
Tibalah aku, di sekolah megah dengan dominan warna kuning pastel dan putih ini. Setelah hanya 5 menit menghabiskan waktu di jalan menuju kemari, aku perlahan bisa mendengar riuh khas dari anak-anak sekolahan dari dalam mobil minibus ini.
Pak Toku bilang, saat tiba di sekolah nanti, jangan masuk ke kelas dulu, melainkan tunggu di ruang tata usaha sampai bel jam pertama berbunyi. Katanya sih, aku akan di pertemukan dengan walikelasku.
Dengan penuh respek, aku menuruti perkataan beliau.
Lalu,
Saat kutanya, mengapa menyetir begitu pelan? Pak Toku hanya menjawab, agar aku bisa menikmati perjalanan ke sekolah dengan mobil namun tetap terasa seperti berjalan kaki. Konyolnya, menghabiskan cadangan minyak bumi dengan cara seperti itu.
Aku yang baru saja turun dari mobil minibus, lalu berjalan menyusuri pinggir lapangan, bermaksud mengarah menuju ruang tata usaha tempatku kemarin dituntun oleh pria berkacamata itu.
Selama melangkah, satu demi satu tatapan warga sekolah mulai mengarah padaku. Mereka, baik itu pelajar laki-laki maupun perempuan, semuanya memasang kontak mata padaku. Mereka terlihat bercakap-bisik satu sama lain membicarakanku. Ekspresinya terlihat seakan sedang melihat seseorang yang bukan sama sekali bagian dari mereka. Seperti melihat orang asing.
"Eh...lihat, siapa tuh?"
"Wajahnya..., apa dia dari luar negeri?"
"Lumayan juga dia..."
"Tingginya itu kira-kira berapa, ya?"
Wajar untuk dialami murid baru. Begitu pikirku sambil terus berjalan cuek.
Dengan menghadapi animo seperti ini, malah membuatku teringat kembali akan masa muda. Empat tahun lalu, sejak aku masih berstatus pelajar SMA di Indonesia. Rasa gembira, sedih, galau, persaingan, semuanya campur aduk kualami di masa-masa itu. Rasanya, seperti menekan tombol replay saja.
Oh iya, maaf ya baru memberitahukannya padamu sekarang, tapi sejujurnya, usiaku sekarang sudah genap 21 tahun bulan lalu.
Dan dengan posisi berdiri diantara mereka-mereka yang masih sweet seventeen ini, membuatku kerap menyebut pelajar SMA dengan sebutan 'anak'. Berasa tua sekali, bukan? Padahal hanya selisih 4-5 tahun.
...___________________...
Kuketuk pintu ruang TU dengan sopan. Tak lupa aku mengucapkan permisi. Setelah itu, aku langsung masuk karena saat itu pintu memang sedang terbuka.
Tak perlu berlama-lama, pun saat berjalan beberapa tapak saja, aku sudah ada di hadapan seseorang yang saat itu sedang merapikan kertas-kertas di salah satu meja kerja. Aku menyapanya ramah, agar sekiranya tak terlihat mengganggu. Dan ia pun membalasku dengan ramah pula.
"Sumimasen..., selamat pagi, ehm... kak!"
Aku agak bingung hendak memanggilnya dengan sebutan seperti apa.
__ADS_1
"Ah...Tuan gamall—eh maksudku, Kaoru." Ujarnya kaget melihat diriku berdiri di depan mejanya.
Pria ini adalah orang yang sama dengan yang menyambutku kemarin. Masih dengan logat yang sama, masih dengan gestur yang sama.
Dengan sigap, pria itu pun berdiri lalu menjabat tanganku.
"Anu...salam kenal, namaku Kisagi Aoki. Kau bisa memanggilku Aoki. Maaf ya, baru sempat memperkenalkan diri hari ini."
"Ah, hm, b-baiklah...Aoki."
"Kudengar, umurmu 21 tahun, ya? Kalau begitu kita sebaya! Wah...aku harap aku bisa akrab denganmu!" Ujarnya sumbringah.
Aduh...sksd sekali pemuda ini...
"Ahahaha...y-ya, senang juga bisa mendapat teman sebaya di negeri orang seperti ini." Ungkapku sambil menarik tanganku keluar dari jabat tangannya yang sedari tadi belum juga ia lepas.
"Oh iya, katanya pagi ini aku mesti menunggu jam pertama dulu? Apa memang begitu?" Timpalku beralih topik.
"Betul. Mengingat sebelumnya kami memberimu status sebagai pelajar pertukaran, jadi...masih ada beberapa lampiran yang harus kau tandatangani." Balasnya sembari mulai memilah-milah lembaran yag ada di mejanya. Nampaknya kali ini ada sesuatu yang akan ia berikan padaku.
"Dan ah, selain itu, kau juga mesti menunggu terlebih dahulu di sini, karena nanti, kau akan masuk ke dalam kelas beserta walikelasmu. Soalnya, biasanya murid pindahan atau baru akan diperkenalkan untuk pertama kalinya. Kau pasti paham." Tambahnya memperjelas.
"Hah...? Oh, kertas ini? Isinya mengenai data dirimu. Dan kau hanya perlu menandatanganinya, itu saja." Balasnya sambil mengangkat kertas yang kumaksud.
Aku kemudian menghampiri mejanya guna melihat lebih dekat.
"Ini, kau bisa langsung menandatanganinya. Atau, kalau mau dibaca dulu juga boleh."
Aoki lalu memberiku secarik kertas yang di atasnya sudah dibumbuhi tinta-tinta bolpoin di setiap kolomnya.
Aku jelas perlu membacanya terlebih dahulu sebelum menandatangani, bukan? Kali-kali saja aku disuruh menandatangani surat jual ginjal tanpa kusadari.
Namun tidak begitu. Yang ada dan tertulis di kertas tersebut memang hanyalah pertanyaan terkait data diriku. Itupun sudah diisikan oleh pihak sekolah untukku.
"Ini diisi sesuai dengan 'identitas baru' itu, kan? Lalu, aku hanya harus memberi tanda tangannya saja. Bukan begitu?" Ucapku sambil membaca satu persatu poin yang ada dalam lampiran tersebut.
"Yap, anggap saja seperti artis." celetuknya.
Artis...bicara apa dia ini...
__ADS_1
Aoki memberiku bolpoin. Aku pun tanpa ragu menandatanganinya. Bersamaan dengan itu, terdengarlah bel tanda jam pelajaran dimulai. Dan setelahnya, seorang ibu pun datang memasuki ruangan ini. Ia lantas berujar pada Aoki seakan sedang dikejar waktu.
"Aoki, apa orangnya sudah dat—"
Tatapan ibu itu terlempar ke arahku sebelum tuntas kata-katanya. Saat itu aku pun ikut menoleh kearah belakang dan membuat kami saling menatap.
Beliau sejenak terdiam dan lalu mengangkat telunjuknya ke arahku.
"K-kau? Apa kau orangnya?"
Aku lantas berbalik badan. Aku memasang senyum hangat dan lalu membungkuk tepat di hadapannya.
"Selamat pagi, sensei! Saya Akegami Kaoru, murid baru yang akan berada di kelas anda untuk tiga bulan ke depan."
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Mohon kerja samanya!"
/
...Malaikat Pelipur Lara....
^^^/^^^
To be continued...
...__________________...
^^^"Imaru Umi, merupakan walikelas anda nantinya, Tuan. Beliau adalah pembimbing yang sedikit teledor. Namun anda masih tetap bisa meminta bantuan padanya bila ada kendala dalam pekerjaan. Bantuan-bantuan kecil yang dapat meringankan anda, atau mungkin untuk membantu proses pendekatan anda dengan target, beliau akan dengan senang hati mendukung anda."^^^
...__________________...
__ADS_1