LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
9 . MENUJU KLAN BARU


__ADS_3

Fleur terduduk dan meremas kedua tangan. Pikirannya melayang pada peristiwa beberapa saat yang lalu. Bola kristal itu hancur berkeping-keping dan hampir melukai dia, Hans, dan Zevanya. Namun, yang jadi permasalahannya adalah tentang visi yang dilihat oleh Zevanya.


Berkali-kali gadis itu meneguk saliva, mencoba menenangkan diri sendiri. Namun, seperti biasa, semua yang dilakukannya sia-sia. Hans yang melihatnya lantas menghampiri dengan segelas cokelat hangat. Dia memberikan itu pada Fleur.


“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Hans sembar mengusap punggung Fleur.


Gadis itu hanya mengangguk, lalu menyesap cokelat di cangkirnya. Dia kembali membisu. Helaan napas sesekali keluar dari hidung dan mulutnya.


“Pasti ada cara lain untuk memecahkan kutukan itu,” ucap pria bermata biru itu. Wajahnya tampak diselimuti oleh sedikit amarah.


“Aku tidak apa-apa,” timpal Fleur. Dia sudah lebih sedikit tenang sekarang.


“Tapi, Fleur—”


“Hans.” Fleur menoleh, menatap pemilik mata biru yang berkilauan tersebut. “Aku baik-baik saja,” ucapnya.


Hans sedikit menunduk. Selain merasa dirinya tidak berguna, lalu apalagi sekarang? Dia sebagai seorang alpha dan mate dari Fleur bahkan tidak bisa melakukan apa pun.


Sementara itu, Fleur menyentuh dagu pria di sampingnya dan mengangkat pandangannya. Kedua pasang mata itu saling bertemu. Fleur tahu, meski dia tidak bisa memecahkan kutukan Selena, tetapi dia cukup yakin kalau Hans tidak akan berakhir seperti pria-pria sebelumnya. Entah dari mana dirinya mendapatkan kepercayaan tersebut.


“Terima kasih,” lirih gadis bermata hijau tersebut.


Hans hanya bisa terdiam, lalu mengangguk. Bagaimanapun dia harus menemukan cara agar bisa mematahkan kutukannya dan bisa bersatu dengan mate-nya itu.


“Aku mungkin sedikit terlambat,” sahut seorang perempuan yang mengurai kesenduan pasangan itu. Keduanya menoleh, mendapati Zevanya berdiri di muka pintu kamar. Dia berjalan menghampiri Fleur dan Hans. “Tapi, aku baru saja mendapatkan visi baru mengenai kutukanmu, Fleur.”


Hans lantas bangkit dari ranjang dan dengan antusias, dia memburu Zevanya. “Apa? Sebutkan, Zevanya!”


Perempuan berambut putih itu meneguk liur. Dia menghela napas. “Mungkin dugaanku benar kalau kutukan ini berasal dari apa yang sudah dilakukan orangtuamu di masa lalu,” ujarnya seraya menatap Fleur. “Jika itu bukan karena ibumu, mungkin ayahmulah yang melakukannya, Fleur.”


Ayah?


Fleur mendadak terdiam. Pikirannya kalut memikirkan sosok yang baru saja disebutkan oleh Zevanya. Dia tampak kebingungan, bahkan ketika Hans menatapnya.

__ADS_1


“Fleur?” panggil pria tersebut.


Gadis berambut merah itu menghela napas. “Aku … aku tidak ingat apa pun soal ayahku,” jawabnya.


Hans kembali menatap Zevanya di mana perempuan itu memberikan gelengan lemah padanya. Pria itu berdecak lirih. Bagaimana bisa masalah ini makin beranak sekarang? Itu membuatnya pusing seribu keliling!


“Ibuku tidak pernah bercerita apa pun padaku soal ayahku,” ujar Fleur. “Tapi, aku pernah mendengar seseorang mengobrol dengan ibuku dan mengatakan nama seseorang.”


Gadis itu memandang Zevanya dan Hans secara bergantian. Dia kembali menghela napas sambil mencoba memutar kembali memori masa lalunya.


“Topaz.” Fleur kembali berbicara. “Namanya Topaz.”


***


Malam-malam sekali, Hans keluar rumah dengan tergesa-gesa. Fleur menyusulnya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala arah, memastikan bahwa orang-orang di sana sudah terlelap. Dia mengikuti pria berambut hitam itu ke sebuah arah.


“Hans! Hans!” pekik Fleur.


Langkah Hans terhenti ketika dirinya sampai di tengah hutan, cukup jauh dari perkampungan. Dia berbalik dan menatap gadis berambut merah yang berjalan menghampirinya. Mata birunya tampak berkilat tajam.


“Menuju klan Topaz,” jawab Hans tampak tegas.


“Untuk apa?” Fleur membingkai wajah pria di depannya itu, tetapi Hans sepertinya tidak menginginkannya. Pria itu hampir melepas genggamannya. “Kita tidak perlu ke sana, Hans.”


Hans menatap Fleur, mendapatkan suatu isyarat tersirat di sana yang tidak dimengerti olehnya. “Tapi pria itu sudah membuatmu seperti ini, Fleur!”


“Aku tahu.” Gadis berambut merah itu dengan pelan membingkai wajah pria di depannya. “Kau lihat, aku tidak apa-apa. Kita tidak apa-apa.”


Mata biru Hans tampak berkilat tegas. Dia menggenggam kedua tangan gadis tersebut. “Semuanya tidak apa-apa, tapi ketakutanmu adalah nyata, Fleur,” ucapnya melirih. “Biarkan aku membantumu, sebisaku.”


Fleur tahu ada satu titik di mana dirinya membenarkan ucapan Hans. Pria itu tampak tulus memperjuangkan segala hal untuknya. Apakah ini karena ikatan yang disebut mate itu? Namun, jika bukan, kenapa Hans masih saja teringat padanya bahkan setelah sekian lama mereka tidak bertemu?


Gadis itu menghela napas, lalu mengangguk. “Biarkan aku ikut denganmu,” lirihnya.

__ADS_1


Hans meneguk saliva dan mengangguk.


“Kita berangkat besok. Oke?”


***


Pagi-pagi sekali, Fleur dan Hans telah bersiap. Zevanya menghela napas kesal, sedikit menggerutu. Dia ingin ikut, tetapi pria Alpha itu melarangnya dan malah memintanya untuk menjaga desa selama dirinya pergi. Mau tidak mau, Zevanya harus menurut karena dia telah menganggap Hans sebagai kakaknya sendiri.


Dua insan itu berjalan menelusuri hutan. Pepohonan pinus tampak menjulang tinggi, lebih rapat daripada pohon di hutan sekiatr rumah Fleur. Berkali-kali gadis itu mendongak, menatap langit yang masih agak gelap. Embun dan hawa dingin menusuk pori-pori kulitnya yang tidak tertutup oleh jubah dan pakaian tebalnya.


Hans tampak mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Gadis di sampingnya mengerutkan kening.


“Ini kompas,” ucap Hans. “Milik Zevanya. Dia tidak ingin aku tersesat, seperti biasa.”


Fleur sedikit tertawa menyadari hubungan Hans dan Zevanya begitu dekat sampai mencemaskan satu sama lain. Dia tidak perlu khawatir akan keselamatannya jika Wizard seperti Zevanya saja sudah bisa memercayai seorang Lycan seperti Hans.


Gadis itu kembali melihat ke benda yang melayang di atas telapak tangan Hans. Bentuknya heksagonal horizontal dengan sinar keemasan temaram keluar dari setiap ukirannya. “Bagaimana cara kerjanya?” tanyanya.


“Dia akan bergerak menuju ke arah yang akan kita tuju,” jawab Hans.


Fleur masih tidak mengerti. Sampai akhirnya, Hans menarik sehelai rambutnya sampai dirinya mengaduh kesakitan. “Hei!”


Pria itu hanya tersenyum menimpali. Dia meletakkan helaian rambut Fleur di permukaan kompas dan membuat cahaya benda itu semakin terang. Beberapa saat kemudian, dia bergerak, menunjuk ke satu arah.


“Selatan,” ucap Hans.


“Apa itu akan mengantarkan kita ke Topaz?” tanya gadis bermata hijau itu.


Hans mengangguk mantap. “Cara kerjanya dengan mendeteksi DNA yang sama dengan DNA yang kau miliki,” jawabnya. “Jika di selatan kita tidak menemukan Topaz, mungkin kita menemukan klan lain yang pernah berhubungan dengannya.”


“Topaz … adalah klan?” gumam Fleur.


“Iya,” balas Hans. “Sepanjang aku hidup, yang aku tahu, Topaz adalah nama klan Werewolf. Mereka hidup terisolir dan tidak mudah terdeteksi. Itulah kenapa saat kau menyebutkan nama tersebut, aku langsung teringat dengan mereka.” Dia mulai berjalan mengikuti arah yang ditunjuk kompas di atas tangannya. “Mungkin saja ayahmu ada di sana, Fleur.”

__ADS_1


***


__ADS_2