
SELAMAT MEMBACA
karena merasa begitu rindu dengan Vika, keluarga Vika pun langsung berangkat ke kota Bandung untuk bertemu dengan putri mereka yang sudah tidak mau pulang ke kota Bekasi.
Begitu juga dengan Ihsan rasa rindu ingin segera melihat wajah gadis yang mirip dengan Vika membuatnya sore itu juga berangkat ke kota Bandung bersama Tio temannya yang mempunyai rumah dekat dengan nene Vika.
Jam 20.00 lebih sedikit Mama Iren dan rombongan tiba di rumah nenek Dilla.
"Assalamualaikum..." teriak Mama Iren yang sudah tidak sabar ya ingin segera bertemu dengan Vika.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Nene Dilla sambil membuka pintu.
"Alhamdulillah akhirnya sampe juga" Nene Dilla langsung memeluk Mama Iren dan juga Pian.
"Ma ..mana anak aku yang nakal gak mau pulang, padahal Mamanya udah kangen banget sama anak gadisnya, ini di suruh pulang malah gak mau" Mama Iren langsung masuk dan segera mencari Vika putri nya yang sudah sangat ia rindukan.
"Kamu cari siapa sih Ren?"
"Si Vika sekarang udah punya pacar, ni lagi keluar belum pulang" tutur Nene Dilla sambil senyum-senyum.
Mama Iren seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Nene Dilla jika sekarang putri ya sudah mulai bisa mive on dari Ikhlas.
"Yang bener Mah?" tanyanya seakan tidak percaya.
Nene Dilla hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kalo beneran mah" ucap Mama Iren bahagia.
Pian yang dari tadi hanya menyimak percakapan kedua wanita beda usia itu akhirnya bersuara juga " Siapa Nek pacarnya kk Vika?"
"Harus di tes dulu ini kalo mau jadi abng ipar aku" lanjut nya sambil berpikir sesuatu.
"Si Ujang, dia mau baik banget, dulu aja waktu Vika masih jelek Kemana-mana sama Ujang" ucap Nene Dilla menjelaskan.
"Emang sekarang kk Vika secantik apa sih Nek, kesannya kk aku itu dulu jelek banget" ucap Pian seajan tidak terima jika kakanya dibilang jelek.
__ADS_1
"Kalau sekarang mah si Vika paling cantik di sini, banyak yang suka sama dia,cuma itu sedikit nakalnya bebek Nini suka di ilang" Nene Dill menjelaskan sambil tertawa mengingat kelakuan cucunya.
"Ilang gimana Mah?" tanya Mama Iren yang penasaran.
"Kalo kata dia mah itu bebek ketinggalan, padahal yang Nene tau bebeknya suka di potong terus buat makan rame-rame di saung "
"Tapi Nene mah pura-pura gak tau aja, asalkan bisa liat dia senyum nenek udah seneng" lanjut Nene Dilla sambil senyum-senyum mengingat kelakuan Vika dan teman-temannya.
"Iya mah, kalo soal bebek biar nanti di ganti sama Papa Bagas, jadi pengen buru-buru liat si Vika" ucap Mama Iren seakan tidak sabar untuk segera bertemu dengan putrinya.
Saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba saja terdengar suara sedikit riuh dari ruang depan, Mama Iren dan Nene Dilla pun bergegas kedepan untuk melihat ada kejadian apa.
"Ini beneran loe ya kk" tanya Pian seakan tidak percaya dengan Vika yang kini berada didepannya.
"Emang loe pikir siapa sih, baru juga gak ketemu sebentar aja dah amnesia adik gw"
"Gak mungkin Kaka gw tuh jelek banget gak kaya gini, pasti loe ngaku-ngaku jadi Kaka Vika kan?" Pian semakin tak mau kalah ia memutari tubuh Vika sambil meneliti dari bawah sampai ke atas.
"Apa-apa sih loe Pi,ini gw beneran Vika ihh" Vika yang kesal dengan kelakuan Pian yang usil akhirnya berlari masuk kedalam rumah dan melupakan Ujang yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan antara Kaka dan adik yang baru saja bertemu.
"Mama....."teriak Vika yang langsung berlari dan memeluk Mama Iren.
"Mama apa-apaan sih udah lama gak liat anaknya sekalinya ketemu malah di jewer" dengus Vika yang kesal.
"Abis kamu jadi anak masa gak ada kangen nya sih sama Mamanya sibuk pacaran ya" ucap Mama yang lalu memeluk ku erat.
"Mama senang bisa liat kamu kaya gini Vik, Mama hampir gak percaya kalo kamu bisa berubah drastis" ucap Mama sambil sedikit terisak.
"Lah Mama gimana sih aku jadi cantik Mama malah nangis,Mama gak suka ya kalo Vika kaya gini,takut kalah saing cantiknya " ucapku sambil bercanda.
"Mama lebih suka kamu yang dulu, yang suka habisin isi toples Mama" jawab Mama Iren sambil menghapus air mata bahagianya.
"Mana ni anak gadis Papa yang katanya udah punya pacar" Papa Bagas keluar dari dapur sambil membawa satu cangkir kopi.
Vika melihat ke arah Nene Dilla
__ADS_1
"Iya Nene sudah cerita semua sama orang tua kamu soal bebek juga Nene sudah minta ganti sama Mama kamu" jelas Nenek Dilla sambil tersenyum lebar.
"Ada apa sama Bebek ibu?" tanya papa Bagas sambil melihat ke arah Mama Iren.
"Ini loh Pagi, anak gadis kamu kalo setiap kali anggon bebek pasti bebek ibu berkurang satu" ucap Mama Iren menjelaskan.
"Iya nanti Papa ganti bebeknya,emang itu bebek di kemanin sih Vik?" tanya Papa Bagas penasaran.
"Ada yang ilang ada juga yang Vika potong terus di bakar terus makan sama teman-teman di saung" ucap Vika yang seakan tanpa rasa bersalah.
"Wah enak itu Vika makannya pake nasi liwet" timpal Papa Bagas dengan ekspresi bahagia.
"Iya Pah enak banget, besok yuk kita bikin"
"Ihh ini anak sama Papanya kok ya gak jauh beda sih" Mama Iren nampak sedikit kesal mendengar percakapan Vika dan Papanya.
Malam itu Vika tidur bersama Mama Iren sedangkan Papa Bagas bersama Pian.
Pagi-pagi sekali Vika sudah bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
Mama Iren yang baru saja bangun sedikit heran dengan perubahan Vika.
"Aduh anak Mama yang cantik sekarang beda banget ya Sam dulu, sekarang sudah pintar masak, kalo dulu cuma pintar makan" mama Iren tertawa lalu menarik kursi dan duduk manis menunggu yang lain datang.
"Kalo Mama udah lapar Mama makan duluan aja" Vika mengambil satu buah piring lalu mengisinya dengan nasi goreng dan lauk pauknya nya lalu menaruhnya dihadapan Mama Iren.
"Assalamualaikum Vika...
Teriak Ujang dari luar pagar.
Vika pun langsung berlari keluar dan menghampiri Ujang yang sudah menunggunya.
Mama Iren yang penasaran dengan sosok Ujang diam-diam mengintip dari balik hordeng.
Ia pun tersenyum entah apa yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
Vika pun masuk kedalam kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar dengan pakaian olahraga.
Setelah berpamitan dengan Mama Iren dan Papa Bagas ia pun segera keluar.