
Tepat Jam 6:45 mobil BMW Zen sudah terparkir
di halaman parkir apartemenku, aku memakai gaun satin berwarna Abu-abu dengan
potongan rendah pada bagian dada dan memperlihatkan sedikit lekuk tubuhku, aku
memang bukan seorang gadis yang memiliki tubuh yang seksi tapi bisa dibilang
tubuhku cukup padat berisi. Tas tangan kecil dan sepatu high heels merk Channel
membuat kaki jenjangku tampak indah, Zen membukakan pintu mobilnya untukku dan
aku masuk dengan anggunnya. Lalu dia dengan anggunnya masuk kedalam mobil lalu
kami pun meluncur ke arah kawasan Marina Bay.
Suasana restoran Dolce Vita tidak begitu ramai
dan ternyata Zen sudah memesan tempat untuk makan malam kita berdua, meja tepat
di sebelah kolam dan disebrang ada taman bunga dengan lampion yang indah, aku
mulai berfantasi memikirkan aku dan Zen berjalan sambil bergandengan tangan
berjalan sepanjang taman itu.
Lamunanku buyar ketika Zen memanggilku
“Apa yang sedang kamu pikirkan Rani,” tanya
Zen sambil memberikan buku menu kepadaku
Dengan wajah merona, aku tertunduk malu
memikir hayalan bodohku itu.
Tapi tangan Zen mengangkat daguku dengan
lembutnya
“Kamu sangat cantik malam ini Rani, jangan
tertunduk aku ingin menikmati kecantikanmu”
Mereka
berdua saling pandang, wajah Zen terlihat tampan seperti biasanya dengan baju
kaos Abu-abu polos dibalut dengan jas hitam membuat penampilannya semakin
menawan, wanita mana yang gak klepek-klepek melihat penampilan Zen malam ini,
Mandy dan DC saja sampai terkejut ketika Zen datang menjemputku. Aku sungguh
wanita yang beruntung malam ini.
Makan malam kami sangatlah romantis di bawah
cahaya lampu yang sedikit redup dan di iringi oleh alunan merdu dari denting
piano yang melantunkan lagu A Thousand Year, ini bukan malam Valentine tapi
malam ini sungguh indah dan membahagiakan.
Selesai makan malam baru menunjukan pukul 9
malam.
“Rani maukah kamu menemaniku berjalan-jalan
sebentar di taman sebrang?” apakah ini mimpi yang jadi kenyataan,,,?? Oh Tuhan.
Suaraku tidak bisa keluar dan ada hanyalah
__ADS_1
anggukan pelan dan bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya aku mengikuti Zen
sambil bergandengan tangan menyusuri jalan setapak lalu berakhir di sebuah
bangku di taman itu.
Cahaya rembulan tepat di atas kepala, Zen
masih menggenggam tanganku seolah takut aku pergi, jantungku berdetak cepat
seperti baru habis ngegym selama 2 jam tanpa berhenti apalagi ketika pria itu
menatap kedua wajahku, secara refleks aku langsung menggigit bibirku agar rasa
canggungku hilang.
“Rani ada sesuatu yang ingin aku katakan
padamu” kamu bisa menjawabnya sekarang atau memikirkannya kembali, aku akan
terima apapun keputusan darimu”
Zen terlihat cemas dan gelisah, tangan sedikit
berkeringat dan gemetar.
“Rani, aku mencintaimu apakah kamu bersedia
menjadi kekasihku”?
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zen tampak
menarik nafas lega tapi masih sedikit waspada karena dia belum mendapatkan
jawaban dariku.
Aku tercengang mendengar pengakuan Zen, otakku
kosong dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, sedangkan Zen yang
dariku.
“Aku tidak akan memaksamu Rani, kau bisa
memberikanku jawaban ketika kamu sudah siap”
Tapi kemudian dengan berani “Aku sudah siap
Zen!”
“Aku menerimamu, karena aku juga mencintaimu”
entah keberanian yang muncul dari mana sehingga mulutku bisa mengeluarkan
kalimat seperti itu.
Wajah Zen yang tadi terlihat gelisah menjadi
cerah dan berseri-seri dan seketika itu pun dia melepaskan genggeman tanganku
dan berpindah ke area bahuku dan menahannya, wajahnya hanya berjarak 1 inc
dengan wajahku.
“Bolehkah aku mencium kekasihku ini?” aku hanya
mengangguk lemah dan bibirnya dengan terampil menjamah bibirku, lidahnya dengan
dengan lincah bermain di sekitar area bibirku menyatu dengan lidahku sampai
kami berdua kehabisan nafas setelah itu dia memelukku penuh kasih sayang.
“Sayang bulan depan aku akan dipindahkan ke
lantai 10 karena aku dipromosikan menjadi General Manager Finance” sambil
__ADS_1
melepaskan peukannya.
Aku cukup terkejut dengan berita ini, itu
artinya setiap hari aku tidak akan menyaksikan wajah tampannya, walaupun secara
diam-diam seperti biasanya.
“Kau tidak usah khawatir, kamu masih bisa
menikmati wajah tampanku setiap sore dan akhir pekan, bukankah sekarang kamu
sudah menjadi kekasih dari Zendra”
Aku tersenyum malu, mengapa dia tahu jalan
pikiranku.
“Itu arti kita akan pulang kantor bersama dan
menghabiskan akhir pekan bersama”?
“Tentu sayang” jawab Zen dengan wajah
tampannya yang berseri-seri.
Tidak terasa sudah jam 11 malam dan angin
malam berhembus di sekitar taman itu, gaun satinku yang tipis membuat aku
kedinginan, dengan sigap Zendra langsung membuka jasnya dan memakaikan di
bahuku lalu dia memelukku dan mengajak untuk meninggalkan taman itu.
Ketika sampai di dalam mobil aku hendak
mengembalikan jasnya tapi Zen menolaknya, dia tidak ingin aku kedinginan.
“Ac mobilku sangat dingin dan gaunmu sangat
tipis, aku takut kamu masuk angin” jawab Zen sambil tersenyum.
“Baiklah nona Rani, apakah kau ingin langsung
pulang ke apartemenmu”? Tanya Zen dengan nakal…..
“Apa kamu punya ide, Yang Mulia Zendra”?
Jawabku sambil mengerlipkan mataku.
“Aku sedang berpikir untuk membawamu ke sebuah
tempat untuk merayakan jadian kita dan menghabiskan malam yang indah ini
bersamamu”
“Kalau begitu bawa aku pergi sekarang”
Kemudian bibir kedua orang itu kembali beradu.
Ada kalanya kita harus mewujudkan suatu hubungan bukan hanya dengan kata-kata
tapi dengan sebuah tindakan pada waktu yang tepat.
Ssssttttt………..
Selesai sampai di sini dulu..yaa...para
pembaca setia…...nantikan cerpen selanjutnya.
*Alamak adalah kata yang di ucapkan pada saat
seseorang terkejut akan sebuat peristiwa ataupun kejadian kata ini lazimnya
sering di gunakan oleh warga di Negara Singapura.
__ADS_1