
"Iya, gue ikut, ambekan banget sih!" sahut Keyla.
Jika harus memilih pergi bersama Dara atau Diego, tentu saja Keyla akan memilih bersama Dara.
Dara adalah sosok yang banyak berjasa di hidup Keyla, dan Keyla bukanlah tipe kacang yang lupa pada kulitnya.
Meski begitu Keyla tetap menghubungi Diego untuk memberitahu bahwa rencana mereka batal.
Begitu kelas terakhir selesai, Keyla dan Dara segera meninggalkan kampus, menyusuri jalanan ibukota yang benar-benar macet siang ini.
Setelah melewati perjalanan yang sangat membosankan, Dara membelokkan mobilnya ke salah satu mall yang ada Jakarta.
"Kok kita ke mall sih? Bukannya tadi lo bilang mau nunjukin sesuatu yang penting," protes Keyla saat mereka memasuki parkiran mall tersebut.
"Ya emang penting, makanya lo ikut aja dulu!" balas Dara.
Keyla tidak protes lagi. Mereka menuju rooftop mall, lalu memasuki sebuah cafe dengan konsep desain yang sangat unik.
Kesan modern dan dinamis adalah hal pertama yang ditangkap mata, ketika memasuki interior yang didominasi warna abu-abu dan putih.
Ditambah sentuhan nyentrik dengan dekorasi yang unfinished khas industrial, semakin membuat interior yang tidak terlalu luas itu terasa lebih hidup.
Keyla mengedarkan pandangan ke sekeliling, tidak ada pengunjung, etalase juga masih kosong, dan hanya ada dua orang karyawan yang sedang bersih-bersih.
Ketika melihat kedatangan Dara dan Keyla, mereka segera menyapa dengan Ramah.
"Dara, ini?" Keyla mulai bisa menebak apa alasan Dara membawanya ke cafe ini.
Dara pun menganggukkan kepalanya. "Modal gue udah cukup, dan gue udah mutusin untuk berhenti, Key. Sekarang cafe ini yang bakal jadi masa depan gue."
Keyla langsung menghambur ke pelukan Dara. Keluarnya Dara dari dunia kotor yang selama ini digeluti, adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi Keyla.
Pekerjaan Dara memang bisa menghasilkan uang dengan sangat mudah, dan jumlah yang didapat juga sangat besar. Namun, di baliknya juga ada risiko yang besar pula, seperti dilabrak istri pelanggan, sampai dengan mendapat penyakit menular.
__ADS_1
Hanya Keyla yang tahu apa alasan Dara terjun ke dunia hitam itu, dan sekarang Dara ingin berhenti, jelas saja Keyla merasa sangat senang.
"Kenapa dari awal lo gak ngasih tau gue sih, kan gue bisa bantu-bantu. Atau jangan-jangan lo udah gak anggap gue temen lagi ya?" Keyla menatap Dara dengan mata menyipit.
"Gue udah mulai nyiapin ini dari sebulan yang lalu Key. Saat itu bokap lo lagi sakit, ya gak mungkin dong gue malah nambahin beban elo."
"Bilang aja lo emang gak butuh bantuan gue!" sungut Keyla.
Dara menghela napas berat. "Kalau gue gak butuh bantuan lo, buat apa kita ke sini? Gue bawa lo ke sini karena butuh bantuan lo, Key."
"Siap, Bos. Aku akan mengabdi untukmu!" sahut Keyla penuh semangat seraya membuat gerakan menghormat.
"Gue serius kali, Key!" Dara menoyor kepala Keyla dengan gemas.
"Ish, lama-lama bisa jadi bego gue, kalau lo giniin mulu," protes Keyla sembari menepis tangan Dara, "Emangnya lo mau tugasin gue di bagian apa? Jadi waitrees? Siap! Jadi tukang cuci piring? Juga siap!"
"Ya bukan tukang cuci piring juga, Key!" Dara hendak kembali menoyor Keyla, tapi kali ini Keyla sudah siap mengantisipasinya.
"Gue bisa jadi bego benaran, Ra. Kalau lo terus-terusan noyor kepala gue. Ingat ya, gue ini teman lo yang paling pintar!" sungut Keyla sambil menekankan kata terakhirnya.
"Eh, jangan salah. Di fakultas gue, dan di seluruh kampus kita, gue yang paling pintar. Ingat ya, Ra. Nilai terendah dari setiap mata kuliah gue itu A-. Dan gue yakin banget nantinya bakal lulus dengan predikat cumlaude. Eh, jangan ding, harus summa cumlaude dong!" ujar Keyla dengan sangat percaya diri, atau bahkan over percaya diri.
"Iya deh, iya!" Dara mengalah, kemudian melanjutkan, "Maka dari itu gue butuh bantuan lo, Key!"
Mereka lantas menuju dapur, di sana sudah ada kitchen set yang tersusun rapi, siap untuk digunakan.
"Nah, di sini tempat kerja gue!" ujar Dara sembari menoleh ke arah Keyla yang berdiri di sampingnya.
Keyla hanya menganggukkan kepala, dia tahu Dara memang bercita-cita menjadi seorang chef, dan Keyla senang Dara sudah selangkah lebih dekat cita-citanya itu.
Dari dapur, Dara membawa Keyla menuju ruangan lainnya, ruangan yang lengkap dengan sofa, meja kerja, dan sebuah komputer di atasnya.
"Nah, kalau yang ini ruang kerja lo, Key!" ujar Dara, jelas sekali bahwa ini adalah ruangan office cafe tersebut.
__ADS_1
Keyla mengerutkan dahi.
"Kenapa ini ruangan gue, sedangkan lo yang owner malah di dapur?" Tiba-tiba Keyla menjadi lemot.
Dara mengelengkan kepala sembari menghela napas berat. "Key, gue harus menabung bertahun-tahun untuk mendirikan cafe ini. Gak mungkin dong gue mau percayain managemen cafe ini ke orang lain gitu aja. Makanya gue minta elo jadi manager, semua urusan managemen, gue serahin ke elo!"
Keyla terdiam sejenak, dia terlihat sedang berpikir keras. "Ini aneh, Ra. Aneh banget, lo yang punya cafe panas-panasan di dapur, sedangkan gue jadi manager. Kenapa gak ditukar aja? lo yang di sini, gue yang di dapur!"
Dara berdecak dan sekali menoyor kepala Keyla. "Tuh kan lemotnya gak ketolongan, udah gitu masih merasa paling pintar? Jangan bikin cafe yang baru mau jalan ini bangkrut dalam sekejap deh Key. Gue yang gak ngerti managemen kerja ngurusin office, sedangkan lo yang gak bisa masak kerja di dapur, gitu?"
"Siapa bilang gue gak bisa masak?" balas Keyla sengit.
Dara menggelengkan kepala. "Iya, lo juga bisa masak, tapi ini udah sesuai kapasitas masing-masing, Key. Lo yang kuliah jurusan bisnis ngurusin office, dan gue yang kuliah di jurusan tata boga ngurusin dapur!"
"Iya juga sih!" sahut Keyla dengan polosnya, seolah merasa tidak berdosa telah membuat Dara naik tensi.
Dari ruangan office mereka kembali ke ruangan utama. Di bagian sebelah kiri terdapat kursi dengan meja rendah, ini didesain untuk pengunjung yang ingin sekadar ngobrol santai ataupun bertemu dengan klien.
Lalu di sebelah kanan, ada meja tinggi yang sengaja dibuat untuk pengunjung yang ini bersantai sembari mengerjakan tugas.
Dan yang terakhir di sebelah meja kasir, ada meja bar panjang yang lengkap dengan stool, ini cocok anak muda yang ingin cuci mata ataupun mencari inspirasi.
Bagian langit-langit juga tidak luput dari perhatian, Dara memilih plafon akustik yang memiliki fungsi untuk meredam suara. Dara ingin memberikan kenyamanan pada pengunjung dengan meminimalisir kebisingan.
"Perfect!" ujar Keyla.
Dia tahu Dara tidak main-main dalam membangun cafe ini, sepertinya setiap desain telah melalui pertimbangan serius, dan memiliki tujuan tertentu.
Setelah puas mengekplorasi setiap sudut cafe, Dara mengajak Keyla mencari tempat makan siang yang masih berada di mall tersebut.
"Eh, lo sadar gak sih, Key? Perasaan cowok itu udah ngikutin kita dari kampus tadi!" ujar Dara.
"Iya, Ra. Tapi kira-kira tujuannya apa ya?"
__ADS_1
Orang dimaksud keduanya adalah seorang pria yang mengenakan hoodie hitam, lengkap dengan topi, serta kacamata hitam.
Bersambung ....