Maharani

Maharani
Namanya Zendra


__ADS_3

Aku bekerja di kantor sekitar 6 bulan lalu,


namaku Maharani Kusuma , kulitku sawo matang, dengan rambut hitam lurus sampai


bahu dan tubuh padat dengan tinggi 165 mahasiswa lulusan Universitas Indonesia


dengan IPK ku yang lumayan aku nekat melamar di salah satu perusahaan periklanan


terbesar di Singapura dan siapa sangka aku diterima, aku lalu terbang ke


Singapura tinggal selama seminggu di hotel sambil mencari iklan pencarian


roommate. Akhirnya aku bertemu dengan Mandy Clark.


Sebagai orang baru di kantor aku harus tahu


diri untuk tidak menonjol dan berbicara seadanya ketika makan siang.


Sejak bertemu denganya aku langsung jatuh


hati, bagaimana tidak wajahnya yang rupawan dan konon banyak orang bilang dia


masih ada garis keturunan Cina dan Timur Tengah.


Zendra yang biasa di panggil Zen oleh sebagian


besar orang di kantor itu.


Tapi begitu banyak wanita yang menarik


perhatian Zen tapi tidak ada dari wanita itu yang terlihat jalan atau sekedar


makan siang dengannya, dia selalu bertegur sapa dengan sopan tapi juga tidak


melayani jika ada salah satu karyawan di kantor kami yang bertindak genit


kepadanya….apakah dia Gay???


Itulah awal mula penilaianku kepada Zen,


sampai pada suatu pagi,,,ketika semua orang belum datang ke kantor aku


berjingjit ke mejanya untuk melihat seperti apa meja pria paling tampan di


kantornya itu.


Ketika ku lihat mejanya biasa saja layaknya


meja kerja pria pada umumnya, tidak foto wanita atau barang-barang yang


menunjukan kalau dia punya seorang kekasih.

__ADS_1


“Selamat pagi Rani” aku tekejut bukan main


mendengar suara itu,,,dan aku langsung gelalapan


“Ng ...sorry nice desk……..”


Pria itu tersenyum dan wajah langsung merona


melihat senyumannya kalau bisa aku mau langsung meleleh seperti lilin.


“Rani “?


Dia tahu namaku? Zen tahu namaku,,,,bagaimana


bisa dia kan hampir tidak pernah menyapaku.


“Kamu Rani, Mahari adalah nama panjangmu


bukan….?”


Duh malunya pasti dia sering menangkap basah


aku ketika aku sedang mencuri pandang ke arahnya.


“Iya”, jawabku malu-malu dengan berani aku


memandang mata sipit serta wajah tampannya bak Richard Gere, “Benar namamu


tampak menawan membuat para wanita jadi mabuk kepayang ketika memandangnya, termasuk


aku sih sebenarnya…


“Maaf aku tida,,,dak sebenarnya ingin meminjam


pulpen, makanya aku ke mejamu” wajahku merah padam karena ketahuan sebagai


seorang pencuri yang diam-diam menyelinap ke mejanya.


“Tidak apa-apa, kamu bisa mengambil apa saja


yang kamu inginkan di mejaku Rani” jawab Zen dengan manisnya. Jantung ini


berdetak dengan kencangnya aduh tolong selamatkan aku kalau tidak jantungku ini


akan keluar dari tubuhku.


“Bagaimana akhir pekanmu”? Zen bertanya dengan


wajah penuh senyuman.


“Seperti biasanya tidak ada yang special”

__ADS_1


jawabku dengan hati-hati apa maksudnya bertanya seperti ini padaku.


“Rani, apakah kamu sudah memiliki seorang


kekasih” Alamak pertanyaan macam apa itu…


“Aku, bel….belum punya kekasih!” jawabku penuh


dengan kewaspadaan diri.


“Apakah kamu bersedia makan malam denganku


akhir pekan ini”


Mataku berbelalak tanda tidak percaya,,seorang


Zen idola semua wanita di kantor mengajak makan malam di akhir pekan……??


“Rani,...Rani...bagaimana apakah kamu


bersedia?


Bagaikan robot aku langsung mengangguk dengan


polosnya.


“Baiklah nanti aku akan beritahu kamu lebih


detailnya lewat whatsapp”


Aku masih tertegun tidak percaya tapi Zen


memegang tangan kananku sambil berkata


“Jika kamu ingin mengagumi wajahku, beritahu


aku agar aku bisa berdiri di hadapanmu, tapi aku menyukai kamu mencuri pandang


lewat sela-sela meja pembatas karena aku pun sering mencuri pandang ke arahmu”


bagaikan melayang ke surga ke tujuh,,,aku seperti kupu-kupu yang menemukan


taman penuh bunga. Lalu aku pamit ke meja dengan cepat karena aku tidak ingin


Zen melihat mukaku yang seperti kepiting rebus.


Maka dari itu ketika hari Selasa aku makan


siang bersama DC dia menyarakan aku untuk make over dan setelah aku pikir-pikir


aku akan ambil cuti sehari pada hari Jumat untuk pergi ke salon kecantikan.

__ADS_1


__ADS_2