Mafia Mencari Cinta Sejati

Mafia Mencari Cinta Sejati
Dirawat


__ADS_3

Laki-laki itu tampak terbangun dari tidurnya, ia berusaha membuka mata nya yang terasa berat dan sesekali mengerjab-ngerjabkannya. Ia memang merasa lemas dan kelelahan akibat pertempuran nya dengan itu semalam.


Ia berusaha bangkit dan menusuri seluruh sudut ruangan itu untuk mencari keberadaan wanita itu. Ia melihat sekilas kamar mandi bdi kamar nya sedang tertutup. Ia berpikir mungkin gadis itu sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi itu.


Ia beranjak dari tempat tidur mewahnya seraya memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian memakai nya. Ia tampak melihat sepintas kamar mandi itu namun belum ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Ia tetap menunggu dengan sabar seraya bersandar di dinding kamar dekat kamar mandi itu. Kini ia merasa tidak sabar lagi karena pintu tak kunjung terbuka. Ia kemudian menggedor pintu itu.


"Tok... tok.. tok.. ", namun tak ada suara yang menyahut bahkan pintu masih tetap tidak dibuka.


" Buka pintunya gadis sialan", cerca laki laki itu tidak sabar, ia memang sudah tersulut emosi karena wanita itu berani mengacuhkan nya.


"Kalau tak kau buka, pintunya akan ku dobrak", ucap kaki laki itu sambil menggedor -gedor pintu itu dengan keras. namun tetap saja pintu tidak dibuka dan bahkan tak ada suara yang menyahut.


" **** you... dasar gadis sialan, selalu saja membuat emosi ku bangkit", ia menggerutu keras dan tetap menggedor gedor pintu itu.


ia tidak mau tinggal diam, emosi nya sudah terpancing pagi ini oleh gadis itu. Ia berjanji pada hatinya bahwa ia akan menyiksa gadis itu nantinya. Ia sudah tak sabar lagi ingin mengiris kulit mulus gadis itu. Ia memang seseorang yang punya kelainan, ia senang mendengar rintihan kesakitan orang yang ia benci.


BRAKKK....


Laki-laki itu membuka paksa pintu kamar mandi itu dengan cara mendobrak dengan tenaga nya yang sangat kuat. Ia berjalan memasuki kamar mandi. Ia terkejut melihat gadis itu sedang terkapar lemas di lantai kamar mandi itu.


la menekan pelan pelipisnya karena ia merasa pusing melihat gadis itu. Ia memang tidak suka merawat seseorang bahkan seorang wanita pun. Ia mendekati wanita itu dan menyentuh kening dan leher wanita itu. Ia tampak gusar karena tubuh gadis itu sangat dingin bagai es, ia menduga bahwa gadis itu telah pingsan dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan karena memang seumur umur ia tak pernah mengurus seorang wanita. Ia kemudian berinisiatif mengangkat tubuh dingin gadis itu menuju tempat tidur king size nya. Ia kemudian mengambil handphone di balik sakunya dan menghubungi seseorang.


"Bawa dokter ke tempat ku sekarang", laki laki itu berbicara singkat dan padat pada seseorang kepercayaan nya. Orang itu memang orang yang bisa diandalkan dalam segala hal. ia akan melakukan perintahnya dengan baik tanpa kekurangan apapun.


" Baik bos", balas lelaki di balik handphone nya itu.


30 menit kemudian terdengar bel pintu kamar laki laki itu di bunyikan. ia bergegas mendekat ke arah pintu itu dan membukanya dengan segera.


"Pagi tuan saya sudah membawa dokter zita", ucap lelaki itu mengawali pembicaraannya dengan bos nya itu.


"Ayo segera periksa dia", tunjuk laki laki itu kepada dokter pribadi nya dokter Zita tanpa membalas sapaan assisten ya itu.


" Baik tuan", balas wanita itu seraya mendekat ke arah perempuan itu.


"Tuan maaf,, boleh keluar sebentar, saya ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu", pinta dokter itu dengan sopan kepada Beni yang membawa nya ke tempat itu dan tuannya bos Rey.


" Iya dok", ucap Beni seraya meninggalkan ruangan itu, berbeda dengan Rey, ia masih tetap diam tanpa reaksi dan hanya melihat apa yang dilakukan dokter itu. Ia kemudian bergegas bergerak mendekati lemarinya karena melihat ekspresi bingung dokternya itu. Ia membuka lemari itu dan mengambil satu set jubah tidur miliknya. Kemudian ia kembali berjalan mendekati dokter itu.


"Pakaikan yang ini", ucap Rey cuek dengan raut wajah dingin nya. ia memberikan pakaian itu dengan melemparkan ke tempat tidur dekat dokter itu.


Dokter itu menerima pakaian itu dengan tersenyum tipis. Ia sedang mendengus kesal kepada tuan nya. Ia merasa tuan nya begitu tega kepada gadis itu, ia tidak merasa bersalah sedikit pun dan bahkan masih berlaku sombong dan acuh.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti pakaian gadis itu, dokter itu memeriksa detail keadaan gadis itu dan mencatat di slip kertas yang telah ia bawa. Ia kemudian menulis beberapa hal penting di dalam selembar kertas itu.


"Tuan saya sudah memeriksa nya, keadaan nya buruk, seluruh tubuhnya mengalami hipotermia. Mungkin gadis ini sudah kedinginan dalam waktu yang lama. Ia akan sadar beberapa jam lagi dan saya sudah meracik beberapa obat untuk nya. Mungkin setelah sadar nona ini akan mengalami flu dan demam, jadi harus istirahat total tuan", ucal dokter itu berusaha menjelaskan dengan detail dengan apa yang sedang di alami gadis malang itu.


Dokter itu sebenarnya ingin menyampaikan jika gadis itu sedang dalam keadaan shock besar, namun ia takut jika bos nya itu akan marah sehingga ia memilih untuk diam. Sang dokter tau jika laki laki di hadapan nya ini tak akan mau peduli dengan masalah seorang wanita.


Dokter itu juga sudah tau dengan apa yang di lakukan laki laki itu kepada gadis itu. Ia sudah melihat begitu banyak tanda biru di beberapa daerah intim perempuan itu. Ia merasa sangat kasihan dan tidak tega melihat keadaan lemah gadis itu, namun ia tak bisa berbuat apa. Ia hanyalah dokter pribadi yang di bayar oleh tuan nya itu, ia juga bekerja di rumah sakit milik tuan nya itu jadi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berdoa dalam hati semoga gadis ini akan baik baik saja.


"Tuan saya sudah selesai dan saya pamit pulang", ucap dokter itu memecah keheningan yang terjadi sedari tadi.


"Hemm", balas lelaki itu tetap cuek dan dingin.


"Saya permisi tuan, selamat pagi. ", balas dokter itu seraya berlalu meninggalkan laki laki itu.


Diluar tampak Beni sudah menunggunya. mereka bergegas berjalan menuju lift dan keluar dari lantai 3 itu.


.


.


.

__ADS_1


bersambunggg


__ADS_2