LETHIFEROUS

LETHIFEROUS
5. ALPHA


__ADS_3

Siapa yang bilang bahwa Lycan itu hanya sendirian? Hanya bualan belaka mengingat seperti biasa, Lycan maupun Werewolf akan hidup bersama kelompoknya.


Lycan itu mengaung lagi, kali ini lebih keras dan panjang. Sebuah suara menyahut dari kejauhan, seiring bunyi kemeresak yang membelah semak belukar dan menginjak dedaunan kering. Sekelompok serigala datang langsung menyerang para warga.


Pria pembawa panah itu berdecih. “Sial! Jangan takut! Mereka hanya makhluk rendahan!” serunya membangkitkan semangat yang lain. “Serang mereka!”


Orang-orang kembali mengangkat senjata. Mereka maju dan menyerang para serigala. Sementara itu, pria pembawa busur tadi mengarahkan senjatanya ke arah Lycan yang berdiri di depan gadis incarannya.


Lycan itu tersadar. Dia berlari dan langsung menghambur ke arah pria tadi. Nahas, pria itu meraih sebuah belati di ikat pinggang, lantas menusukannya ke lengan si Lycan.


Sosok bertubuh serigala tegap itu melompat menjauh dan menggeram. Darah merah menetes dari salah satu lengannya dan ketika itu Fleur terkejut bukan main. Gadis itu menutup mulut ketika menyadari jika arena itu bukanlah wilayahnya. Dia beringsut mundur, berusaha melarikan diri. Namun, seseorang berhasil menarik rambut merahnya hingga gadis itu berjengit kesakitan.


“Argh … lepaskan aku!” pekik Fleur sembari memberontak.


“Memangnya siapa yang mau melepaskanmu? Dasar penyihir!” tukas pria yang menarik rambut gadis tersebut.


Lycan tadi menyadarinya. Dia berlari menuju Fleur dan dengan cepat menggigit lengan si pria tanpa ampun. Sementara itu, pria pembawa busur tadi sontak melontarkan panahnya ke arah si Lycan hingga mengenai lengannya yang lain.


Fleur berteriak histeris. Namun, belum sempat dia bangkit, Lycan itu buru-buru menghampiri dan menggendongnya. Sosok serigala itu membawa kabur gadis berambut merah tersebut masuk ke tengah hutan, meninggalkan keributan di sana.


Sementara itu, pria pemanah tadi berdecak kesal. “Sial! Dia berhasil kabur!”


***


“Berhenti! Tolong, berhenti!” seru Fleur sembari menepuk dada sang Lycan berulang kali.


Lycan dengan bulu berwarna hitam itu membawanya masuk ke sebuah gua yang tertutup semak belukar dan menurunkan Fleur di sana. Makhluk itu langsung jatuh dengan napas tersengal. Cairan merah mengalir dari luka-lukanya.


“Astaga!”


Fleur mendekat perlahan dan berusaha menyentuh Lycan tersebut. Namun, serigala tegap itu memelotot hingga gadis itu tersentak dan beringsut mundur.


“Maaf,” lirih Fleur. Dia sedikit takut mengingat baru kali ini dirinya bertemu dengan seekor Lycan.


Namun, Fleur terdiam ketika mendapati tatapan Lycan itu. Mata birunya seolah mengingatkan Fleur dengan milik seseorang.

__ADS_1


“B-bisakah aku mengobatimu?” tanyanya kemudian sedikit gemetar. “A-aku bawa obat-obatan yang mungkin bisa membantu menghentikan pendarahanmu.”


Lycan yang napasnya masih tersengal itu akhirnya bungkam. Dia melihat ke arah lengannya yang terluka sejenak, lalu kembali menatap gadis berambut merah di depannya. Lycan itu menggeram lirih seolah mengijinkan Fleur untuk mengobatinya.


Fleur akhirnya mendekati Lycan itu kembali. Dia mengeluarkan beberapa peralatan dan ramuan racikan yang dibawanya dari tas. Namun, baru saja dia membersihkan luka di lengan Lycan itu, tiba-tiba serigala tegap itu menggeram.


“Hanya akan perih sebentar,” ucap gadis itu. Dia menatap makhluk di depannya hingga mereka saling bertatapan. Lagi-lagi, Fleur seperti mengingat seseorang, tetapi siapa?


Fleur kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia mengoleskan ramuan dengan pelan di luka Lycan tersebut. Kini, Lycan itu justru menggenggam tangannya. Fleur mendongak menatap makhluk tersebut.


“Kenapa?” tanyanya.


“Hentikan,” jawab Lycan itu dan membuat gadis berambut merah itu tersentak.


Dengan pelan, Lycan itu berubah wujud seketika. Dari sosok serigala mengerikan, kini menjadi seorang pria bermata biru yang sangat tampan. Fleur terkejut dan kembali terlonjak ke belakang. Tentu saja, kali ini, dia benar-benar mengingat sosok yang sejak tadi bernaung di pikirannya.


Pria di depannya sekarang adalah ….


“Hans?” Fleur terpaku, sulit meneguk saliva.


“J-jangan!” Fleur buru-buru mencekal pergerakan pria tersebut. “B-biar kuselesaikan,” ucapnya kemudian.


Akhirnya, Hans hanya diam dan menurut. Dia memperhatikan gadis berambut merah yang kini membalut lukanya dengan perban. Cukup rapi dan membuat rasa perih itu perlahan menghilang.


“Terima kasih,” ucap Hans.


Fleur mengangkat pandangan, lalu menunduk. “Tidak, terima kasih,” katanya.


Hans kembali menatap gadis di depannya. “Kenapa mereka mengejarmu?” tanyanya.


Gadis bermata hijau itu membalas tatapan Hans. “Ceritanya panjang,” jawabnya sedikit gemetar. Entah kenapa, baru kali ini Fleur merasa dirinya sangat ketakutan. Bukan karena sosok di depannya, tetapi karena mengingat orang-orang yang mengejarnya tadi.


“Ceritakan saja,” pinta Hans. Dia beralih mengusap pundak gadis itu dengan pelan, menyalurkan energi positif. “Aku tidak sengaja lewat di sana tadi dan melihatmu dikejar-kejar. Aku penasaran, apa yang membuatmu sampai diburu mereka?”


Fleur menatap Hans lamat-lamat. Dia mulai menceritakan asal-muasal dan penyebab dia dikejar oleh banyak orang sampai akhirnya ditolong oleh pria tersebut. Tubuhnya gemetar, tetapi dengan cepat, Hans merengkuh dan membawanya ke dalam pelukan tubuhnya yang bertelanjang dada.

__ADS_1


Entah kenapa, Fleur merasa sedikit tenang. Aroma tubuh Hans yang menguar membuatnya kembali damai. Namun, tetap saja, ketakutannya dengan seorang pria belum hilang sampai detik ini.


“Kalau saja aku datang sedikit lebih cepat, mungkin mereka tidak akan mengejarmu,” bisik Hans.


Fleur menoleh, menatap mata biru pria tersebut. “Apa maksudmu? Kau ….”


Mata biru Hans tampak berkilat, menyiratkan sesuatu yang menarik perhatian gadis berambut merah tersebut. Pria itu meneguk liur dan menunduk sejenak.


“Aku ….” Hans memandangi Fleur kembali. “Aku tertarik padamu sejak pesta waktu itu.”


Fleur tersentak, terkunci dalam diam. Hans? Tertarik padanya? Bagaimana bisa?


Gadis itu mendadak bergeser sedikit dan melepaskan rengkuhan Hans. Ketakutan terbesarnya muncul lagi. Dia menggeleng cepat.


“Kau … kau tidak mungkin tertarik padaku,” ucap gadis itu.


Hans menghela napas. “Ini aneh, tapi … aku tidak pernah merasakan getaran seperti ini sebelumnya,” timpalnya. “Hanya denganmu, di malam itu.”


Keduanya saling bertatapan dengan isi pikiran masing-masing. Fleur menggeleng, menolak kenyataan tersebut.


“Aku sudah bercerita tadi kalau tidak ada yang bisa menjadi pasanganku sampai akhir,” ujar gadis itu kemudian. “Sekali pun itu kau, tolong … jangan dekati aku.”


Kalimat itu seolah membuat hati Hans teriris. Tidak. Sebenarnya, bukan ini yang diinginkannya. Pria itu hanya menuruti sesuatu yang tiba-tiba saja merusak fokusnya ketika dia mengingat sosok gadis tersebut.


“Tapi, Selena yang memutuskan takdir ini,” ucap pria bermata biru itu.


Fleur menoleh dan dia teringat dengan Hera—sang ibu—yang memuja Selena bahkan jauh sebelum dirinya dilahirkan. Namun, Selena jugalah yang memberikan kutukan itu padanya dan sekarang apa? Dewi bulan itu


memutuskan takdirnya berpasangan dengan … Lycan?


Hans meraih leher Fleur, membingkai wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Dia menempelkan kening mereka, lalu memejamkan mata. Jika saja Fleur tidak percaya dengan bualannya, mungkin dengan sedikit pandangan, gadis itu bisa memercayainya.


Fleur sedikit berjengit, tetapi gerakannya ditahan oleh Hans. Mata hijaunya membola ketika sebuah vision merasuk ke alam pikirannya. Tentang dia yang bertemu dengan seorang pria berambut hitam dan bermata biru dan menikah di bawah sinar bulan purnama.


Pria itu adalah Hans.

__ADS_1


***


__ADS_2