
Di suatu sudut sekolah yang kurang terjamah oleh para murid umumnya, terdapat sekumpulan murid-murid yang tidak terdeteksi oleh guru sedang melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan murid disekolah. Ruang UKS digedung lama SMA JOHAN, selalu dijadikan tempat anak-anak nakal berkumpul. Berlaku juga untuk guru. Yang saat ini menggunakan ruangan
UKS adalah para murid cewek yang nakal dan suka menggoda anak laki-laki dan guru yang menurut mereka menarik. Dan saat ini guru yang mereka goda adalah Adrian Pratama, alias Ryan.
Tania :“Wah, wah. Pelanggan kita hari ini Pak guru tampan. /duduk di ranjang bersebelahan//sedikit menggoda/”Apa yang membawamu ke sini, tampan?”/membuka kancing baju ryan/
Ryan :/menghisap rokok/“Tidak ada. Hanya ingin melepas penat saja.
Tania :“Hmm...apa karena...kejadian tak terduga dikelas 10-A?”/mengelus-elus dada ryan/
Ryan :“Hah..!? Secepat itukah beritanya? Banyak yang berprofesi tukang gossip disekolah ini ternyata.”
Tania :“Yah..begitulah. Aku jadi penasaran, seperti apa. mereka itu. Apa seperti orang-orang yang biasa kita kerjai, ya? Hahaha...!”/tertawa/”Aw! Aw!! Sakit!!Tanganku Sakit, Adrian!!”/tangannya digenggam keras/
Ryan :/menatap tajam tania/“Tania... Jangan sekali-kalinya kau menyentuh murid-murid dibawah naunganku. Apa kau ingin pergelangan tanganmu putus?”/semakin keras menggenggam/
Tania : Aw... Lepaskan!! Siapa juga yang maukerjai? Aku hanya penasaran seperti apa mereka yang telah mempermalukanmu. Hanya itu! Lepas!! Sakit!!”/dilepas pergelangan tangannya/”Kau kasar sekali, Adrian!”/merintih/
Mika :/buka pintu UKS kencang/”Halo? Halo?? Apa Pak Adrian berada disini? Ah.. memang benar dugaanku. Kau berada disini rupanya.”/senyum-senyum lebar/
Ryan :“Ada apa kau kemari?”/mengisap rokok/
Mika :“Wah, wah..sebentar. Tania? Bisa kau bawa teman-temanmu ini
untuk keluar sebentar dari ruangan? Tidak baik murid-murid seperti kalian berada diruangan yang penuh asap rokok. OK?”/senyum lebar/
Tania :“....Baiklah. Ayo, semua keluar!!”/bergegas pergi/
Ryan :“.....Mereka sudah pergi. Sekarang apa maumu? Mau mengolok-olok aku juga?”
Mika :/menyambar rokok ryan/“Hei, kau ini ya. Ini lingkungan sekolah! Janganlah kau merokok didepan murid-muridmu.”
Ryan :“Mereka bukan murid-muridku. Mereka itu ******* yang sedang
mengambil status pelajar disekolah ini.”
Mika :“Aw... kata-katamu itu dalam sekali. Memang sih ada benarnya, tapi tetap saja mereka pernah menjadi muridmu kan? Haahhh...sampai kapan aku jadi malaikat pelindungmu sih? Sejak aku mengenalmu dari Sekolah dasar sampai kita berprofesi sama sebagai guru SMA. Aku selalu menjadi penjaga bagimu.”
Ryan :“Aku tidak memintamu menjadi penjagaku atau menjadi malaikat pelindungku. Tidak sama sekali.”
Mika :“Ya... yang meminta itu ibumu. Beliau tahu kalau kita bersahabat. Makanya beliau meminta bantuanku untuk selalu menjagamu.”
Ryan :“Ibuku sudah meninggal. Kau bisa lepas rasa tanggung jawabmu itu. Dan lagi sudah aku bilang, apa maumu ke sini?”
__ADS_1
Mika :“OK, OK. Aku ke sini cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kelas pertamamu. Aku melihat kau seperti dipermalukan oleh muridmu itu.”
Ryan :/menatap tajam/“Kau melihatnya?”
Mika :“Ya tentu saja. Kelas pertamaku kan bersebelahan dengan ruang kelasmu, Kelas 10-B. Aku melihat bagian anak perempuan itu menjawab. Tidak menyangka bisa menjawab secepat itu tanpa dia menulisnya di White board.”
Ryan :“Ya. Aku juga tidak menyangka dia bisa menjawab soal yang ku
berikan. Padahal itu salah satu soal yang akan aku ajukan ke Kemendikbud untuk soal Olimpiade SMA tahun depan. Dan begitu mudahnya dia menjawabnya.”/sedikit heran/
Mika :“Yah, aku sih melihatnya kagum saja. Karena bukan bidangku. Aku hanya guru dari Kesenian. Tapi apa kamu tidak heran bahwa kedua muridmu itu bisa mendapatkan nilai sempurna diseluruh pelajaran yang di UN-kan?”
Ryan :“Ya... memang. Aku juga baru pertama kalinya mendapat murid
seperti mereka. Dan lagi... sehari sebelum masuk sekolah, aku sudah pernah bertemu mereka diluar dan melihat dalam kondisiku bukan sebagai guru.”
Mika :“Astaga! /kaget/ Jangan bilang mereka tahu, bahwa kau salah satu pemimpin preman-preman di Bandung? Wah... gawat kalau begitu. Tambahan ancaman buatmu, Adrian.”
Ryan :“Hei... jangan sebut mereka preman. Tidak semua anak preman
bertingkah sebagai Preman.”
Mika :“Ya tetap saja mereka bikin resah masyarakat yang tinggal di
itu?”/bertanya penasaran/
Ryan :“Begini...”/menceritakan semua kejadian di hari minggu kemarin/
Mika : “Waw...dia melamarmu?? Apa yang membawa dia untuk
melamarmu?”/penasaran/
Ryan :“Entahlah. Aku juga bingung. Tiba-tiba di ajak menjadi suaminya. Pernyataan gila.”/geleng-geleng/
Mika :“Hmm... oh, bentar lagi jam istirahat selesai. Lebih baik kita lebih dulu ke ruang guru. Bagaimana?”
Ryan :“Hmm..baiklah.”/bangkit dari ranjang/
Mika :“Sebelum itu, rapihkan dulu bajumu. Apa kau mau bikin gossip lagi di sekolah ini bahwa kau telah diperkosa oleh rekan gurunya?”/sedikit sinis/
Ryan :“Hmm... /berpikir sejenak/ boleh juga idemu, Mika.”/sedikit tertawa/
Mika:“Heiii!! Jangan becanda kau, Adrian!!”
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan UKS menuju ruang Guru.
Mika :“Hei Adrian.”/berjalan disampingnya/
Ryan :“Ya?”/menyamakan jalan sementara memainkan rubik ditangannya/
Mika :“Aku rasa, kalian akan bersama nantinya.”
Ryan :“Maksudmu? Bersama dengan siapa?”/bertanya bingung/
Mika :“Ya... kau akan bersama dengan murid pintar itu. Namanya Kina, kan?”
Ryan :“Hah? Dengannya? Jangan harap.”/memutar-mutarkan rubik/
Mika :“Hei, apa yang aku ucap ini gak sembarangan loh. Di lihat dari
ceritamu, mungkin kalian itu sudah ditakdirkan bersama.”
Ryan :”Tidak ada yang bisa menandingi dia dihatiku.”
Mika :“Dia? Maksudmu cinta pertamamu itu? Ya Tuhan, Adrian... kau
masih saja belum melupakannya? Itu kan sudah bertahun-tahun lamanya. Dan lagi itu waktu kau baru masuk SMA. Dan juga dia waktu itu masih umur 9 tahunkan?”
Ryan :“Haha.. memang waktu itu dia masih 9tahun. Tapi itulah dimana aku bisa merasakan kehadiran wanita lain selain Ibuku.”
Mika :“Hei, Hei... dia masih anak-anak. Bisa-bisanya kau menganggap dia sebagai seorang wanita? Belum waktunya itu..”/sedikit heran/
Ryan :“Haha.. suatu hari dia akan menjadi seorang wanita. Tentu saja menjadi wanita yang cantik dan menawan. Aku berharap, suatu hari nanti kami bisa bertemu.”/menatap rubik yang dimainkannya/
Mika : “Memangnya kau hapal dengannya? Kau tahu wajahnya
sekarang?”/bertanya penasaran/
Ryan :“Hah... Aku juga ingin begitu. Andai aku bisa mengingat wajahnya, mungkin sudah aku lamar dia sekarang.”
Mika :“Dan... rubik yang kau mainkan itu, rubik pemberian anak kecil itu, kan?”
Ryan :“.... Ya begitulah. Ini sangat berarti bagiku.”/menatap rubik yang dia pegang/
Mika :“Hmm...”/berhenti berjalan/“Itu...”/menunjuk kedepan/
Ryan :“Hmm? Ada apa?”/menatap kedepan//berhenti berjalan/
__ADS_1
Dipertengahan jalan menuju ruang guru, Ryan dan Mika berhenti berjalan. Di ujung koridor lantai dasar sekolah, melihat sosok yang sangat mengganggu pikiran Ryan dan mungkin akan mengubah hidupnya. Rambut coklat bergelombang yang terurai indah. Dengan mata hijau seperti permata menatap dengan lembut kepada Ryan dari kejauhan. Kina pun ikut berhenti berjalan dan menatap Ryan dari kejauhan.