
Aku bekerja di kantor sekitar 6 bulan lalu,
namaku Maharani Kusuma , kulitku sawo matang, dengan rambut hitam lurus sampai
bahu dan tubuh padat dengan tinggi 165 mahasiswa lulusan Universitas Indonesia
dengan IPK ku yang lumayan aku nekat melamar di salah satu perusahaan periklanan
terbesar di Singapura dan siapa sangka aku diterima, aku lalu terbang ke
Singapura tinggal selama seminggu di hotel sambil mencari iklan pencarian
roommate. Akhirnya aku bertemu dengan Mandy Clark.
Sebagai orang baru di kantor aku harus tahu
diri untuk tidak menonjol dan berbicara seadanya ketika makan siang.
Sejak bertemu denganya aku langsung jatuh
hati, bagaimana tidak wajahnya yang rupawan dan konon banyak orang bilang dia
masih ada garis keturunan Cina dan Timur Tengah.
Zendra yang biasa di panggil Zen oleh sebagian
besar orang di kantor itu.
Tapi begitu banyak wanita yang menarik
perhatian Zen tapi tidak ada dari wanita itu yang terlihat jalan atau sekedar
makan siang dengannya, dia selalu bertegur sapa dengan sopan tapi juga tidak
melayani jika ada salah satu karyawan di kantor kami yang bertindak genit
kepadanya….apakah dia Gay???
Itulah awal mula penilaianku kepada Zen,
sampai pada suatu pagi,,,ketika semua orang belum datang ke kantor aku
berjingjit ke mejanya untuk melihat seperti apa meja pria paling tampan di
kantornya itu.
Ketika ku lihat mejanya biasa saja layaknya
meja kerja pria pada umumnya, tidak foto wanita atau barang-barang yang
menunjukan kalau dia punya seorang kekasih.
__ADS_1
“Selamat pagi Rani” aku tekejut bukan main
mendengar suara itu,,,dan aku langsung gelalapan
“Ng ...sorry nice desk……..”
Pria itu tersenyum dan wajah langsung merona
melihat senyumannya kalau bisa aku mau langsung meleleh seperti lilin.
“Rani “?
Dia tahu namaku? Zen tahu namaku,,,,bagaimana
bisa dia kan hampir tidak pernah menyapaku.
“Kamu Rani, Mahari adalah nama panjangmu
bukan….?”
Duh malunya pasti dia sering menangkap basah
aku ketika aku sedang mencuri pandang ke arahnya.
“Iya”, jawabku malu-malu dengan berani aku
memandang mata sipit serta wajah tampannya bak Richard Gere, “Benar namamu
tampak menawan membuat para wanita jadi mabuk kepayang ketika memandangnya, termasuk
aku sih sebenarnya…
“Maaf aku tida,,,dak sebenarnya ingin meminjam
pulpen, makanya aku ke mejamu” wajahku merah padam karena ketahuan sebagai
seorang pencuri yang diam-diam menyelinap ke mejanya.
“Tidak apa-apa, kamu bisa mengambil apa saja
yang kamu inginkan di mejaku Rani” jawab Zen dengan manisnya. Jantung ini
berdetak dengan kencangnya aduh tolong selamatkan aku kalau tidak jantungku ini
akan keluar dari tubuhku.
“Bagaimana akhir pekanmu”? Zen bertanya dengan
wajah penuh senyuman.
“Seperti biasanya tidak ada yang special”
__ADS_1
jawabku dengan hati-hati apa maksudnya bertanya seperti ini padaku.
“Rani, apakah kamu sudah memiliki seorang
kekasih” Alamak pertanyaan macam apa itu…
“Aku, bel….belum punya kekasih!” jawabku penuh
dengan kewaspadaan diri.
“Apakah kamu bersedia makan malam denganku
akhir pekan ini”
Mataku berbelalak tanda tidak percaya,,seorang
Zen idola semua wanita di kantor mengajak makan malam di akhir pekan……??
“Rani,...Rani...bagaimana apakah kamu
bersedia?
Bagaikan robot aku langsung mengangguk dengan
polosnya.
“Baiklah nanti aku akan beritahu kamu lebih
detailnya lewat whatsapp”
Aku masih tertegun tidak percaya tapi Zen
memegang tangan kananku sambil berkata
“Jika kamu ingin mengagumi wajahku, beritahu
aku agar aku bisa berdiri di hadapanmu, tapi aku menyukai kamu mencuri pandang
lewat sela-sela meja pembatas karena aku pun sering mencuri pandang ke arahmu”
bagaikan melayang ke surga ke tujuh,,,aku seperti kupu-kupu yang menemukan
taman penuh bunga. Lalu aku pamit ke meja dengan cepat karena aku tidak ingin
Zen melihat mukaku yang seperti kepiting rebus.
Maka dari itu ketika hari Selasa aku makan
siang bersama DC dia menyarakan aku untuk make over dan setelah aku pikir-pikir
aku akan ambil cuti sehari pada hari Jumat untuk pergi ke salon kecantikan.
__ADS_1