Malaikat Pelipur Lara.

Malaikat Pelipur Lara.
Pesona Musim Gugur.


__ADS_3

15:44 sore, masih di hari yang sama.


[Bandara Internasional Tokyo]


Sore ini, langkah kakiku benar-benar terasa ringan dan energik. Aku berjalan menyusur keluar dari bandara dengan koper yang senantiasa kugenggam dengan tangan kiri, sementara tangan satunya lagi sedang mendekap ponsel ke telinga. Sembari melangkah, aku coba memandangi keadaan sekitarku yang terlihat sungguh berbeda.


Banyak perbedaan kutemui. Dan semuanya itu sungguh kontras dengan apa yang ada di negara asalku. Mulai dari raut wajah khas asia timur mereka, bahasa yang mereka pakai saat bercengkrama, serta papan pemberitahuan disekelilingku yang hampir semuanya tertulis dengan huruf kanji, bukannya latin.


Sungguh bebas rasanya, bisa menghirup dan merasakan suasana kota yang khas ini, setelah berjam-jam otot dan persendianku membeku akibat kurang gerak selama di dalam pesawat tadi.


Pagi tadi, Reza sempat memberiku nomor milik kepala sekolah yang tak lain tak bukan merupakan klienku saat ini. Dan barusan, aku baru saja selesai mengobrol dengan beliau.


Ia, atau lebih baik ku sebut Nyonya, memberitahukanku via panggilan, bahwa sebelumnya beliau sudah menyuruh sopir untuk menjemputku ke bandara.


Tak lama setelah obrolan kami berakhir, aku kembali mendapat panggilan masuk dari seseorang dengan kode nomor negara yang sama.


Awalnya aku menduga bahwa yang menelepon ini mungkin adalah sopir yang dimaksud Nyonya itu. Dan ternyata benar, sesaat aku menerima panggilan, pria yang suaranya terdengar cukup berat itu pun memberitahukan bahwa ia adalah sopir suruhan dari sang kepala sekolah yang baru saja kuajak bicara.


Mengetahuinya, aku lekas memberitahu bapak itu perihal lokasi persisku saat ini.


..._________________...


Desas-desis khalayak di sepanjang jalan,


Suara klakson yang bersahut-sahut menjelang perempatan,


Serta bunyi-bunyian promotif dari kumpulan layar LED raksasa di tengah kota. Mereka semua merangsak masuk ke dalam telingaku, dengan diiringi oleh kegaduhan yang terharmonisasi khas.


Hal-hal tersebut menurutku pribadi begitu menggambarkan, betapa sibuknya kota metropolitan yang satu ini.

__ADS_1


Semenjak berbincang dengan sang sopir lewat telepon tadi, singkat cerita, saat ini aku sedang berada dalam mobil sedan yang ia kendarai, mengarah langsung menuju gedung sekolah tempat klienku berada.


Hari ini adalah hari sabtu, tepatnya sabtu sore. Dan karena alasan mepet, sore ini aku diharuskan untuk menemui kepala sekolah dari sekolah yang nantinya akan menjadi 'lapak bekerja'ku selama di Jepang.


Mungkin beberapa dari kalian belum paham, mengapa aku harus ke sana hari ini juga.


Yah...kau tahu, hal-hal seperti penyambutan, pengenalan dan juga penjabaran terkait rincian pekerjaan, serta segala hal lainnya yang bersifat need to know before act. Hal-hal itulah yang akan dijelaskan padaku hari ini.


Sementara besok lusa, akan menjadi hari pertamaku untuk menangani kasus ini. Hanya tinggal 2 hari. Mungkin itulah sebabnya aku harus menemui beliau hari ini juga.


Dan melihat situasi target dan juga sekolah, rencananya aku akan melaksanakan tugasku di sekolah itu dengan status siswa pertukaran.


...________________...


[Masih dalam perjalanan menuju sekolah]


Di sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya menatap hal-hal di pinggir jalanan dengan mimik terkagum-kagum lewat jendela mobil.


Belum pula dengan jingganya langit pada sore hari ini, benar-benar sukses meracik nuansa khas musim gugur hari ini menjadi klop.


Keindahan ini jelas membuat batinku merasa lebih tenang dan anteng walau hanya dengan duduk di kursi tengah sambil terus-terusan memandangi dari balik jendela.


Namun di selah lamunan itu, sang sopir mendadak bertanya padaku. Lamunanku pun seketika teralihkan.


Ya, saat sedan tempatku berada baru saja berhenti akibat lampu merah, sopir dengan seragam berbordir kata-kata "Tokugawa" itu memutuskan untuk menoleh kebelakang dan bertanya.


"Ada apa, Tuan? Saya perhatikan dari tadi, anda sepertinya sedang terperangah akan sesuatu." Ujarnya begitu memperhatikan.


"Apa ada masalah?" Tanya pria berkumis tipis itu lebih lanjut.

__ADS_1


Butuh beberapa detik hingga aku balik menjawabnya.


"Tidak apa-apa kok." Balasku sekejap menoleh. "Saya hanya sedang terpanah saja dengan apa yang ada di sepanjang jalan." Sambungku meluruskan.


Mendengar jawabanku, sang sopir itu pun turut ikut memperhatikan suasana di luar persis seperti yang dari tadi kulakukan.


Setelah sejenak memandangi keadaan luar, terlihat semungil anggukan tergambar darinya seakan sependapat pada kata-kataku. Anggukan itu kemudian disusul oleh pandangannya yang kembali menghadap ke arahku.


Dengan nada santai, pria itu pun berucap. "Pesona musim gugur, tuan."


Bapak ini...kata-katanya barusan...


"Saya juga sudah lama menantikan musim ini sepanjang tahun. Bagi saya, musim yang satu ini sungguh unik dan pesonanya khas. Sungguh berbeda dengan musim-musim lainnya."


"Bukan begitu, tuan?" Tanya sopir itu seakan sudah paham apa yang kupikirkan.


Aku jelas setuju dengannya. Perasaan ini tak bisa kupungkiri.


"Ehmm...saya rasa...anda memang benar." Ungkapku sedikit tersenyum dengan tatapan kembali tertuju ke luar.


Akibat suhu yang lumayan rendah, ditambah sejak tadi wajah ini sengaja kucondongkan dekat dengan jendela, angin khas musim gugur pun perlahan mulai merasuki kulitku. Tiupan angin tersebut masuk begitu saja melalui jendela yang terbuka setengah dan alhasil memicu kedua tanganku untuk saling menggosok satu sama lain demi menghangatkan diri.


Beberapa saat kemudian, sinar lampu lalu lintas yang tadinya merah, kini berubah menjadi hijau. Sedan ini pun melanjutkan perjalanannya.


Pak Tokugawa kemudian melanjutkan kemudinya dengan fokus penuh menghadap ke jalanan di depannya. Ia sama sekali tak bertanya ataupun berucap apapun lagi padaku.


Sepuluh menit berlalu begitu saja. Aku dan pak Toku pun sampai di tempat tujuan kami, yaitu sekolah tinggi Sokoku.


Tempat di mana aku akan mulai menjual kebohongan-kebohonganku.

__ADS_1


To be continued...


...__________________...


__ADS_2