Malaikat Pelipur Lara.

Malaikat Pelipur Lara.
Tidak Cukup Meyakinkan.


__ADS_3

Akhirnya, setelah melewati perjalanan darat dan juga udara yang begitu panjang, melelahkan, serta menguras tenaga, aku pun akhirnya tiba di sekolah ini dengan selamat lahir dan batin.


Dan di sinilah, di sekolah megah nan mewah ini, tugasku sebagai pemulih mental akan kumulai.


/


...Malaikat Pelipur Lara....


^^^/^^^


Ketika sedan tempatku dan pak Tokugawa sampai di depan gerbang sekolah, Security yang berjaga di sana pun dengan sigap membukakan pintu untuk kami berdua agar bisa masuk.


Pak Toku pun lanjut memacu mobilnya masuk menuju area sekolahan, dan langsung memarkirkannya di lahan khusus parkiran mobil.


Pun segera setelah aku turun dari mobil tersebut, seorang pria berkacamata yang tak kukenal terlihat menghampiri kami entah darimana asalnya.


Karena sebelumnya Pak Tokugawa sudah mengabari pihak sekolah perihal kedatanganku sore ini, aku yakin pria yang baru saja menghampiriku ini merupakan suruhan kepsek juga.


"M-maaf, apa betul anda dengan Tuan Gamall???" Tanya pria itu dengan nada yang sungguh terdengar ramah.


Sudah kuduga. Mereka pasti sudah bersiap menyambut kedatanganku.


"Ah, iya, saya sendiri." Jawabku sembari mengangguk dengan telunjuk kanan menunjuk-nunjuk dada.


"Wah, baguslah." Ujarnya melega. "K-kalau begitu, mari! Silahkan ikuti saya, Tuan! Anda sudah ditunggu oleh kepala sekolah di kantornya." Tambahnya dengan raut berseri.


"Wah... ternyata sudah ditunggu, ya... Baiklah, baik." Balasku antusias.


Pria berkacamata itu lantas menghampiriku lebih dekat dan terlihat curi-curi pandang terhadap tas yang sedang ku genggam. Ia berinisiatif untuk membantuku membawakan tas. Dengan open aku memperbolehkannya membantu. Lagian, lumayan lelah juga loh membawa 2 tas sekaligus saat perjalanan jauh seperti ini.


Tapi, semoga saja pria muda ini tidak mengharapkan tips atau sejenisnya.


...________________...


Singkat cerita, ia pun mulai menuntunku untuk berjalan menuju kantor kepsek. Melewati salah sebuah koridor yang berada di lantai dasar ini, aku dapat melihat jelas hamparan lapangan luas di sisi kiriku dan jejeran kelas yang sungguh tampak mewah dan bersih di sisi kananku.


Oh iya, di lapangan yang cukup luas tersebut, terdapat beberapa siswa yang berpakaian olahraga model yukensi. Mereka terlihat begitu serius memainkan permainan khas remaja, yakni bola basket.


Setelah kulihat-lihat, kebanyakan dari mereka itu adalah remaja yang punya postur tubuh tinggi, kekar, dan juga tegap. Selain itu, gaya bermain yang mereka pertunjukkan juga sudah terlihat seperti seorang pemain yang cukup berpengalaman, menurutku.


Hah...melihat hal seperti itu saja sudah cukup untuk membuatku menyadari betapa unggulnya sekolah ini.


Asyik melirik ke kiri dan kanan, aku sampai tak menyadari bahwa pria yang tadi menyambutku sudah masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di tengah koridor.


Aku pun ikut masuk mengikutinya mesti tak sempat mengetahui dengan jelas ruangan apakah ini. Sambil berjalan masuk, aku juga serta merta mulai membayangi, seperti apakah figur kepala sekolah yang sekiranya bertanggung jawab atas sekolah yang luar biasa megah ini.


Pasti beliau orang yang berkelas juga tentunya. Sampai rela menyewa jasa pemulih mental seperti ini...? Kurang bijak apalagi, ya kan? Hehe...


Tak lama berselang, setelah melewati beberapa meja yang kuyakini merupakan meja administrasi, ketatausahaan atau sejenisnya, kami berdua pun tiba di hadapan sebuah pintu lainnya yang berada di ujung ruangan.


"Sebentar, tuan." Ujar pria itu padaku, lalu lekas mengetuk pintu kaca berbingkai aluminium tersebut dengan perlahan.

__ADS_1


"Permisi Nyonya, tamu yang anda tunggu sudah datang..." Ucapnya membicarakanku.


Tak lama setelah itu, terdengarlah suara seseorang wanita menyahut dari arah dalam dengan nada lantang menyuruh masuk. Mendengarnya, aku lantas dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Karena sudah dibolehkan, maka aku pun tak ragu lagi. Dengan tegap, namun batin tetap rileks, aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang suhunya begitu kontras dengan suhu luar akibat hembusan air conditioner.


Sesaat aku memasuki ruangan, mataku dan mata Nyonya itu pun spontan saling menatap. Kau tahu, rasanya seakan masing-masing dari kami ingin tahu penampakan satu sama lain. Kami berdua seperti mati penasaran.


Dengan tatapan tak kunjung ia lepas dari pupilku, beliau bangkit berdiri, lalu lengannya menjulur seakan sedang mempersilahkanku duduk.


"Silahkan...silahkan..., Silahkan duduk, Tuan."


"Terimakasih." Balasku singkat, lalu kemudian duduk di kursi yang berada tepat di hadapan beliau.


Bersamaan aku duduk, pria yang tadi menyambut kedatanganku pun langsung pergi meninggalkan ruangan ini, sehingga menyisakan kami berdua yang nampaknya akan segera dihadapkan dengan obrolan empat mata.


Suasana menjadi hening sesaat. Ucapan pembuka belum terlontar dari bibir siapapun.


Ehmmm...serius? Apa mesti aku yang harus menyapanya lebih dahulu?


Tentu tidak. Aku akan terus membisu sampai nyonya itu membuka percakapan.


Tak lama, sang kepala sekolah tersebut pun terlihat melepas sesuatu dari matanya. Aku yakin itu adalah kontak lensa atau semacamnya.


Dan setelah itu, ia pun kembali menatapku dan pada akhirnya menyapaku.


"Selamat sore, Tuan Gamall!"


Sukar untuk kudeskripskan. Yang jelas, beliau terlihat seperti sedang menaruh harapan besar padaku.


"Izinkan saya memperkenalkan diri..., Saya Mamuro Humaki, kepala sekolah dari SMA Sokoku. Senang sekali bisa bertemu dengan anda." Ucap beliau, masih disertai senyuman hangat.


Kami berdua pun sempat terlibat jabat tangan erat.


"Selamat sore juga, Nyonya. Saya pun amat senang bisa bertemu anda, kepala sekolah dari sekolah yang tampak hebat ini." Balasku meramahkan diri.


"Ahahaha...duh...Terimakasih atas pujian berharga anda. Kami sungguh merasa tersanjung." Balasnya disertai tawa kecil.


"Ehm...terlepas dari itu... Tuan, sebelumnya kami sungguh minta maaf atas ketidaknyamanan anda dalam perjalanan menuju kemari." Katanya, dengan badan sedikit membungkuk.


Ketidaknyamanan? T-tunggu, apa Nyonya ini tahu soal bagaimana keberangkatanku kemari??


"Hmm..tidak, tidak. Mohon untuk tidak terlalu memikirkannya, nyonya." Timpalku menggeleng kecil sambil mengharap, sekiranya jawabanku ini dapat meredakan rasa bersalahnya.


Nyonya itu lantas membalas dengan nada yang lebih tenang. "Ah...begitu, ya. Baiklah, kalau anda sendiri yang mengatakannya...apa boleh buat."


"Santai saja, Nyonya. Intinya sekarang ini, saya sudah bersedia untuk membantu Nyonya terkait masalah yang sedang sekolah ini alami. Oleh karena itu, saya sangat senang bila sekiranya dapat mengetahui permasalahan tersebut dengan lebih terperinci lagi."


Sebenarnya tujuanku mengatakan itu hanyalah agar basa-basi antara kami berdua bisa terminimalisir.


Ditambah, sekarang ini Aku juga sudah lelah sekali. Maunya sih cepat-cepat ganti baju.

__ADS_1


"Ehm..., Tuan...kalau anda berkata begitu, baiklah. Bolehkah saya langsung membahas bagaimana situasinya, tuan?"


"Silahkan, bu. Saya akan mencermatinya baik-baik." Ujarku santai.


Nyonya itu lalu menarik layar proyektor yang ada di belakang kursinya, mengambil remot di ujung mejanya, dan kemudian memencet salah satu tombol yang mengakibatkan layar proyektor tersebut kini di penuhi warna dari grafis yang terhubung langsung dengan laptopnya.


"Saya mengerti, mungkin anda sebelumnya sudah mendengar bahkan memahami tentang permasalahan ini lewat surat rikes yang kami kirimkan 2 hari yang lalu ke organisasi anda. Dan di sini, saya hanya akan menjelaskan ulang pada anda." Ucap beliau yang kemudian kembali fokus ke layar laptopnya.


Sambil fokus pada monitor, ia lanjut memaparkan, "Jadi...saya, guru lain, dan juga sekolah ini, sangat amat membutuhkan jasa dari anda, sebagai seorang pemulih mental yang sudah memiliki integritas tinggi, untuk menangani salah seorang anak kami yang sedang mengalami perundungan yang cukup serius."


Kalau kau tanya aku, sejujurnya, aku sudah tahu persis bagaimana dasar permasalahan yang dialami oleh sekolah dan juga anak yang beliau maksud tersebut. Reza juga sudah menjabarkannya padaku tempo hari.


Namun begitu, sampai sekarang ini, wajah ataupun rupa dari anak tersebut, aku masih belum tahu. Selama ini, aku hanya mendengar problematikanya saja, hanya itu. Dan oleh karena itulah, dengan batin dikuasai rasa penasaran, aku memutuskan untuk menanyakannya secara langsung pada Nyonya Mamoru.


Tak klop juga rasanya bila hanya mengetahui latar belakang seseorang tanpa melihat bagaimana penampakan aslinya, bukan?


"Eh...maaf kalau saya memotong. Tapi apa anda...apa anda punya foto diri dari anak tersebut?" Tanyaku sambil mendekatkan badan ke arah meja.


Kepala sekolah yang sedang sibuk menjelaskan itu pun langsung menyambar pertanyaanku.


"Oh, f-foto? Ya, tentu...tentu kami punya. Kami selalu menyimpan foto setiap pelajar kami dan menyimpannya di berkas induk untuk urusan pendataan."


"Se-sebentar, saya akan memeriksanya untuk anda." Ucapnya kian mengutak-atik laptopnya.


"Okari....Okari...12...12a...HAH, INI DIA."


Bersamaan saat beliau menemukan foto diri dari anak itu, aku pun semakin penasaran akan tampangnya.


"Ini dia orangnya, Tuan. Yurishima Okari, kelas 12a." Sambung nyonya itu dengan lengan menunjuk jelas ke arah layar proyektor tersebut, di mana aku akhirnya bisa melihat rupa targetku secara langsung.


"Jadi...ini dia orangnya?" Tanyaku memastikan.


"Tentu, inilah dia. Dia merupakan seorang siswi kami yang belakangan ini kerap mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya." Perjelas beliau prihatin.


Saat aku melihat wajah dari siswi bernama Okari ini untuk kali pertamanya, aku langsung merasa ada yang aneh. Satu pertanyaan yang terlintas saat aku memperhatikannya, yakni "Apa memang benar ini orangnya?"


Walau beliau mengatakan dengan jelas bahwa 'dialah orangnya', batinku tetap saja dipenuhi ketidaksetujuan akan pernyataan tersebut. Sebab, aku sama sekali tidak melihat, ada unsur penderitaan ataupun tertindas yang tergambarkan dari tampang seseorang yang sedang kulihat tersebut. Dari raut wajah, atau apapun itu,


Dia sama sekali tidak terlihat seperti korban perundungan.


Yang bisa kulihat di layar proyektor itu hanyalah pose senyum yang terpancar lebar dari bibinya.


Kepala sekolah ini, beliau tidak salah memberikan foto orang lain, kan?


/


...Tidak Cukup Meyakinkan....


^^^/^^^


To be continued...

__ADS_1


...________________...


__ADS_2