Love Is Deep

Love Is Deep
BAB 39


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Vika yang ikut membantu mamanya Iksan untuk merawat Iksan membuat Iksan sembuh lebih cepat.


Kini ia sedang melakukan terapi agar bisa berjalan normal kembali.


Dengan telaten Vika membantu Iksan, Mama Iksanpun sangat ingin jika Vika yang menjadi menantunya nanti.


Setelah mengetahui jika Iksan sakit Rany tidak pernah sekalipun menengok Iksan, bahkan beberapa kali Iksan mencoba menghubunginya selalu ia tolak.


Kini Iksan semakin yakin jika Rany hanya memanfaatkannya saja.


Melihat Vika yang begitu tulus mengurusnya saat sakit membuat Iksan semakin memuja gadis itu.


Andai saja waktu dapat ia putar ingin rasanya ia kembali pada saat Vika bilang suka kepadanya, namun sayang itu hanya keinginan Iksan kini semua sudah berlalu yang ada kini ia harus mulai berjuang merebut Vika dari Ujang.


Ia tau Vika bukanlah gadis yang mudah ia taklukan dengan iming-iming belanja dan harta.


Saat ini Vika sedang berada dirumahnya, karena mama Iren sedang tidak enak badan.


Sejak pagi Vika sibuk dirumahnya sendiri, dari mencuci pakaian, piring kotor dan juga bersih rumah ia lakukan sendiri sementara art nya ia minta untuk memasak agar mamanya dan yang lain dapat sarapan.


Mamanya Iksan yang tau jika temannya Iren sedang sakit lalu membuatkan sarapan untuk mereka juga, pagi-pagi sekali ia sudah mengantarnya.


"Tante gak usah repot-repot, buat tante aja"


"Tante udah ada sayang, ini sengaja tante buat banyak biar kamu juga bisa sarapan"


Vika hanya tersenyum mendengar ucapannya mamanya Iksan.


Sore ini Iksan mengajak Vika untuk jalan - jalan di taman, Vika pun menyetujui.


Dengan diantar oleh Pian mereka pun main ditaman.


Raut wajah Iksan begitu bahagia karena Vika mau menemaninya.


"Vika, loe mau gak gw lamar?" tanya Iksan


"Apaan, lamar?" ulang Vika


"Iya, loe tuh kalo gw ajak ngomong serius kenapa susah banget sih Vik"


"Oh loe lagi serius,he...he, maaf lah"ucap Vika masih tidak menanggapi ucapan Iksan.


"Mau gak Vik?" tanya Iksan lagi kali ini sedikit kesal.


"Apa sih San, loe kan pacarannya sama siapa masa iya gw yang loe lamar" jawab Vika


"Vika plisss gw serius ini" wajah Iksan memang terlihat begitu serius.

__ADS_1


"Gw belum ada pikiran kesana San, gw masih mau bebas" jawab Vika.


"Jadi loe nolak gw Vika?" wajah Iksan tiba-tiba saja menjadi murung.


Kini ia tau bagaimana perasaan Vika saat ia menolaknya dulu.


"Kita pulang yuk Vik, gw udah gak semangat lagi" ucap Iksan dengan suara nyaris tidak terdengar.


Sebenarnya Vika merasa bersalah namun mau bagaimana lagi memang kenyataannya saat ini ia masih belum berpikir kesana.


Vika pun segera menghubungi Pian meminta untuk dijemput.


Tanpa banyak bicara Iksan pun langsung naik dengan dibantu Vika sedangkan Pian memasukkan kursi roda Iksan ke bagasi.


Begitu tiba dirumah wajah Iksan yang murung membuat mamanya sedikit heran.


"Ada apa Vika, kok kayanya dia sedih?" tanya mamanya Iksan.


"Emma..itu tan..." Vika tidak berani berterus terang kepada Mamanya Iksan, ia takut jika harus melukai hati wanita yang sudah dianggapnya sebagai mama keduanya.


"Vika pulang dulu ya tante, nanti tante tanya aja sam Iksan Vika takut salah ngomong"


"Ini ada apa sih sayang, tante jadi bingung, ya sudah biar nanti tante tanya sama Iksan aja, terimakasih ya udah mau nemenin jalan-jalan " ucap Mama Iksan sambil tersenyum.


Vika pun langsung mencium tangan mamanya Iksan lalu ia pun pulang kerumahnya.


Hal yang sama dilakukan oleh mama Iren.


"Nanti aja mah ceritanya, Vika mau mandi terus istirahat dulu sebentar" ucap Vika sebelum mamanya bertanya lebih banyak.


Mama Iren pun tersenyum dan membiarkan putrinya masuk kedalam kamarnya.


Malampun tiba Papa Bagas yang baru tiba dari perjalanan dinas begitu rindu dengan Vika dan juga Pian, ia pun minta agar Vika dipanggil untuk makan malam bersama serta ada sedikit oleh-oleh untuk mereka.


Dengan langkah sedikit berat Vika pun langsung menuju meja makan disana sudah ada papa Bagas yang menantinya dengan senyum manis.


"Ada apa sama anak papa kok mukanya begitu?" tanya papa Bagas sambil memperhatikan wajah Vika.


Mereka pun makan malam bersama, setelah itu papa Bagas memaksa Vika untuk bercerita.


Wkwkkwk


Papa Bagas dan juga mama Iren tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Vika yang dilamar tidak romantis oleh Iksan.


"Lah kok malah pada ketawa sih, kan Vika serius mah,Pah" protes Vika.


"Abis kamu lucu Vik, orang dilamar itu kan bahagia apalagi yang mama tau kamu itu kak suka sama Iksan udah lama" ucap Mama Iren.


"Itu kan dulu mah, sekarang Vika itu udah gak suka sama dia, Vika cuma anggap temen aja"

__ADS_1


Sementara itu dirumahnya Iksan nampak sedang termenung didepan jendela kamarnya, ia berharap dapat melihat Vika walaupun dari jauh.


Ke esokan harinya Iksan enggan untuk keluar kamar, ia masih asik diatas tempat tidur nya walaupun matahari sudah tinggi.


Entah untuk yang keberapa kali Vika datang kerumah Iksan namun mamanya selalu bilang jika Iksan belum keluar kamar, hingga akhirnya Vika pun kembali kerumahnya.


Karena perasaannya tidak enak ia pun mengirim pesan kepada Iksan .


Berkali-kali Vika mengirim pesan namun tidak ada satupun yang dibalas oleh Iksan.


Vika pun berdiri didepan jendela kamarnya,ia berharap dapat melihat Iksan, namun setelah lima belas menit Vika berdiri ia tidak melihat Iksan walaupun sebentar.


"Ish tuh anak kenapa ya?apa jangan-jangan dia sakit?"


"Tapi gak mungkin deh kalo sakit, kemarin kan baik-baik aja" ucap Vika


Karena penasaran Vika pun kembali kerumahnya Iksan dan meminta mamanya untuk membuka pintu kamar Iksan dengan kunci cadangan.


Mamanya Iksan pun menuruti apa yang Vika ucapkan.


Begitu pintu dibuka Iksan masih tertidur namun wajahnya sedikit pucat.


Vika pun langsung mendekati Iksan lalu menempelkan tangannya di dahi Iksan.


"Ya ampun tan Iksan demam, sebentar ya Vika ambil air buat kompres"


Vika pun langsung menuju dapur untuk mengambil air untuk mengompres Iksan.


Vika pun langsung meletakkan handuk kecil yang sudah basah didahi Iksan.


Lalu kembali keluar untuk mengambil obat di kotak P3k


Iksan yang merasa ada sesuatu didahinya langsung membuka matanya perlahan.


"Ini apa mah?" tanya Iksan yang meraba kepalanya dan mengambil handuk kecil yang ada didahinya.


"Aku kan bukan bayi mah gak usah pake begituan lah" protes Iksan


Vika yang baru saja datang langsung duduk disamping Iksan.


"Kenapa dicopot sih"


"Gw bukan bayi Vik, gak usah pake begituan lah" protes Iksan .


"Loe udah makan belum?kalo udah langsung minum obatnya " ucap Vika sambil memberikan satu tablet obat penurun demam.


"Gw belum makan Vik"


"Ya udah sebentar gw ambilin dulu"

__ADS_1


Vika pun kembali turun untuk mengambilkan makanan untuk Iksan.


"Bener-benar calon mantu idaman, semoga aja kalian berjodoh" ucap Mama Iksan sambil memperhatikan Vika yang sedang menyuapi Iksan.


__ADS_2