
..."Saya Kaoru Akegami. Mohon kerjasamanya, Sensei!"...
...____________________...
...**MOHON PERHATIAN! JAM PERTAMA AKAN SEGERA DIMULAI. DIHARAPKAN PARA SISWA DAN SISWI UNTUK MEMASUKI KELAS MASING-MASING. TERIMAKASIH**...
[Di jalan menuju kelas]
Bel masuk telah berbunyi sekitar beberapa menit yang lalu. Kini, aku dan juga Umi-sensei, walikelasku, sedang berjalan berdampingan sambil menaiki anak tangga yang berada tepat di sebelah ruang tata usaha.
Kelas 12A, kelas di mana targetku berada, ada di lantai atas. Jadi akan seperti inilah caraku sehari-hari untuk menempuh kelas itu: Dengan menaiki tangga yang jarak antar-anaktangganya lebih tinggi daripada tangga-tangga pada umumnya. Umpamanya, menaiki satu anak tangga di sini, serasa melewati 2 anak tangga sekaligus.
Tapi, sudahlah. Daripada terus-terusan membahas dunia pertanggaan, lebih baik aku fokus akan pekerjaan yang sebentar lagi 'kan ku hadapi.
..._________________...
Setelah melewati tangga, kami berdua kemudian membelok ke arah kanan. Kala itu, sensei sempat berhenti melangkah.
Beliau lalu memanggilku lugas.
"Kaoru!"
"Eh? I-iya, ada apa Sensei?" Jawabku dengan derap kaki ikut berhenti.
Umi-sensei pun terlihat menunjuk ke arah kejauhan.
"Lihat, kelas yang ada di ujung koridor itu. Nah, itu merupakan kelas kita, 12 A." Ujar sensei sekedar memberitahu.
"Ah...hm. Saya paham." Anggukku melihat ke mana telunjuknya mengarah.
"Dan saat perkenalan nanti, kau cukup sebutkan nama, asal, dan juga statusmu di sekolah ini saja, ya." Perjelas beliau kembali melanjutkan langkah.
"Ehm...sensei, bagaimana kalo umur?" Cetusku coba bertanya.
"Terserah kau saja deh. Katakan saja kalau umurmu sudah 21 tahun. Mungkin dengan itu, kau akan langsung dicap makhluk purba oleh mereka." Celetuk beliau cuek.
"ehhh?" Sahutku kebingungan.
Kenapa ya? Masih dua puluh satu tahun tapi rasanya sudah seperti makhluk zaman Paleolitikum saja.
Jika begitu, lalu apa kabar dengan sensei yang kuyakin sudah 10 tahun lebih tua dariku ini?
"Lagian, apa kau mau kedokmu sebagai pemulih mental bocor begitu saja?" Tambah beliau heran.
"Ehehehe...ya sudah, berarti tidak usah deh. Maaf sudah bertanya yang tidak penting, sensei." Timpalku menggaruk kepala.
Sebetulnya aku juga tahu kalau soal itu! Yang ku maksud tadi ya umurku yang sesuai identitas baru.
"Sudahlah. Persiapkan saja dirimu! Soalnya kita mesti masuk kelas sekarang!"
__ADS_1
"Oke deh, Sensei!" Sahutku percaya diri.
Kami pun lanjut melintasi koridor dengan langkah yang sedikit kami percepat. Entah apa yang membuat langkah beliau terburu-buru. Yang jelas karenanya, aku pun jadi ikut berjalan dengan tempo lebih cepat.
Sambil menyusuri koridor, aku melihat beberapa siswa yang masih berdiri di luar kelas. Di antaranya ada yang mengobrol satu sama lain, tertawa, serta dengan leluasa mondar-mandir akibat guru di kelas mereka yang belum masuk.
Saat melewati tiap-tiap dari mereka, aku hanya memasang sedikit senyum tanpa berucap kata apapun. Dan lekas setelah itu, aku lanjut melangkah menuju kelas.
Sensei Umi pun akhirnya masuk ke dalam kelas 12A, disusul diriku yang senantiasa mengekor dari arah belakangnya. Sensei dan aku melangkah masuk ke dalam kelas tanpa jeda langkah sedikitpun, baik untuk mengetuk pintu ataupun sekedar mengucapkan selamat pagi.
Masuknya diriku, lantas membuat mereka semua yang ada di kelas sontak mematung. Mereka seakan bingung, siapa orang asing yang baru saja menginjakkan kaki di kelas mereka ini.
Umi-sensei pun kemudian menyapa siswa-siswinya ikrab, "Ohaiyo, minna!"
Sapaan itu lalu dijawab balik dengan serentak oleh mereka.
"Ohaiyo, Sensei!"
Namun begitu, tak semua dari mereka menjawab sapaan sensei. Sebagian masih terdiam, karena lebih fokus memperhatikan diriku yang sedang berdiri di depan kelas, ketimbang mendengar ucapan walikelas mereka sendiri.
Tak lama, Umi sensei lalu menghampiriku. Ia kembali menyapa muridnya dan kemudian memperkenalkan diriku sebagai siswa baru.
"Nak, hari ini, nampaknya kelas kita kedatangan penghuni baru." Ucap sensei terlihat antusias.
"Seperti yang kalian ketahui, tempo minggu, sekolah kita sempat mengikuti program pertukaran pelajar dengan salah satu sekolah yang ada di Indonesia." Sambung beliau.
Sensei lalu memegang pundak kananku dengan erat.
Sesaat setelah ucapan sensei barusan, banyak daei mereka yang bersorak panjang seakan kagum dan takjub.
Di tengah kegaduhan, Umi-sensei berbisik padaku.
"Psst... Perkenalan..."
Aku kembali tersadar. Dengan semangat, aku pun maju selangkah, menyapa mereka dan kemudian memperkenalkan diri.
"Minna...Ohaiyo! Senang bisa bertemu dengan kalian! Kenalin, namaku Akegami Kaoru."
Ucapanku barusan lantas merubah suasana kelas 180 derajat. Mereka yang tadinya bising, kembali hening, menatapku seakan tidak percaya.
Beberapa dari mereka pun mulai merumpi dengan teman sebelahnya.
^^^"Set! Dia fasih...?"^^^
^^^"Dia benar dari luar negeri, kan?"^^^
^^^"Kok dialek jepangnya kental sekali...?"^^^
Aku lantas melanjutkan perkenalan.
__ADS_1
"ehm...Aku berasal dari Indonesia. Tapi walau begitu, sebenarnya aku lahir dan tumbuh besar di Hokkaido. Jadi, bisa dibilang aku cukup menguasai bahasa Jepang dengan baik." Ujarku meluruskan.
Yang barusan itu adalah salah satu poin dari identitas baruku.
"Dan...yang terakhir, aku merupakan pelajar pertukaran yang berasal dari SMA Budi Dharma, Indonesia. Sungguh senang bisa bertemu dengan kalian! Semoga kita semua bisa akrab, ya." Tambahku disertai senyum hangat, lalu sedikit membungkuk pada mereka.
Termasuk ini. Ini juga merupakan kebohongan yang sudah dirancang pihak sekolah sedemikian rupa untukku.
Mereka tak membalasku. Yang mereka lakukan hanya terus membahas dialekku barusan.
Tapi tak masalah, sih. Toh, itu juga tergolong bagus, untuk kesan pertamaku sebagai murid baru.
"Baik, bagus sekali yah, Kaoru. Hokeh! Sekarang, silahkan duduk di kursimu. Terserah kursi mana saja, asalkan kosong. Silahkan, silahkan!" Desak Sensei sambil mendorong punggungku agar segera duduk.
Sensei itu pun kembali berbisik, "Cepatlah duduk! Mereka tak akan berhenti ngoceh kalau kau belum duduk.".
"Iya, iya...aku paham kok, sensei." Repetku.
Aku pun kemudian sejenak mengamati, di mana kursi yang masih kosong itu berada.
Dan ternyata tinggal satu. Hanya satu dan aku masih disuruh untuk memilih...
Kurasa, posisinya tak terlalu buruk. Kursi kosong itu berada di paling belakang, dan deretnya nomor 2 dari jendela. Aku pun lekas berjalan mengarah ke kursi itu, melewati beberapa meja teman-teman sekelasku.
Setiap detik selama aku belum kunjung menduduki kursi, aku menerima banyak sekali tatapan sekaligus. Sambil melirik kearahku, gumam-gumam mereka terus saja terdengar mengitari telingaku.
Aku tak mau menatap mereka balik. Setidaknya untuk saat ini jangan dulu. Kerena ada saatnya di kala nanti, aku akan mengamati mereka balik.
Oh iya, saat aku melewati salah satu meja, orang yang menempati meja itu mendadak mencolek lengan kiriku pelan. Hal itu jelas membuatku tersentak dan spontan menoleh ke orang tersebut.
"Aksen Jepangmu tadi keren, Kawan." Sanjung salah seorang yang sama sekali tak kukenal, dengan ramah.
"Ahaha, ehmm...y-ya, Arigato...." Balasku agak gagu karena tadinya sempat terkaget.
Setelah itu, aku langsung duduk di mana kursi kosong berada. Dan selepas duduk, satu-persatu tatapan mereka lepas. Satu-persatu pandangan mereka kembali menghadap papan tulis dan meninggalkanku.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku pun lepas dari tatapan-tatapan mereka seutuhnya. Itupun terjadi karena dibantu oleh Sensei yang saat itu langsung menyambar ingatan mereka akan PR yang ia berikan seminggu lalu.
Dengan minimnya tatapan yang mengarah padaku, ini jelas merupakan kesempatan emas bagiku untuk memulai aksi pertama.
Sesuai prosedur, aku akan mulai dengan hal pokok terlebih dahulu, yaitu mengamati target. Dan Mengamatinya sendiri tergolong susah-susah-gampang bagiku.
Penyebabnya, karena posisi gadis itu sendiri saat ini tepat di sebelah kiri mejaku.
To be continued...
...______________________...
^^^Y**urishima Okari, dia duduk di deretan ujung, Tuan. Anda akan kami tempatkan di kursi yang berada tak jauh darinya, sehingga anda bisa mengamatinya jika memang diperlukan.^^^
__ADS_1
^^^Dan beruntung, kursi kosong di kelas itu hanya tinggal satu dan posisinya berada di dekat target anda.^^^
..._____________________...