
[Keesokan pagi, dalam perjalanan menuju bandara]
"Hahhhh...sial sekali kurasa kali ini..." Gumamku terus-terusan suntuk.
Reza... Kau benar-benar ingin menyiksaku dengan jam terbang yang begitu mepet ini, ya. Omelku dalam hati sepanjang perjalanan.
Walau harus berpacu dengan waktu, pada akhirnya aku bisa mengikuti penerbangan ini tepat waktu. Untung saja yang mengantarku ke bandara tadi pagi adalah pak Mukhlis, yang merupakan supir pribadi Reza. Beliau cukup mahir kalau soal urusan antar-mengantar yang terpepet waktu seperti ini.
[Sesampainya di bandara]
Usai proses check-in dan pemeriksaan sedemikian rupa, kira-kira jam 9 lewat seperempat aku pun diizinkan untuk memasuki pesawat guna bersiap memulai keberangkatan.
Saat berjalan menaiki tangga menuju pintu pesawat, pandanganku entah mengapa terpancing begitu saja untuk mendongak ke atas, ke arah langit.
Untunglah cuaca pagi ini benar-benar cerah. Tak ku sangka bahwa pagi ini langit akan cerah cemerlang. Sungguh berbeda dari penampakan langit di hari-hari kemarin yang sepanjang hari senantiasa dirundung awan mendung.
Apa ini pertanda baik bagiku, ya?
Hah...semoga saja memang iya. Harapku, lalu lekas duduk di kursi yang sudah ditentukan.
Oh iya,
Kemarin malam, aku sudah mendapatkan rincian terkait serba-serbi penugasan yang dikirim dalam bentuk surel. Di situ tercantum apa-apa saja yang perlu aku ketahui, baik soal lingkungan kerja, klien, target, dan juga tidak lupa, tujuan penugasan.
Dari semuanya itu, ada satu bunyi ketentuan dalam surat tersebut yang sungguh menarik perhatianku. Bahkan sejujurnya, aku sedikit terkejut saat membacanya pertama kali.
Di situ dikatakan bahwa aku harus menggunakan identitas yang benar-benar baru selama penugasan. Dan identitas itu bahkan sudah dipersiapkan sejak hari-hari lalu khusus untukku.
Untuk sesaat aku berpikir, *apakah harus seperti ini?
Apa aku mesti merubah diriku secara total begini*?
Aku jelas heran dan yang pasti belum terbiasa dengan keputusan seperti ini. Karena, walaupun aku sudah kerap bekerja di banyak daerah, baik di Indonesia maupun di luar negeri, aku tak pernah merasakan perubahan identitas yang sebegitu rincinya seperti ini.
__ADS_1
Bukannya berarti aku belum pernah menggunakan identitas palsu, tapi dari pengalamanku sebelumnya, yang dirubah hanya sebatas nama dan umur saja.
Namun kenapa kali ini aku seakan harus menjadi pribadi yang benar-benar baru?
Aku beri tahu, identitas ini benar-benar baru. Di sana bahkan tak hanya mencantumkan pembaharuan terhadap namaku, melainkan juga beserta alamat, status, latar belakang, orang tua, dan juga karier pendidikan serta minat. Semua itu diatur padaku dengan sedemikian rupanya. Mereka bahkan menganjurkanku untuk menghapal satu demi satu perombakan tersebut guna membiasakan diriku kelak saat berinteraksi dengan target.
Ah...merepotkan saja...
Karena klien mengatakan bahwa ini masalah yang cukup serius, jadi untuk memaksimalkan hasil pekerjaanku, mereka memberiku identitas baru. Setidaknya begitulah yang terbaca olehku dari surel itu.
Dan dengan tujuan klien yang terdengar mulia itu, kau pasti tahu bagaimana reaksi pihak atasanku beserta organisasi. Ya, mereka langsung setuju dan mengizinkan penggantian identitasku yang drastis ini.
Tapi sudah lah. Cukup yakini diri sendiri saja kalau kelak aku bisa menghapal semuanya ini.
Untuk sekarang, biarkan aku beristirahat walau sekiranya sukar untuk kulakukan. Aku sungguh lelah. Kelelahan ini terhitung sejak aku pulang dari kantor kemarin hingga pada pagi hari ini.
Bayangkan saja! Aku berusaha mengelola waktuku yang kurang dari 24 jam itu untuk mengemas, mempelajari masalah, serta mengurus dokumen-dokumen pendukung sekaligus. Sungguh tak ada toleransi yang diberikan bagiku untuk menikmati waktu senggang.
Selama penerbangan, aku hanya melamun melihat ke luar jendela sambil menyenderkan badan dengan kedua tangan berada di atas paha.
Dan di selah-selah mimik datar yang kupasang menyertai lamunanku ini, aku juga senatiasa sibuk memikirkan soal suasana baru yang akan ku hadapi sebentar lagi.
Pikiranku dipenuhi akan bayang-bayang tentang kondisi di Jepang 1 tahun yang lalu. Di mana saat itu, untuk pertama kalinya aku mengunjungi negara itu untuk bekerja.
Aku pernah bekerja sebagai pemulih mental di negara Jepang. Membantu seorang anak laki-laki yang memiliki masalah sosial dan membuat mentalnya pulih kembali. Anak itu, ia berasal dari Miyako.
Saat bekerja untuknya, kami sempat melakukan banyak kesenangan bersama. Paling sering sih, di pantai. Mengingat daerah sana termasuk daerah pesisir, jadi pantai dan laut sangat cocok dijadikan tempat bermain sehari-hari.
Aku butuh waktu sekitar 4 bulan untuk benar-benar membuat anak itu sembuh dan pulih dari masalah yang mengekangnya. Dan setelah itu, aku pun pulang kembali ke Indonesia dan tak lupa mengucapkan salam perpisahan dengannya.
Semenjak saat itu hingga sekarang, aku tak pernah menginjakkan kaki di negara itu lagi.
Aku pribadi suka dengan negara itu. Cara mereka memelihara kehidupan sungguh terdengar menawan bagiku. Masyarakat di sana juga benar-benar tau apa itu sopan santun dan paham caranya beretika dengan baik. Ditambah lagi, berbagai macam festival dan jajanan tradisional khas Jepang yang sungguh lezat dan berbudaya. Rasanya paket komplit untuk sebuah negara.
__ADS_1
Tak jauh beda dari Indonesia, keduanya sama-sama dikenal sebagai negara dengan tingkat kemoralan yang baik. Hal seperti inilah yang menurutku merupakan salah satu daya tarik dari sebuah negara atau tempat.
Tapi satu yang sangat disayangkan, yaitu aku akan bekerja di sana di masa-masa akhir musim gugur. Aku jadi mesti sedia baju-baju tebal dan juga perlengkapan lainnya untuk menghadapi musim dingin.
..._________________...
/
...Malaikat Pelipur Lara....
^^^/^^^
Sabtu, 14 November.
15:22 sore.
Tengah hari sudah terlewati. Langit cerah pun kini sudah mulai dihiasi oleh warna jingga lembut.
Hamparan sekian lautan dan daratan sudah terlalui oleh pesawat ini, sebelum akhirnya ia sampai, mengudara di langit Jepang.
Kurang lebih tujuh jam perjalanan sudah kami tempuh dengan menyusuri belahan Asia Tenggara kemudian naik menuju Timur.
Kira-kira beberapa menit sebelum pesawat menyentuh tanah, saat aku melihat ke luar jendela, nampaklah di sana daratan kota Tokyo yang dengan menawannya memenuhi penglihatanku sejauh mata memandang.
Dari kejauhan di bawah awan, aku bisa melihat bagaimana nuansa sudut-sudut kota yang kini dipenuhi warna merah, oranye, dan coklat yang dihasilkan oleh dedaunan musim gugur. Pemandangan baru nan asri tersebut rasanya seperti memusnahkan kelelahan yang sedari tadi menghantui ragaku.
Sungguh menyejukkan pikiran dan mataku.
Ini adalah kali pertama aku mengunjungi Jepang di saat musim gugur. Perasaan menggebu pun jelas mengitari diriku saat ini. Ingin rasanya segera keluar dari pesawat dan merasakan panorama musim dengan lebih keluasa sambil berkata,
Aku...
Aku siap untuk melaksanakan tugasku.
__ADS_1
To be continued...
..._________________...