Love Is Deep

Love Is Deep
BAB 36


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Saat pagi tiba Vika enggan untuk segera keluar kamar, ia yakin pasti Iksan sudah bangun.


Namun nenek Dilla membuyarkan niatnya karena tiba-tiba saja sang nenek masuk dan memintanya untuk membantu membuat sarapan.


Dengan langkah gontai ia pun turun dan langsung kedapur, membantu sang nenek yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Assalamualaikum selamat pagi semua" entah sejak kapan tiba-tiba saja Iksan sudah berdiri didepan pintu depan pakaian yang sudah rapi.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh, es si kasep udah bangun, sebentar ya sarapannya belum matang" ucap nenek Dilla sambil tersenyum.


"Iya nek gak apa-apa, maaf juga udah bikin repot pagi-pagi" jawab Iksan.


"Vika buatin kopi dulu buat sikasep" titah neneknya.


"Kasep dari mana sih nek, jelek begitu juga " gerutu Vika sambil membuatkan kopi untuk Ikhsan.


Iksan yang mendengar Vika menggerutu hanya tersenyum saja.


"Tuh kopinya, udah sana tunggu didepan aja" Vika meletakkan kopi diatas meja lalu meminta Iksan untuk menunggu didepan saja.


Iksan hanya tersenyum mendengar Vika yang menggeritu sejak tadi.


Setelah selesai masak mereka pun sarapan bersama.


"Vika gw balik nanti siang ya, soalnya nanti malem gw ada acara" ucap Iksan.


"Kenapa gak sekarang aja sih" ucap Vika.


"Gak lah, kalo sekarang gw masih mau disini, masih mau liat wajah loe yang jutex tapi ngangenin" jawab Iksan sambil tersenyum.


"Gak usah sok manis loe, dari tadi senyum-senyum terus"


"Vika gak boleh ngomong begitu,gak sopan" tegur nenek Dilla.


"Iya nek maaf, abis dia nyebelin banget dari kemarin"


"Kan aku udah minta maaf sayang, masa masih marah sih, katanya udah maafin" ucap Iksan.


"Gak usah manggil gw sayang, kan gw udah bilang gw bukan pacar loe" ucap Vika ketus.


Wkwkkwk

__ADS_1


Iksan tertawa begitu bahagia saat berhasil membuat Vika semakin kesal kepadanya.


Ujang yang tau jika Vika sudah tiba dirumah nenek Dilla langsung datang untuk menemui kekasihnya.


Namun ia langsung mengurungkan niatnya saat melihat Iksan yang sedang memeriksa kondisi mobilnya sebelum akhirnya nanti ia pulang.


Ada rasa cemburu dihati Ujang saat ia membayangkan mereka hanya berdua didalam mobil.


Sebenarnya Ujang bukan tidak tahu jika saat ini Iksan sangat menyukai Vika.


Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa cemburunya karena ia yakin Vika wanita yang setia.


Ia pun langsung balik arah kembali menuju rumahnya.


Sorepun tiba, Iksan pun pamit pulang.


Setelah mobil Iksan menjauh Vika pun langsung menutup pintu pagar rumah neneknya dan kembali masuk kedalam kamar.


Ia langsung membuka ponselnya namun tidak juga ada balasan dari Ujang.


Tadi malam sesaat sebelum tidur ia sempat mengirimkan pesan singkat kepada Ujang dan memberi tahunya jika sekarang ia sudah ada dirumah neneknya.


"Kenapa cuma dibaca aja sih, apa dia gak ada kuota ya" pikir Vika.


"Bodo lah yang penting gw udah kasih kabar kalo gw udah disini" ucap Vika yang kesal sendiri dan menaruh ponselnya diatas meja.


Ia pun tertidur, namun saat ia sudah terlelap Ujang datang, karena tidak tega untuk membangunkannya akhirnya Ujang pun pulang lagi dan janji akan datang selepas sholat magrib nanti.


Sementara itu diperjalanan Ikhsan merasa sangat bahagia, ia menyetel musik untuk menemani diperjalanan, sambil sesekali ia ikut bersenandung.


Iksan yang melaju dengan kecepatan sedang tidak menyadari jika tidak jauh dari mobilnya ada sebuah truk yang mengalami rem blong dan telah menabrak beberapa mobil di depannya.


Saat Iksan melihat ke spion ia pun langsung mengerti jika ia dalam bahaya, ia pun langsung membelokkan mobilnya ke jalur sebelahnya namun sayang truk itu keburu menabrak bagian kiri mobilnya hingga ia pun hilang kendali dan menabrak pembatas jalan.


Untuk sesaat Iksan masih sadar dengan apa yang terjadi, ia berusaha menelpon mamanya namun baru saja telponnya terhubung karena banyak darah yang keluar akhirnya ia pun tidak sadarkan diri.


Sementara itu di kediaman Iksan,mamanya yang sempat mendengar suara namun setelah itu ia tidak mendengar suara apa-apa lagi.


Mamanya Iksan pun merasa begitu cemas, entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.


Ia pun mendatangi rumah Vika untuk sekedar berbincang-bincang dengan mama Iren.


"Kok perasaan saya jadi gak enak ya jeng, tadi Iksan sempat menelpon tapi pas saya angkat kok kaya rame gitu sih" tutur mamanya Iksan.

__ADS_1


"Kita doain saja semoga tidak ada apa-apa jeng, tadi saya sudah telp Vika katanya Iksan udah pulang abis sholat asar tadi"


"Iya jeng, semoga aja ini cuma perasaan saya aja" ucap Mama Iksan.


"Iya jeng, mending kita keluar yuk cari makanan buat temennya minum teh" ajak mama Iren.


Namun semakin lama perasaanmya semakin tidak enak,apalagi saat berkali-kali ia mencoba menghubungi Iksan namun tidak bisa.


Mama Iren pun menyetel televisi dan saat itu mereka melihat ada kecelakaan beruntun di tol.


Jantung mama Ikhsan pun berdebar kencang saat sekilas ia melihat plat mobil milik anaknya.


"Jeng Iren itu seperti mobilnya Iksan ya" ucapnya ragu.


"Mungkin hanya mirip jeng" jawab Mama Iren berusaha menenangkan mamanya Iksan.


Padahal dalam hati mama Iren ia pun merasa khawatir saat tadi sepintas ia melihat hal yang sama dengan mamanya Iksan.


Tidak lama kemudian ponsel mamanya Iksan pun berbunyi.


Entah telpon dari mana tiba-tiba saja mamanya Iksan menangis.


"Ada apa jeng, itu siapa yang nelpon?" tanya Mama Iren lalu menuntun mamanya Iksan untuk duduk disofa.


"Yang nelpon tadi itu polisi jeng, mereka bilang anak saya terlibat kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit daerah Purwakarta" ucap Mamanya Iksan sambil menangis.


"Sabar jeng,ayo saya temanin kesana" ucap Mama Iren langsung ikut merasa bersalah.


"Tapi gimana jeng, suami saya kan lagi di luar kota, saya juga gak bisa bawa mobil" ucap mamanya Iksan bingung.


"Kita minta anter sama Pian aja, sebentar ya saya telpon Pian dulu" mama Iren pun langsung menghubungi Pian dan mintanya untuk segera pulang.


Pian yang memang kebetulan berada dekat rumah langsung pulang dan tidak lama kemudian ia pun tiba.


"Assalamualaikum ada apa mah?"tanya Pian begitu ia membuka pintu.


"Loh kok tante nangis sih, ada mah?" tanyanya lagi.


Mama Iren pun meminta Pian untuk segera mengeluarkan mobil dan mengeluarkan mereka ke rumah sakit.


Tanpa banyak bertanya Pian pun langsung mengikuti perintah mamanya.


Mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit yang berada di daerah Purwakarta.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mama Iren dan mamanya Iksan terus berdoa semoga Iksan tidak apa-apa.


__ADS_2