Living With The Bastard

Living With The Bastard
Dia Adalah Ular Berkepala Dua


__ADS_3

Keyla memasuki pelataran kampus dengan perasaan riang. Wajahnya terlihat berseri-seri, dan sesekali terlihat senyum manis menyungging dari bibirnya.


Pagi ini benar-benar berbeda, Keyla menyapa hampir setiap orang yang ia temui, suatu hal yang sangat jarang dilakukan Keyla.


"Ada bahagia setelah derita, ada tawa setelah tangis, ada pelangi setelah hujan!" gumam Keyla sambil tersenyum sendiri.


Hinaan dan perlakuan kasar Bara, seolah hilang begitu saja, tanpa membekas sama sekali di benak Keyla.


Saking senangnya, mungkin dia akan rela mendapat perlakuan kasar setiap hari dari Bara. Asalkan setelah itu dia mendapat perhatian dari Diego


"Mau gue antar ke rumah sakit jiwa lo?" ujar Dara seraya tersenyum mengejek.


Gadis ini sudah sejak tadi memperhatikan Keyla yang senyum-senyum sendiri.


Senyum riang Keyla berganti wajah cemberut. "Sialan lo!"


"Lagian lo senyum-senyum sendiri, kayak orang gila! Ada apa sih?" Dara merangkul Keyla sembari menatap sahabatnya itu dengan penuh telisik.


"Ceritanya nanti aja, telat masuk kelas nih gue, Daaaah!"


Keyla berlalu meninggalkan Dara dengan wajah riangnya. Sementara itu Dara hanya bisa menggelengkan kepala, sembari menatap bingung ke arah Keyla.


"Stres ... kali tuh anak!" gumam Dara, dia menggelengkan kepala lalu pergi menuju fakultasnya.


***


Kantor Infinity Group.


Diego tiba di kantor, dia langsung menuju ruangan eksekutif direktur yang berada di lantai paling atas.


Wajahnya penuh semangat, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, karena sudah berjanji untuk menjemput Keyla saat pulang kuliah nanti.


"Kau terlambat setengah jam, Diego!" ujar Bara yang sudah terlebih dahulu di kantor.


"Ciih, sejak kapan mempermasalahkan hal itu? Apa karena aku terlambat? Aku jadi mengabaikan tanggung-jawabku?" sahut Diego sembari duduk di kursi kerjanya.


"Ah, sudahlah, terserah kau saja!" Bara mengibaskan tangannya, "Sejak kapan kau mengenal wanita ular itu?"


"Wanita ular?" tanya Diego balik, dia tidak mengerti maksud perkataan Bara.

__ADS_1


"Wanita ular yang menumpang tinggal di mansionku," jawab Bara.


Diego menyipitkan matanya. "Maksudmu Keyla?"


Bara mengangguk. "Ya, sejak kapan kau mengenal wanita ular itu?"


"Berhenti menyebutnya seperti itu, Bara! Dan apa maksudmu menjulukinya dengan kata-kata menjijikan itu?" tanya Diego dengan nada yang penuh penekanan.


Bara menghela napas berat. "Brotherku, dia itu wanita j4lang yang sedang bersembunyi di balik topeng! Dia berpura-pura polos dan menjadi gadis baik. Kau tahu istilah ular berkepala dua? Seperti itulah dia, si j4lang itu sudah berhasil menipu mommy dan adikku dengan kepura-puraannya. Sekarang dia juga berhasil menipumu dengan wajah polosnya itu."


Darah Diego seperti mendidih ketika mendengar Bara merendahkan Keyla.


Keyla wanita ular, Keyla penipu, Keyla si wanita j4lang. Semua itu terngiang keras di benak Diego, yang membuat emosinya langsung memuncak.


Diego menggebrak meja dengan keras. Lalu melangkah mendekati Bara sembari menghunuskan tatapan tajam,


Tangan Diego terulur mencengkeram kedua bahu Bara dengan keras.


"Jaga mulutmu itu, Bara! Jika aku tidak menganggapmu saudara, aku pasti sudah membunuhmu saat ini juga. Mulutmu sudah keterlaluan, dan aku harap ini yang pertama dan terakhir kau merendahkan Keyla!" ancam Diego dengan tatapan berkilatan.


Diego tidak butuh waktu yang lama untuk menilai siapa Keyla, dan ia sangat yakin Keyla bukanlah gadis busuk seperti yang dikatakan Bara.


"Tahan emosimu, Bro. Aku tidak asal bicara, semuanya adalah kenyataan. Dia itu tidak sebaik yang kau bayangkan." Bara mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk meredam emosi Diego.


Diego menyipitkan matanya, sembari memperkeras cengkeramannya di bahu Bara.


"Sepertinya kau sangat membenci gadis itu, Bara! Dan entah mengapa aku jadi yakin, kecelakaan yang menimpanya tadi adalah ulahmu. Dia bukan terjatuh sendiri, tapi kau yang mencelakai dia sampai terluka. Benar begitu, Bara? Sial, pria macam apa yang kerjaannya hanya menyakiti wanita?" teriak Diego penuh emosi.


'Sialan kau wanita ular! Kau benar-benar licik, segitu bodohnya kah orang-orang terdekatku? sampai-sampai mereka lebih mempercayaimu daripada aku?' kesal Bara dalam hati.


Cklek!


Pintu ruangan eksekutif direktur terbuka. Dirga, asisten pribadi sekaligus teman Bara dan Diego masuk ke ruangan tersebut sembari membawa beberapa berkas di tangannya.


"Ada apa ini? Mengapa kalian berdua selalu ribut?" tanya Dirga sembari menatap Bara dan Diego bergantian.


Diego menatap tajam ke arah Dirga. Andai Dirga adalah asisten biasa dan bukan sahabatnya. Diego pasti sudah memarahinya habis-habisan, karena masuk ruangan tanpa permisi.


Meski kemarahannya belum mereda, Diego segera melepaskan cengkeramannya di bahu Bara, lalu kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Ini ada berkas-berkas yang harus kalian tanda tangani," ujar Dirga sembari meletakkan setumpukan berkas di atas meja.


"Jika tidak ada lagi, aku pamit. Aku bosan terus-terusan menjadi penengah anak TK yang selalu meributkan hal-hal yang tidak penting," sindir Dirga.


Bara dan Diego diam saja, itu pertanda Dirga boleh meninggalkan ruangan.


Kini Bara dan Diego sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Suasana di ruangan eksekutif direktur terlihat canggung, tidak seperti biasanya. Bara dan Diego tidak saling bicara, sampai menjelang jam istirahat siang.


Bara menatap Diego yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya.


Sahabatnya itu terlihat sangat marah kali ini. Sebelumnya Bara tidak pernah melihat Diego begitu marah, sampai-sampai tidak ingin bicara seperti sekarang ini.


"Kau marah padaku, Bro? Aku minta maaf!" Bara memulai percakapan.


"Aku tidak akan marah, jika kau bisa lebih menghargai wanita, Bara!" jawab Diego tanpa menoleh.


Bara menghela napas berat, sepertinya memang tidak ada jalan lain. Untuk saat ini dia harus mengalah sampai emosi Diego tenang.


Selanjutnya Bara ingin secepat mungkin membuktikan kepada orang-orang terdekatnya, bahwa Keyla tak lebih dari seorang gadis penipu.


Sejujurnya Bara merasa sangat terpukul, sebab semua orang terdekatnya begitu mudah terperangkap oleh tipu muslihat Keyla yang pura-pura polos.


Sebagai satu-satunya orang yang tidak berhasil diperdaya oleh Keyla, Bara bertekad membebaskan keluarganya dari pengaruh buruk ular berkepala dua itu.


Bara berdiri dari tempat duduknya. "Sudah jam makan siang, ayo kita pergi cari makan!" ajak Bara mencoba mencairkan ketegangan.


Diego melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. "Kau makan sendiri saja, aku sudah berjanji akan menjemput Keyla di kampusnya."


Setelah berkata, Diego buru-buru keluar dari ruangan, meninggalkan Bara seorang diri.


Bara menghela napas berat, dia semakin sedih karena melihat sahabatnya itu sudah menelan tipu muslihat Keyla mentah-mentah.


Siang itu Bara tidak jadi keluar, dia lebih memilih memesan makanan, dan melakukan santap siang di kantor.


Bara terus berpikir keras, mencari cara untuk membuktikan kebusukan Keyla.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2