
Di kantin kampus.
Amira mulai merasa ada yang aneh, karena Keyla yang ditunggu tidak kunjung datang.
Dia lantas mencoba menghubungi ponsel Keyla, tapi tidak diangkat.
Pada saat yang sama, dua orang mahasiswa tiba di kantin.
"Si culun punya masalah apa ya sama Disa?" pemuda yang mengenakan jaket biru bertanya pada temannya.
"Gak tahu!" Temannya yang bertubuh kerempeng menggidikkan bahu, "Apes banget ya nasib Keyla. Kalau Disa membawanya seperti itu, pasti dia akan dijual. Semua orang di kampus juga tahu Disa itu siapa!"
Amira yang mendengar obrolan itu langsung menghampiri keduanya.
"Maaf, apa Keyla yang kalian maksud itu gadis berkacamata, mahasiswi fakultas bisnis?" tanya Amira pada mahasiswa tersebut.
"Iya," jawab kedua pemuda itu hampir serentak.
"Dia dibawa ke mana?" tanya Amira lebih lanjut.
"Sepertinya ke parkiran belakang kampus."
"Terima kasih!"
Selanjutnya Amira bergegas meninggalkan kantin, dan menuju parkiran belakang.
Dia tiba di sana tepat di saat Disa mendorong Keyla masuk ke dalam sebuah mobil.
Setelah menutup pintu kabin belakang, Disa hendak masuk ke kursi pengemudi.
"Mau ke mana?" Amira menghadang jalan Disa.
"Siapa kau?" Disa membentak.
"Lepasin Keyla!" balas Amira sengit.
__ADS_1
"Wow, wow, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan lagi nih!" Disa bertepuk tangan sambil menatap remeh pada Amira.
"Si culun dari mana lagi ini? Mau ikut cari masalah? Minggir kamu, jangan ikut campur. Atau kau akan bernasib sama dengan kedua gadis di dalam," gertak salah seorang teman Disa.
Disa memperhatikan Amira dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia tersenyum sinis melihat penampilan Amira yang tak berbeda jauh dengan Keyla.
"Sepertinya kau gadis blasteran, ya? Aku baru tahu, ternyata gadis blasteran juga ada yang culun!" Disa terkekeh mengejek.
"Tapi sepertinya dia ini kalau didandanin cantik juga, Dis. Dia bisa jadi tambahan uang yang banyak untuk kita," ujar teman Disa yang berambut merah sebahu.
Tangannya dengan lancang mengangkat dagu Amira.
Amira tidak bergeming, dia bersedekap sembari menatap dua gadis di depannya dengan tajam. "Mau berlagak jadi gangster, ya? Hebat sekali, masih berstatus mahasiswa tapi kelakuan kalian sudah seperti ini!"
Detik selanjutnya Amira menangkap tangan gadis berambut merah, memutarnya ke belakang, lalu mendorongnya hingga tersungkur.
"Kurang ajar! Berani kau mendorongku, mau cari mati ya!" bentak gadis tersebut.
Dia hanya mengenakan rok pendek, dorongan Amira telah membuat lututnya tergores dan mengeluarkan darah.
Tiga orang pemuda maju untuk menangkap Amira, tapi yang berjalan paling depan langsung mendapat hadiah tendangan keras di perutnya.
Dia tertunduk sambil mengaduh dan memegangi perut. Sementara dua lainnya dibuat terkejut, mereka sama sekali tidak menyangka Amira memiliki kemampuan bela diri.
Sekarang ketiga orang itu bersiap menyerang, tidak peduli walaupun yang akan dikeroyok adalah seorang wanita.
Taaap!
Saat sebuah pukulan mengayun ke arahnya, Amira menangkap lengan salah satu pemuda itu dan di saat bersamaan memberi pukulan balasan.
Amira melirik ke arah samping, seorang pemuda berbadan tegap menyerang dari sisi kiri. Namun, belum sempat pukulannya sampai, Amira sudah lebih dulu menendang perut pemuda tersebut dengan keras.
Dia pun terlontar beberapa langkah ke belakang.
Pemuda yang terakhir melompat dan melayangkan tendangan. Namun, lagi-lagi Amira berhasil menangkapnya, lalu mengayunkan tubuh pemuda tersebut hingga jatuh menimpa kedua teman.
__ADS_1
Disa yang menjadi penonton mulai ketar-ketir, sedangkan wajah ketiga teman pria Disa tampak memerah. Mereka sangat malu karena dipencudangi oleh seorang gadis, bahkan dengan cukup mudah.
"Sial, kemampuan bela dirinya lumayan juga," umpat salah satu dari mereka.
"Iya, aku rasa kita harus menyerang secara bersamaan."
"..."
Setelah mengatur siasat, ketiga pemuda itu lantas berdiri dengan susah payah. Mereka memasang kuda-kuda, bersiap untuk serangan selanjutnya.
Amira yang sudah dilatih bela diri sejak kecil itu, melayani serangan demi serangan yang mengarah kepadanya.
Meski begitu, Amira juga tidak kuat bertahan terlalu lama. Dia dalam posisi dikeroyok, dan yang dihadapi adalah pria.
Bagaimanapun ketiga pemuda tetap memiliki tenaga yang lebih banyak dibanding Amira.
Benar saja, beberapa saat kemudian Amira pun mulai terlihat kewalahan, hingga sebuah tendangan berhasil mengenai punggungnya, dan dia pun jatuh tersungkur.
Melihat lawannya berhasil dikalahkan, ketiga teman Disa tertawa keras.
"Dasar gadis bodoh! Inilah akibatnya jika berani melawan kami!" ejek pemuda berambut gondrong, dia terlihat sangat bangga meski yang dikalahkan itu adalah seorang gadis.
Itu pun harus dilalui dengan susah payah, dan juga mode keroyokan.
"Sudah, jangan banyak bacot, cepat masukkan dia ke mobil!" perintah Disa.
Ketiga pemuda itu mengangguk, kemudian mendekati Amira.
"Aaahhhk!"
Salah satu dari mereka meraung kesakitan, tubuhnya terlempar ke belakang akibat tendangan yang menghantam dada, ketika hendak menyentuh Amira.
"Kalian ini benar-benar tidak punya urat malu, bisa-bisanya mengeroyok seorang gadis. Sana potong belalai kalian, lalu berikan pada anjing!"
Bersambung.
__ADS_1