
“Aku dengar banyak artis yang makan di sana,
bahkan aku pernah melihat model dunia Cindy Craford ketika dia berkunjung ke
Singapura”.
“Baiklah aku akan jogging dulu yaa”
Melepas kepergiaan Mandy aku lalu menyalakan
music dan mulai menggunakan masker ke seluruh wajahku
tiba-tiba…..ting...nong...ting...nong...bunyi bel apartemen, aku langsung
berlari membuka pintu dan ternyata Mandy dengan nafas satu-satu, “aku kelupaan
air minum dan takut akan kehabisan nafas ketika lari nanti” oke jawabku
singkat.
“Kau tidak marah kan Rani”?? Tanya Mandy
polos.
“Tidak kenapa harus marah” jawabku bingung.
“Yah kamu kan lagi mempersiapkan diri untuk
makan malam nanti siapa tau aja kamu jadi sennsitif” jawab Mandy polos.
“Ah, aku tidak seperti Mandy” baiklah aku lari
lari yaa.
“Okay”, jawabku singkat.
5 menit kemudian...ting...nong...ting...nong...apalagi
si bule Inggris itu, apalagi yang sekarang ketinggalan, uffuhhh…
“Maaf Rani, aku pikir aku bawa kunci saja
takutnya kamu akan keluar” Mandy lalu mengambil kunci apartemen yang tergeletak
di atas meja di ruang tamu.
“Bye Rani akan akan lanjut lari”
Lalu 10 menit
kemudian..ting...nong….ting...nong...apalagi yang kelupaan,,,ah dia menyusahkan
sekali,,,Rani berpikir jika teman seapartemennya itu harus banyak minum
__ADS_1
suplemen Gingko biloba karena daya ingatnya yang sering menurun,,penyakit
lupanya aku banget.
Ah dia pegang kunci, kenapa aku harus
peduli,,,tapi sudah hampir 1 menit bel di apartemennya terus
berbunyi….ting...nong….ting...nong…”Baliklah Mandy...sebenarnya apalagi yang
ketinggalan sekarang”.
Rani membuka pintu dengan kesal sambil
mengguman “Mandy, apalagi yang ketinggalan sekarang”?? Tapi setelah dia melihat
dengan jelas siapa yang berada di depan pintu apartemennya dia langsung
terkejut…...Aalamak....Zendra...iya...pria itu yang sedang berdiri dengan wajah
gelisah di depan apartemen Rani, secara refleks Rani langsung menutup pintu
apartemennya tapi tangan kekar Zen menahan pintu itu.
Aku terpaksa melepaskan pegangan pintu dan
menutup mukaku dengan jemariku, tak berani menatap wajah tampan itu, tiba-tiba
Zen menarik tanganku dengan lembut.
terdengar lembut.
“Dari mana kau tahu alamat apartemenku” tanya
Rani mengalihkan pertanyaan Zen.
“Aku tanya kebagian HRD”
“Oh “
“Aku tidak melihatmu selama beberapa hari”
“Aku tugas ke Seoul, menggantikan Bu Cyntia”
“Saat aku masuk hari Jumat aku tidak
melihatmu, aku pikir kamu sakit karena cuaca dan wabah penyakit di Singapura
saat ini sangat banyak, karena itu aku sangat mengkhawatirkan dirimu”
Kata-kata Zen membuat pipiku merona walaupun
aku memakai masker muka berwarna biru.
__ADS_1
“Saudaraku dari Jakarta datang jadi aku minta
cuti untuk menemaninya jalan-jalan” maaf aku harus berbohong padahal aku cuti
untuk mempercantik diriku.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa” sambil berkata
Zen mengamati gadis didepannya.
“Lalu kenapa tadi kau malah menutup pintu
ketika melihat aku datang” tanya Zen
“Aku belum mandi dan keadaanku masih kacau
balau, apakah kamu tidak lihat” suara
Rani tampak melemah betapa tidak saat ini dia belum mandi dan yang terburuk dia
masih menjadi seekor ulat bulu dan belum mengalami metamorfosis menjadi
kupu-kupu.
Zen tersenyum dan itu membuat Rani terguncang
dengan hebatnya wajah tampannya, dada bidangnya di tambah lagi dengan senyuman
manisnya bisa-bisa aku mimisan nee kata Rani dalam benaknya.
“Kamu tetap cantik kok walaupun belum mandi,
aku malah lebih suka melihatmu dalam keadaan polos Rani”.
Zen lalu mendekat, satu tangannya menahan
tubuh Rani hingga merapat ke dinding dekat pintu apartemennya satu dengan
jemarinya halus dia menghapus sisa-sisa masker yang menempel dibibirku,
jantungku serasa mau copot dan aku belum gosok gigi, bagaimana ini!
Tanpa diminta bibir seksi Zen langsung lumat
bibirku, sensasi mint menyatu dan terjalin ketika kedua bibir itu saling mengadu,
aku mengerang kecil beberapa saat kemudian, Zen melepaskan bibirnya dan
tiba-tiba ,,,,haacimm,,,,dia bersin,,,,,hahahaha,,,kami berdua kompak tertawa
bersama,,rupa masker mukaku terhirup oleh hidungnya ketika kami berciuman tadi.
“Jam 7 Malam nanti aku akan menjemputmu, Rani”
__ADS_1
ucap Zen dengan mesra.
“Baiklah aku akan menunggumu”