Love Is Deep

Love Is Deep
BAB 37


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Sepanjang perjalanan mamanya Iksan terus menangis, mama Iren berusaha menenangkannya.


Begitu tiba di rumah sakit mereka langsung ke IGD dimana semua korban ada disana.


Begitu masuk mama Iksan hampir saja pingsan melihat kondisi putranya.


Beruntung ada Pian yang kebetulan berada disamping mamanya Iksan hingga mamanya Iksan tidak sampai terjatuh.


Mama Iksan pun segera mendapatkan pertolongan pertama.


Setelah ia sadar ia langsung menanyakan keadaan putranya.


Sementara itu Iksan yang sudah sadar langsung terkejut saat melihat Pian ada disebelahnya.


Aawwww


Iksan meringis saat akan menggerakkan kakinya.


"Jangan banyak gerak dulu San" ucap Pian yang langsung membantu Pian untuk duduk.


"Ian, loe sama siapa kesini?" tahan Iksan


"Sama mama loe, nyokap gw juga ikut"jawab Pian


"Kenapa sama kaki gw, loe udah tanya dokter belum sakit banget ini" Iksan meringis menahan rasa sakit di kakinya.


"Sabar San,tadi dokter Ifah ngobrol kok sama mama loe"


"Terus nyokap gw mana?" tanya Iksan sambil mencari keberadaan mamanya.


"Nyokap loe pingsan tadi pas liat kondisi loe, tapi sekarang udah sadar kok lagi istirahat" ucap Pian


Untuk sesaat Iksan pun kembali merebahkan dirinya diatas kasur rumah sakit.


Saat mamanya Iksan sudah lebih baik ia pun meminta untuk diantar bertemu dengan putranya.


Dengan naik kursi roda mama Iksanpun diantar menuju ruangan dimana Iksan berasa.

__ADS_1


"San, gimana keadaan kamu nak?" tanya Mamanya yang langsung memeluk Iksan.


"Iksan gak apa-apa mah, cuma kaki Iksan aja yang sakit" ucap Iksan berusaha menenangkan Mamanya yang terlihat panik.


Sementara itu dirumah nenek Dilla Vika sedang ngobrol bersama Iksan sambil melihat televisi.


Sekilas ia seperti melihat mobil Iksan yang sedang diderek.


"Itu kaya mobil temen gw" ucap Vika pelan.


"Kan yang punya mobil kaya gitu bukan cuma temen kamu aja neng,semoga aja bukan" ucap Ujang.


"Iya Jang, semoga aja bukan dia" ucap Vika yang tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.


Ujang berusaha menenangkan Vika namun tetep saja ia merasa tidak nyaman hingga akhirnya Ujang pun meminta Vika untuk mengambil wudhu.


Sementara itu dirumah sakit Pian sudah selesai mengurus surat-surat agar Iksan bisa dipindahkan ke rumah sakit yang ada di Jakarta agar keluarga lebih mudah untuk menjaganya.


Awalnya Iksan meminta agar jangan memberi tahu Vika soal kecelakaan yang menimpanya, ia tidak ingin membuat orang yang ia cintai khawatir.


Namun Mama Iren tetep memaksa untuk memberitahu Vika, biar bagaimanapun ia kecelakaan setelah mengantar Vika kembali ke Bandung.


Awalnya Vika tidak percaya namun setelah mama Iren mengirimkan keadaan Iksan saat ini baru Vika percaya.


Mama Iren pun memintanya untuk kembali ke Jakarta untuk menemani Iksan dirumah sakit karena mamanya Iksan sedang tidak baik-baik saja, sedangkan Pian sedang banyak kegiatan.


Awalnya Vika tidak mau namun setelah ia pikir-pikir seandainya saja Iksan tidak mengantarnya pulang pasti ia tidak akan terluka.


Nenek Dilla pun menyuruh Vika untuk kembali dan merawat Iksan hingga sembuh.


Ujang yang kebetulan berada disana sebenarnya keberatan namun ia sadar ia tidak dapat berbuat apa-apa.


Setelah mendapatkan ijin dari Ujang sore itu Vika berangkat kembali ke Jakarta dengan naik bis.


Karena hari sudah malam saat Vika tiba ia pun langsung istirahat dirumahnya.


Malam itu mama Iren kebetulan sudah dirumah, sedangkan Pian yang kini berjaga di rumah sakit.


Iksan memang kebetulan anak tunggal, papanya sedang bertugas di luar negeri, ia memang hanya tinggal berdua saja dengan Mamanya.

__ADS_1


Pagi pun tiba, Pian sudah menelepon berkali-kali meminta Vika untuk segera datang karena ia harus segera ke kampus.


Dengan tergesa-gesa Vika pun berangkat kerumah sakit yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Setelah mencari-cari kamar rawat Iksan akhirnya ketemu, Vika pun langsung masuk dan ia sedikit terkejut saat melihat kaki Iksan yang di gif, dan beberapa luka diwajahnya.


"Assalamualaikum" ucap Vika pelan karena tidak ingin membangunkan Iksan yang sedang tertidur akibat efek dari obat.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatu, gw langsung pulang ya kk, udah hampir telat ini" Pian pun langsung keluar dengan tergesa-gesa.


Untuk menghilangkan jenuh Vika pun mengirimkan pesan kepada Kaysa dan memberitahu jika saat ini ia sedang dirumah sakit menemani Iksan.


Kaysa sedikit terkejut mendengar cerita Vika, ia pun bergegas untuk menyusul Vika dirumah sakit.


Tanpa Vika sadari Iksan sudah terbangun dan hendak mengambil minum.


Karena kakinya tidak dapat digerakkan ia pun sedikit kesulitan untuk mengambil gelas yang ada diatas meja.


Kebutuhan Vika melihat Iksan yang hampir terjatuh, ia pun segera menghampiri Iksan.


"Loe mau minum?" tanya Vika lembut.


Iksan pun hanya menganggukan kepalanya.


Dengan sigap Vika langsung mengambilkan gelas yang berisi air putih lalu meminumkannya sedikit demi sedikit.


"Terimakasih" ucap Iksan.


"Iya"


"San, maaf ya gara-gara nganterin gw loe jadi begini" ucap Vika


"Gak apa-apa Vik, gw Iklan kok, emang udah takdir gw aja" jawab Iksan.


Vika jadi tidak tega saat melihat Iksan meringis menahan rasa sakit, ia jadi merasa sedikit bersalah.


Sedangkan Iksan begitu bahagia karena Vika mau menemaninya.


Walaupun ia harus menahan rasa sakit dikakinya yang kadang berdenyut ia rela asalkan bisa selalu ditemani oleh pujaan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2