
Eps 14
Evan : "Baiklah kek.. Evan akan cari kan makanan itu.." ucap Evan pada kakek.. "Oh.. Iyha kek.. Evan mau minta sesuatu sama kakek boleh..?" tanya Evan pada kakeknya..
Kakek : "Apa itu..?? Kalau kakek bisa berikan akan kakek berikan.. Jarang sekali kamu minta sesuatu pada kakek.." jawab kakek santai..
Evan : "Evan minta pada kakek untuk memberikan dokumen pemutusan kerja sama dengan kaluarga Davian.. Apa kakek bisa..? Evan perlu banget kek.." ucap Evan pada kakeknya.. Kakek tersenyum dengan seringai yang mengerikan..
Kakek : "Baiklah.. Dokumen itu akan sampai jam 7 nanti.." ucap kakek santai kemudian melihat jam tangan yang melingkar di tangannya yang menunjukkan pukul 18.40 WIB..
***
Dalam perjalanan mencari menu makanan yang di inginkan Raya mereka berdua hanya diam sampai Evan memecah keheningan di antara mereka berdua..
Evan : "Sejak kapan kau mengenal adik ku..?" Tanya Evan pada Rifky tanpa menoleh ke arahnya..
Rifky : "Hmm.. Sejak dia datang ke Indosesia.." jawab Rifky tanpa menoleh ke arah Evan..
Evan : "Aku mengingatkan mu.. Jangan lukai dia.. Membuat dia menangis.. Atau membuat dia terancam.. Jangan kamu berani....." Omelan Evan panjang lebar membuat telinga Rifky geli..
Rifky : "Baiklah.. Tapi kau diamlah dulu.. Telinga ku sakit.. Di depan sana ada restoran terbaik di sini.. Mungkin apa yang di minta Raya ada di sana.." ucap Rifky sambil menoleh ke arah Evan..
Evan : "Aku percaya pada mu.." ucap Evan tegas tanpa menoleh ke arah Rifky..
***
__ADS_1
20 menit kemudian..
Dua buah mobil mewah bermerek lamborghini itu memasuki parkiran rumah sakit.. Dari salah satu mobil itu keluarlah seorang bodyguard yang membukakan pintu untuk tuannya.. Dari mobil satunya keluarlah Evan dan Rifky yang membawa banyak makanan yang di pesan oleh Raya..
El : "Hey.. Hey.. Dimana ruangan Raya..?" teriak El pada Evan saat sudah keluar mobil..
Evan : "Berisik sekali kamu kak.. Ini rumah sakit bukang lapangan golf.." jawab Evan sambil memegang kedua telinganya..
Ellea : "Sayang, ayo cepat antar bunda.. Bunda mau lihat adik mu.. Cepat ayoo.." ucap Bunda di sela-sela pertengkaran anak laki-lakinya..
Evan : "Baiklah bunda.. Ayo ikuti aku.." ucap Evan santai..
Ellea : "Ayah.. Ibu.." ucap Ellea lalu memeluk mereka berdua..
Nenek : "Baru sempat pulang..?"ucap Nenek pada anak Perempuan tunggalnya..
Ellea : "Maaf kan aku bu.." ucap Ellea "Sayang kenapa kamu bisa seperti ini.. Bunda khawatir.." ucap Ellea sambil menitikkan air mata tanda kesedihannya..
Raya : "Bunda.. Aku tidak apa-apa.. Tenang lah.. Bunda perlu istirahat dulu.. Bunda lelah lan..??" ucap Raya menenangkan bundanya..
Evan : "Kakek.. Dokumennya..??" tanya Evan pada kakeknya..
Kakek : "Itu di bawa oleh Tama.." ucap kakek sambil menunjuk ke arah Tama.. "Tama berikan itu pada cucu ku.. Lalu pulang lah.."
__ADS_1
Tama : "Baiklah tuan.." Tama memberikan dokumen itu pada Evan.. "Tuan saya permisi.."
Kakek : "Iyha baiklah.. Hati-hati di jalan dan terima kasih.." ucap kakek pada sekertaris pribadinya..
El : "Evan..!! Adik ku sedang sakit dan kau malah mengurus dokumen yang tidak penting itu..!!" Bentak El pada Evan yang membuat seluruh isi ruangan menjadi terkejut..
Raya : "Kak El.. Jangan marah-marah pada kak Evan.. Ku mohon tenanglah.." ucap Raya menenangkan El..
Hanya Raya yang sanggup melerai jika mereka berdua sedang bertengkar.. Entah kenapa El maupun Evan sangat mendengarkan dan menurut dengan apa yang katakan oleh adik tercinta mereka itu.. Mereka seperti tersihir oleh kata-kata manis yang di keluarkan dari mulut kecil Raya..
El : "Maaf sayang.. Kakak tidak sengaja membuat mu terkejut.." ucap El sambil mencium kening Raya..
Evan : "Kak.. Ayo keluar.. Aku ingin bicara pada mu.. Ini penting.." ucap Evan sambil melihat ke arah El.. "Ayo Rif.. Kau juga.."
Mereka bertiga berjalan keluar dari kamar Raya menuju tempat parkir mobil mereka..
El : "Kenapa kau mengajak ku ke sini..?? Apa yang ingin kau bicarakan..?? Dan kenapa dia ada disini..??" tanya El sambil melihat ke arah Rifky..
Evan : "Soal dia nanti saja.. Kita bicarakan soal siapa yang menyakiti adik kesayangan kita.." ucap Evan yang terlihat serius..
El : "Apa maksud mu..?? Siapa yang berani mencelakai adik kesayang ku.." ucap El berapi-api..
Evan : "Rif.. Kau yang menyetir.. Aku akan menjelaskan rencana kita pada kakak ku.." ucap Evan pada Rifky..
Rifky : "Cih..!! Sebenarnya aku tidak sudi menjadi supir kalian..!! Tapi karena Raya aku mau..!!" Rifky berdecih dan terlihat sangat kesal..
__ADS_1