Maharani

Maharani
Luapan Emosi


__ADS_3

“Kapan kamu bilang begitu?”


“Barusan telepon. Bayangkan hari Sabtu


ini,,,,,sebentar lagi?”


“Tenang sekarang baru hari Senin.”


“Tenang bagaimana...kamu nggak ngerti dia yang


selama ini aku dambakan, aku harapkan, aku inginkan, aku mimpikan…….”


“Okay..okay..he is your prince.”


“Ya.”


Ah, apa sih yang aku pikirkan. Sekarang aku


duduk di cafe Roxeta Orchard ini menghabiskan makan siangku dengan temanku Dan


Chang  atau yang akrab aku panggil DC


ini? Mengapa aku repot repot menelponnya untuk segera datang menemani aku? Tau


apa dia ?


“Bencong begini aku tahu banyak loh!”


“Apa ?”


“Soal kecantikan,,,,glowing baby,


grooming,,,be pretty, be delicious, be babelicious!” ujarnya meluap-luap sambil


mengimbas-ngibaskan tangannya.


Aku seperti di hipnotis ketika DC dengan


dengan penuh percaya diri mulai menatapku.


“Nah, sekarang, apakah kamu akan menurut?”


katanya sambil menunjuk-nunjuk diriku.


Setelah melihat jari tangan miliknya yang


berwarna-warni dan betapa mulusnya tangannya melebihi tanganku, dan betapa

__ADS_1


mulusnya wajahnya melebihi wajahku yang penuh dengan jerawat kecil.


Ia menangkap apa yang sedang aku pikirkan,


diraihnya tangan kananku dan dan diperhatikannya kuku serta jemariku.


“Darling ,,,,ck,,ck,,ck, you desperately need


make over!” ujarnya sambil menggeleng-geleng.


Aku tersenyum kecut.


“Kamu butuh potong rambut, mungkin sedikit


warna sana-sini biar wajahmu tidak suram. Hmm...wajah suram, pernah kamu


melakukan scrub?”


“Ng …………”


“Well ….kamu butuh ke salon…..mungkin juga


spa...mulai sekarang kamu harus ambil cuti agar bisa mempersiapkan itu dengan


baik.


ucapan-ucapannya.


“Lalu jangan lupa, di ‘bawah’ sana apakah


terawat juga?”


“Bawah sana,,,apa maksudmu, aku tidak


mengerti?”


DC melirik menuju arah rokku. Aku melotot


dengan gayanya, tapi dengan genitnya DC malah mengerlipkan matanya dengan gaya


menggoda.


“Siapa tahu, tiba-tiba... ng….you


know...main-main ke sana….”


“So ?”

__ADS_1


“Hahahahahahahaha …..do Brazilian wax,


darling!” ujarnya mencubit gemas tangan kananku.


“Apa ? Apa itu Brazilian wax?”


“Hahahaha waxing atau menghilangkan bulu pada


sekitar ** biasanya wanita Brazil melakukan ini supaya mereka


lebih percaya diri ketika memakai bikini, trend ini sudah menyebar ke Amerika


loh banyak bintang Hollywood yang melakukannya.


“Hah ?”


“Alamak ! Hah, bagaimana kau ini, ternyata


kamu lebih kuper dari pada yang ku sangka Rani!”


Aku adalah seorang wanita yang mengintip tiap


pagi kehadirannya, cuma bisa menikmati dari jauh sementara banyak wanita cantik


yang mengitarinya, entah sekedar memberi salam bahkan ada yang secara nekat


mencium dan berbisik genit di daun telinganya lekat-lekat.


Aku memperhatikan gayanya selalu ramah


terhadap semua orang termasuk para wanita itu, mengobrol seperlunya setelah itu


dia memberi tahu bahwa ia harus duduk dan bekerja.


Dari celah tempat dudukku diantara buku dan


pembatas meja, aku bisa mencuri pandang untuk mengagumi wajah tampannya


tersebut. Bulu halus sisa cukuran, hidung mancungnya, dagu lancipnya dan mata


hitam sipitnya yang sesekali melihat ke arah kertas sebelum berpindah ke


komputernya, tubuhnya yang kekar dengan dadanya yang bidang serta badan yang


seksi dengan tinggi badan sekitar 182 sudah pasti dia menjadi idola para wanita


di kantorku.

__ADS_1


__ADS_2