
"Tapi, Tuan ...."
Pengawal yang diperintah Bara ragu untuk mengambil tindakan, sebab mereka sudah mengenal Keyla.
"Cepat seret dia keluar! Apa kalian sudah bosan bekerja di sini?" bentak Bara lalu bergegas masuk ke dalam mansionnya.
"Maafkan kami, Nona," ucap salah seorang pengawal hendak membawa Keyla keluar.
"Biar aku pergi sendiri, Pak," kata Keyla di dalam tangisnya.
Tanpa menunda waktu lagi, gadis ini pun pergi meninggalkan mansion megah tersebut dengan perasaan kacau.
Keyla terus melangkah tanpa ia tahu harus ke mana.
Tanpa terasa dia sudah berjalan cukup jauh dari mansion tersebut, dan rasa haus mulai menggerogoti kerongkongannya.
"Ya Tuhan, aku bahkan tidak membawa apa-apa," lirih Keyla.
Dia yang sedang menunggu kepulangan Nyonya Kyara, tidak menyangka akan diusir secara tiba-tiba. Jadi jangankan membawa pakaian atau uang, bahkan ponselnya pun ketinggalan di kamar.
Merasa sudah tidak sanggup berjalan, Keyla pun beristirahat di pinggir jalan. Lalu hinaan Bara tadi terngiang kembali di kepalanya.
Makian dari pria itu terlalu menyakitkan untuk Keyla. Benar, dia memang pernah ingin menjual diri, tapi itu bukan karena murahan ataupun gila uang.
Ada alasan yang sangat mendesak di balik semua itu.
Lagi pula, saat itu Keyla juga batal melakukan pekerjaan kotornya, tapi pria itu tetap dengan tanpa perasaan mencabik-cabik harga dirinya.
"Aku bukan gadis murahan, aku tidak seperti yang dia katakan," isak Keyla yang belum juga berhenti menangis.
Dara, satu nama itulah yang kini diingat Keyla, karena hanya dia satu-satunya tempat bagi Keyla untuk mengadu.
Namun, jarak dari tempat dia sekarang berada dengan apartemen Dara sangat jauh. Sementara dia tidak membawa uang untuk ongkos taksi atau ojek. Bahkan ponsel untuk menghubungi Dara pun tidak ada.
Keyla sempat berpikir nekat untuk naik taksi, lalu meminta Dara dan membayarnya saat tiba di apartemen nanti. Namun, sekali lagi niat itu harus dia urungkan, karena khawatir jika nanti Dara sedang tidak berada di apartemen.
"Ya Tuhan, aku harus apa? Haruskah aku jalan kaki ke apartemen Dara?"
Sepertinya memang tidak ada pilihan, Keyla memang harus jalan kaki ke apartemen sahabatnya itu.
Dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, Keyla pun berdiri. Dia harus melangkah, dan tidak boleh membuang waktunya di sini.
Setelah berjalan cukup jauh, Keyla merasa kakinya hampir lepas dan tenggorokannya benar-benar kering. Akhirnya rasa lelah itu membuat Keyla memutuskan untuk beristirahat, dia bisa jatuh pingsan jika terus memaksakan diri untuk berjalan.
__ADS_1
Keyla mendekati sekelompok gadis yang tengah duduk di halte.
Keyla berpikir tidak ada salahnya meminta bantuan, meski pada orang yang tidak dikenal.
Pada saat kejadian di apartemen Bara memang tidak ada orang yang mau meminjaminya ponsel, tapi mungkin karena saat itu sudah terlalu larut malam, jadi orang-orang akan was-was dengan sendirinya.
"Permisi, Mbak ... boleh minta tolong?" ucap Keyla pada seorang gadis berambut sebahu.
Para gadis itu pun menatap Keyla dengan penuh curiga.
Keyla menghela napas berat, entah bagaimana hasilnya nanti, setidaknya dia ingin mencoba terlebih dulu.
"Jadi gini, Mbak. Saya nggak punya uang dan nggak bawa ponsel, saya kesasar di sini. Saya cuma mau minta tolong untuk menghubungi teman saya, agar dia menjemput saya di sini."
"Saya tau, mungkin kalian berpikir saya ingin menipu. Jadi supaya Mbak nggak khawatir, saya minta tolong Mbak aja yang menelponnya, saya akan sebutkan nomornya," lanjut Keyla penuh harap.
Gadis berambut sebahu merasa tidak tega, dan berniat untuk membantu Keyla.
"Nih, Mbak. Pakai ponsel saya aja," ucap gadis tersebut seraya mengulurkan ponselnya.
Teman-teman dari gadis itu menatap dengan maksud mencegah, Keyla yang menyadari itu pun menjadi ragu untuk mengambil ponsel tersebut.
"Nggak apa-apa, Mbak. Pakai aja, saya percaya Mbak gak punya maksud jahat," ucap gadis itu sembari tersenyum tulus.
Setelah selesai, Keyla segera mengembalikan ponsel gadis itu, tanpa lupa mengucapkan terima kasih.
Mereka berkenalan, dan dilanjutkan mengobrol sembari menunggu kedatangan Dara.
"Nih minum, sepertinya kamu kehausan dan baru habis nangis." Gadis tersebut memberikan air mineralnya kepada Keyla.
Keyla memang kehausan, tapi tidak enak untuk mengambilnya, terlebih mereka baru saja berkenalan.
"Ambil aja, Mbak. Mungkin sekarang kamu lagi susah, tapi siapa tahu lain kali aku yang akan butuh bantuan kamu."
"Terima kasih," ucap Keyla seraya memperlihatkan senyuman termanisnya.
Dia menerima air mineral dari gadis tersebut, karena memang dahaganya sudah tidak lagi tertahankan.
***
Begitu tiba di mansion, Nyonya Kyara langsung beristirahat karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.
Sedangkan Amira, dia sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan anak dari sahabat ibunya, yang kini tinggal serumah dengan mereka.
__ADS_1
Namun, sejak tiba di mansion dia tidak melihat ada orang lain, jadi dia pergi ke kamar ibunya untuk menanyakan keberadaan gadis tersebut.
"Mom, bangun, aku tidak melihatnya, di mana dia?" rengek Amira sambil mengguncang tubuh ibunya yang sedang tertidur pulas.
"Mira!" geram Kyara kesal karena ulah putri bungsunya itu, "Kamu itu sudah dewasa, sana lihat ke kamarnya dan kenalan sendiri!"
"Siap, Boss!"'
Amira membuat gerakan menghormat, lalu pergi dari kamar tersebut tanpa merasa bersalah karena sudah membuat sang ibunda kesal.
Amira masuk ke dalam kamar yang ditempati Keyla tapi tidak menemukan sosok yang dicari.
"Apa mungkin dia di mansion belakang, ya?" pikir Amira.
Amira berinisiatif mencari Keyla ke mansion belakang. Lagi pula jika tidak menemukan Keyla di sana, dia bisa bertanya pada pelayan tentang keberadaan gadis tersebut.
Begitu tiba di mansion belakang, Amira hanya mendapati pelayan mansionnya yang tengah bekerja.
"Bi, ke mana anak teman mommy itu?" tanya Amira pada bi Inah.
"Nona Keyla sudah pergi, Non," jawab bi Inah.
'Oh, mungkin dia sedang sibuk dengan tugas kuliah, atau mungkin sedang pergi bersama teman-temannya,' pikir Amira dalam hati.
"Ya sudah, Bi ... aku akan menemuinya nanti saat dia pulang," ujar Amira seraya hendak pergi dari tempat tersebut.
"Eh, bentar, Non!" cegah bi Inah dan Amira berbalik badan, "Sepertinya Nona Keyla nggak akan pulang lagi. Dia pergi karena diusir Tuan Muda, Non."
"Hah? Kak Bara ada di sini, dan dia mengusirnya?" Amira terkejut.
Setahu gadis ini, kakaknya itu sangat jarang pulang ke mansion, dan lebih betah tinggal di penthousenya.
Yang membuat Amira semakin tidak habis pikir, kakaknya itu pulang-pulang malah langsung membuat masalah.
Sambil menghela napas kesal, gadis ini kembali ke kamar ibunya.
"Mom, anak teman Mommy itu sudah pergi. Dia diusir sama Kak Bara." Amira kembali membangunkan ibunya.
"Apa?" Nyonya Kyara yang nyawanya belum terkumpul semua itu merasa kurang jelas.
"Bi Inah bilang, dia sudah pergi karena diusir Kak Bara," ulang Amira.
"Baraaaa!" Wanita setengah baya ini sontak bangun dan bersandar pada headboard ranjang, "Cepat panggil kakakmu itu ke sini!"
__ADS_1
Bersambung.