
SELAMAT MEMBACA
Beberapa hari berlalu setelah kedatangan mamanya Vika menjadi lebih sering melamun, apalagi setelah mengutarakan niatnya sang Nenek menolak jika harus tinggal di Jakarta dengan alasan ternak dan juga kebunnya tidak ada yang urus.
Seperti biasa setelah pulang kuliah Vika menyusul Ujang yang sedang mengangon bebek disawah miliknya.
"Neng, kenapa atuh dari tadi ngelamun terus?" tanya Ujang
"Gak apa-apa Jang, cuma lagi kangen sama mamaa aja"
"Kan sekarang mah bisa Vidio call neng" saran Ujang
"Gak lah Jang, biasanya kalo abis Vidio call malah tambah kangen" jawab Vika.
"Iya sih, dari pada melamun mending makan pepaya mengekel(setengah matang) mau gak? kalau mau biar aa petik tuh" ucapa Ujang sambil menunjuk salah satu pohon pepaya yang berada tidak jauh dari saung yang saat ini mereka tempati.
Vika hanya mengangguk dan tersenyum.
Beberapa saat kemudian Ujang pun sudah kembali dengan membawa pepaya dan mengupasnya.
Setelah di cuci bersih di ia pun memotongnya kecil-kecil.
Vika pun mengambil satu Pong pepaya dan memakannya.
" manis Jang, ini sih udah mau mateng" ucap Vika.
"Iya manis neng, tapi lebih manis eneng daripada pepaya ini" ucap Ujang sambil bergurau.
"Dih si Ujang siang-siang ngegombal" ucap Vika yang terispu malu.
Untuk sejenak Vika pun berhasil melupakan kerinduannya pada sang Mama.
Sementara itu di rumahnya Mama Iren nampak termenung sambil menatap toples cemilan yang masih saja utuh isinya.
"Biasanya dulu setipa baru di isi pagi siang sudah kosong, tapi sekarang sudah satu minggu masih saja banyak isinya" batin Mama Iren dan tanpa ia sadari ada sedikit genangan air disudut matanya.
Papa Bagas yang kebetulan hari itu tidak bekerja langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk sendirian sambil melamun.
"Siang-siang kok bengong sih mah?" tanya Papa Bagas yang langsung duduk disebelahnya.
"Lagi kangen sama Vika Pah"
"Lah kan Minggu kemarin baru aja ketemu" jawab papa Bagas.
"Iya, tapi mama maunya dia tinggal disini lagi Pah"
__ADS_1
"Coba aja bilang sama anaknya siapa tau dia mau tinggal disini lagi mah"
"Seperti nya dia gak akan mau Pah, dia sudah punya dunianya sendiri disana" jawab Mama Iren.
"Siapa tau mah, coba aja mama ngomong dulu" ucap Papa Bagas.
"Gak lah pa, biar aja dulu" ucap mama Iren.
Sementara itu dirumah Ikhsan didalam kamarnya ia nampak begitu gelisah, ia sedang mencari cara bagaimana cara agar dapat membuat Vika kembali dulu kerumah mamanya, dan setelah itu ia akan mencari cara lagi bagaimana cara untuk membuat Vika jatuh cinta dan kembali bucin padanya.
Pian yang selalu melihat mamanya bersedih akhirnya ia pun mengirim Vidio mamanya yang waktu itu sempat ia rekam.
Awalnya Vika biasa saja namun saat ia memperhatikan lagi ia pun jadi merasa bersalah.
Ingin rasanya ia kembali kesana namun ia masih berat dengan neneknya dan Ujang.
Sabtu ini rencananya Ikhsan akan kembali ke Bandung namun kali ini ia akan bersama Tyo dan juga Kaysa kekasihnya Tyo sekaligus teman dekat Vika.
Ia yakin dengan cara mendekatkan kembali Vika dengan orang-orang terdekatnya di sini ia akan punya ke ingin untuk kembali.
Sementara itu di Bandung Vika sedang sibuk menghitung jumlah telur bebek yang ia punya .
Rencananya telur itu akan dibuat telur asin dan akan mereka jual.
Vika yang diminta Ujang untuk membersihkan kotoran yang menempel di kulit telur bebek langsung menolak.
"Ayo dong sayang..." bujuk Ujang.
"Gak mau ah, kamu aja" tolak Vika.
"Dih...kenapa kok gak mau"
"Aku geli Jang, yang ada nanti aku malah gak akan bisa makan" ucap Vika beralasan.
Ujang pun hanya tersenyum.
"Ya sudah biar aku aja, kamu lebih baik buatin aa kopi ya neng" ucap Ujang sambil mencuci satu persatu telur bebek.
"Wah banyak banget ya telurnya, ini gimana cara buat telur asinnya Jang" tanya Vika
Ujang pun mempraktekkan cara buat telur asin yang sudah ia pelajari dari temannya.
"Ini berapa lama Jang baru bisa jadi telur asin nya?" tanya Vika sambil menghitung satu per satu telur dan di masukan kedalam wadah besar.
"14 hari baru bisa jadi telur asinnya neng" jawab Ujang.
__ADS_1
Setelah selesai membuat telur asin mereka pun segera masuk kedalam rumah dan bercerita kepada nenek Dilla jika ingin jadi pengusaha telur asin.
Nenek Dilla pun tertawa mendengar ucapan Vika.
"Kok malah ketawa sih Nek, liat aja nanti kalo udah berhasil" ucap Vika sambil manyun.
Ujang hanya tersenyum.
"Kalian cocok banget, nenek senang jika kalian bisa sampe naik pelaminan, dan nenek yakin kamu bisa jadi imam yang baik buat Vika" ucap nenek Dilla.
Vika pun tersipu malu mendengar ucapan neneknya.
"Aamiin ni, saya mah Alhamdulillah kalau jodoh, tapi seandainya tidak jodoh dengan Vika saya cukup bahagia kalau liat dia juga bahagia" tutur Ujang yang langsung membuat Vika terharu.
Kegiatan Vika membuat telur asin tadi sempat ia rekam dan kirim ke mamanya.
Mana Iren tersenyum melihat putrinya sekarang, ia terlihat bahagia bersama Ujang.
"Mama senang nak liat kamu bahagia disana, tidak apa mama sendiri disini asal bisa liat kamu tersenyum bahagia Mama juga ikut bahagia Vika" ucap Mama Iren sambil melihat Vidio yang Vika kirim.
Empat belas hari berlalu.
Sejak pagi Vika telah mengingatkan Ujang untuk melihat hasil dari telur asin yang mereka buat.
Begitu pulang dari kampus ia langsung meminta Ujang untuk kerumahnya.
"Gak sabar banget sih neng mau makan telur asin buatan sendiri" ucap Ujang saat mencuci bersih satu persatu telur dan memasukkannya kedalam panci.
Setelah setengah jam akhirnya telur asinnya pun matang.
Vika mengambil satu buah telur dan merendamnya dengan air dingin agar dapat segera ia cicipi.
Ujang hanya tersenyum melihat Vika yang sudah tidak sabaran untuk segera mencicipi telur asin buatan mereka.
"Wah enak Jang, liat tuh kuning nya juga masir banget" ucap Vika sambil memakan telur
Nenek Dilla pun tersenyum bahagia ternyata tidak sia-sia ia mempercayakan semuanya pada Ujang.
Vika pun langsung menghubungi mamanya. untuk pamer jika ia sudah bisa membuat telur asin dan akan segera memasarkannya bersama Ujang.
Beberapa kali telponnya tidak diangkat oleh mama iren akhirnya ia pun mengirim foto-foto hasil dari telur asin buatannya.
Mama Iren sengaja tidak mengangkat panggil Vika, ia takut jika mendengar suara tangisannya.
"Mama senang kamu bahagia, semoga usahanya sukses ya sayang" bakal mama Iren
__ADS_1
Setelah membalas pesan dari Vika Mama Iren pun langsung mematikan ponselnya.
Ia masuk kedalam kamar dan menangis kerena sangat rindu pada putrinya.