Mafia Mencari Cinta Sejati

Mafia Mencari Cinta Sejati
bertemu dengan pelaku illegal


__ADS_3

(pov Fidelia)


Setelah berusaha dengan susah payah akhirnya aku bisa selamat dari aksi illegal itu. Aku saat ini kini sedang berusaha mencari cara bagaimana supaya aku bisa bertahan di kota besar ini.


Saat ini aku tidak memegang identitas apapun juga selain satu lembar foto copy KTP ku, itu pun tanpa sengaja terselip di dompet yang ku bawa pada saat ini.


Sebagai warna negara asing aku seharusnya memegang kartu identitas berupa pasport sebagai pembuktian status legal ku berada di negara ini. Namun, apa boleh buat aku sama sekali tak memiliki itu. Intinya pada saat ini aku harus berusaha semaksimal mungkin supaya aku bisa bertahan hidup di negara ini dan aku akan memikirkan cara untuk pulang ke negara asal ku kelak.


Untung pada saat aku melarikan diri dari camp mengerikan itu ada seorang ibu yang berbaik hati dan merasa kasihan kepadaku, ia merasa sangat iba melihatku yang sangat kacau pada saat itu. Baju yang ku kenakan sudah sangat lusuh, kotor dan berantakan. Wajahku yang sudah sangat pucat pasi karena aku sudah hampir dehidrasi dan sangat kelaparan. Kaki ku juga tak mengenakan alas lagi. Sepatu yang ku kenakan saat itu sengaja tidak kupakai supaya mereka tidak mendengar langkah kakiku ketika keluar dari bangunan itu.


Aku sungguh berterima kasih berkat ibu itu aku bisa seperti ini saat ini. Aku dibawa ke rumahnya dan merawat ku dengan baik dalam keadaanku yang sudah hampir pingsan.


badanku serasa berat, kepalaku sangat pusing badanku juga terasa panas. Ibu itu bernama bu Sherly givane. Ibu Sherly dengan telaten merawat ku selama dua hari. Aku sebenarnya heran dan bertanya dalam hati kenapa ibu itu sangat berbaik hati kepadaku. Aku ingin menanyakan alasannya, namun saat ini belumlah waktu yang tepat.


Ibu Sherly juga fokus merawat ku saat itu, dia belum menanyakan kekacauan ku. Setelah aku sembuh dan kembali fit ia baru menanyakan perihal keadaanku saat itu. Aku mulai terenyuh lagi. Tak terasa air mata ku kembali menetes dengan derasnya. Aku kembali merasa ngeri dan ngilu mengingat kejadian yang sudah ku lalui itu.


Aku menceritakan detail siapa aku dan apa yang telah menimpaku. Bu Sherly tampak diam dan sejenak berpikir, dari raut wajahnya aku tau dia senang memikirkan sesuatu.


Aku bertekad melaporkan mereka ke kantor pihak berwajib sehingga mereka semua ditangkap dan dihukum atas perbuatan kejam yang telah mereka lakukan. Namun ibu itu mengusap bahuku dengan lembut seraya berkata,


"Lupakan yang sudah terjadi, karena kita tak punya kekuatan untuk melawan mereka" terang bu Sherly membuatku kurang setuju dengan ungkapan ibu itu.


"Bu tapi mereka sangat kejam, mereka sama sekali tidak memiliki rasa keprimanusiaan, mereka harus dihukum. Banyak temanku masih di sana bu" aku berucap dengan suara lirih dan pilu. Aku juga menunjukkan wajah kurang setuju dengan ucapan ibu itu.


"Sudah nak, aku tau apa yang ada dalam hatimu. Kamu ingin menyelamatkan temanmu yang lainnya, tapi kamu tak akan bisa melawan mereka. Kita saat ini sangat lemah. Jika kamu melakukan itu mungkin kamu hari ini juga akan ditangkap. Mereka pasti sudah memiliki jaringan besar. Buktinya kalian dari negara yang sangat jauh bisa masuk ke perangkap mereka"


bu Sherly bertutur dengan raut wajah sedih,


aku tau dia juga sedih dengan keadaan teman temanku itu.


Aku tidak menyahut lagi perkataan ibu Sherly, aku kembali terdiam dan merasa sedih. Aku tidak tau apa yang harus aku perbuat saat ini.


Betul kata ibu Sherly tadi, aku tak punya kekuatan sama sekali. Kemungkinan besar aku yang akan ditangkap, karena pasti mereka menjalin kerja sama dengan pihak kepolisian dan pihak pihak lainnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa pasrah dan berharap semoga temanku bisa selamat. Bu Sherly membiarkanku duduk menyendiri di halaman depan rumahnya. Dia tau aku memang saat ini butuh waktu sendiri.


Rumah ibu ini tergolong sederhana namun sangat nyaman. Kamar ada dua ruangan


satu dapur mungil dan rapi, ruang tengah yang tidak terlalu besar namun di tata menarik dengan nuansa warna ungu dan halaman depan yang tidak terlalu besar juga namun aku suka bentuknya. Hampir seluruh sisi halaman ditumbuhi banyak bunga.


Di tempat aku duduk sekarang adalah taman mini yang sengaja dibuat ibu itu. Ada satu set kursi dan meja yang terbuat dari kayu dan diatasnya sudah ada bunga mawar yang penuh bunga bermekaran ditata sehingga bisa jadi tempat berteduh. Aku sangat menikmati keindahan sederhana di depanku itu.


Suasana saat ini sangat nyaman


sehingga aku bisa duduk rileks sambil menenangkan diri dari hiruk pikuk yang sudah ku lalui. Satu jam sudah aku duduk termenung di taman mini bu Sherly ini, saat ini sudah lewat jam makan siang namun aku belum makan juga.


Aku sudah berada di rumah ibu ini selama 1 minggu tapi aku belum pernah ke mana-mana. Aku hanya diam di dalam rumah dan di halaman rumah yang sederhana ini.


Aku mendengar derap kaki yang mendekat, aku menoleh dan melihat bu Sherly menghampiri ku.


"Nak ayo makan, ini sudah lewat jam makan siang, ", ucap ibu itu sambil tersenyum kepadaku.


"Ibu bisa minta tolong tidak nak? ", tanya ibu itu, aku lihat wajahnya memperlihatkan kalau ia berharap aku mau.


"Ibu minta tolong kamu untuk pergi membeli makanan ke Resto yang di di depan sana, ibu pengen makan Ratatouille", sambung ibu Sherly lagi


"Maaf bu aku tidak tau makanan yang ibu sebutkan, kita barengan aja gimana bu?", balasku sembari tersenyum tipis. Aku memang ingin menenangkan pikiran dengan melihat lihat sebentar bagaimana keadaan diluar.


Kami pun bergegas bersama, aku tidak ganti pakaian apapun. Aku hanya memakai baju yang ku kenakan tadi. Kalau bu Sherly masih masuk ke dalam rumah menggambil dan mengenakan jaket miliknya dan juga menutup pintu rumah.


Jarak rumah ibu itu ke resto memang dekat, jaraknya hanya kira-kira 3 km. Kami tidak naik kendaraan melainkan jalan kaki, tidak butuh waktu lama hanya 10 menit kami sudah sampai ke lokasi.


Aku memang merasa sangat takjub melihat resto besar ini. Ini kali pertama aku melihat resto, dan juga langsung melihat resto barat yang menyajikan khusus makanan Eropa.


jangankan resto eropa resto biasa pun tak pernah kulihat sebelumnya. Maklum aku tinggal di desa yang kecil dan keluarga kami terbilang keluarga yang sederhana.


Aku seketika merasa senang, aku menampik kan senyum lebarku. Ibu yang melihat reaksiku juga senang dan tersenyum,

__ADS_1


"Kamu senang nak" tanya ibu itu dengan semangat.


"Iya bu aku sangat senang, ini pertama sekali aku ke resto", jawabku dengan jujur sambil tersenyum dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Kami kembali berjalan untuk masuk ke dalam,


tapi bak di sambar petir, aku melihat sosok tak asing bagiku. Tubuhku tiba-tiba bergetar hebat melihat siapa yang ada di depan itu. Aku melihat di depan meja kasir seorang lelaki yang ada pada kejadian mutilasi saat itu. Aku tidak tau jelas siapa dia, tapi yang paling penting dia adalah salah seorang yang ada di tempat kejadian mengerikan pada saat itu.


"Bu aku keluar sebentar ya" Aku berkata kepada ibu Sherly karena aku melihat laki-laki itu sedang berjalan ke arah kami.


"Ada apa nak? ", tanya bu Sherly lagi kepada ku.


Tanpa menjawab ibu itu aku berjalan cepat menuju luar resto itu. Aku melihat dia juga hendak berjalan keluar. Aku bersembunyi di balik mobil silver yang terparkir di dekatku berdiri saat ini.


Aku tidak tau mobil siapa itu, yang penting aku bisa bersembunyi dari pantauan laki-laki itu. Tapi baru saja aku mengumpat dibalik mobil itu, aku melihat dia bergerak ke arah mobil tempat ku bersembunyi saat ini.


Aku hendak pergi namun tidak bisa, disisi kanan mobil ada mobil lain, dibelakang mobil juga buntu karena langsung berbatasan dengan tembok perbatasan. Tidak ada cara lain aku terpaksa berjalan keluar dari persembunyian ku. Dia terkejut dengan kehadiranku. Jus blueberry yang ia pegang seketika tumpah ke bajunya.


Aku berulang kali meminta maaf namun dia tak menyahut. Dia terlihat marah dan geram kepadaku. Ia memintaku dengan hardik suara kerasnya untuk diam. Dia terlihat masuk ke dalam mobil tempat ku bersembunyi tadi. Aku baru menyadari bahwa mobil itu ternyata mobilnya sendiri. Kenapa bisa seperti ini?


aku juga merasa lucu dan heran, kenapa aku harus takut?, toh dia belum mengenalku. Kami belum pernah sama sekali bertemu empat mata, saat itu hanya akulah yang melihatnya itu pun dari balik lemari persembunyian ku, sedangkan dia sama sekali belum pernah melihatku. Saat itu dia datang ke camp itu setelah kami tiba kira kira 30 menit, itupun ketika baru sampai aku langsung bersembunyi.


.


.


.


.


.


bersambunggg

__ADS_1


__ADS_2