangga Fleur lari tergopoh-gopoh menghampiri pintu belakang pondok gadis tersebut.
“Fleur! Fleur!” serunya tersengal.
Gadis itu menoleh, lantas menghampiri pintu dapur. “Ada apa?” tanyanya.
“Kamu belum tahu? Orang-orang mencarimu!” tukas wanita itu.
Kening Fleur mengerut. “Untuk apa? Apa mereka mau memesan obat atau ada yang terluka?” Dia masih inosen seperti biasanya.
Wanita itu menghela napas berat. Baginya, Fleur bukanlah ancaman dan hanya tetangga biasa karena dia juga tidak mengetahui soal tragedi abu para pria. Dia menggenggam kedua tangan Fleur seketika. “Ada gosip beredar,” ucapnya. “Banyak pria menghilang dalam beberapa tahun terakhir dan orang-orang mencarimu karena mereka kira kamulah penyebab menghilangnya para pria!”
Mata Fleur menyalang sekejap. “Hah? Maksudnya?”
“Fleur, dengarkan aku, kamu masih cantik di umurmu yang sekarang. Dan orang-orang tahu soal popularitasmu di kalangan para bangsawan,” ujar wanita gendut itu. “Jadi, mereka mengira kalau kamulah yang melenyapkan para pria. Sudahlah, kenapa kamu polos sekali sih?”
Wanita itu mendengkus. Bagaimanapun, Fleur mungkin tidak tahu-menahu soal gosip yang beredar karena gadis itu sama sekali tidak pernah bertemu dengan banyak orang. Namun, nyatanya, dia sebagai tetangga Fleur pun tahu kalau ada banyak orang yang mendatangi rumah gadis itu untuk meminta pengobatan dan semua pasiennya adalah pria.
“A-aku … apa yang harus aku lakukan?” Fleur malah bertanya dan kini dia tampak kebingungan.
__ADS_1
“Kabur.”
Netra hijau Fleur membola. “Kabur?”
Wanita gendut itu mengangguk. “Pergilah, Fleur,” pintanya bahkan dengan raut wajah penuh duka. “Oh, aku serius, kalau kamu tidak di sini, aku akan kehilangan tetangga nanti.”
Fleur mulai dilanda dilema. Bagaimana bisa dia meninggalkan pondok yang selama ini menjadi tempat perlindungannya? Mana dia tega? Pondok itu adalah saksi bisu sejak ibunya diusir dari desa karena pekerjaannya sebagai penyihir.
“Fleur.” Wanita itu memanggil hingga gadis berambut merah di depannya menoleh. “Biar aku yang menipu orang-orang. Kamu, pergilah untuk sementara waktu,” ucapnya. “Aku janji akan menolongmu.”
***
Aku janji akan menolongmu.
Fleur mendesah. Dia masih teringat dengan ucapan tetangganya itu. Wanita itu benar-benar baik padanya selama ini, tetapi Fleur merasa belum cukup dan kini berhutang budi padanya.
Samar-samar terdengar sebuah teriakan bersahutan dari kejauhan. Fleur berhenti dan menoleh sejenak. Dia sudah cukup jauh, sekitar 100 meter dari pondoknya kali ini karena kabur melalui hutan di belakang rumahnya tersebut. Namun, suara orang-orang membuat telinganya bising. Fleur beringsut melanjutkan perjalanannya.
“Apa yang harus aku lakukan setelah ini?” gumamnya panik. “Aku harus kabur ke mana?”
Fleur memang sudah dewasa. Namun, dia tidak pernah tahu soal dunia luar selama ini. Apalagi, sekarang dia hanya membawa bekal seadanya. Mendadak menjadi nomaden bukanlah impiannya sejak kecil. Fleur hanya ingin hidup bahagia, bahkan tanpa kutukan Selena yang selama ini membelenggunya.
Seseorang berteriak dan mengurai lamunan Fleur. Gadis itu segera mempercepat langkah, menyusuri hutan lebat yang jarang dijamahi manusia. Namun, sepertinya orang-orang tidak memercayai wanita gempal tetangga Fleur tadi. Mereka menyebar dan kini menemukan sosok yang dicari.
“Hei! Jangan kabur!”
“Kejar dia!”
“Bakar dia sampai jadi abu!”
Teriakan-teriakan itu menggema di kedalaman hutan, membuat Fleur makin ketakutan. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau kakinya tersandung akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah.
BRUK!!!
“Argh ….” Fleur meringis, tetapi seruan para warga masih menggelayuti telinganya.
__ADS_1
Dia bergegas bangkit. Namun, belum sempat dirinya berlari, sebuah panah memelesat dan hampir mengenai lehernya. Fleur memelotot ketika panah itu menancap di batang pohon di depannya. Dia menoleh, mendapati seorang pria yang memimpin dengan busur dan anak panah di tangan.
“A-aku bukan orang yang kalian cari,” ucap gadis itu bergidik.
Pria yang membawa busur itu maju beberapa langkah. “Kalau kamu bukan orang yang kami cari, kenapa kamu kabur dari kami?” tanyanya tegas.
Fleur meneguk liur. Sebenarnya, dia kabur karena ketakutan, ‘kan?
“Jawab!” seru pria itu sampai membuat gadis berambut merah di depannya tersentak.
Fleur tidak mampu menjawab. Bagaimanapun, dia juga bersalah karena menyembunyikan abu para pria yang tewas di rumahnya. Namun, itu juga karena dia ketakutan setengah mati.
“Kalau kamu tidak mau menjawab ….” Pria itu mengangkat busur dan menarik anak panahnya. “Bersiaplah untuk mati.”
“Bunuh dia!” sahut para warga.
“Wanita penyihir sepertinya hanya akan mengancam kita semua!” timpal yang lain.
Fleur memelotot. Dia beringsut mundur. Satu tangannya merogoh tas, meraih tongkat sihirnya dengan gemetar. Gerakan pria di depannya itu disambut seruan dari para warga yang berdiri di belakangnya. Mereka semua menyalakan obor dan bersiap untuk menangkap Fleur dalam keadaan apa pun.
“Tolong … aku tidak melakukan apa pun,” bisik Fleur.
Raut wajah orang-orang tampak mengintimidasi gadis itu. Mereka benar-benar sudah membenci Fleur tanpa mencari tahu sebabnya.
“Tolong … aku ….”
Pria yang membawa busur tadi dengan cepat melepaskan anak panahnya ke arah Fleur, disusul para warga yang melempar gadis itu dengan sembaragan. Fleur menunduk takut. Bayang-bayang jika dirinya terbakar menjadi abu pun melintas erat di pikirannya. Namun, setengah ketakutannya sirna ketika sesosok bayangan berdiri di depannya.
Fleur membuka celah pada kedua tangan yang menutupi kepalanya. Dia bahkan lupa menggunakan tongkat sihirnya karena terlanjur ketakutan. Sosok yang berdiri di depannya tampak melindungi Fleur. Anak panah yang memelesat ke arahnya tadi kini digenggam oleh sosok berbulu lebat dan berdiri tegak itu.
Seekor Lycan bermata biru menatap bengis ke arah para warga.
Embusan napasnya tampak kasar. Dia meremas anak panah di tangannya hingga patah berkeping-keping. Kemudian, Lycan itu mengaung keras, membelah kesunyian hutan.
Fleur terpaku. Aungan Lycan itu seolah membuat hutan kembali hening seperti asalnya. Namun, tidak bagi orang-orang yang mengejar Fleur tadi.
__ADS_1
“Hanya satu?” Pria pembawa busur tampak tidak ketakutan sama sekali. Dia justru kembali mengangkat senjata. “Siapa yang takut?”
***