
“Akan saya katakan sekali lagi, Yang Mulia. Saya hanya bertemu sekali dengan Tuan William. Saat itu pukul tujuh malam tanggal 9 Maret. Keadaan trotoar dekat kantornya tidak terlalu ramai dan saya sedang mengejar sebuah taksi agar sampai di rumah tepat waktu. Istri saya, Joana, mengadakan sebuah pesta anniversary kecil-kecilan di rumah. Saya tidak mungkin melewatkannya begitu saja.”
Justin Stewart. Pria di akhir tahun tiga puluhan itu memang sedang dalam keadaan sial. Aku berani menjamin, dia tidak memiliki niat untuk berada di dekat kantor Tuan William yang malang. Apalagi jika membayangkan pesta romantis yang berusaha dikejarnya menggunakan taksi itu. Justin Stewart pasti akan menyesal seumur hidup.
Namun keputusan yang diambilnya tepat. Jika saja dia tetap melawan hingga meninggalkan Tuan William yang dalam keadaan sekarat dan meluncur menggunakan taksi yang telah dipanggilnya, title yang kini disandangnya akan berubah.
Dari saksi, menjadi tersangka.
Kulihat pria yang mengenakan setelan kelabu itu menundukkan kepala. Sambil meremas buku-buku jarinya, dia berkata. “Benar. Saat itu kami berebut taksi. Kami juga saling menyerukan alasan mendesak. Dan seperti yang telah saya katakan pada penyelidik, Tuan William menang. Saya terlempar keluar dari taksi. Tentu saya marah besar. Namun Tuhan memberikan sebuah taksi lain untuk saya. Jadi saya berhasil datang tepat waktu di rumah.”
Rencana Tuhan memang luar biasa. Ini sudah kesekian kalinya aku memuji setiap detail rencana yang dijalankan-Nya. Menyelamatkan seorang pegawai rendahan seperti Justin Stewart dari tuduhan pembunuhan pengusaha properti, Tuan William, yang terjadi di dalam taksi, hanyalah secuil rencana kecil-Nya. Aku pernah melihat yang lebih besar dalam ruangan kesukaanku ini.
Ruangan ini berukuran dua kali dari kamar apartemenku. Elemen paling mencolok sejauh mata memandang adalah panggung dengan meja persegi panjang milik hakim. Di sebelahnya, ada podium untuk bersaksi. Aku duduk di seberang kiri meja hakim. Jika aku menoleh ke kiri dan belakang, tersangka sekaligus pengacaranya tengah mengamati Justin Stewart dengan serius, sementara para pengunjung melakukan hal yang sama. Beberapa juri yang duduk di sayap kanan tengah berbisik dan sebagian besar mencatat pernyataan Justin Stewart.
“Anda bisa memulai, Tuan Johnson.”
Suara berat Helga Dillingham memicu kedua alisku untuk terangkat. Hampir dua tahun ini kami bekerja sama. Dan selama dua tahun, Helga selalu mengatakan kalimat favoritnya itu. Berusaha membuatku terlihat seperti seorang Jaksa Penuntut Umum yang kurang kompeten.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucapku sambil berdiri dan menekan kata ‘Yang Mulia’ untuk menaikkan darah Helga Dillingham. Inilah satu-satunya caraku dalam membalas kalimat wanita dengan rambut kemerahan itu. Aku tidak mungkin berbuat lebih ketika mengingat akan porsi dan posisiku.
Aku berjalan mendekati Justin Stewart yang berdiri diam di tempatnya, sebuah panggung persegi sempit dengan pagar kayu di tiga sisinya. Sekarang, mimik wajah pria itu lebih tertata. Dia tidak lagi menunduk maupun meremas buku-buku jarinya. Sorot mata hijau zamrud yang ditunjukkannya juga berubah menjadi percaya diri seolah yakin bahwa segala sesuatu tentang Tuan William akan berakhir beberapa menit lagi.
“Tuan Stewart,” ujarku memulai. “Ketika anda beradu alasan dengan Tuan William, apakah nama tersangka tersebut di dalamnya?”
Justin menggeleng kuat. Aku tahu dia akan bereaksi seperti itu. Berita acara persidangan ini sudah kubaca berulang kali. “Saya sangat yakin, Tuan William mengatakan bahwa keadaannya sedang kacau. Bisnisnya akan segera runtuh jika dia tidak segera pergi ke suatu tempat. Err… Suatu tempat di dekat sungai Mississippi.”
“Sungai Mississippi? Bisakah anda menyebutkan satu tempat yang mendekati penjelasan Tuan William saat itu?” tanyaku lagi. Ada satu teori yang sedang kuujikan saat ini. Seseorang dalam tim penyelidikanku mengungkapkan ide gila nan brilliant itu beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, kami mengambil resikonya. Atau lebih tepatnya, nama baikku dipertaruhkan di sini.
__ADS_1
“Err… Tuan William menyebutkan daerah itu memiliki banyak bar. Yeah, bar. Tuan William mengatakannya. Dyersburg.”
Reaksi yang ditunjukkan pria dengan rambut hitam itu memberikan sedikit kesan bahwa dia tengah meragu. Benar. Bagi seorang pendatang baru di Tennessee, semua kota akan terlihat sama. Dan kota teristimewa dari semua kota di Tennessee adalah yang paling mudah dikenali. Kota yang paling sering dikunjungi. Untuk Justin Stewart, Dyersburg.
Sama seperti yang telah kami perkirakan. Justin akan berpihak pada kami. Titik.
“Baiklah, Tuan Stewart. Sekarang katakan padaku, apakah anda membeli sebuah rumah di daerah Dyersburg belakangan ini?” Sambil membalikkan beberapa halaman dari berkas setebal setengah senti di tanganku, sebuah senyuman sedang kutata. “Bukan hanya istri anda yang mempersiapkan sebuah kejutan untuk anniversary. Anda tidak mungkin menghadiri acara spesial itu dengan tangan kosong, bukan? Saat itu pik─”
“Objection!”
Dengan ekor mataku, kulihat pengacara Danielle Lincoln telah berdiri dari kursinya. Helga memberikan respon positif dengan menaikkan alis sambil menatap penuh minat pada pengacara muda itu. Aku mengerti akan satu hal. Sikap hangat pengacara Danielle Lincoln yang telah ditunjukkan sejak pengadilan pertama digelar, telah mempengaruhi wanita itu.
“Pertanyaan yang ditanyakan oleh Tuan Johnson tidak berkaitan dengan kasus yang sedang dipersidangkan,” ujar pengacara itu dengan menggebu-gebu.
Helga telah mengangkat tangan kanannya ketika aku mulai terfokus pada cekungan dalam tulang pipinya. “Keberatan ditolak. Sepertinya ada teori yang sedang diuji oleh Tuan Johnson. Jadi, silahkan lanjutkan, Tuan Johnson.”
Sekarang, suaraku semakin ringan. Pikiran tentang Helga Dillingham yang akan menghalangi teori kami telah menguap entah ke mana. Aku tidak ingin tahu. Dan semoga saja tidak akan pernah karena aku tidak ingin kembali terjebak pada ejekan wanita kurus itu.
Setelah ucapan terima kasih yang singkat dan hampir tanpa senyuman, aku melanjutkan apa yang telah kumulai. Justin Stewart akhirnya membenarkan pertanyaanku. Sebuah rumah berjarak 1 kilometer dari sungai Mississippi memang menjadi tokoh utama dalam pikirannya. Saat Tuan William merebut taksi-nya, Justin mengatakan bahwa ia dapat melihat wajah kecewa dari istrinya karena terlambat mengetahui hadiah hasil penjualan seluruh aset keluarga Stewart senior.
Bonus lain yang kudapat adalah Tuan William sempat berkata bahwa dia tidak akan pergi ke bar untuk mabuk, melainkan hanya mempertahankan bisnisnya. Dan kami tahu tempat yang cocok untuk berbisnis lengkap dengan pemandangan sungai Mississippi sebagai pemanis.
Memphis. Kota asalku.
“Dan kebetulan sekali, tersangka kita, Tuan Lincoln, memiliki sebuah usaha peminjaman uang di Memphis. Jejak dari usaha itu menghilang sejak tahun 2010 karena Tuan Lincoln kehilangan anak laki-lakinya. Tetapi bukan berarti usaha itu juga menghilang.”
Bola mata Danielle Lincoln hampir melompat keluar. Reaksi yang sangat kutunggu dari persidangan ini. Aku sangat menyukai ekspresi setiap tersangka saat rahasia yang disembunyikannya terbongkar. Beruntung, kali ini aku bisa mengendalikan ujung bibirku yang perlahan terangkat. Helga biasanya segera menegurku jika hal itu terjadi.
__ADS_1
“Dua hari yang lalu, seseorang bernama Dominic Miller meminjam sejumlah uang kepada Tuan Lincoln.” Sekali lagi, Danielle Lincoln terlonjak. Sementara aku kembali menahan tawa. “Bukti transaksi itu selalu dibawa oleh Tuan Lincoln. Sebuah buku catatan berwarna biru metalik dengan beberapa coretan tanggal di sisi kiri bawahnya. Dan buku itu sekarang berada di saku kiri Tuan Lincoln.”
Tugas selesai. Dua detektif yang kuundang untuk mendengarkan persidangan segera meminta ijin untuk menggeledah Danielle Lincoln. Mereka melakukannya dengan sempurna. Sebuah buku catatan telah berpindah ke tangan mereka. Bahkan Helga memberikan satu anggukan padaku, sebuah tanda jika aku telah melakukan hal baik di matanya.
Namun aku tahu, anggukan itu bukan hanya untukku.
“Dominic, eh?” gumamku.
Sontak kulemparkan arah pandangku pada seorang pria jangkung yang berdiri dari bangku persidangan paling belakang. Kulihat tangannya melambai-lambai dan sesekali mengacungkan jempol ─sebuah ritual yang tidak pernah terlewatkan setiap kali persidangan berjalan sesuai rencana kami. Sebuah ritual yang sangat kubenci. Sebab setelah jempol itu terangkat, hal memalukan akan terjadi.
"Whoooho!"
Lebih baik aku pergi dari sini.
"Aiden Johnson yang paling hebat!"
Ck!
"Kau lihat itu Mr. Lincoln?!"
Astaga, idiot ini!
"Kami akan menyelesaikanmu! Kita lihat siapa yang akan bertahan hingga akhir nanti!"
Dan teriakan itu berakhir dengan rintihan Dominic yang diseret paksa keluar dari ruang persidangan.
Ya, dia layak mendapatkannya.
__ADS_1