Living With The Bastard

Living With The Bastard
Frustasi


__ADS_3

Bara mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Ya, Tuan." Dirga menjawab panggilan pada dering pertama.


"Cari informasi detail tentang gadis bernama Keylani Audiazuma secepatnya, dan pastikan tidak ada sedikit pun yang tertinggal!" perintah Bara.


"Baik, Tuan. Aku pastikan semua informasi yang kau minta sudah ada di mejamu besok pagi." Dirga menyanggupi dengan yakin.


Bara memutuskan panggilan secara sepihak, Dia tersenyum puas, karena memikirkan malam ini adalah malam terakhir Keyla tinggal di mansionnya.


Selanjutnya Bara pergi kamarnya untuk beristirahat, dia seakan tidak sabar agar hari cepat berganti.


Ketika menaiki anak tangga, langkah Bara terhenti saat berpapasan dengan Keyla.


Gadis itu berusaha tersenyum kepada Bara, Tuhan tahu itu adalah senyum yang dipaksakan, demi menghargai pemilik rumah.


"Mommy tidak mau mendengar perkataanku, tapi malah menyuruhku menyelidiki kebenarannya. Apa mungkin mommy sudah menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki gadis ular itu dan tidak berhasil? Ah, orang-orang mommy memang payah, tidak bisa diandalkan. Lagi pula bisa apa Riri yang seorang peprempuan dalam mengatur anak buahnya," gumam Bara, dia menganggap remeh kemampuan orang kepercayaan ibunya tersebut.


"Orang-orangku jauh lebih hebat, dan besok sandiwaramu akan berakhir gadis ular!" Bara mengepalkan tangan, sorot mata tajamnya tidak berkedip dari punggung Keyla yang sedang melangkah menuju mansion belakang.


Keesokan paginya Bara buru-buru datang ke kantor meski ini adalah hari minggu.


Bara sengaja mempercepat kepergiannya, karena sudah tidak sabar menerima laporan dari Dirga.


Bara tiba kantor Infinity Group, dia langsung menaiki lift yang akan membawanya ke lantai paling atas.


Begitu tiba di ruang kerjanya, Dirga sudah ada di sana untuk menunggunya.


"Kau sudah lama?" tanya Bara.


"Aku juga baru sampai, Tuan!" jawab Dirga.


"Apa kau berhasil melaksanakan tugasmu?" Bara langsung to the point sembari mendudukkan dirinya di atas sofa.

__ADS_1


Dirga mengangguk seraya memberikan sebuah map kepada Bara. "Seperti yang aku janjikan, Tuan."


Bara tersenyum lebar, dia membuka map tersebut dengan penuh semangat, dan segera membaca data pribadi Keyla.


Semakin lama Bara membacanya, senyumnya semakin hilang, dan wajahnya kini berubah masam.


"Informasi sampah macam apa ini?" geram Bara sembari melemparkan map tersebut kepada Dirga.


Dirga pun segera berdiri, dan membungkukkan 90 derajat.


Meski mereka bersahabat, tapi di kantor hubungan keduanya adalah bos dan asisten.


"Maaf, Tuan. Ini kesalahanku, aku terlalu ceroboh karena tidak menanyakan lagi perintahmu dengan jelas. Harusnya sebelum bergerak, aku menanyakan lagi informasi tentang Keyla mana yang kau inginkan." Dirga mengakui keteledoran, dia bahkan tidak berani mengangkat kepala.


Dirga melanjutkan, "Bukan maksudku untuk menyalahkanmu, Tuan. Tapi karena kau hanya mengatakan namanya Keylani Audiazuma, jadi aku langsung berpikir Bahwa Kyela yang harus aku selidiki adalah Nona Keyla yang ada di mansionmu."


Dirga tahu, satu kesalahannya bisa membuat Tuannya itu memberikan hukuman yang sangat berat.


"Sekarang Tuan katakan saja, Keyla mana yang kau inginkan informasinya. Aku pastikan dalam waktu kurang dari satu jam, semua info pribadi gadis itu akan sampai ke tanganmu," ujar Dirga dengan yakin.


Dirga mengkerutkan dahi, mengapa Bara marah? Padahal dia tidak salah menyelidiki orang, semua info pribadi Keyla juga lengkap, bahkan sampai ke detail yang sangat kecil.


"Aku tidak mengerti, Tuan." ujar Dirga.


"Dia itu gadis ular, gadis penipu, gadis yang sedang berpura-pura polos! Kau tahu? Pekerjaannya adalah wanita penghibur, itulah info yang aku inginkan!" bentak Bara dengan nada meninggi.


Dirga semakin tidak mengerti arah pembicaraan Bara. Dirga ini memiliki bawahan yang sangat kompoten, dia berani menjamin tidak mungkin terjadi kesalahan.


Apalagi tugasnya hanya menyelidiki gadis biasa seperti Keyla.


"Maaf, Tuan. Sepertinya ada yang tidak jelas di sini. Aku berani bertaruh atas kebenaran data yang aku berikan. Dan untuk perkataanmu tentang Nona Keyla tadi, itu sama sekali tidak benar, Tuan. Bahkan dari data yang aku dapatkan, Nona Keyla tidak pernah datang ke tempat hiburan malam, dan sama sekali tidak ada data yang mengarah bahwa dia adalah wanita penghibur," terang Dirga.


Bara menggeram kesal. "Tapi itulah data yang aku inginkan!"

__ADS_1


"Itu sangat mudah, Tuan. Tunggu sebentar, aku bisa menekan beberapa pemilik hotel dan tempat hiburan malam. Aku akan meminta mereka membuatkan data yang kau inginkan," ujar Dirga, ia berbalik badan hendak keluar dari ruangan.


BRAAKK!


Bara menggebrak meja dengan keras, Dirga pun kembali memutar badan menghadap tuannya.


"Kau ingin mommyku mengantungku hidup-hidup, dengan merekayasa data itu?" geram Bara.


'Salah lagi,' gumam Dirga sembari menggelengkan kepala.


"Aku ingin data yang real, dan segera dapatkan itu untukku!" perintah Bara dengan suara menggelegar.


Dirga menghela napas kesal sembari menatap tajam ke arah Bara. Lama-lama Dirga merasa frustasi dengan kehendak big bossnya yang tidak jelas.


"Bara William, kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, tapi kau tidak bisa mendapatkan sesuatu yang memang tidak ada. Jadi sekarang, berhentilah membuatku gila dengan permintaan konyolmu yang tidak masuk di akal ini!" geram Dirga.


Setelahnya dia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Berhenti di situ Dirga!" panggil Bara membentak.


"Apa kau sedang mengancam akan memecatku, Bara?" Dirga tidak menggubris panggilan Bara.


Dirga terus melangkah, bahkan menoleh ke belakang pun tidak. Lagi pula bagaimana dia harus mencari data yang memang tidak ada?


"Sialan kau bajingan kecil! Kalau kau bukan temanku, sudah kulempar kau ke kandang buaya!" teriak Bara.


Bara mengacak rambutnya dengan kasar, dia merasa frustasi.


Kepala Bara ingin pecah, karena memikirkan bagaimana seorang gadis murahan seperti Keyla bisa menutupi semua keburukannya dengan sangat rapi?


Sesaat kemudian Bara terlihat menyeringai, Bara tahu apa yang terjadi, dan Bara yakin sekali perkiraannya ini tidak meleset.


"Ehmm, dia pasti memiliki seorang sugar daddy kaya raya dan sangat berkuasa, dan pria itulah yang mengaburkan semua datanya. Baiklah, aku Bara William, aku sendiri yang akan turun tangan untuk membongkar kebusukan gadis sialan itu," gumam bara penuh tekad.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2