
Fleur mengikuti Hans masuk ke rumah. Tidak. Lebih tepatnya, pria itu membawanya ke kamar. Gadis itu hanya bisa terduduk sambil termenung di kasur. Pikirannya melayang kepada kutukan yang diberikan Selena padanya. Entah kenapa, dia tidak bisa menghentikan pikiran buruknya tentang hal itu.
Hans yang baru saja selesai mandi memandangi gadis berambut merah tersebut. Pandangan Fleur tampak kosong dan itu membuatnya penasaran. Dia menghampiri gadis itu.
“Sedang apa?” tanyanya.
Fleur mendongak. Serta-merta dia menyambar secara asal bantal di sekitarnya dan melemparnya ke arah pria tersebut. Gadis itu langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
“Di mana bajumu?” gerutunya.
Hans mengerutkan kening dan memandangi diri sendiri. Dia hanya memakai handuk untuk menutupi bagian intimnya saja. Pria itu terkekeh.
“Ada apa?” tanyanya kemudian. “Aku kan calon suamimu, memangnya tidak boleh seperti ini di depanmu?”
Fleur membuka pelan kedua tangannya. Dia tertunduk. “Hubungan kita belum sampai sana,” lirihnya.
Hans yang hendak mengambil baju lemari, lantas terdiam. “Aku tahu,” balasnya, lalu mengambil sebuah kemeja dan celana dan memakainya dengan cepat. “Kamu tidak mau berganti pakaian?” tawarnya. “Aku bisa
meminta Zevanya untuk meminjamkan beberapa pakaiannya untukmu.”
Fleur masih terdiam, bahkan ketika pria itu menghampirinya. Dia menunduk. “Sepertinya, aku akan pakai ini saja,” ucapnya.
Pria bermata biru itu mendengkus. Dia keluar kamar selama beberapa menit, lalu kembali dengan sebuah baju di tangannya. Hans memberikannya pada Fleur. “Pakailah!” pintanya. “Kamu bisa menggunakan toilet di sini.”
Fleur menerima baju itu. Namun, sebelum dia berterima kasih, pria berambut hitam itu sudah ke luar kamar.
***
Beberapa saat kemudian, Fleur keluar kamar. Kedua tungkainya sembarang melangkah dan akhirnya menemukan Hans sedang mengobrol bersama perempuan berambut putih yang bernama Zevanya tadi. Fleur menghampiri mereka.
“Sudah selesai?” tanya Hans.
__ADS_1
Gadis bermata hijau itu mengangguk. Namun, ketika dia menatap Zevanya, dia langsung tertunduk. Perempuan itu sepertinya sudah tahu soal identitasnya.
“Jadi, bagaimana?” tanya Hans pada Zevanya usai meminta Fleur duduk di sampingnya.
Zevanya menghela napas sejenak. “Sepertinya, aku tahu sesuatu soal ini,” jawabnya. “Kutukan Selena bisa dibuat karena sebuah ritual tertentu dan itu sangat jarang terjadi.”
Pria bermata biru itu mengangguk. Dia menoleh ke arah Fleur yang mencoba untuk menatapnya. Lalu, dia kembali memandang Zevanya. “Apa kita bisa memulainya sekarang?” tanyanya memastikan.
Perempuan berbaju putih itu berdeham. Dia bangkit dari kursi dan menuju ke salah satu ruangan.
Sementara itu, Hans mengusap pundak Fleur, berusaha menenangkan gadis itu. Fleur menoleh padanya. Gadis itu mengernyit keherananan.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya.
“Aku menceritakan soal kutukan Selena pada Zevanya,” jawab Hans. “Dia bilang, dia tahu sesuatu dan mungkin kita bisa mencari jawaban darinya.”
Fleur hanya mengangguk menimpali. Bagaimanapun, Hans sudah banyak membantunya meski mereka baru pertama bertemu. Tidak. Ini adalah pertemuan kedua mereka. Sepertinya, ketertarikan Fleur pada Hans saat di acara dansa itu menuai hasil yang mengejutkan baginya.
Mengetahu tentang ekspresi aneh Fleur, Zevanya lantas menjentikkan jemari di kening gadis itu hingga membuatnya tersentak. Hans juga tidak kalah terkejut. Dia memelototi Zevanya.
“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.
Zevanya hanya tertawa kecil. “Gadismu terlalu banyak melamun, Hans,” jawabnya setengah meledek.
Hans menghela napas. Dia menoleh ke arah Fleur. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Fleur hanya mengangguk. Dia mengikuti langkah Zevanya ke sebuah ruangan. Mata hijaunya membola, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang berisi barang-barang aneh. Tidak. Hanya Fleur yang menganggap semua barang di sana aneh karena dia tidak pernah melihatnya. Namun, selain itu, ada beberapa barang yang mirip dengan yang dimiliki mendiang sang ibu. Hal ini membuatnya kembali menyimpulkan kalau Zevanya adalah seorang penyihir.
“Aku Wizard,” ucap perempuan berambut putih itu mengurai lamunan Fleur. “Ibumu mungkin Witcher.”
Fleur meneguk saliva. Bagaimana dia tahu isi pikirannya?
__ADS_1
Zevanya tersenyum. Dia beralih pada sebuah bola kristal yang ditaruh pada tiang penyangga berulir setinggi satu meter. “Kita akan coba lihat melalui ini,” katanya.
“Melihat apa?” tanya Fleur inosen.
“Tentu saja soal kutukan itu,” jawab Zevanya. Kedua tangannya terangkat di antara bola kristal tersebut. “Kita akan coba mencari tahu bagaimana cara memecahkan kutukannya.”
Gadis berambut merah itu mengangguk mafhum. Maklum, baru kali ini dia melihat sesuatu yang tampak langka di pandangannya. Dia berdiri di samping Hans karena pria itu menarik pinggangnya untuk mendekat. Degup jantung Fleur hampir memburu karena baru kali ini dia mendapati perlakuan intens dari seorang pria.
Zevanya mulai memejamkan mata dan merapalkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Fleur. Bola kristal itu bercahaya putih. Sinarnya berpendar ke segala arah, berkilauan seperti sebuah bintang. Fleur sampai tidak bisa melihatnya karena terlalu menyilaukan pandangan.
“Lihatlah!” pinta perempuan berambut putih itu.
Hans dan Fleur terdiam. Mereka memandangi sesuatu yang tiba-tiba muncul dari bola kristal tersebut. Sebuah visi nampak di penglihatan keduanya.
“A-apa maksudnya?” tanya Hans sambil menoleh ke arah Zevanya yang masih memejamkan mata.
Perempuan itu terdiam. Dia merapalkan mantera lain dan membuat visi itu berubah menjadi hal lain. Sebuah bulan purnama berdarah dan kematian di mana-mana. Hal itu membuat Fleut lantas beringsut. Tangannya tanpa sadar menggenggam lengan Hans hingga pria itu menyadarinya.
Sekian menit kemudian, visi itu menghilang seirinya lenyapnya sinar dari bola kristal. Namun, belum sempat Zevanya menyelesaikan mantera terakhirnya, tiba-tiba saja bunyi mendesis keluar dari kristal itu. Lama-lama makin keras hingga uap panas keluar darinya. Lalu, tiba-tiba saja bola kristal itu meledak.
Hans sontak bergerak cepat, merengkuh tubuh Fleur dalam pelukannya. Pecahan kristal itu menyebar ke sembarang arah, bahkan sampai memecahkan cermin yang ada di ruangan tersebut dan membuat seisi ruangan
menjadi berantakan. Percikannya juga sedikit melukai pipi pria bermata biru itu dan membuat Fleur terkejut.
“Zevanya!” pekik Hans.
Zevanya terlihat menutupi wajahnya. Pipi dan punggung tangannya sedikit terluka karena percikan bola kristal tersebut. Namun, ketika dia melihat kembali ke arah bola kristal, benda itu sudah rusak sepenuhnya. Tidak bersisa sama sekali.
Perempuan berambut putih itu mengerutkan kening. Dia meneguk saliva, lantas menoleh ke arah Fleur yang masih berada di pelukan Hans.
“Fleur,” panggilnya, membuat gadis itu menatapnya. “Apa yang dilakukan orangtuamu dahulu?”
__ADS_1
***