
Rey dan Beni baru saja menyelesaikan rapat mingguan di perusahaan milik sangat bos Rey. Mereka tampak sedang berjalan keluar dari ruang rapat dan menuju ruangan CEO Rey. Beni merapikan beberapa berkas dan menyimpan nya ke dalam tas kerja milik tuan nya.
"Beni sore ini aku akan pulang ke mansion, dan akan bermalam di sana,,bagaimana dengan gadis itu? ",
"Tadi pelayan mengatakan kalau dia sudah siuman dan sudah membaik", ucap asisten nya itu kepada Rey.
"Hari ini kamu juga ikut ke mansion bersama ku beni, " perintah Rey dengan suara rendahnya.
"Hemm... angelia ikut tidak bos? ", tanya Beni bingung seraya menggaruk kepala nya yang tidak gatal. ia memang bertugas setiap malam untuk mengantar dan menjemput wanita yang akan ditiduri bos nya itu.
"Bawa saja" jawab Rey singkat namun sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa bos", tanya Beni penasaran, ia merasa heran dengan ekspresi bos nya barusan. biasanya ia akan cuek dan dingin tentang sesuatu apalagi masalah wanita.
"TIidak apa-apa", imbuh Rey cuek. ia juga merasa heran kenapa dia kepikiran dengan gadis itu. Tapi dia tidak tau alasan nya apa.
Mereka tampak turun bersama dari lantai 17 menaiki lift pribadi Rey. Mereka kemudian masuk ke special parking area of CEO milik Rey. Di sana sudah tampak supir pribadi Rey yang sudah menunggu.
Rey dan Beni masuk bersamaan ke dalam mobil silver mewah itu.
"kita ke Royal Mansion", ucap Rey yang baru saja duduk di dalam mobil itu.
"baik tuan", ucap supir itu dengan sopan dan ramah. Namun bos nya hanya menanggapi dengan cuek seperti yang dilakukan nya setiap hari.
__ADS_1
Mobil itu berjalan agak laju dan kencang karena Rey memang selalu meminta supir nya membawa mobil dengan laju dan agak kencang sehingga bisa sampai dengan cepat dan tepat waktu. Baginya waktu itu sangat berharga.
Ia tidak akan pernah menghabiskan waktu nya dengan hal yang tidak penting, itu lah sebab nya jika ada seseorang yang mengusik waktu nya ia akan merasa marah. Ia menganggap jika ingin sukses harus menghargai waktu. Tak heran perusahaan nya berkembang dengan cepat dan pesat karena kegigihan dan manajemen waktu nya.
Jarak tempuh Royal Company ke Royal mansion hanya butuh waktu satu jam perjalanan. Mereka tiba di sana sudah menjelang malam. Tampak security yang menjaga pos penjagaan membukakan pintu gerbang dengan cepat dan terburu-buru. Ia tidak ingin dihukum karena kesalahan kecil yang ia lakukan. Ia juga sudah tau jelas bagaimana karakter bos nya itu.
Sesampainya di sana mereka bergegas turun dari mobil. Sang supir yang membawa mereka membukakan pintu kepada bos nya.
"Tuan saya permisi dulu, saya akan menjemput angelia dan kembali dalam waktu satu jam tuan, " ucap Beni seraya meminta ijin dari bos nya itu.
"Hemm", balas Rey berlalu meninggalkan mereka dan berjalan masuk ke mansion mewah milik nya itu. Sesampai nya di ambang pintu masuk mansion tampak kepala pelayan menghampiri dengan bejalan terburu-buru. Ia terkejut kenapa tuan nya pulang tanpa memberikan informasi terlebih dahulu.
"Selamat datang tuan, " ucap bu celine kepala pelayan di mansion itu.
"Tuan saya akan siapkan hidangan makan malam dalam waktu 30 menit", lanjut kepala pelayan itu.
"Dia sedang di kamar tamu tuan di lantai dua. ", balas kepala pelayan itu dengan hormat seraya menundukkan kepala.
Ia berjalan dengan cepat dan langkah lebar nya menuju lantai dua tanpa menghiraukan kepala pelayan itu lagi. Ia penasaran dengan yang dilakukan gadis itu, sehingga ia ingin cepat-cepat menemui gadis itu. Sesampai nya di lantai dua ia melihat pintu kamar tamu tertutup. Ia melangkah mendekat ke pintu kamar itu dan mencoba memutar gagang pintu itu. Ternyata pintu nya tidak dikunci dari dalam, sehingga ia memutuskan masuk ke dalam.
Setelah masuk ia tak melihat dimana sosok gadis itu. Ia menyapu pandangan nya ke seluruh sudut ruang kamar itu, namun ia tak kunjung melihat nya. Ia kemudian mendekat ke pintu kamar mandi di ruangan itu, ia mendengar kan ada suara percikan air. Ia kemudian duduk di sofa kamar itu menunggu gadis itu keluar dari kamar mandi itu.
Lima belas menit kemudian terdengar suara pintu terbuka, Rey melebar kan pandangan nya ke arah pintu itu, dan terlihat wanita itu dengan santai berjalan menuju lemari pakaian yang tersedia di ruangan itu. Ia belum menyadari jika Rey sudah berada di dalam ruangan itu. ia sibuk mengeringkan helaian rambutnya dengan handuk yang tertengger di kepalanya.
__ADS_1
Rey yang melihat itu sudah terpancing, tak terasa senjata milik nya kini sudah mulai berdiri. Darah nya kini sudah mengalir deras, wajahnya sudah memerah mencoba menahan keinginan nya. Namun ia tidak bisa lagi mengontrol keinginan nya. Ia kemudian mendekati gadis itu dan memeluknya dari belakang. Karena wanita itu terkejut handuk yang ia pakai sudah terjatuh ke bawah, ia ingin memungut nya namun Rey menghalangi nya.
"Tuan... apa yang anda lakukan?, saya pakai pakaian dulu, " pinta gadis itu yang sudah takut dan gemetaran.
"Tidak perlu... aku datang ke tempat ini hanya ingin menikmati mu", balas lelakinitu dengan senyuman miring nya.
"Jangan tuan,,, aku mohon", bujuk gadis itu dengan nada rendah, berharap semoga lelaki itu tidak melakukan hal itu lagi. ia masih sangat trauma dengan yang dialami malam itu. ia juga ingin menarik kembali handuk nya yang terjatuh namun tetap di hadang laki laki itu.
"Tidak usah sok munafik dan tarik ulur denganku,,, asal kamu tahu banyak wanita yang tergila-gila ingin tidur dengan ku" ejek lelaki itu seraya tersenyum menghina. ia menampilkan ekspresi jika gadis di hadapan nya ini bukan lah apa-apa bagi nya.
"Aku mohon tuan... lepaskan aku, aku janji tidak akan pernah mengusik tuan lagi bahkan muncul di hadapan tuan", lagi lagi gadis itu memohon kepada lelaki itu. ia memang sangat ingin bebas dari laki laki bajingan di hadapan nya itu. ia ingin melupakan segala hal telah terjadi dan memulai hidup baru.
"Cuihhh... dasar gadis sialan, kamu lagi lagi memancing emosi ku", dengus laki laki itu yang kini sudah berubah emosi. emosi nya kembali bangkit karena gadis itu menolak keinginan nya saat ini. Baru saja ia sangat ingin bergelut dengan gadis itu namun langsung sirna karena penolakan gadis itu.
Rey tampak sedang sangat geram dengan ucapan gadis itu, ia mengepal tangan nya keras dan nafas nya sudah naik turun. Biasanya wanita tidak ada yang pernah menolaknya, bahkan mereka yang selalu berinisiatif. Mereka rela melakukan apa pun juga supaya bisa menjadi wanita nya, namun ia tidak pernah menjalin hubungan dengan waktu lama dengan satu wanita.
Ia tak sabar lagi, ia mendekati wanita itu dan...
.
.
.
__ADS_1
.
bersambungggg