
21:01 malam, waktu bagian Jepang.
Satu yang perlu saya beritahukan pada anda.
Mengenai anak ini,
Ada hal tentangnya yang tidak kami ungkapkan di dokumen rikes maupun surel yang kami kirimkan.
Hal tersebut adalah......
...__________________...
/
...Malaikat Pelipur Lara....
^^^/^^^
[di apartemen]
Tadi sore, seusai obrolan empat mataku dengan Nyonya Momura, aku langsung diantar oleh supir pribadi beliau alias Pak Tokugame menuju kediamanku yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
Tak semewah yang kuekspetasikan sih...
Mereka hanya menyewakanku sebuah kamar di salah satu apartemen yang bisa kubilang, tidak terlalu luas, tapi tetap ideal bila hanya ditinggali satu orang layaknya diriku saat ini.
Dan malam ini, aku sedang berusaha seorang diri, memoles penampilan agar tampak lebih belia.
Yap, saat ini aku sedang duduk berseleh di hadapan meja kecil sambil begitu serius mencukur rambut kumisku. Mungkin karena kumis yang kupunya ini sudah terlihat menumbuh tak karuan layaknya lelaki kepala tiga, Nyonya Mamuro sendiri bahkan menganjurkanku untuk segera mencukurnya. Tentu saja, ini demi kelancaran diriku dalam pembauran bersama teman sekelas nantinya.
Bisa gawat citraku kalau sampai punya kumis seperti ini di tengah-tengah anak SMA Jepang yang bahkan kumisnya terlihat saja tidak.
Selama proses mencukur ini, aku berusaha menggesek tiap senti kulitku dengan penuh kehati-hatian.
"Hah...pelan-pelan, Gamall." ucapku agak merinding. "Pelan-pelan...perlahan...jangan samp—AHHHHRGGG....!!!"
Tapi sayangnya, aku sendiri belum terlalu menguasai teknik mencukur yang baik dan benar, sehingga pisau cukur yang kugunakan pun tak sengaja membeset kulit terlalu kasar dan pada akhirnya menimbulkan rasa perih yang jelas saja membuat seluruh tubuhku tersentak.
"HAHHH DUHDUHDUH....SHH SAKIT... PISAU BRENGS—aduh...tahan...tahan...." Ungkapku jengkel sekaligus geli.
Dengan ruas-ruas jari yang kuletakkan menutupi area luka tersebut, aku berjalan menuju wastafel dengan perasaan harap-harap cemas. Aku begitu risau membayangi seberapa banyak darah yang sudah mengalir di antara jari-jariku ini, serta dalam tidaknya luka yang dihasilkan pisau cukur sialan itu.
Namun, sesaat sesudah bercermin guna memastikan bayang-bayangku tadi, kepanikanku mendadak mereda. Lenyap seketika.
Tak ada darah. Bahkan rasa perihnya pun sudah tak terasa lagi. Dengan rasa keheranan dan setengah tak percaya, aku langsung beralih mencuci mukaku. Mimikku yang tadinya panik, kini langsung berubah datar akibat kecemasan yang ternyata sungguh berlebihan.
Duh...dasar...ada-ada saja permasalahan yang kualami saat di negeri orang begini. Ungkapku terheran-heran.
Sesudah mencuci-bilaskan mukaku, aku pun kembali merasa segar walau hanya sesaat. Setidaknya keafiatan itu bertahan sampai aku kembali duduk bersila di hadapan pisau cukur tadi guna melanjutkan pencukuran yang bahkan belum setengah jalan ini.
Ditambah lagi, baru saja aku hendak mengambil alat cukur, handphone yang berada di dekat kaki kananku tiba-tiba bergetar tanda panggilan masuk. Hal itu pun kian memaksa tanganku untuk beralih menggapai handphone ketimbang alat cukur tersebut.
__ADS_1
...***...
...Panggilan masuk dari Reza....
...***...
"Aduh... Sial! Bedebah ini lagi..." Ungkapku dongkol selepas melihat namanya yang tercantum jelas di layar handphoneku.
Aku pun kemudian menerima panggilan tersebut dan langsung menyingkapnya, "Hm, ada apa?"
"HOI GAMALL, SAHABATKU...!" Balas Reza riang.
"Kenapa coba meneleponku larut malam begini?" Timpalku alih-alih membalas sapaannya.
"Cih, kau ini. Tak perlu dengan nada galak seperti itu bisa, kan? Lagian di Indo masih jam 7, tahu!"
"Tak peduli. Sudahlah, dari pada itu, lebih baik kita akhiri saja panggilan ini, ya? Aku masih punya kesibukan." Ucapku resah.
"E-EHH...TUNGGU DULU~ JANGAN KEBIASAAN BEGITU~"
"Ayolah Gamall..., kau ini baru saja tiba di Jepang, bukan? Maka dari itu, izinkanlah temanmu ini sekilas bertanya. Sejenak saja." Ujarnya mulai memelas, sok melarat.
Jariku yang baru saja hendak menekan tombol end call, mendadak berubah niat. Aku pun mencoba sebisa mungkin untuk merilekskan diri coba meladeni pembicaraannya dengan sedikit berbelas kasih.
Aku lalu menghela pelan padanya, "hah...sebaiknya jangan bertanya hal yang tidak penting, ya!"
"Santai..., aku hanya ingin tahu soal keadaanmu di sana saja kok."
"Kenapaaa? Apa keadaan dirimu sendiri, itu juga bukan hal yang termasuk penting???" Timpalnya menyindir.
"B-bukan begitu. Y-yaa..., keadaanku? Ehmm...duh, bagaimana ya..." Aku sedikit kebingungan saat menjawab pertanyaannya, dikarenakan masih berusaha mencari jawaban yang tepat untuk kuucapkan pada makhluk complicated sejenis dia ini.
"Bisa kubilang, semua baik."
Reza sejenak bisu.
"Simpel sekali...? Kau yakin?" Balasnya terdengar ragu.
"Begitulah." Ucapku singkat.
Aku pun kian mengambil pisau cukur yang sedari tadi tergeletak di meja guna melanjutkan pencukuran.
"Lalu...bagaimana dengan tempatmu bekerja?" Tanya Reza lebih lanjut.
"Ah, mengenai sekolah itu? Ya, luar biasa. Nyonya Mamoru sang kepala sekolahnya juga, semua sudah cukup welcome dalam menyambutku. Intinya semua baik." Ungkapku berusaha meyakinkannya.
"Hahah... sudah kuduga. Kalau orangnya kau, tugas seperti ini takkan jadi masalah berat..." Ungkapnya enteng.
"hm...dan kau tahu, mereka juga sampai menyediakan hunian sewa untukku tinggal selama kerja. Juga seragam, dan perlengkapan lainnya yang diperlukan—ehm...kau tahu sendiri kan, yang diperlukan seorang anak SMA." Perjelasku.
"Setidaknya, aku jadi agak lega karena beban pikiran sehari-hariku berkurang." Tambahku berusaha membuatnya tak khawatir.
__ADS_1
"Mereka bilang kalau masalah yang mereka alami itu tergolong serius, bukan? Jadi tak heran kalau kau mendapat perhatian lebih." Katanya, seperti sudah yakin dengan ucapanku tadi.
Aku pun mulai perlahan lanjut mencukur. Dengan fitur speaker yang telah kuaktifkan, handphone tersebut kuletakkan begitu saja di atas meja tanpa memutuskan panggilan.
Setelah kupikir-pikir, memang benar, masalah yang mereka alami itu cukup ruwet. Tapi sesungguhnya, apa yang nyonya itu katakan padaku sore tadi, bahkan lebih membuatku lebih-lebih tak habis pikir.
"Biar kutebak! Kau sekarang pasti sedang berbaring, menikmati indahnya malam pertama di Tokyo sambil menonton tv, kurasa. Dan lidahmu saat ini pasti sedang dipuaskan oleh jajanan khas Jepang yang dijual pedagang kaki lima yang berjualan kira-kira 100 meter dari hunian mewah nan megahmu itu, kan??" Celetuk Reza habis-habisan dengan nada mengiri.
Halah...megah dan mewah apanya? Menikmati malam apanya??? Bahkan jelas kau tidak tahu, bahwa tak ada pedagang kaki lima di daerah ini.
Apalagi sudah larut begini.
"Etto...sebagian benar, sebagian salah. Tapi, sudahlah...itu juga tidak penting, kan." Alihku.
"Hei..hei, aku tidak salah dengar, kan?~ Baru semalam di Tokyo, aksen Jepangmu sudah kelihatan jelas loh."
"Yah memangnya kenapa? Ini kan juga semata-mata adalah bentuk latihanku agar nantinya bisa berkomunikasi lancar dengan mereka."
"Hahaha...iya, iya. Aku mengerti kok, gAmalL-SaMa. Aku yakin, kau pasti bisa menjalani tugas ini dengan lancar seperti biasanya. Bukan begitu?"
"Untuk sekarang, mereka bisa mengandalkanku." Lugasku dengan nada percaya diri.
Anak satu ini...minta dihajar nampaknya. Apa-apaan coba, memanggilku dengan sebutan -sama?
"Hah...senangnya mendengar hal itu darimu." Ucapnya tampak bahagia. "Kalau begitu, sekian dulu, Gamall." Sambungnya hendak mengakhiri panggilan.
"Hm." Balasku cuek.
"B-bukannya aku bosan atau apa ya, tapi Reeza bilang malam ini aku masih ada p—"
...Anda telah memutuskan panggilan ini....
.......
.......
.......
.......
.......
^^^\^^^
...Malam Pertama....
...__________________...
*Reeza merupakan nama sekretaris pribadi Reza ;)
__ADS_1