
"Heal!"
Aku menggunakan skill Heal pada kakiku. Akhirnya kakiku bisa bergerak lagi dan bahkan rasanya lebih baik daripada sebelumnya. Dengan begini aku sudah menkonfirmasi bahwa di dunia ini aku bisa menggunakan skill dan sihir.
Aku bangkit dari posisi dudukku. Setelah menyembuhkan kakiku, sekarang waktunya untuk mencari petunjuk.
Aku adalah Goblin, dan Goblin adalah Monster yang hidup secara kelompok. Karena mereka lemah, mereka biasanya berburu dan bertarung dengan jumlah mereka.
Tetapi saat aku terbangun di dunia ini, aku sendirian. Dari penjelasan sistem yang menganalisa kakiku. Sepertinya aku jatuh dari tebing.
"Lalu aku harus mencari jalan untuk kembali, huh? Jika aku terjatuh dari atas sana maka pasti ada Goblin lain diatas tebing itu."
Aku melihat tebing yang berada tidak jauh dariku. Tebing setinggi sepuluh meter itu, aku bersyukur aku hanya mengalami luka ringan saat jatuh.
"Memang benar bahwa ketahanan monster lebih tinggi dibanding manusia."
Tidak ingin membuang waktu. Aku mengaktifkan skill [Fly] untuk melayang dan berhasil mendarat sempurna diatas tebing.
Memiliki banyak skill memang sangat memudahkan mu. Tetapi karena terlalu banyak skill yang kau miliki kau juga harus mau repot untuk menghafalkannya.
Untungnya sebagai Game Master yang merancang game ini. Aku hafal semua skill tersebut karena akulah yang membuatnya.
"Sekarang, bagaimana?"
Saat aku kembali berpikir. Terdengar suara orang yang berteriak memanggil nama seseorang.
"Ethensia!! Dimana kau?!"
"Ethensia?!"
Karena aku tidak tahu siapa mereka aku memutuskan untuk menggunakan skill [Invisible] dan membuat tubuhku menghilang. Aku bersembunyi di balik semak untuk mengatasi orang-orang itu.
"Setelah dipikir kembali, dari menu profilku sepertinya menampilkan nama seseorang yang mereka cari."
Untuk memastikan aku membuka menu profil dan melihat namaku. Benar saja, namaku sekarang adalah Ethensia. Ethesia adalah nama dari anak Kepala suku Desa Goblin yang berada di timur Kerajaan Haward.
"Lalu orang yang mencari ku itu pasti sekutu."
Aku melihat dari balik semak terdapat tiga Goblin kecil yang sepertinya seumuran denganku. Mereka terlihat kebingungan sambil mencari seseorang yang sebenarnya adalah diriku sendiri.
__ADS_1
***
"Ted, bagaimana jika terjadi apa-apa terhadap Ethen?"
"Jangan mengatakan hal seperti itu Elen, aku yakin Ethen akan baik-baik saja. Lagipula dia adalah pelari terbaik di Desa kita."
"Kuharap begitu, tapi tetap saja Ethen adalah Goblin cengeng yang selalu merengek setiap saat. Aku tidak yakin dia bisa bertahan."
"Jefri...!! Kau?!"
"Tenanglah, aku hanya bercanda."
"Bercanda mu tidak lucu, Jefri."
Ketiga Goblin itu, Ted, Jefri, dan juga Goblin perempuan yang bernama Elen sedang mencari teman mereka yang menghilang saat mereka sedang bermain petak umpet.
Tiga puluh menit yang lalu, mereka bertiga mendengar suara raungan keras yang berasal dari sisi timur. Mereka khawatir jika raungan itu adalah raungan dari serigala Duri yang menghuni Hutan ini.
"Kita sudah memasuki kawasan Serigala Duri. Aku harap aku masih bisa melihat hari esok."
"Jefri, kau memang suka mengatakan hal-hal yang buruk, ya?"
Tiba-tiba saja terdengar suara gemericik dari semak-semak sekitar mereka. Ted, Jefri dan juga Elen memasang posisi waspada dan sikap bertarung. Meski masih anak-anak, tetapi para Goblin sudah mendapatkan pengetahuan beladiri dari orang tua mereka.
Hal itu dikarenakan dunia yang keras bagi ras kecil dan lemah seperti mereka yang selalu diburu oleh para manusia sebagai quest pembasmian monster.
***
Aku keluar dari semak-semak dan mengejutkan mereka bertiga. Mereka bertiga tampak kaget sejenak, begitupun denganku, ini pertama kalinya aku bertemu dengan mereka tapi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Mereka bertiga sepertinya temanku, atau bisa dibilang teman dari Goblin Ethensia sebelum kedatanganku di tubuh ini.
"E... E...."
"E... E... E...."
"Ethensia!!"
Mereka bertiga melompat dan memelukku dengan erat. Aku terjatuh, dan terhimpit oleh tubuh mereka..
__ADS_1
"T-tenanglah kalian bertiga."
"Ethen! Darimana saja kau?! Kau membuat kami semua khawatir!"
"Kau tidak bertemu dengan Serigala Duri kan?"
"Sebuah keajaiban kau bisa kembali dengan utuh."
"A-Ahahaha! Banyak hal yang terjadi."
Aku hanya bisa berpura-pura menggaruk kepalaku sambil tertawa. Semoga dengan ekspresiku ini mereka akan berhenti khawatir tentangku.
"Aku senang kau baik-baik saja, tetapi untuk saat ini kita harus keluar terlebih dahulu dari hutan ini. Elen, kau menyimpan petanya bukan?"
"Umm, tunggu sebentar." Elen merogoh tas kecil miliknya dan mengeluarkan secarik kertas yang sudah sobek. "B-Bagaimana ini?! Petanya sobek."
"Ahh!! Bagaimana bisa kau bisa menyobeknya? Itu satu-satunya petunjuk jalan pulang kita?" cemas Ted
"Sekarang bagaimana kita bisa menghubungi kepala suku?"
Semua orang melihatku dengan aneh. Apa? Aku tidak tahu apa ada yang aneh terhadapku. Aku memang anak kepala suku tapi aku tidak tahu cara menghubungi mereka. Terlebih, untuk menghubungi ayahku, aku harus menanamkan skill-ku terlebih dahulu orang orang yang bersangkutan.
"Oi, Ethen. Ada yang aneh denganmu."
"Ted Benar."
"M-Memangnya apanya yang aneh?"
Mereka bertiga mendekat ke arahku sehingga membuatku mundur beberapa langkah.
"Di situasi seperti ini, Ethen biasanya menangis keras dan membuat kita semakin kesulitan. Tetapi, Ethen yang sekarang terlihat sangat santai. Kau juga memiliki bau yang berbeda daripada sebelum kita berpisah."
Aku sadar bahwa penciuman Goblin sangat tajam. Jika aku berkata jujur dan mengatakan bahwa aku bukan teman mereka melainkan seorang reinkarnator reaksi seperti apa yang akan mereka pasang? Apa itu keterkejutan atau ketidakpercayaan.
Aku memang ingin berbohong kepada mereka. Tetapi setelah dipikir-pikir sekali lagi, membohongi mereka tentang keberadaan teman mereka yang hilang itu sangatlah tidak baik.
Angin bertiup kencang, dan aku sudah siap untuk mengatakannya yang sebenarnya.
Tetapi pada waktu itu, tiba-tiba udara berguncang. Burung-burung terbang menjauh, dan suara raungan yang keras sedang terdengar menuju kesini.
__ADS_1
Ted, Jefri, dan juga Elen memasang ekspresi takut mereka. Begitupun denganku, meski aku memiliki level yang tinggi, tetapi untuk pengalaman pertama dalam hidup dan mati, itu membuatku masih merasakan yang namanya rasa takut.