
Hari ini, otakku tidak berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Ada beberapa hal yang menghambat setiap impuls yang dikirimkan untuk diproses. Aku tahu apa yang menyebabkannya macet. Kenanganku, ingatanku, semuanya. Seluruh tubuhku menolak mentah-mentah untuk melupakannya. Bahkan berusaha untuk tidak memikirkannya, terasa seperti memotong kayu menggunakan pisau dapur. Butuh waktu yang sangat lama dan memiliki potensi untuk gagal hampir 100 persen.
“Giliranmu, Aiden.”
Kuangkat wajahku untuk menghadap seseorang yang telah mengingatkan salam perpisahan yang harus kulakukan. Shofia menatapku lekat-lekat. Air matanya masih mengalir dan dia tidak ingin repot untuk membersihkannya. Ini salam perpisahan dengan tubuh Victoria. Jadi biarlah semua air mata tumpah. Wanita ini pasti berpikir seperti itu.
Kutinggalkan kursi besi yang sengaja ditata tepat satu setengah meter dari liang kubur Victoria. Baru beberapa langkah mendekat, seorang anak perempuan berlari menghampiriku. Aku mengangkat sebelah alisku saat dia menyodorkan setangkai mawar putih.
“Untuk Mrs. Black,” katanya.
Mrs. Black. Victoria dikenal dengan nama keluarganya di sekolah tempatnya mengajar. Aku menoleh ke arah asal gadis kecil dengan rambut pirang ini. Di sana, di belakang beberapa pria dan wanita yang memiliki wajah ramah, beberapa anak berusaha menjulurkan kepalanya. Rasa ingin tahu lebih mendominasi di wajah mereka jika dibandingkan dengan ekspresi kesedihan.
Tak apa.
Mereka masih kanak-kanak.
“Terima kasih,” ucapku. “Bolehkah aku memberikannya dengan caraku sendiri?”
Gadis pirang itu mengangguk penuh semangat. “Mrs. Black selalu mengatakan, tidak ada yang lebih baik daripada yakin pada diri sendiri.”
Dia mengatakan hal itu? Victoria Black? Sekarang aku ingin tertawa. Tetapi wajah serius gadis kecil ini membuatku mati-matian menahannya. “Saran yang bagus, Gadis Kecil.”
Setelah melihat gadis pirang itu kembali ke pelukan rekan kerja Victoria, aku menghadap liang tempat wanita cerewet itu akan tinggal untuk selamanya. Victoria ada di dalam peti itu. Peti yang terbuat dari kayu jati itu tampak mewah dengan warna hitam pada dasarnya dan ukiran huruf V berwarna emas yang ada di tengah. Aku tidak tahu mengapa David Black mengerahkan seluruh kemampuannya di pemakaman wanita yang bahkan tidak mau membeli blouse baru.
Sambil berjongkok, aku melihat mawar putih dan peti hitam itu secara bergantian. “Jika aku menjadi Laertes, aku pasti sudah melompat ke dalam liangmu, V. Dan jika aku menjadi Hamlet, aku akan meminta agar dikubur bersamamu. Tetapi aku adalah Aiden Johnson. Inilah yang akan kulakukan.”
Jemariku mulai bergerak untuk mencabut setiap kelopak dari mawar putih di tangan kiriku. Kubiarkan kelopak-kelopak itu berterbangan ditiup angin musim gugur dan menyisakan satu di tangkainya. “Mawar yang seperti ini lebih cocok denganmu. Tangkai yang keras seperti kepala dan semua tingkah lakumu. Dan kelopaknya… Kau selalu memberikan seluruh milikmu kepada orang lain. Jadi, kusisakan satu kelopak untuk menghiburmu. Beristirahatlah dengan tenang dan jangan mengganggu hidupku lagi.”
Tepat beberapa detik setelah aku berdiri, Dominic muncul di sampingku sambil menepuk pundakku. Aku hendak pergi untuk memberikan mereka waktu ketika tepukan di pundakku berubah menjadi cengkraman yang cukup kuat. Refleks, aku menatapnya tajam. Berusaha menemukan alasan yang tepat mengapa aku harus tinggal.
Hampir satu menit Dominic terdiam. Tidak ada yang berubah dari raut wajahnya, sebelum dan sesudah pria itu melempakan mawar merah ke dalam liang Victoria. Aku merasa, dia sedang mengucapkan banyak hal dalam kediamannya itu. Pembicaraan mereka yang saling mencintai ─atau entah bagaimana hubungan mereka. Untuk saat ini, aku masih meragukan spekulasi tentang Victoria Black yang menerima perasaan Dominic Miller.
“Kau sudah selesai?” tanyaku. Pundakku mulai pegal karena dijadikan tumpuan Dominic. “Apa yang kau bicarakan dengannya?”
Dominic tersenyum simpul sambil melepaskan pundakku. “Rahasia, Aiden. Kau tidak perlu mengetahuinya. Dan omong-omong, terima kasih atas pundakmu. Sejak melihat petinya diturunkan, aku ingin berlari dan meloncat masuk bersamanya. Bahkan saat menepuk pundakmu tadi, aku hampir melompat ke sana.”
Ini salah.
__ADS_1
Dominic seharusnya berteriak meminta untuk dikuburkan bersama Victoria, bukan hanya melompat ke dalam liang kubur seperti Laertes. Tetapi akan lebih baik jika pria itu melompat ke dalam liang Victoria, bersumpah mati akan terus mencintainya, dan membuat keributan lain dengan meminta agar tanah segera diturunkan. Bulu kudukku bergidik ketika membayangkannya. Jika hal itu memang terjadi, pemakaman ini akan kukenang sepanjang masa.
“Ayo kita berikan kesempatan untuk yang lainnya,” ujar Dominic sambil melangkah kembali ke kursi-kursi besi yang berjajar itu.
Aku mengikuti langkahnya dan duduk di tempatku. Dari sini, aku dapat melihat keseluruhan pemakaman yang dipenuhi oleh lautan manusia berpakaian hitam dalam berbagai usia. Anak didik dan rekan kerja Victoria bergerombol empat meter dari tempatku duduk. Aku juga mengenali beberapa wajah yang dulu menjadi teman SMA wanita itu. Dan yang membuatku terkejut adalah ada dua orang dengan wajah ingin tahu di belakang gerombolan teman SMA Victoria.
Dua pria itu saling berbisik. Sesekali menatap ke arahku ─atau mungkin kepada Dominic- dan beradu mulut. Mereka terlihat seperti debt collectors yang tengah berunding tentang kepada siapa mereka harus menagih hutang-hutang Victoria Black. Kepada seseorang yang mencintainya, atau kepada orang asing ini.
Dan mereka memutuskan untuk menunjukku.
Sial.
***
“Anda yang bernama Aiden Johnson?”
“Ya,” ucapku sambil menghentikan langkah.
Kedua pria dengan wajah ingin tahu itu ternyata benar-benar berniat memburuku. Aku sudah berusaha menghilang di antara beberapa pelayat dan pulang menggunakan Jeep milik David. Tadinya, Dominic ingin ikut denganku. Tetapi aku melarangnya agar ketiga pria itu sedikit terkecoh. Ternyata apa yang telah kulakukan sia-sia.
“Saya Marcus Wright dari Kepolisian Memphis. Bisakah kita berbicara sebentar?” tanya pria dengan dasi ungu yang mencolok. Dari gaya pakaiannya yang rapi dan disetrika dengan sangat licin, aku tahu dia bukanlah seseorang yang terbiasa bertugas di lapangan.
Marcus memandangku dengan matanya yang sipit. Aku tidak bisa berbohong jika saat ini, wajahnya lebih lucu daripada anjing pudel milik Natalie. Tetapi dilihat dari sudut manapun, pria itu tengah menahan emosinya. Tangannya terkepal, urat nadi di sekitar lehernya mencuat ke permukaan, dan samar-samar, aku mendengar bunyi gigi yang bertumbukan.
“Ini. Lihatlah sepuas mungkin,” ujar Marcus sambil menyerahkan ID dan lencananya kepadaku. Dia kemudian memberikan perintah kepada temannya yang kurus agar melakukan hal yang sama.
Marcus Wright adalah kepala penyelidikan dari Kepolisian Memphis. Sedangkan pria di sebelahnya, pria kurus itu, bernama Cody Hicks. Pengalamannya dalam tugas lapang baru 3 bulan. Itu sebabnya Marcus ada di sini untuk mendampingi. Otomatis, kedua orang inilah yang menangani kasus kematian Victoria Black.
Setelah menggali beberapa informasi penting, kukembalikan identitas mereka. “Baik, silahkan ajukan pertanyaan kepadaku, Tuan Wright.”
“Di sini?” Dia bertanya dengan intonasi yang sedikit tinggi. Bola matanya menyisir sekeliling halaman rumahku yang lengang, kemudian berdecak tak suka. “Meskipun sekarang sedang sepi, berbicara mengenai hal sepenting ini di tempat terbuka dapat memicu hal yang tidak terduga. Pembicaraan kita bisa saja dikuping orang lain.”
Aku mengangguk-angguk tak minat. “Baik, jika Anda memaksa.”
Aku menuntun Marcus dan Cody masuk ke dalam rumah. Mereka kupersilahkan untuk duduk di ruang tengah yang bergaya Country. Aku berdehem sebentar ketika keduanya asyik menikmati design interior hasil kreasi Dad. Dengan cepat, Cody mengambil buku catatan kecil dan bolpoin yang ada di sakunya. Sedangkan Marcus merogoh ke dalam tas kerjanya.
“Kami menemukan buku saku milikmu tak jauh dari TKP. Bisakah Anda jelaskan mengapa buku ini berada di sana?”
__ADS_1
Mulutku menganga dan hampir separuh kewarasanku keluar dari sana. Siang ini aku baru saja menginjakkan kaki di Memphis. Itupun bukan karena kemauanku sendiri. Dan sekarang, apa yang kudapat? Buku saku milikku, yang entah bagaimana caranya, berada di tangan pria di hadapanku ini.
Ya Tuhan, aku bahkan tidak Engkau biarkan bernafas dengan tenang beberapa menit saja.
Buku saku itu dilambai-lambaikan di hadapanku. Aku tidak dapat melakukan hal lain kecuali menatapnya lekat-lekat. Sampulnya berwarna hijau dan sudah termakan usia. Ada lambang Memphis High School yang dicetak timbul di tengahnya. Tetapi aku masih bisa melihat bekas tinta yang mulai disamarkan usia. AJ16.
Aiden Johnson, 16 tahun.
“Tuan Johnson?” Marcus kembali menodongkan tatapan menyelidik. “Jelaskan mengapa buku ini bisa berada di TKP?”
Gelengan kepalaku semakin menguat. “Entahlah. Tiga belas tahun yang lalu, buku itu masih saya miliki. Jika Anda mengetahui kematian seseorang bernama Aaron Johnson, buku ini seharusnya ada di dalam kotak penyimpanan barang bukti dari kasus itu. “
Cody berhenti mencatat dan bertanya secara spontan. “Apa maksud Anda, Tuan?”
Marcus meliriknya dengan tatapan mematikan. Tetapi dia segera memusatkan perhatian kepadaku. “Aaron Johnson adalah ayah Anda?”
Aku mengangguk pelan. “Polisi menganggapnya sebagai kasus bunuh diri karena kekurangan barang bukti. Hanya ada sebuah pesan singkat di empat halaman terakhir buku itu sebagai petunjuk.”
Pria kurus yang sangat cepat dalam mencatat itu, mendadak berhenti akibat perintah seorang Marcus Wright. Sarung tangan. Pria berdasi ungu terang itu membutuhkan sarung tangan untuk mengutak-atik barang bukti langka dari kasus 13 tahun yang lalu.
Dengan kecepatan yang hampir setara dengan siput, Marcus membaca dan membolak-balik kertas kusam berisi catatan pekerjaan rumah saat umurku 16 tahun. Dia lantas menggumamkan beberapa hal di luar pengamatannya yang tertangkap oleh telingaku. Marcus Wright mengomentari tulisanku, pekerjaan rumahku, dan beberapa gambar mobil yang menurutnya sangat jelek.
“Apakah ini pesan dari Tuan Johnson Senior seperti yang telah Anda sampaikan?”
Kutingkatkan fokus dari lensa mataku hingga tulisan tipis dan tinggi itu terbaca dengan jelas di retinaku. Aku mengenali jenis dan cara menulis tulisan itu. Bolpoin yang digunakannya harus memiliki diameter yang lebih kecil dari 0.5 mm. Tidak boleh menulis dengan terlalu menekan. Dua hal itulah yang dibutuhkan dalam menulis ala Victoria Black.
“Bukan, Tuan,” gumamku tanpa sadar. Aku bahkan menambahkan. “Tulisan itu milik Victoria.”
Marcus dan Cody saling memandang. Aku tahu, kasus 13 tahun yang lalu berada di luar kewenangan mereka. Tetapi dengan munculnya bukti kasus lama itu di dekat TKP yang baru saja diberi garis polisi kurang dari 24 jam, keraguan dalam benak kami tumbuh pesat.
Benarkah kasus Aaron Johnson dan Victoria Black hanya terhenti pada keputusan bahwa mereka melakukan bunuh diri?
“Bacalah, Tuan Johnson. Pesan ini ditujukan kepadamu,” ujar Marcus sambil memberikan buku saku lamaku.
Senyumku mengembang untuk beberapa detik dan lenyap begitu aku mulai membaca setiap kalimat yang dituliskan Victoria. Kenangan buruk akan pesan terakhir Dad ikut berbaur menjadi satu. Baik Dad maupun Victoria meminta maaf di bagian pembukanya. Pesan pertama Dad adalah menjaga Shofia. Sedangkan Victoria membungkamku dengan satu paragraf tentang kepulanganku.
“Aku tahu kau akan kembali, Aiden. Suatu saat nanti, hal itu akan terjadi. Pasti. Tetapi bukan di hari peringatan meninggalnya Tuan Johnson. Bukan di hari peringatan pernikahan Shofia dan Daddy. Bukan di hari ulang tahunku. Melainkan, di hari terakhirku menghirup nafas. Terima kasih, Aiden. Terima kasih karena telah menyingkirkan sedikit ego demi menghadiri pemakamanku.”
__ADS_1
Ujung dalam mataku memanas. Detik selanjutnya, aku bisa merasakan setiap bulir air mata jatuh dengan cepat dan tidak bisa kuhentikan. Kuusap sisa air mata itu dengan punggung tanganku, lalu memandangnya dengan rasa takjub yang luar biasa. Tiga belas tahun yang lalu adalah saat terakhir kali aku menangis. Dan sekarang, tepat di rumah duka yang sama, aku menangisi kepergian Victoria Black.