
Keyla berlari melewati lorong rumah sakit dengan napas tersengal. Setelah melewati berpuluh-puluh meter, dia pun berhasil sampai di depan ruang rawat sang ayah.
Hanya saja, Keyla mendapati ruang rawat tersebut sudah kosong. Hal ini membuat debaran jantung Keyla kian kencang, dan perasaannya semakin tidak enak.
Keyla kembali menyusuri koridor rumah sakit, sampai akhirnya melihat ibu Rita sedang duduk sendirian di salah satu kursi tunggu.
"Ibu, kenapa Ibu di sini? Di mana ayah? Mengapa ruang rawat ayah kosong?" tanya Keyla cemas dengan napasnya yang masih tersengal.
"Ayahmu sudah dipindahkan ke ruang operasi, Nak. Kamu bantu do'akan ayah ya, dia sekarang sedang menjalani prosedur bedah," jawab ibu Rita.
Keyla menghela napas lega, dia bersukur karena apa yang ditakutkan tidak menjadi kenyataan.
"Maafin Key ya, Bu." Keyla memeluk ibunya lalu menangis sesunggukan.
Hal ini membuat ibu Rita kebingungan.
"Kamu kenapa, nak? Mengapa kamu menangis?" tanya ibu Rita sembari mengelus lembut rambut panjang putrinya.
"Tadi Key sempat berpikir buruk tentang ayah, Key gak mau itu terjadi, Bu," isak Keyla dalam hangatnya pelukan sang ibu.
Ibu Rita tersenyum, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu, selain memiliki seorang anak yang begitu peduli pada keluarga.
Seperti putrinya ini tentu saja.
Sesaat kemudian Keyla melepaskan pelukan ibunya. "Bagaimana ayah bisa naik meja operasi, Bu? Kita bahkan belum membayar biayanya sama sekali, tapi sukurlah kalau ayah ditangani lebih cepat. Hari ini Key mau bayar uang mukanya, Bu. Dara mau pinjamin tabungannya buat bayar biaya operasi ayah."
Ibu Rita kembali tersenyum senang, dia mengenggam erat tangan Keyla. "Dara itu memang teman yang baik ya, Nak ... tapi ibu juga punya teman sebaik dia. Dara tidak perlu mengambil tabungannya untuk membayar biaya operasi ayahmu, karena teman ibu sudah menanggung semua biayanya."
"Teman ibu yang mana? Apa Key mengenalnya?"
Setahu Keyla, ibunya tidak mempunyai teman dari keluarga berada. Lalu siapa yang mampu membiayai prosedur operasi transplantasi ginjal yang nominalnya tidak sedikit?
Ibu Rita menggelengkan kepala. "Kamu mungkin tidak mengenalnya lagi, Sayang. Ibu juga sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya. Dia menikah dengan pria bule, dan pindah ke luar negri saat kamu masih berumur 5-tahun. Sejak saat itu kami baru bertemu lagi hari ini."
"Ibu bertemu di mana sama tante itu?" tanya Keyla penasaran.
__ADS_1
"Di sini, dia adalah pemilik rumah sakit ini. Tadi ibu bahkan hampir tidak mengenalinya lagi, karena dia terlihat sangat awet muda. Dialah yang mengenali ibu lebih dulu," jawab ibu Rita.
Mengingat keduanya sudah tidak bertemu sekian lama, ibu Rita bahkan tidak menyangka jika Kyara, sahabat lamanya, masih mengenali dirinya.
"Jadi dia kebetulan pulang ke Indonesia, terus bertemu Ibu di sini?" tanya Keyla yang sifat keponya mulai kumat.
Ibu Rita menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Walaupun dia sudah menjelaskan panjang lebar, tapi putrinya ini masih tidak berhenti bertanya.
"Dia sudah satu bulan pulang ke Indonesia, dan katanya akan menetap di sini. Itu orangnya datang!" Ibu Rita menunjuk ke arah seorang wanita setengah baya yang tengah berjalan mendekati mereka.
Keyla memutar hadap untuk melihat ke arah yang ditunjuk ibunya.
"Nyo-nyonya yang tadi ...." Keyla terkejut sekaligus takut setelah mengetahui sahabat ibunya itu adalah wanita yang ditabraknya barusan.
"Ini, Ta, makanannya." Nyonya Kyara memberikan sebuah kantong plastik kepada ibu Rita.
"Makasih, Ra."
Nyonya Kyara mengalihkan pandangan pada Keyla yang sedang tertunduk. "Ini siapa, Ta?"
Nyonya Kyara mengangguk. "Jadi kamu Keylani? Dari kecil sampai sekarang, masih saja ceroboh!"
Keyla memberanikan untuk mengangkat kepala, dan berucap dengan suara gemetar, "Maafkan saya, Nyonya. Tadi itu benar-benar tidak sengaja."
"Tidak apa-apa. Kamu memang masih sedikit ceroboh, tapi kamu tumbuh menjadi anak yang sopan."
"Memangnya putriku kenapa, Ra?" tanya ibu Rita yang tidak mengerti pembicaraan keduanya.
"Dia tadi menabrakku di jalan," jawab nyonya Kyara.
"Kamu ini, cepat kenalan sama Tante Kyara dan minta maaf!" suruh ibu Rita pada Keyla.
"Namaku Keylani, Nyonya!" Keyla dengan sopan meraih tangan nyonya Kyara lalu mencium punggung tangannya.
Nyonya Kyara tersenyum lembut. "Tante sudah tahu nama kamu, dan jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja Tante, Tante Kyara."
__ADS_1
Wanita ini mengusap kepala Keyla, lalu beralih pada ibu Rita. "Kamu makan dulu sana, Ta. Udah siang lho ini."
"Iya, Ra." Ibu Rita mengangguk, sebelum pergi dia beralih pada Keyla, "Kamu di sini aja, temenin tante Kyara ngobrol."
Kini di kursi tunggu itu hanya menyisakan Keyla dan Nyonya Kyara.
"Maaf ya, Tante. Tadi aku benar-benar panik karena ibu menelponku berkali-kali, aku bahkan sempat berpikir terjadi sesuatu yang buruk sama ayah," lirih Keyla yang merasa masih tidak enak hati.
Nyonya Kyara menatap Keyla dengan mata teduh. "Tapi lain kali kamu harus tetap hati-hati walau dalam keadaan apa pun. Untung yang kamu tabrak itu orang, kalau mobil gimana?"
Keyla mengangguk. "Iya, Tante, maaf. Jadi tadi itu Tante keluar sekalian mau beliin makanan buat ibu, ya?"
"Iya, tadinya tante mau ajak ibu kamu makan di luar tapi dia nggak mau, katanya di sini nggak ada orang yang jagain ayah kamu. Ibu kamu tetap keukeh padahal keluarga gak boleh masuk saat proses bedah, jadi tante bawain aja makanannya buat ibu kamu," jawab nyonya Kyara.
"Tante baik sekali, terima kasih juga sudah membiayai operasi ayah," tutur Keyla.
"Ini bukan apa-apa, ibu kamu adalah teman baik tante dari masih gadis, jadi wajar jika tante bantu keluarga kamu."
Tak lama kemudian ibu Rita kembali setelah selesai makan, mereka berbincang hangat sembari menunggu jalannya proses operasi.
Setelah hampir empat jam berkutat dengan pisau bedah, akhirnya dokter yang menangani operasi ayah Keyla keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya nyonya Kyara.
"Prosesnya lancar, Nyonya. Sekarang pasien hanya perlu dirawat inap selama kurang lebih satu minggu, agar kami dapat memantau pemulihannya dengan baik," jawab dokter tersebut.
Nyonya Kyara mengangguk. Sedangkan wajah Keyla dan ibunya tampak berbinar cerah, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi keduanya.
Tak lama setelah itu tim medis keluar untuk memindahkan pasien ke ruang rawat
Nyonya Kyara melihat sebentar kondisi suami sahabatnya, setelah itu ia pun pamit pulang.
"Hati-hati di jalan ya, Tante. Terima kasih untuk bantuannya," ujar Keyla sembari salim pada nyonya Kyara.
"Kamu yang hati-hati, jangan ceroboh," sahut nyonya Kyara sambil tersenyum geli dan membuat Keyla tertunduk malu.
__ADS_1
Bersambung.