Love Is Deep

Love Is Deep
BAB 40


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Iksan yang sebenarnya sudah bisa berjalan walaupun hanya selangkah demi selangkah terpaksa berbohong, ia ingin Vika selalu berada disebelahnya.


Vika yang mendapatkan telpon dari Ujang yang mengabarkan jika nenek Dilla sedang sakit nampak begitu bingung.


Disatu sisi ia tidak tega meninggalkan Iksan yang masih dalam masa pemulihan dan disisi lain ia begitu khawatir dengan kondisi nenek nya yang hanya seorang diri.


Mama Iren yang tau jika Vika sangat mencintai neneknya akhirnya meminta Vika untuk merawat sang nenek sedangkan Iksan kini mulai membaik mamanya bisa untuk merawatnya.


Setelah mendapatkan ijin dari mamanya dan juga mamanya Iksan, Vika pun bersiap-siap untuk kembali ke kota Bandung.


Walaupun berat hati Iksan pun merelakan Vika untuk kembali ke Bandung.


Hari sudah gelap saat Vika tiba dirumah neneknya.


Kebetulan disana ada Ujang yang selalu menemani nenek Dilla.


"Terimakasih ya Jang udah mau jagain nenek" ucap Vika sambil memperhatikan wajah nenek Dilla yang pucat.


Vika pun mengirimkan foto nenek Dilla kepada Mamanya.


Karena khawatir dengan kondisi nenek Dilla malam itu juga papa Bagas dan Mama Iren segera menuju kota Bandung.


Perasaan mama Iren yang sejak tadi tidak enak membuatnya meminta papa Bagas untuk melihat nenek Dilla.


Sementara itu nenek Dilla yang sedang beristirahat perlahan membuka matanya saat sayup-sayup ia mendengar suara Vika.


"Ini beneran kamu Vika?" tanya nenek Dilla seakan tidak percaya jika saat ini cucunya ada didepan matanya.


"Iya nek, ini Vika, nenek sakit apa?"


"Pasti nenek kangen ya sama Vika" ucap Vika sambil tersenyum.


Nenek Dilla hanya tersenyum mendengar ucapan Vika.


Tengah malam mama Iren pun tiba dikediaman nenek Dilla.


Vika yang mendengar suara mobil berhenti langsung terbangun dan segera melihat siapa yang datang.


Ia langsung tersenyum saat melihat mamanya turun dari mobil dan disusul dengan papa Bagas.

__ADS_1


Vika pun langsung membuka pintu "mama, papah kok nyusul sih" ucap Vika


"Ya mamah kan khawatir sama nenek sayang "ucap mama Iren.


Mereka pun langsung masuk dan melihat nenek Dilla yang masih tidur lelap.


Melihat ada kasur lantai yang digelar dibawah mama Iren pun langsung bertanya.


"Kamu tidur dibawah sayang?" tanya mama Iren


"Iya mah,masa iya nenek tidur sendiri sih mah" ucap Vika


"Tapi kamu kan gak bisa sayang tidur dibawah,nanti kalau kamu masuk angin gimana, mana kamu juga gak bisa minum obat " tutur Mama Iren.


"Sekarang kan Vika udah beda mamah, udah bisa juga tidur dilantai" ucap Vika


Mama Iren hanya tersenyum mendengar ucapan Vika.


Mereka pun malam itu tidur bersama di kamar nenek Dilla dengan alas seadanya.


Begitu pagi, sebelum orang tuanya bangun Vika sudah membuatkan sarapan untuk mereka.


Mama Iren yang terbangun karena mencium aroma masakan langsung menuju dapur dan melihat putrinya sedang memasak untuk sarapan mereka.


Tanpa terasa air matanya menitik begitu saja.


"Mama lagi apa, bukan bantuin anaknya malah ngelamun" terdengar suara papa Bagas.


Vika pun menoleh kebelakang dan melihat kedua orang tuanya sedang memperhatikan dirinya.


"Dih mama sama papa pada ngapain sih disitu" tanya Vika


"Gak apa-apa sayang, sini mama bantuin" baru saja mama Iren maju satu langkah


"Gak usah mah, biar Vika aja, papa sama mama jagain nenek aja" ucap Vika


Mereka pun menuruti apa yang diminta Vika.


"Sayang buatin papa kopi ya" ucap papa Bagas saat akan meninggalkan dapur.


Tidak butuh waktu lama segelas kopi pun segera tiba di meja tamu.

__ADS_1


Baru saja Vika kembali menuju dapur, terdengar suara Ujang yang memberi salam.


Vika pun langsung menuju pintu dan membukanya.


Ujang begitu terkejut saat melihat kedua orang tua Vika.


Untung saja ia dapat segera mengendalikan rasa dag dig dug dalam dadanya, Ujang pun langsung mencium tangan kedua orang tua Vika


"Kebetulan Jang, kita sarapan bareng yuk" ajak Vika sambil menarik tangan Ujang untuk masuk.


Seperti biasa Ujang mengurus semua hewan peliharaan nenek Dilla.


Selama Vika tidak ada Ujang tetap membuat telur asin dan kini pesanan mereka semakin banyak.


Terkadang nenek Dilla pun ikut membantu membersihkan telur bebek dari kotoran.


"Jang, kan ada mama sama papa,nanti aku ikut ya anter pesanan"ucap Vika dari depan pintu.


Ujang pun tersenyum, Vika pun ikut bantu mengemas telur asin sesuai pesanan.


Setelah selesai mereka pun langsung membersihkan rumah dan setelah itu Vika bersiap-siap untuk ikut bersama Ujang.


Setelah pamit mereka pun langsung pergi.


"Neng, aa pikir kamu gak akan kembali lagi kesini"


"Kok kamu mikirnya begitu Jang" tanya Vika


"Gak apa-apa neng, cuman aa takut aja kamu kepincut sama Iksan lagi"


"Dih kalo gitu kamu gak percaya dong sama aku" ucap Vika.


"Maaf neng, bukan begitu maksud aa, cuma aa sedikit takut kehilangan kamu aja"ucap Ujang.


"Maaf ya Jang aku terlalu lama disana sampe kamu berpikir Begitu"ucap Vika


Mereka pun mengantar pesanan satu demi satu toko hingga akhirnya semua terkirim.


"Mau jajan dulu gak?" tanya Ujang yang sudah hafal dengan kebiasaan sang kekasih yang suka jajan.


"Dibungkus aja Jang, nanti makannya dirumah" jawab Vika.

__ADS_1


Setelah membeli beberapa macam jajanan mereka pun segera pulang.


__ADS_2