
Kamis, 11 November,
19:58 Malam.
Dari dalam pesawat yang baru akan take off ini, aku senantiasa merenung, menatap kosong ke arah luar melalui jendela pesawat.
Sudah sejak tadi, aku terus mengamati daratan luas di luar sana dengan wajah sayu tanda kelelahan.
Dengungan mesin pesawat yang berkepanjangan,
Bunyi pendingin bising yang memenuhi kabin,
Serta dengkuran seorang pria berdasi yang kebetulan duduk di sebelahku.
Malam ini, sesuatu mengharuskanku untuk pulang lebih cepat.
..._______________...
...**Mohon perhatian kepada seluruh penumpang, Pesawat akan segera take off. Para Penumpang diharapkan mengecek kembali sabuk keamanan dan pastikan sudah terpasang dengan baik. Bila ada kendala, jangan ragu untuk meminta bantuan pada kami**...
Aku lagi di pesawat. Jadi hubunginya nanti saja.
Begitu kira-kira bunyi pesan yang ku kirimkan pada Reza 10 menit yang lalu.
Seperti yang kubilang tadi, saat ini, aku sedang berada dalam pesawat yang baru akan lepas landas dan menembus awan malam Singapura.
Mungkin ucapanku akan terdengar sedikit egois, tapi aku bisa bilang bahwa bongkahan besi terbang ini akan melintasi langit malam guna mengantarkanku pulang menuju ke negara asalku, Indonesia.
Sejujurnya aku sungguh tak ingin berangkat pulang, meninggalkan liburan dan trip spesialku di hari Kamis yang cerah ini.
__ADS_1
Soalnya juga, terhitung sampai hari ini, belum genap 2 hari aku bisa menikmati waktu liburanku. Padahal aku sungguh menantikannya. Setidaknya sebagai kesempatan untukku merefreshkan diri seusai menyelesaikan tugas dari klien terakhirku.
Yah...begitulah, awalnya aku memutuskan pergi ke luar negeri hanya untuk sekedar menghilangkan penat saja. Namun, nampaknya hingga saat ini, dunia masih belum memperbolehkan manusia biasa seperti ku ini untuk boleh santai-santai dulu. Rencana liburan yang sudah ku atur sedemikian rupa pun lantas kacau akibat mandat dadakan ini.
Aku sungguh beharap, di penerbangan yang memakan waktu tempuh 3 jam ini, aku bisa tertidur pulas guna mengistirahatkan tubuhku yang sedari siang sudah menyiapkan keberangkatan dengan tergesa-gesa.
Jujur, aku iri pada pria di sebelahku. Ia bisa begitu saja terlelap dengan damai.
...______________...
Beberapa jam berlalu. Kini, pesawat berisikan lebih dari 100 orang ini pun sudah hampir sampai di landasan tempatnya akan mendarat.
Samar-samar, suara pemberitahuan kembali berkumandang mengitari kupingku. Seorang dalam suara itu terdengar memberitahukan seisi pesawat agar bersiap dan berkemas karena sebentar lagi pesawat akan mendarat.
Aku beruntung. Selama penerbangan, aku masih sempat menidurkan diri. Yah...walau pada akhirnya aku sempat tersentak akibat tangisan bayi kecil yang berasal dari kursi depanku.
Dengan lembut dan perlahan, ia menepuk bahuku.
"Permisi, Tuan." sapanya pelan.
Walau sapaan yang ia lontarkan begitu perlahan, tubuhku tetap saja sontak tergemap akibat tepukan jarinya tersebut.
Aku kian membuka kelopak mataku penuh, dan lalu menoleh ke arahnya.
Dengan tatapan lemau, aku menyahut singkat. "Hm...iya?"
"Lima menit lagi kita akan sampai ke tujuan, Tuan. Tuan bisa bangun dan bersiap." ucapnya disertai senyum formalitas khas pramugari.
"Hoamnhh...begitu, ya. Baiklah, baik." jawabku masih terkantuk.
__ADS_1
Aku pun lantas bersiap sesuai apa yang dikatakannya. Dan selang beberapa menit, pesawat pun akhirnya mendarat dengan selamat dan tanpa kendala sedikitpun.
Syukurlah...
...________________...
22:19 WIB
Pada akhirnya,
Pada akhirnya aku tiba di negaraku tercinta.
Tepat di pukul 10 malam lebih 19 menit, aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk bekerja di luar negeri.
Sesaat keluar dari pesawat, kulitku langsung dengan mudahnya merasakan perbedaan atmosfer yang ada. Dinginnya air conditioner dalam pesawat, kini terganti dengan angin malam khas Indonesia yang bertiup mengibas tubuhku seakan sedang memicu masuk angin.
Sambil menyusuri pintu keluar bandara, aku berjalan dengan koper yang senantiasa kuseret beserta langkahku. Selanjutnya akupun memesan taksi guna mengantarkanku menuju hotel langgananku yang kira-kira memakan waktu tempuh 10 menit dari sini.
Karena Jakarta bukanlah rumahku, maksudku, bukanlah daerah asalku, jadi setiap mengunjungi ibukota, aku selalu memesan kamar untuk bermalam.
Aku tak merasa kerepotan akan hal itu. Lagian, setiap aku terbang menuju Jakarta, itu selalu terkait urusan pekerjaan, tidak lebih.
Sesampainya di kamar hotel, aku tak mengganti pakaianku sama sekali. Dengan cuek aku melepas sepatu yang kukenakan dan langsung melemparkan raga ke kasur guna lanjut tidur hingga esok paginya.
Langsung tidur seperti ini juga bukan tanpa alasan. Selain karena lelah, aku juga harus bersiap. Mengingat pagi besok, aku masih harus datang ke kantor menemui atasanku untuk membahas perihal tugas yang nampaknya akan ditangguhkannya padaku (lagi) kali ini.
To be continued...
...________________...
__ADS_1