
Keesokan harinya keluarga William sedang berkumpul untuk sarapan pagi, ketika Diego tiba di mansion.
"Selamat pagi, Onty." Diego menyapa Nyonya Kyara.
"Diego, ayo duduk, ikut sarapan bersama kami," ajak Kyara.
"Terima kasih, Onty. Tapi aku sudah sarapan di aparatemen," tolak Diego, "Aku datang untuk menjemput calon istriku dan mengantarnya pergi kuliah," lanjutnya.
"Uhuukk!" Keyla langsung tersedak makanan.
Amira juga terkejut, menatap nanar pada Diego, hatinya seperti tertusuk duri karena mendengar perkataan Diego.
Meski begitu Amira tidak ingin menyalahkan Keyla, apalagi sampai membencinya.
"Key minum dulu." Amira segera menyodorkan segelas air pada Keyla.
"Terima kasih," sahut Keyla.
Setelah tenggorokannya sedikit lega, Keyla melanjutkan sarapan sambil sesekali melirik Diego dengan canggung.
Sementara itu Bara terlihat sangat kesal, dia tidak tahu Diego serius atau hanya bercanda dengan pernyataannya barusan. Tapi yang jelas, Bara tidak rela sahabatnya itu terlau dekat dengan gadis seperti Keyla.
Selesai sarapan, Keyla pamit pada Nyonya Kyara untuk berangkat.
Kini dia sudah dalam perjalanan menuju kampus, dengan diantar oleh Diego.
Suasana kali ini terasa berbeda dan lebih canggung. Keyla lebih banyak diam, seakan masih belum percaya dengan pendengarannya tadi.
Benarkah kata-kata keluar dari mulut Diego itu? Atau hanya halusinasi Keyla saja?
"Apa ada yang salah?" tanya Diego, dia juga merasa aneh dengan sikap Keyla yang tidak seperti sebelumnya.
Keyla menoleh ke arah Diego. "Mengapa kau mengatakan itu kepada tante Kyara?"
"Mengatakan apa?" Diego pura-pura tidak tahu dan malah balik bertanya.
"Mengapa kau mengatakan kalau aku ini calon istrimu?" terang Keyla dengan tersipu malu.
"Aku hanya bercanda, apa itu mengganggumu?"
__ADS_1
Keyla mengelengkan kepala. "Tidak!"
'Dia hanya bercanda, aku saja yang terlalu menganggapnya serius, lagi pula mana mungkin pria setampan Diego menyukaiku,' gumam Keyla. Ada rasa kecewa di hatinya ketika mendengar jawaban Diego.
Keyla menghela napas panjang, berusaha membuang angannya jauh-jauh.
"Maukah kau jadi kekasihku?" Lagi-lagi Diego membuat Keyla tersentak.
Meski itu terdengar jelas di telinga Keyla, tapi dia tidak yakin Diego sedang serius.
"Kau bercanda lagi, ya?" tanya Keyla yang tidak ingin percaya begitu saja dengan ucapan Diego.
"Tidak, kali ini aku serius. Maukah kau jadi kekasihku?" Diego mengulang pertanyaannya.
"A-aku ...." Keyla tidak dapat meneruskan ucapannya, bibirnya terasa kelu.
"Ah, sudahlah! Lihat dirimu, kau itu konyol sekali. Aku hanya bercanda, mengapa kau harus gugup seperti itu?" Diego terkekeh mengejek.
Keyla mencoba mengatur napas, Dia tidak ingin terlihat semakin gugup. Apalagi ia tahu bahwa saat ini Diego hanya sedang mengodanya.
"Sayang sekali kau hanya bercanda. Padahal tadi itu aku ingin menerimamu!" celutuk Keyla seraya ikut tertawa.
"Sudah telat, waktumu habis!" ledek Keyla yang disusul tawa keras.
'Sialan, dia malah menertawaiku!' Diego merasa dongkol.
Tanpa terasa mobil yang dikendarai Diego pun tiba di kampus Keyla.
"Nanti aku akan menjemputmu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau bersedia?" tanya Diego, sorot matanya tampak penuh harap.
"Aku akan mengabarimu setelah kelasku selesai," jawab Keyla sembari menyunggingkan senyum manisnya.
Setelah Keyla turun, Diego segera memacu mobilnya menuju kantor Infinity Group.
"Mengapa aku harus gugup saat mengatakannya tadi? Mengapa aku bilang kalau aku hanya bercanda? Tapi kira-kira dia serius tidak, ya? Dengan jawabannya tadi?" gumam Diego sembari menggaruk kepalanya.
"Ah, sudahlah. Lagi pula aku menyatakan perasaanku di dalam mobil, tidak ada kesan romantisnya sama sekali," rutuk Diego menyalahkan dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Setelah kelas pertamanya selesai, Keyla pergi menuju kantin.
Pernyataan Diego tadi masih terngiang di pikiran Keyla, meski sebenarnya Keyla tidak ingin berharap terlalu banyak, karena ia cukup sadar diri.
'Tapi apakah berharap itu dilarang? Tidak, kan? Mengapa kau harus takut untuk berharap, Keyla? Semoga saja Diego serius, dan ini akan seperti mimpi yang jadi kenyataan, lalu aku dan dia akan- ....'
Duaaarr!
Keyla yang tengah asik di alam sendiri itu tiba-tiba dikejutkan oleh Dara, hingga semua khayalannya hilang tak terbekas.
"Sialan lo, ngagetin aja!" rutuk Keyla sembari memasang wajah cemberut.
"Lagian dari kemaren kerjaan lo melamun aja. Ini real life, Keyla ... jangan kebanyakan mengkhayal!" celoteh Dara.
"Siapa juga mengkhayal. Gue itu lagi mikir," elak Keyla.
"Mikir kok sambil senyum-senyum gitu, pasti lagi mikirin jorok ya?" tuding Dara sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Keyla.
"Enak aja lo!" sungut Keyla, bibirnya sampai mengerucut seperti ikan cucut.
"Lo udah pesan makanan belum? Hari ini biar gue yang traktir!" ujar Dara yang seketika membuat wajah Keyla berbinar.
"Serius?"
Keyla bergegas memesan dua porsi makanan dan minuman sebelum Dara berubah pikiran.
Tak lama kemudian Keyla kembali dengan membawakan hidangan di tangannya.
"Ntar pulang kuliah ikut gue ya, Key. Ada sesuatu, penting!" ujar Dara.
"Kenapa gak diomongin sekarang aja?" tanya Keyla heran.
"Ya gak bisa di sini juga, Key! Tapi gue yakin, lo bakalan senang dengan apa yang mau gue tunjukin nanti!" jawab Dara penuh teka-teki.
"Ish, kenapa nggak sekarang aja sih" desak Keyla.
Dara menghela napas berat. "Jadi lo gak mau ikut nih?"
Bersambung.
__ADS_1