Maharani

Maharani
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Tepat Jam 6:45 mobil BMW Zen sudah terparkir


di halaman parkir apartemenku, aku memakai gaun satin berwarna Abu-abu dengan


potongan rendah pada bagian dada dan memperlihatkan sedikit lekuk tubuhku, aku


memang bukan seorang gadis yang memiliki tubuh yang seksi tapi bisa dibilang


tubuhku cukup padat berisi. Tas tangan kecil dan sepatu high heels merk Channel


membuat kaki jenjangku tampak indah, Zen membukakan pintu mobilnya untukku dan


aku masuk dengan anggunnya. Lalu dia dengan anggunnya masuk kedalam mobil lalu


kami pun meluncur ke arah kawasan Marina Bay.


Suasana restoran Dolce Vita tidak begitu ramai


dan ternyata Zen sudah memesan tempat untuk makan malam kita berdua, meja tepat


di sebelah kolam dan disebrang ada taman bunga dengan lampion yang indah, aku


mulai berfantasi memikirkan aku dan Zen berjalan sambil bergandengan tangan


berjalan sepanjang taman itu.


Lamunanku buyar ketika Zen memanggilku


“Apa yang sedang kamu pikirkan Rani,” tanya


Zen sambil memberikan buku menu kepadaku


Dengan wajah merona, aku tertunduk malu


memikir hayalan bodohku itu.


Tapi tangan Zen mengangkat daguku dengan


lembutnya


“Kamu sangat cantik malam ini Rani, jangan


tertunduk aku ingin menikmati kecantikanmu”


 Mereka


berdua saling pandang, wajah Zen terlihat tampan seperti biasanya dengan baju


kaos Abu-abu polos dibalut dengan jas hitam membuat penampilannya semakin


menawan, wanita mana yang gak klepek-klepek melihat penampilan Zen malam ini,


Mandy dan DC saja sampai terkejut ketika Zen datang menjemputku. Aku sungguh


wanita yang beruntung malam ini.


 


Makan malam kami sangatlah romantis di bawah


cahaya lampu yang sedikit redup dan di iringi oleh alunan merdu dari denting


piano yang melantunkan lagu A Thousand Year, ini bukan malam Valentine tapi


malam ini sungguh indah dan membahagiakan.


Selesai makan malam baru menunjukan pukul 9


malam.


“Rani maukah kamu menemaniku berjalan-jalan


sebentar di taman sebrang?” apakah ini mimpi yang jadi kenyataan,,,?? Oh Tuhan.


Suaraku tidak bisa keluar dan ada hanyalah

__ADS_1


anggukan pelan dan bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya aku mengikuti Zen


sambil bergandengan tangan menyusuri jalan setapak lalu berakhir di sebuah


bangku di taman itu.


Cahaya rembulan tepat di atas kepala, Zen


masih menggenggam tanganku seolah takut aku pergi, jantungku berdetak cepat


seperti baru habis ngegym selama 2 jam tanpa berhenti apalagi ketika pria itu


menatap kedua wajahku, secara refleks aku langsung menggigit bibirku agar rasa


canggungku hilang.


“Rani ada sesuatu yang ingin aku katakan


padamu” kamu bisa menjawabnya sekarang atau memikirkannya kembali, aku akan


terima apapun keputusan darimu”


Zen terlihat cemas dan gelisah, tangan sedikit


berkeringat dan gemetar.


“Rani, aku mencintaimu apakah kamu bersedia


menjadi kekasihku”?


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zen tampak


menarik nafas lega tapi masih sedikit waspada karena dia belum mendapatkan


jawaban dariku.


Aku tercengang mendengar pengakuan Zen, otakku


kosong dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, sedangkan Zen yang


dariku.


“Aku tidak akan memaksamu Rani, kau bisa


memberikanku jawaban ketika kamu sudah siap”


Tapi kemudian dengan berani “Aku sudah siap


Zen!”


“Aku menerimamu, karena aku juga mencintaimu”


entah keberanian yang muncul dari mana sehingga mulutku bisa mengeluarkan


kalimat seperti itu.


Wajah Zen yang tadi terlihat gelisah menjadi


cerah dan berseri-seri dan seketika itu pun dia melepaskan genggeman tanganku


dan berpindah ke area bahuku dan menahannya, wajahnya hanya berjarak 1 inc


dengan wajahku.


“Bolehkah aku mencium kekasihku ini?” aku hanya


mengangguk lemah dan bibirnya dengan terampil menjamah bibirku, lidahnya dengan


dengan lincah bermain di sekitar area bibirku menyatu dengan lidahku sampai


kami berdua kehabisan nafas setelah itu dia memelukku penuh kasih sayang.


“Sayang bulan depan aku akan dipindahkan ke


lantai 10 karena aku dipromosikan menjadi General Manager Finance” sambil

__ADS_1


melepaskan peukannya.


Aku cukup terkejut dengan berita ini, itu


artinya setiap hari aku tidak akan menyaksikan wajah tampannya, walaupun secara


diam-diam seperti biasanya.


“Kau tidak usah khawatir, kamu masih bisa


menikmati wajah tampanku setiap sore dan akhir pekan, bukankah sekarang kamu


sudah menjadi kekasih dari Zendra”


Aku tersenyum malu, mengapa dia tahu jalan


pikiranku.


“Itu arti kita akan pulang kantor bersama dan


menghabiskan akhir pekan bersama”?


“Tentu sayang” jawab Zen dengan wajah


tampannya yang berseri-seri.


Tidak terasa sudah jam 11 malam dan angin


malam berhembus di sekitar taman itu, gaun satinku yang tipis membuat aku


kedinginan, dengan sigap Zendra langsung membuka jasnya dan memakaikan di


bahuku lalu dia memelukku dan mengajak untuk meninggalkan taman itu.


Ketika sampai di dalam mobil aku hendak


mengembalikan jasnya tapi Zen menolaknya, dia tidak ingin aku kedinginan.


“Ac mobilku sangat dingin dan gaunmu sangat


tipis, aku takut kamu masuk angin” jawab Zen sambil tersenyum.


“Baiklah nona Rani, apakah kau ingin langsung


pulang ke apartemenmu”? Tanya Zen dengan nakal…..


“Apa kamu punya ide, Yang Mulia Zendra”?


Jawabku sambil mengerlipkan mataku.


“Aku sedang berpikir untuk membawamu ke sebuah


tempat untuk merayakan jadian kita dan menghabiskan malam yang indah ini


bersamamu”


“Kalau begitu bawa aku pergi sekarang”


Kemudian bibir kedua orang itu kembali beradu.


Ada kalanya kita harus mewujudkan suatu hubungan bukan hanya dengan kata-kata


tapi dengan sebuah tindakan pada waktu yang tepat.


Ssssttttt………..


Selesai sampai di sini dulu..yaa...para


pembaca setia…...nantikan cerpen selanjutnya.


*Alamak adalah kata yang di ucapkan pada saat


seseorang terkejut akan sebuat peristiwa ataupun kejadian kata ini lazimnya


sering di gunakan oleh warga di Negara Singapura.

__ADS_1


__ADS_2