
Terbuang sia-sia. Begitulah kira-kira yang bisa ku deskripsikan terkait waktu yang telah kusediakan demi proses negosiasi ini.
Dari awal, sebenarnya aku sudah tahu kalau ini semua percuma. Kiatku memohon pada Reza, agar ia mau mempertimbangkan keputusan pengalihan tugas, atau mungkin setidaknya, agar dia mau berbaik hati dan mengundur waktu pekerjaan ini hingga 'cak-cak' seminggu kemudian, semua itu sia-sia.
Ia menolak permohonanku mentah-mentah.
...___________________...
Sudah sejak tadi, atau kira-kira sekitar beberapa menit yang lalu, kami berdua hanyut dalam keheningan. Keheningan itu terjadi begitu saja setelah aku memutuskan untuk menyerah dan pada akhirnya menerima pekerjaan yang ia alihkan padaku tersebut.
Reza, Si atasan bobrok ini, saat ini ia sedang sibuk merayakan kemenangan kecilnya atas adu argumen antara kami berdua yang tadinya berlangsung cukup sengit.
Tak banyak yang bisa ia lakukan. Ia hanya duduk santai dan bersender di atas sofa yang ada di hadapanku. Dengan diiringi bunyi kunyahan permen karet dari dalam mulutnya, ia turut mengetuk-ketuk kakinya ke lantai. Dengan pose thug, sepanjang waktu ia menatapku dan sesekali menaikkan alis seperti sedang meledekku.
Aku hanya bisa menatapnya balik dengan hasrat penuh kekesalan hendak menonjok.
Lihatlah bagaimana laknatnya dia beserta kembang gulanya itu!
"Oke! Kita bisa bertatapan seperti ini hingga besok pagi kalau kau mau." Ucapku menyindirnya.
Tak lama setelah ucapanku tadi, Reza pun mendadak bangkit berdiri dari sikap duduknya. Ia lalu berjalan menuju mejanya yang berada tak jauh dari sofa.
Gerakannya yang tiba-tiba itu pun sontak membuatku bertanya-tanya, hal apa lagi yang akan ia lakukan kali ini.
Ia terlihat membuka laci mejanya dan kemudian dengan cekatan, menarik suatu lembaran kertas keluar dari laci tersebut.
Setelahnya, pria setinggi kurang lebih 179cm itu kembali menghampiriku dengan membawa beberapa carik kertas di tangannya.
"Lihatlah surat-surat ini..."
Ia lalu lekas menyerahkan kertas tersebut padaku.
"Apa ini?" Tanyaku kebingungan.
"Baca saja, itu hanya tulisan-tulisan yang sekiranya mampu membuatmu paham, tentang seberapa mendesaknya keperluan mereka saat ini." Tuturnya merujuk pada sang klien yang akan kuhadapi kali ini.
Aku pun segera mengambil kertas itu dan membacanya dalam hening.
Sambil aku membaca, Reza turut memaparkan beberapa hal padaku. Beberapa hal coba ia jelaskan baik itu tujuan penugasan, latar belakang hingga permasalahan yang dialami klien dan target.
Aku berusaha membaca tulisan-tulisan itu sekaligus mengkaji satu demi satu penjelasan yang Reza tuturkan padaku.
__ADS_1
Cukup sulit pada awalnya untuk mengerti persoalan ini. Tetapi pada akhirnya aku pun mulai menyadari, bahwa kata-katanya tadi memang benar adanya.
Berdasarkan konklusiku, persoalan ini menyangkut tak hanya masalah individu dari seseorang yang sedang bermasalah mentalnya, melainkan lebih jauh dari itu, rekes ini melibatkan suatu lembaga pendidikan yang integritasnya ikut terancam akibat imbas dari permasalahan individu tersebut.
Dari sini aku sejenak bisu, terlena memikirkan hal tersebut.
Apa sekiranya aku bisa memainkan peran seperti ini? Gumamku dilema.
"Kini kau paham situasinya, kan?" Ucap Reza datar sembari berjalan mengarah ke tempat sampah kecil di sebelah mejanya.
"Ternyata cukup komplikasional juga, ya." Ujarku sependapat.
"Maka dari itu,"
Ia membuang permen karet yang tadinya ia kunyah lalu kembali menghampiriku.
"Aku sungguh berharap kau bisa menanganinya, Gamall. Peranmu kali ini sungguh dibutuhkan."
Aku jadi mengerti sekarang. Kenapa Reza tahan sampai menyerahkan tugas ini padaku.
"Tapi... Apa ini serius? Maksudku, soal yang tertulis di sini, apa semua sudah benar?" Tanyaku dengan pandangan masih terfokus pada kata-kata di surat itu.
"Ya, begitulah kebenarannya." Tegasnya. "Memangnya, data itu masih meragukanmu, ya?" Singgungnya padaku heran.
"Hanya motifnya saja kan yang berbeda? Selain dari itu, secara esensi, mereka semua sama. Ada klien, ada target. Jadi aku rasa, tak perlu terlalu menganggap tugas kali ini berbeda."
"Lagian kau tahu kan, kalau aku ini sudah mengenalmu sejak lama. Dan kasus sejenis ini, sama sekali takkan jadi masalah bagimu. Aku yakin begitu, karena aku memang sudah mengenalmu." Tambahnya berusaha membangun keyakinan diriku.
"Wah... Reza..., sebegitunya kah kau percaya padaku???" Ucapku dengan rasa percaya diri yang mulai tumbuh.
"Sebenarnya tidak juga, sih." Timpalnya cuek.
"Lah???"
"Sebenarnya, ehm...ada hal lain yang membuatku mengalihkan tugas ini padamu."
"Hah? Benarkah? Hal apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Begini, kebanyakan agen setingkatmu, mereka juga saat ini masih dalam pekerjaan dan kesibukannya masing-masing. Seandainya mereka lenggang, aku bisa saja mengalihkannya pada mereka."
"Veronica sedang ditugaskan di Sulawesi Selatan; Julian belum juga selesai dengan kliennya di Kelapa Gading; serta Frendi, yang awalnya mendapat tugas ini, mendadak masuk rumah sakit karena radang persendiannya kambuh." Tambahnya memperjelas.
__ADS_1
"Waduh...kasihan sekali anak itu..." ujarku iba bercampur geli. "Tapi Za, terlepas dari itu,ternyata banyak juga ya orang yang sudah mulai mempercayai pekerja-pekerja kita. Semuanya sampai sibuk begitu." Sambungku.
"Jelas, dong! Karena di zaman yang seperti sekarang ini, takkan ada lagi mental yang bisa pulih dengan hanya sebatas dimotivasi oleh kata-kata. Itu hanyalah cara kuno yang sudah lama usang!"
"Tujuan ayahku dalam membentuk organisasi ini, ialah untuk memperkenalkan cara baru dalam menangani masalah sejenis itu. Yaitu dengan bersama-sama, masuk ke dalam arus kehidupan klien dan target, mencoba mengerti akan dia, dan senantiasa mendukung penuh dengan tak terbatas dalam bentuk kata-kata."
Hah...mulai lagi...
"Oleh karena itu, tekadku sebagai penerus kepemimpinannya adalah sama. Aku akan terus berjuang dalam upaya memperkuat peranan kita dalam kehidupan sosial demi menciptakan individu yang terlepas bebas dari yang namanya belenggu batin!" Ujarnya dipenuhi semangat yang membara.
"Hmm-mhh, jangan lupa upah tugasku yang bulan lalu, loh. Baru setengah soalnya." Celetukku cuek.
"Ehehehe... soal itu... akan ku berikan selepas kau menuntaskan yang ini, ok." Balasnya gugup.
"Hah... Merangkai kata saja kau mahir. Soal finansial kau payah!"
"T-tolonglah, dari pada membahas hal itu, lebih baik aku jelaskan saja soal keberangkatanmu saja, ya."
"Oh iya soal keberangkatan. Jadi, kapan aku akan berangkat?"
"Ahhahaha, tidak sabaran dia ternyata..." Ungkapnya disertai senyum menyindir.
"Reza, aku tanya sekali lagi, kap—"
"Besok pagi." Potongnya.
"Hm...besok pagi, ya."
^^^\^^^
...Malaikat Pelipur Lara....
"T-TUNGGU...BESOK PAGI???!" Ucapku Kaget bukan main.
"Yapps, aku sudah memesan tiket keberangkatanmu~" Balas Reza enteng.
"OI...BRENGSEK...! KAU PIKIR AKU INI ROBOT?!"
To be continued...
__ADS_1
...__________________...