
SELAMAT MEMBACA
Setelah beberapa hari akhirnya nenek Dilla pun sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Begitu juga dengan Vika yang untuk sementara tinggal bersama nenek Dilla lagi karena kondisi Iksan sudah membaik dan mamanya menyatakan bisa merawat Iksan sendiri.
Sebenarnya Iksan menolak ketika mamanya menyatakan ia mampu merawat sendiri, Iksan masih ingin Vika yang merawatnya.
Namun setelah mamanya memberikan penjelasan jika nenek Dilla sakit akhirnya Iksan pun terpaksa merelakan Vika kembali ke Bandung dan sudah dipastikan ia akan kembali dekat dengan Ujang.
Sepertinya biasa kegiatan Vika saat dikampung, setelah pulang kuliah ia akan menyusul Ujang Kesawah.
Saat ini mereka sedang duduk di saung sambil memperhatikan bebek mereka.
Hembusan angin yang kencang membuat rambut Vika berterbangan jingga ia sedikit sulit untuk makan jajanan yang ia bawa.
"Makanya neng rambut panjang itu harus di iket dong" ucap Ujang sambil mencari sesuatu.
"Kamu nyari apa Jang?"
"Cari karet neng buat iket rambut kamu" jawab Ujang sambil mengambil karet yang ia temukan dan mencucinya terlebih dahulu lalu ia pun mengikat rambut Vika.
"Nah kan kalo kaya gini gak ribet neng"ucap Ujang saat selesai mengikat rambut Vika.
"Terimakasih Jang" ucap Vika sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Sama-sama sayang" jawab Ujang dan seketika itu juga wajah Vika merona merah.
"Kenapa? gak suka ya aku manggilnya sayang" tanya Ujang sambil menatap Vika
"Suka sih tapi aku kan malu Jang, soalnya selama ini yang manggil aku sayang itu cuma mama sama papa aku aja" jawab Vika malu-malu.
Ujang pun tersenyum mendengar jawaban Vika.
"Aku juga baru kali ini manggil cewe Sayang" ucap Ujang.
Vika pun menatap Ujang, setahunya Ujang pernah mempunyai kekasih namun mereka putus karena orang tua si wanita tidak merestui hubungan mereka dan menjodohkan putrinya dengan pria lain.
"kenapa , kok liatinnya kaya begitu, gak percaya ya" ucap Ujang
"Iya, kalau aku kan wajar soalnya gak pernah punya pacar,kalo kamu kan pernah punya pacar, masa iya kamu dulu gak pernah bilang sayang sama pacar kamu" ucap Vika
"Dih malah nyengir" ucap Vika heran.
"Aku tuh gak bisa asal bilang sayang sama orang, yang aku panggil sayang cuma baru ibu aku sama kamu" ucap Ujang jujur.
"Serius Jang?"tanya Vika seakan tidak percaya dengan apa yang Ujang ucapkan.
"Serius neng, aa tuh baru dua kali pacaran sama sekarang, makanya aa takut waktu kamu kembali ke Jakarta"
"Takut kenapa Jang?" tanya Vika
__ADS_1
"Takut kamu berpaling sama yang lebih ganteng dari aa" ucap Ujang apa adanya.
"Dih Ujang kok mikirnya begitu sih" ucap Vika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dih kamu kok manyun gitu sih sayang, hampir sa kaya ...ha...ha..." Ujang tidak melanjutkan perkataannya dan ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Ish.. Jang kok kamu begitu sih, masa aku disamain kaya bebek"
"Ujang nyebelin banget sih" ucap Vika pura-pura merajuk.
"Aduh maaf neng, tapi kamu kalo ngambek malah lucu banget neng"
Vika pun tersenyum saat melihat wajah Ujang yang seakan menyesal telah membuat Vika merajuk.
Sementara itu di kediaman Iksan pria itu nampak begitu uring-uringan saat berusaha menghubungi Vika namun selalu tidak diangkat begitu juga pesan yang ia kirimkan Togak satupun yang dibalas.
"Vika, kamu itu disana pacaran terus sih sampe telpon aku juga gak mau kamu angkat,pesan aku juga gak kamu balas" ucap Iksan sambil menatap rumah Vika yang kini terlihat sepi.
"Kayanya gw harus buru-buru ngelamar dia nih, tapi gimana caranya ya" Iksan bermonolog sendiri
"Gw harus minta bantuan sama nyokap ini,kan dia juga mau tuh kalo punya menantu Vika" ucap Iksan sambil tersenyum sendiri.
Dengan perlahan ia pun langsung turun menemui mamanya yang sedang duduk diruang tamu sendirian sambil membawa sebuah majalah.
"Mah, tolong kamarin Vika dong, kalau diterima Iksan mau langsung nikahin dia" pinta Iksan yang langsung membuat mamanya heran.
__ADS_1
"Emang kamu yakin dia mau nerima?" tanya mamanya yang tidak yakin jika gadis itu mau menerima lamaran putranya.