LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
10 . KAWANAN SERIGALA


__ADS_3

Sudah beberapa jam berlalu setelah Fleur dan Hans memutuskan untuk mencari klan Topaz. Keberadaan klan itu sangatlah terisolir dan menurut Hans, tidak ada yang tahu lokasi mereka sekarang. Ada suatu peristiwa yang sebenarnya ingin Hans beritahukan pada gadis berambut merah tersebut. Hanya saja, sisi lain dirinya mencegah melakukan hal tersebut.


Hutan yang mereka telusuri semakin gelap ketika matahari telah sepenuhnya terbenam di ufuk barat. Suhu rendah mulai menembus pori-pori. Fleur saling merengkuh kedua lengan dan mengusapnya pelan, menyisir hawa dingin yang semakin terasa horor saja. Sementara itu, Hans melihatnya. Tangannya ingin sekali menyentuh dan mengusap punggung gadis itu, tetapi urung ketika dia teringat dengan kutukan Selena.


Kini, mata birunya memandang ke arah langit. Sang dewi malam tampak bersinar dengan lembut. Bulan baru. Sinarnya tidak begitu terang, tetapi cukup untuk membuat Hans dan Fleur melihat sekitarnya.


“Kau lelah?” tanya Hans memecah keheningan. “Kita akan istirahat sebentar lagi.”


Fleur mengangguk menimpali. Embusan napasnya sudah menyembulkan udara tipis. “Kenapa?” tanyanya. “Apa hanya karena aku mate-mu, lalu kau menolongku sampai begini?”


Hans melirik sejenak. “Harus berapa kali kubilang padamu, Fleur,” jawabnya. “Jika kau bukan mate-ku, aku pun akan melakukan hal yang sama.”


“Untuk alasan apa?” Gadis itu sedikit menunduk, mengeratkan jubahnya.


Pria bermata biru itu terdiam. “Entahlah,” balasnya. “Mungkin karena aku pernah memiliki nasib yang sama denganmu.”


Detik ini, gadis bermata hazel itu menghentikan langkah dan menatap Hans. Pria yang melangkah sedikit di depannya itu berhenti dan menoleh.


“Kenapa?” tanyanya sedikit bingung.


“Nasib yang sama?” balas Fleur retorik. “Tapi ….”


Hans mendadak terdiam. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. “Iya, begitulah.”


Fleur melanjutkan perjalanannya yang tertunda. “Apa kau pernah terbuang? Apa ada majikan yang membuangmu sebelum bertemu dengan mereka?” tanyanya dengan tangan terulur dan menyelisik helaian rambut hitam Hans.


Pria itu tampak salah tingkah. “A-apa maksudmu? Aku bukan anjing!”


Sontak, gadis itu tergelak. “Maaf,” katanya.


Hans hanya bisa mendengkus kesal. Dia kembali melangkah. “Ayah dan ibuku mati oleh serangan para penyihir. Seluruh klanku juga hangus terbakar,” ujarnya. “Aku selamat karena Zevanya.”


Fleur kembali menatap pria tersebut, mencoba mengartikan setiap kode yang tertunjuk dari sorot mata birunya.


“Aku dan Zevanya adalah teman dekat karena keluarga Zevanya mengabdikan diri pada keluargaku. Mereka bekerja sebagai healer dulunya, lalu mengembangkan ilmu sihir mereka saat sudah tinggal bersama klanku,” lanjut

__ADS_1


Hans. “Tetapi … yah, kau tahu, ada banyak orang yang tidak menyukai ras seperti kami. Mereka mencoba menguasai semua wilayah termasuk tempat tinggal kami. Dan akhirnya hanya aku dan Zevanya yang selamat karena orangtua kami meminta kami untuk lari sejauh mungkin.”


“Kau … sangat dekat dengannya ya?” gumam Fleur.


Hans mengangguk. “Kami sudah seperti kakak-adik. Kau tidak perlu berburuk sangka,” katanya. “Zevanya pernah mencintai salah satu Alpha dari klan lain dan dia adalah mate-nya. Tetapi Alpha itu menolaknya, lalu mati. Sejak saat itu, kau tahu, Zevanya tidak pernah mencintai siapa pun.”


“Bagaimana kalau aku menolakmu?” tanya gadis itu tiba-tiba, membuat langkah mereka kembali terhenti. “Apa kau akan mati?”


Hans terdiam. “Tidak sampai mati,” jawabnya. “Palingan hanya tidur sementara waktu. Werewolf jantan membutuhkan lunanya sebagai kekuatan. Jika keduanya menolak, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Kekuatan kami hilang, atau kami akan mati.”


Kedua insan itu saling bersitatap. Hening menguasai atmosfer yang bahkan tidak bisa menerka isi pikiran masing-masing. Fleur mulai paham bagaimana dunia luar begitu luas dan liar. Sisi lain dirinya membenarkan perkataan mendiang ibunya tentang kebuasan dunia luar. Namun, entah kenapa, semakin Fleur menolaknya, dia semakin ingin mengerti tentang dunia yang selama ini belum pernah dijamahi olehnya.


Bayangkan, selama lebih dari 20 tahun dia berada di pondok mungilnya dengan berbagai alur kehidupan monoton yang dijalani. Fleur sangat mudah bosan. Namun, jika bukan karena Hera, perempuan sepertinya pasti akan binasa kalau dibiarkan keluar rumah seorang diri dan meliar bersama para penghuni dunia lainnya.


Tiba-tiba saja suara kemeresak mengejutkan mereka berdua. Hans sigap memegang lengan Fleur, mencoba melindungi gadisnya itu. Mata birunya menajam hingga irisnya meruncing layaknya mata serigala pada umumnya. Pandangannya menyebar ke seluruh arah, mencari jejak misterius yang dirasakannya.


“Ada apa?” bisik gadis berambut merah itu.


Hans mengendus dengan penciumannya yang tajam. “Bau serigala,” balasnya ikut berbisik.


Tanpa sadar, Fleur mengeratkan pelukannya. Setidaknya, kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung dan tidak membuat kutukan Selena bekerja pada Hans.


Sekian detik slenjutnya, Hans menarik lengan Fleur dan sontak mengajak gadis itu berlari dari sana setelah berteriak; “LARI!!!”


***


Mereka menembus hutan yang makin lama semakin rimbun dengan semak belukar berduri. Sementara itu, lolongan serigala di belakang keduanya makin jelas terdengar. Entah sejak kapan rombongan serigala itu mengintai mereka dan sekarang malah mengejar keduanya. Serigala hitam dengan mata ungu itu berlari sangat kencang.


Baru kali ini Fleur melihat warna mata tersebut. Kebanyakan serigala hanya memiliki mata dengan warna kuning dan hitam. Hanya biru yang dimiliki Lycan seperti Hans yang merupakan ras minoritas di sana. Gadis itu berkali-kali melihat serigala di belakangnya, lalu menatap Hans.


BRUKK!!!


“Ahhh!!!”


“Fleur!”

__ADS_1


Hans merunduk, menolong Fleur agar perempuan itu bisa bangkit. Namun, derap langkah para serigala itu semakin mendekat. Sampai akhirnya salah satu serigala menghambur ke arah mereka.


“EXPECTO!!!” seru Hans sambil mengulurkan satu tangannya.


Sebuah cahaya biru menguar dengan cepat dari telapak tangannya hingga membuat serigala itu terpental. Sementara itu, serigala-serigala lain menghentikan langkah. Mereka melolong dan mengaung panjang, menembus kegelapan malam.


Hans berdecih kesal. Sudah sendiri, dan sekarang apalagi? Dia bisa saja menggunakan bakatnya yang lain, tapi apa mau koloni serigala tersebut?


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya seraya membantu Fleur berdiri.


Gadis itu hanya mengangguk membalas. Teledor sekali dirinya. Hanya karena rasa penasarannya pada warna mata serigala itu lantas membuat dirinya terantuk batu dan jatuh. Merepotkan sekali!


“Lalu apa sekarang?” tanyanya. Tangannya meremas erat jaket Hans.


“Oh, ayolah, aku tidak ingin menggunakannya,” gumam pria berambut hitam itu. Mata birunya jelas bersinar dengan terang saat ini.


“Hah? Menggunakan apa?”


Hans meneguk saliva. Seekor serigala kembali menyerang dan pria itu hanya menyerukan kata sihir yang sama seperti sebelumnya. Tidak membuat para serigala itu terluka, karena sebenarnya bukan itu yang Hans inginkan. Dia


tidak mungkin membunuh saudara satu ras nya sendiri, bukan?


“HANS!!!” Fleur memekik ketika seekor serigala menyambar dari arah belakang.


Namun, sebelum berhasil mencapainya, Hans kembali berseru; “EXPECTO!!!”


Cahaya biru berkali-kali memancar dari tangan pria itu. Hans berjengit. Cukup sudah energinya terpakai. Dia harus bisa membuat Fleur dan dirinya pergi dari sana sekarang juga. Pria itu menatap gadis di dekatnya. Mereka bersitatap.


“Aku minta maaf,” ucap pria itu sebelum akhirnya melakukan sesuatu hal yang tidak pernah Fleur duga sebelumnya.


Cahaya biru muncul di sekitar keduanya. Makin lama makin terang hingga mengaburkan pandangan para serigala. Sinar itu berpendar menguasai hutan sampai beberapa meter, sebelum akhirnya lenyap sekaligus menghilangkan


dua insan yang saling menyentuhkan ranum mereka sebelum akhirnya sirna.


***

__ADS_1


__ADS_2