
Begitu Diego tiba di kampus Keyla, berkebetulan sekali gadis yang akan dijemputnya itu baru saja tiba di gerbang kampus.
Diego segera turun dari mobil, dia yang berwajah tampan tak kalah dibanding aktor hollywood, ditambah pakaian mewah yang membalutnya tak mampu menyembunyikan tubuh kekar bak dewa Yunani, membuatnya seketika menjadi fokus tatapan penuh minat dari mahasiswi yang berada di sana.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berdecak iri setelah mengetahui gadis yang dicari Diego adalah Keyla, sosok gadis yang dikenal cupu di kampusnya.
"Hebat juga ya si Keyla, bisa kenal pria setampan itu!"
"Iya, jangan-jangan dia pakai pelet."
"Masuk akal juga sih, kalau dipikir-pikir mana mungkin cowok seperfect itu tertarik sama Keyla. Pasti dia pakai jampi-jampi."
"Iya, kita semua juga tahu. Si Keyla pernah ditinggalin Rendy yang notabene cowok B aja!"
Keyla menghela napas kasar, obrolan sumbang teman kampusnya itu masih bisa didengar oleh Keyla meski mereka berjarak beberapa meter.
Mereka tidak sekedar merendahkan harga diri Keyla, tapi juga mengingatkan Keyla pada luka lama, luka yang hadir di saat Keyla mencintai seorang pria dengan sepenuh hati.
"Sudah, jangan dipedulikan, ayo kita pergi!" ajak Diego.
Keyla mengangguk, dan segera masuk ke mobil sport milik Diego.
Sebenarnya Diego juga panas mendengar gunjingan yang tertuju pada Keyla. Dia menahan diri karena berpikir sindir-menyindir sudah menjadi kebiasan para gadis. Namun, jika mereka berani menggangu Keyla secara perbuatan, sudah pasti Diego tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Sebelum mengantar Keyla pulang, Diego terlebih dulu mengajaknya mampir di sebuah restoran. Selain makan siang, tentu saja Diego ingin memanfaatkan waktu untuk mengenal Keyla lebih jauh secara pribadi.
"Apa kau ada masalah sama Bara?" Diego bertanya saat mereka sedang menunggu pesanan.
Keyla mengernyit, dia heran karena pertayaan itu tiba-tiba muncul.
Dari mana Diego tahu? Apa jangan-jangan pria ini memiliki indra ke enam?
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Diego kembali bersuara karena Keyla tidak menyahut.
Keyla menggelengkan kepala. "Tidak, aku sama sekali tidak memiliki masalah dengannya."
Diego tersenyum miring. Dia melihat Keyla bukanlah gadis yang pandai berbohong.
Pada saat yang sama, pelayan datang membawakan hidangan untuk mereka. Keduanya lanjut mengobrol dengan topik yang lebih santai sambil menikmati santap siang masing-masing.
Sehabis dari restoran, Diego langsung mengantar Keyla pulang ke mansion keluarga William.
***
Sore harinya Bara tiba di mansion, dia mendapati Keyla dan Amira sedang bersantai di ruang keluarga.
"Di mana mommy?" tanya Bara pada adiknya.
__ADS_1
"Ada di ruang kerjanya," jawab Amira tanpa menoleh ke arah sang kakak.
Bara melirik sekilas ke arah Keyla, lalu segera pergi menuju ruang kerja ibunya.
Mendapati ibunya sedang sibuk, Bara tidak berani mengganggu. Dia duduk di sofa sambil menunggu sang ibunda selesai dengan pekerjaannya.
"Ada apa Bara?" Nyonya Kyara melirik putranya.
"Apa Mommy sudah selesai? Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Bara sembari bangkit dan mendekat ke arah ibunya.
"Apa yang ingin kau sampaikan itu adalah masalah Keyla?" tanya Nyonya Kyara, ia tahu betul gelagat putranya tersebut.
Bara mengangguk, dia menceritakan kekhawatirannya tentang Keyla. Bara mengatakan keakraban antara Keyla dan Amira, akan berdampak buruk bagi si adik.
Sembari menyampaikan semua unek-unek di kepalanya, Bara menatap sang ibunda dengan sorot mata memelas. Bara berharap kali ini sang ibunda mau mendengarnya.
Nyonya Kyara menggeleng, dia sudah mengetahui semua tentang Keyla, dan tahu semua yang kekhawatiran putranya tidak beralasan.
Wanita paruh baya ini menatap Bara dengan tajam. "Bukankah kau adalah seorang Bara William? Mengapa kau merengek pada mommymu seperti kau tidak bisa berbuat apa-apa? Mengapa tidak kau gunakan kekuasaanmu untuk mencari kebenarannya? Kau ini terlalu banyak bicara omong kosong, Bara. Kau tidak seperti Bara yang mommy kenal, tapi kau lebih terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat!"
Setelah mengatakan itu, nyonya Kyara bergegas pergi meninggalkan Bara dengan membawa sejuta kekesalan.
"Ah, sial! Mengapa aku tidak kepikiran sejak awal?" Bara menggaruk kepalanya, "Pasti wanita ular itu sudah memberiku guna-guna, sampai-sampai aku lupa dengan apa yang seharusnya aku lakukan sejak awal!"
__ADS_1
Bersambung ....