LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
2. MENIKAH


__ADS_3

Fleur dengan sigap berlari, menjauh dari para serigala tersebut. Namun, banyaknya semak belukar di sana membuat dirinya kesulitan. Sesekali dia menoleh ke belakang, mendapati para serigala makin cepat mengejarnya.


Serigala-serigala itu melompat, lalu berlari menembus rimbunnya semak di tempat tersebut.


Tungkai gadis 20 tahun itu tersandung akar pohon. Dia terjerembab hingga seluruh Ganoderma yang didapatnya sejak tadi jatuh bertebaran. Mata hijau gadis itu menerawang jauh ke arah para serigala yang mengejarnya. Tangannya merogoh tas, seiring keterkejutannya.


“Hah? Di mana tongkatku?”


Fleur mengedarkan pandangan ke seluruh arah. Tangannya meraba permukaan tanah, kalau-kalau berhasil menemukan tongkat sihirnya. Nahas, tongkat kayu berulir itu tidak mampu ditemukannya.


Aungan para serigala makin menggila tatkala jarak mereka makin dekat. Fleur tidak punya pilihan lain selain bangkit dan berlari secepat yang dia bisa. Namun, belum sempat gadis itu melangkah, seekor serigala yang merupakan pemimpinnya langsung mengayunkan cakar dan melukai lutut gadis berambut merah tersebut.


“Argh … sakit ….”


Fleur kembali tersungkur. Tungkai kanannya mengalirkan cairan merah dengan luka cakaran yang amat dalam di sana. Dia memandang ke arah seekor serigala yang detik ini hendak menyergapnya.


DORRR!


DORRR!


Para serigala mengaung keras. Namun, suara mereka nyatanya tidak membuat seorang pria gentar menghadapi hewan buas tersebut. Mereka lari tunggang-langgang, menjauhi gadis berambut merah yang hampir menjadi santapan siangnya.


Jantung Fleur hampir saja copot. Baru kali ini dia mendengar suara tembakan membelah hutan. Sebuah tangan tiba-tiba terulur di depannya. Gadis itu menoleh, mendapati seorang pria berdiri di dekatnya. Iris biru pria tersebut menghipnotis dirinya kini. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamanya bertemu dengan pria tampan.


“Hah?” Gadis itu tersentak, lalu beberapa detik selanjutnya dia menghela napas lega. “A-aku ….”


Fleur melihat ke arah lutut kanannya yang terluka. Tidak mungkin dia bangkit dengan bekas cakaran sedalam itu. Dia hanya meringis membalas uluran tangan pria yang menjadi penolongnya tadi.


Pria berambut blonde itu berlutut, lantas memeriksa luka Fleur dengan cekatan. Dia menggeleng. “Apa kau punya ramuan untuk menahan pendarahannya?” tanyanya.


Gadis beriris hijau itu hanya menggeleng. “Tapi, ibuku bisa mengobatiku nanti,” jawabnya. “Hanya saja ….” Pandangannya mengedar sejenak. “Aku harus segera pulang.”


“Di mana rumahmu?” tanya pria itu.


“Di dekat sini,” jawab Fleur.


“Kalau begitu, biar kuantar kamu pulang.”


Fleur tidak banyak mengelak. Hanya karena ibunya melarang dia untuk tidak mendekati pria, bukan berarti dia menolak pertolongan pria berambut blonde itu sekarang. Kalau saja dirinya tidak terluka, Fleur sudah lari tunggang-langgang ke rumahnya sejak tadi.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya pria itu. Dia terpaksa menggendong gadis itu di punggungnya karena lukanya cukup dalam.


“Fleur,” jawab gadis beriris hijau tersebut. “Dan kau?”


“James,” jawab pria itu. “Kau sudah lama tinggal di sini, ya?” tanyanya kemudian.


Fleur bergumam. “Ya, begitulah. Aku lahir di hutan ini dan tinggal hanya bersama ibuku,” timpalnya.


James mengangguk mafhum. “Aku pengembara,” balasnya. “Beruntung sekali kamu bertemu denganku tadi. Jika tidak, para serigala itu pasti sudah mencabikmu.”


Gadis berambut merah itu mendesis ngeri. “Aku baru pertama bertemu dengan mereka,” katanya. “Tidak biasanya pula wilayah kekuasaan mereka sampai ke hutan ini.”


“Hal yang wajar untuk serigala,” timpal James. “Mungkin di wilayah asalnya, persediaan makanan mereka sudah habis.”


Beberapa menit kemudian, keduanya sampai di rumah Fleur. Hera yang melihat anak perempuannya digendong oleh seorang pria langsung berlari ke luar rumah. Matanya memelotot hendak marah, tetapi urung ketika melihat luka di tungkai kanan putrinya. Akhirnya, mau tidak mau dia harus mengijinkan James yang menggendong Fleur untuk masuk ke rumah. Sementara Hera mengobati Fleur, James hanya duduk sambil mengamati setiap jengkal isi rumah.


“Kau masih di sini?” tanya Hera ketus. Dia berkacak pinggang menghadap pria pengembara tersebut.


“Ma.” Fleur menyahut. Dia duduk di salah satu kursi di ruangan itu sejak tadi. “James sudah menolongku, kenapa Mama malah menyentaknya seperti ini?”


Hera mendengkus. “Apa kamu tidak ingat nasehat Mama tadi, hah?” balasnya. “Jauhi semua orang, Fleur!”


“Mama!” Gadis 20 tahun itu tidak mau mengalah. “Kalau tidak ada James tadi, aku sudah mati diterkam serigala. Apa Mama mau anak Mama mati seperti itu?”


“Iya, memang seharusnya kamu pergi saja sejak tadi!” sahut Hera.


“Mama!” Fleur mendengkus kesal. Dia menatap James dengan sorot mata penuh harap. “James, bisakah kamu tinggal di sini? Aku tidak mungkin merepotkan mamaku sekarang,” pintanya.


James terdiam. Dia mendapati tatapan bengis dari wanita di depannya.


“James tidak akan tinggal di sini,” ucap Hera dengan kedua tangan saling berlipat di dada. “Tidak akan ada pria di rumah ini sampai kapan pun!”


Fleur memejamkan mata seraya menghela napas panjang. “Mulai sekarang, akan ada pria di rumah ini, Mama,” ucapnya tegas. “Karena aku akan menikahi James!”


Hera tersentak. “Apa alasanmu menikahi dia?” gertaknya.


“Dia sudah menyelamatkan nyawaku, Ma. Dan aku mencintainya!”


***

__ADS_1


Hera tidak bisa membendung keegoan putrinya kali ini. Dia membiarkan Fleur menikahi pria yang baru saja ditemuinya di hutan. Hanya saja, ketakutannya pada kutukan Selena makin meluap. Cemas jikalau memang kutukan itu benar-benar menjadi nyata.


Satu minggu setelah James tinggal di sana untuk membantu Hera dan merawat Fleur sampai sembuh total, akhirnya pernikahan itu dilaksanakan. Acaranya sangat sederhana dengan Hera bertindak sebagai pendeta dan saksinya Dewi Selena sendiri. Ritual sakral itu dilakukan pada malam hari di mana sang bulan menerangi dengan anggun pondok mereka.


Senyum Fleur tampak merekah. Wajahnya yang disinari temaram sang dewi malam itu tampak sangat cantik. James yang menatap gadis itu serasa dihipnotis. Dia tidak berhenti menatap Fleur sampai ritual selesai dilaksanakan.


“Semoga kalian menjadi pasangan yang setia sampai akhir hayat,” ucap Hera di akhir ritual.


Wanita itu memandangi dua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut. Dalam hatinya berdecih sekaligus ketakutan. Sungguh, momen ini bukanlah yang ingin dilihatnya ketika Fleur sudah dewasa.


Malam ini, menjadi malam romantis bagi Fleur dan James. Beruntung, terdapat dua kamar di pondok tersebut, yang satu digunakan Hera dan satunya untuk pengantin baru. Hera sendiri tidak bisa tidur. Kecemasannya makin meningkat saja. Berkali-kali dia ingin menengok putrinya, tetapi urung karena sadar kalau Fleur sudah menikah sekarang.


“Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka,” gumamnya dengan kedua tangan gemetaran.


Sementara itu, Fleur sudah bersiap untuk malam pertamanya dengan James. Dia tidak pernah membayangkan akan menikah di usia yang masih belia, apalagi mengingat sang ibu terus melarangnya untuk bertemu dengan banyak orang, termasuk pria. Kali ini, Fleur bukanlah lagi putri kecil Hera. Gadis itu sudah dewasa dan bersuami sekarang.


Fleur menanggalkan pakaian, hendak menggantinya dengan piyama. Dua buah lengan tiba-tiba saja merengkuh pinggangnya dengan satu kecupan mendarat di pundak gadis itu. Fleur menoleh, mendapati James tengah memeluknya dari belakang.


“Aku mencintaimu,” desis James di dekat telinga Fleur.


Gadis itu berbalik, membiarkan James menyisir setiap helai rambut merahnya. Manik hijaunya tampak memesona terkena kilau temaram sang Luna. Pria di depannya itu makin mendekatkan diri, memotong jarak dan ruang di antara keduanya. James mendaratkan dengan lembut ranum miliknya, menyongsong rasa manis yang akan dirasakannya sebentar lagi.


Namun, tiba-tiba pergerakan James terhenti. Mata birunya membola. Perlahan dia melepaskan diri dari pelukannya di tubuh Fleur.


“James?” Fleur mengerutkan kening ketika pria itu menjauh darinya.


Hal yang membuat gadis itu syok adalah ketika tubuh James tiba-tiba saja terbakar dengan sendirinya. Bajunya gosong, seiring kulitnya yang melepuh, lalu menggerogoti urat dan tulang pria itu hingga nyaris tidak berbekas. James melenguh dan mengerang dengan rasa bakar yang teramat samat di tubuhnya.


Fleur sontak menutup mulut dengan kedua tangan. Tubuhnya beringsut mundur sampai menjatuhkan sebuah vas yang diletakkan di tepi jendela. “J-james!” pekiknya. “James!”


Api dengan cepat membakar tubuh James dan membuatnya luruh seketika. Isi perutnya yang terburai juga turut terbakar dengan bau daging gosong yang menusuk penciuman. Pria itu memelotot ke arah gadis yang berdiri di depannya. Satu tangannya terulur ke depan hendak menggapai Fleur.


“K-kau ….” Lirihan serak itu lenyap seutuhnya ketika api yang membakar James menghabisi kepalanya dengan cepat hingga bunyi kemeretak muncul saat tengkoraknya terpanggang.


Hera yang mendengar pekikan putrinya langsung menuju kamar pengantin baru. Dia membuka pintu dan hampir jatuh ketika mendapati sosok tubuh pria yang terbakar habis di depan putrinya. Kebungkamannya berlanjut


sampai James benar-benar menjadi abu dan hanya meninggalkan aroma gosong di ruangan tersebut.


“F-fleur?” panggilnya.

__ADS_1


Gadis itu hanya terdiam. Netranya masih menatap tumpukan abu di depannya. Tubuhnya gemetaran, sebelum akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.


***


__ADS_2