Malaikat Pelipur Lara.

Malaikat Pelipur Lara.
Mempertimbangkan?


__ADS_3

[Di kantor]


"Pagi, Gamall!" sapa salah seorang agen yang tak sengaja kutemui saat berjalan melintasi koridor kantor.


"Ah, iya, selamat pagi juga." sahutku balik menyapa.


Langkah kami berdua sempat terhenti. Ntah mengapa hal itu terjadi bersamaan. Aku ataupun dia, rasa-rasanya seperti ingin mengutarakan pertanyaan satu sama lain.


Dan benar saja, pria itu yang lantas bertanya dengan telunjuk menunjuk tumpul ke arahku.


"apa kau mau menemui atasan juga?" Tanyanya seakan sudah tau maksud tujuanku kemari.


Akupun sontak mengangguk dan balik bertanya. "Hm, yap. Dia ada di ruangan, kan?"


"Ya, beliau ada di ruangannya. Baru saja aku keluar dari sana." Tuturnya dengan bola mata melirik ke ujung koridor.


"Oh...begitu, ya." Balasku singkat.


"Ngomong-ngomong, lama tidak berjumpa ya, Gamall. Bagaimana klienmu yang terakhir?" tanyanya lebih lanjut, membuat niatku untuk melangkah kembali terhambat.


"Ehm...soal itu, kau tak perlu khawatir." Jawabku santai.


"Duh...haha...bodohnya aku bertanya. Sudah pasti berhasil seperti biasanya, kan? Wajar sih, kan yang mengerjakannya malaikat." Ungkapnya dengan senyum ntah itu menyindir atau mengapresiasi. Yang jelas, dari sudut pandangku, kata-katanya barusan sungguh menggelikan.


"Aaaaaahaha...hehehehe...ehm...te-terimakasih atas sanjunganmu, ya." balasku penuh kecanggungan.


"Bukan apa-apa kok, sobat. Kau memang pantas mendapat julukan itu. Sampai nanti, ya!" Ujarnya lalu kembali melangkah, meninggalkanku begitu saja.


Aku hanya bisa terdiam seiring kepergiannya. Ucapannya tadi masih terus membekas dalam diriku.

__ADS_1


Selang beberapa saat, aku pun berbalik badan. Aku berderap maju ke ujung koridor, mengarah kembali ke tujuan awalku.


Karena sebelumnya aku dan atasanku sudah mengatur janji, maka aku tak perlu lagi mengkonfirmasi terkait kehadiranku hari ini.


Tibalah aku di depan pintu ruangan. Tangan kananku pun kemudian ku angkat menuju daun pintu. Sebelum membuka, tak lupa aku mengetuk terlebih dahulu.


Tepat selepas mengetuk, terdengarlah sahutan dari dalam ruangan yang lantas menyuruhku untuk masuk dengan segera. Mendengarnya, pintu kayu berlabel GM yang sudah difurnice ini pun kemudian kubuka perlahan.


Semakin lebar pintu terbuka, aku kian melihat Reza alias atasanku, sedang duduk terpaku di sebuah sofa di ruangan tersebut sembari fokus mengetik-ketik di papan keyboard laptopnya.


"Pagi, Pak." ucapku membungkuk lalu melangkah masuk.


"Ah, Gamall!? Masuk, masuk." sahutnya kaget bercampur riang.


Ia pun sejenak rehat dari kegiatan mengetiknya dan kemudian berdiri menyambutku.


"Silahkan duduk, Gamall! Sebelah sini." balasnya dengan tangan terus-terusan mempersilahkanku duduk di sebelahnya.


"Pak, soal e-mail yang aku terima kemarin, ra—"


"Hm...iya? Bagaimana? Kau tidak keberatan kan???" balasnya memotong perkataanku.


"Begini pak, bapak tau sendiri kan kalau belakangan ini, saya baru menyelesaikan tugas terakhir saya. Oleh karena itu, saya sungguh keberatan dengan keputusan pengalihan kerja yang mendadak seperti ini."


"Tapi masalah klien kali ini benar-benar penting, Gamall. Yah...soal cuti atau apalah itu, bisalah kau tunda dulu, ya." jawabnya berusaha mengubah keputusanku.


"Pak...saya mohon sekiranya bapak berkenan. Saya harap bapak bisa kembali mempertimbangkan keputusan penyerahan tugas ini. Saya benar-benar memohon." Ucapku dengan nada memelas.


Namun bukannya memaklumi, ia malah terlihat cuek dan berputar-putar dalam lingkaran ucapanku tadi.

__ADS_1


"Tidak bisa, kawan. Lagian, kau kan sudah menikmati liburanmu. Ya walau hanya sehari, tapi itu cukup, kan?"


Dia ini. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Seenak perut mengatakan bahwa liburan sehari itu sudah cukup. Kelewatan!


Kau takkan paham bagaimana dongkolnya aku setiap berada dalam satu ruangan dengannya. Membicarakan hal serius namun selalu dibalas kalimat-kalimat yang sungguh, sungguh membuat tanganku terasa gatal ingin menepuk kepalanya.


"Hentikan omong kosong ini, Reza!" ujarku mulai naik darah, membuatnya terdiam sesaat.


Namun tak lama, ia malah dengan lancangnya menertawaiku. "HAHAHAHHAHAHAA...! Haduh...Gamall...Gamall..."


Ucapanku yang sedari tadi berusaha formal padanya pun mendadak berubah 180° akibat kelakuannya yang kian membuatku jengkel. Meja kaca dihadapanku pun tak dapat terhindarkan lagi dari yang namanya 'tepukan tanda kekesalan' milikku.


"Dengar bos gadungan, aku sudah berusaha sebisaku untuk datang kemari hanya untuk menemuimu. Setidaknya hargailah kehadiranku dengan tidak bertingkah konyol." Hardikku habis-habisan.


"Heeeh...tenang Gamall, tenang... Kau tahu siapa aku, bukan? Aku ini Reza, sahabatmu. Jadi jangan terlalu kaku begitu." Ucapnya sembari menepuk-nepuk pundakku.


"Lagian menyebutku dengan sebutan 'bapak'? Kau pikir aku ini om-om kepala 4 apa?" Keluhnya terhadap gaya bicaraku yang ia anggap berlebihan.


"Memang kau ini tidak sadar-sadar, ya! Tak sepatutnya lagi aku terus-terusan menganggapmu sahabat selagi di kantor. Bercerminlah! Ingat jabatanmu sekarang! Sesuaikan juga caramu berbicara." Ungkapku tak habis pikir.


Ia pun kembali menepuk bahuku dengan telapak tangannya, namun kali ini lebih kuat.


*BUKKK


"halahhh...kau ini, sok dewasa sekali. Apa kau pikir aku tidak bisa bersikap formal seperti atasan pada umumnya, hah? Tentu aku bisa. Tapi khusus dirimu, hal itu tidak berlaku, sobat." Gerutunya yang sama sekali tak mencerminkan seorang atasan berwibawa.


"Sudahlah, sudah. Aku tidak peduli soal itu. Inti dari kedatanganku hari ini hanyalah untuk membuatmu mau berpikir ulang tentang keputusan pengalihan tugas itu." Balasku sembari menyingkirkan tangannya dari pundakku.


"Gamall...mengenai itu..."

__ADS_1


To be continued...


..._________________...


__ADS_2