Malaikat Pelipur Lara.

Malaikat Pelipur Lara.
Tidak Sedang Menikmati.


__ADS_3

Lusa,


Senin, 15 November.


[pagi harinya, di apartemen]


Di sinilah aku sekarang. Di hadapan sebuah cermin serupa besarnya kertas A3 ini, aku berdiri dengan wajah hanya berjarak beberapa senti dari bidang kaca.


Saat kulihat rupa wajahku terpantul di sana, entah kenapa ragaku kian merasa hidup. Adrenalinku terpacu. Setiap detik yang kuhabiskan ketika menatap bayangan di cermin itu sungguh krusial dan membuat sekujur tubuhku sedikit merinding.


Sambil menelan ludah, tak henti-hentinya aku bertanya pada diriku sendiri,


Apa aku siap?


Apa aku sudah siap untuk memulai tugasku sebagai pemulih mental...?


Aku tak tinggal diam. Dengan rasa penuh percaya diri, aku pun membalas pertanyaan-pertanyaan itu dengan lantang.


"AKU SUDAH SIAP!"


..._________________...


/


...Malaikat Pelipur Lara....


^^^/^^^


*TINNN *TINNN

__ADS_1


Sepagi ini, sudah ada saja yang mengklakson dari arah luar. Orang itu adalah pak Toku beserta mobilnya yang kali ini terlihat berbeda dari yang kemarin.


Melalui jendela apartemen yang berada di lantai dua ini, aku mengadah telapak tanganku ke arahnya dari kejauhan, bermaksud memberi isyarat untuk beliau sedikit menunggu.


Pagi ini sungguh terlihat cerah sama halnya seperti hari kemarin. Sejujurnya ini kabar baik, karena pada musim gugur seperti ini, menjalani hari dengan siraman sinar matahari pagi yang hangat itu cukup langka untuk dialami.


Waktu di jam tanganku juga sudah menujukkan pukul tujuh lewat lima. Ini adalah waktu yang tepat untukku mengunci pintu apartemen dan berangkat menuju sekolahan.


Dan Itulah yang baru saja kulakukan.


Aku berjalan menuruni tangga apartemen sambil sesekali menerka-nerka penampilanku yang kini dibalut oleh seragam khas siswa jepang.


Kau tahu sendiri kan, celana dasar dengan atasan kemeja putih. Tidak lupa terpasang dasi berwarna biru donker yang sebagiannya ditutupi jas almamater sekolah yang berwarna serupa.


Apa aku masih cocok ya, memakai seragam seperti ini? Gumamku terus berjalan menuruni anak tangga dengan ligat.


Aku lanjut berjalan menuju pinggiran jalan di luar apartemen. Di mana di sana, pak Toku sudah menungguku sejak 5 menit yang lalu.


"pagi, pak!" sapaku sembari membuka pintu mobil bagian tengah.


"Sudah jelas lah." Balasku semangat.


Setelah itu, beliau langsung menghidupkan mesin mobilnya dan berkendara menuju sekolahan dengan ritme yang begitu santai.


..._______________...


[di perjalanan menuju sekolah]


Sungguh, hari ini adalah hari yang sudah kunanti-nanti sejak lama. Karena pada hari yang berbahagia ini, di sekolah yang cukup tersohor seantero Jepang itu, aku akan memulai tugasku sebagai pemulih mental untuk seorang siswi yang sedang mengalami perundungan.

__ADS_1


Aku bahkan sudah menyiapkan beberapa hal sejak hari Minggu kemarin. Contohnya seperti pembiasaan logat, mencukur, dan tak lupa pula, aku juga seharian penuh berusaha menghapalkan identitas baru yang pihak sekolah itu berikan padaku.


Di perjalanan saat ini pun, aku sempat sedikit berlatih hapalanku tersebut. Dan hasilnya, mhmm...tak tercelah sedikitpun.


Di samping itu, sebetulnya aku hendak menanyakan perihal sesuatu pada Pak Toku, supirku saat ini. Hanya sekedar basa-basi sih.


Namun baru saja hendak mengeluarkan kata-kata, sesuatu langsung menahanku untuk berucap. Hal tersebut tak lain adalah apa yang sedang kulihat si bagian kanan jalan.


Di sana, aku melihat ada sebuah taman bermain kecil. Terdapat beberapa wahana bermain khusus untuk anak-anak kecil di situ. Beberapa diantaranya seperti jungkat-jungkit, perosotan, jeruji besi berbentuk kubah lingkaran, juga beberapa ayunan yang berderet rapih dengan warnanya yang mencolok.


Tepat di atas ayunan kayu dengan rantai besi sebagai talinya itu, terdapat dua orang yang terlihat mendudukinya. Masing-masing duduk di ayunan yang bersebelahan. Satunya anak kecil, dan yang satunya lagi merupakan perempuan berambut ikal. Mereka terlihat berayun dengan arah badan membelakangi jalan, sehingga aku sama sekali tak dapat melihat wajah mereka sedikitpun.


Yang bisa kulihat hanyalah bagaimana ayunan mereka yang begitu pelan, seperti tidak sedang menikmati.


Aku tak tahu harus berkata apa, karena kejadian itu juga hanya berlangsung beberapa detik. Karena pak Toku senantiasa melajukan mobilnya, jadi aku tak bisa mengamati mereka lebih jauh lagi.


Namun satu yang aku langsung sadari dalam kesempatan singkat tadi, yakni jas yang dikenakan perempuan tadi sama dengan jas yang kukenakan saat ini.


Ah, sudahlah...mungkin dia salah satu murid SMA Sokoku yang juga kebetulan tinggal di dekat sini.


..._______________...


^^^\^^^


...Tidak Sedang Menikmati....



^^^"Perlu anda ingat, bahwa menghapal identitas baru tersebut sangatlah penting. Tiap poin dalam pembaharuan itu punya tujuan dan maksudnya masing-masing."^^^

__ADS_1


To be continued...


...________________...


__ADS_2