
Dr. Hawkins telah mendapatkan seluruh keperluannya untuk menyimpulkan kondisiku. Sekarang, pria beruban itu tengah menuliskan sebuah resep di atas selembar kertas. Shofia mengamati dengan teliti di belakangnya. Sedangkan aku merapikan lengan kemejaku yang sempat kulinting demi lancarnya pemeriksaan tekanan darah.
“Bawa resep ini ke farmasi secepatnya, Nyonya.” Dr. Hawkins menyerahkan resep ke tangan Shofia. Setelah itu, dia menghadap kepadaku. “Anda perlu banyak istirahat, Tuan Muda. Cobalah untuk tidak memikirkan hal yang berat. Itu akan membantu mengurangi depresi Anda.”
Kelopak mataku terbuka lebar. “Depresi?!”
Pria tua itu mengangguk. “Awalnya Anda memang hanya kelelahan. Tetapi dengan semua kejadian yang mendadak ini, Anda tidak mendapatkan istirahat yang cukup dan malah melakukan hal yang sebaliknya. Itu sebabnya Anda merasa tertekan dan frustrasi.”
“Aiden akan baik-baik saja, bukan, Dr. Hawkins?” Nada cemas jelas terdengar dari pertanyaan Shofia.
“Tentu, Nyonya. Saya rasa kepergian Victoria memiliki dampak yang cukup berat di sini.” Dr. Hawkins menunjuk kepalanya sambil menatapku. Aku tahu, dia ingin mengatakan bahwa otakku bermasalah. “Untuk saat ini, tidurlah sambil menunggu obat ditebus. Saya menyarankan agar Anda mengambil cuti setidaknya selama 1 minggu.”
Tidak ada yang dapat kulakukan setelah itu. Aku sudah berbaring sejak kedatangan Dr. Hawkins di dalam kamar lamaku. Dan sekarang, aku dinyatakan masih membutuhkan bantal dan segala perlengkapan tidur lainnya dalam jangka waktu yang lebih lama. Keputusan itu berdasarkan satu alasan yang tidak masuk akal.
Depresi akibat kematian Victoria.
“Aku baik-baik saja,” gumamku setelah Dr. Hawkins dan Shofia keluar dari kamarku. “Aku baik-baik saja.”
Mengucapkan kalimat itu berkali-kali tidak membuahkan hasil. Aku tidak merasa lebih baik, dan malah kesal setengah mati. Hal itu menyebabkan aku sadar tentang beberapa persoalan, diagnosa Dr. Hawkins dan salah satu adegan Hamlet. Keduanya hampir mirip, tetapi aku berani menjamin, topik yang dibahas berbeda.
Hamlet berubah sejak kematian ayahnya. Pernikahan Gertrude, ibunya, dengan pamannya, Claudius, memperparah hal itu. Claudius secara terang-terangan mengatakan bahwa Hamlet telah kehilangan kewarasannya. Setelah pengaduan Ophelia kepada Polonius di Scene I dalam Act II, Polonius menganggap perubahan Hamlet dikarenakan rasa cintanya terhadap Ophelia. Pria itu mengatakannya kepada Claudius dan Gertrude, membuat kedua orang itu melupakan alasan utama dari kegilaan Hamlet.
Apa yang terjadi padaku secara garis besar, sama. Aku didiagnosa mengalami depresi karena Victoria, di saat permasalaan besar yang menghantuiku adalah tempat ini. Memphis dan segala sesuatu di dalamnya. Shofia dan David pasti tahu alasan utama terjadinya kekacauan dalam diriku. Jika ditinjau dari sifat mereka, aku yakin, mereka akan memilih untuk mempercayai diagnosa Dr. Hawkins dan melupakan peran penting mereka dalam kekacauanku.
Hidup ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Apabila sekarang aku berhadapan dengan meja judi, aku akan mempertaruhkan seluruh koinku demi mendukung pendapat itu. Selama 28 tahun aku menghirup udara alam, aku cukup melihat, cukup mendengar, cukup merasakan, dan cukup ambil bagian pada sesuatu yang mereka sebut dengan kesalahan.
Dan bagiku, kembali ke rumah merupakan sebuah kesalahan baru. Berawal dari kepergian Victoria, aku tidak dapat memastikan apakah keberadaanku di sini akan berdampak baik atau buruk. Yang kutahu, aku sudah salah dalam memulainya. Dominic yang menyeretku ke Memphis.
“Apa yang harus kulakukan?”
Kedua mataku tidak dapat terpejam. Upacara pemakaman Victoria akan dimulai 1 jam lagi. Aku ingat saat David berusaha berbisik kepada Shofia tentang sanak keluarganya dari Mississippi yang terkena delay. Hal itu membuat jadwal yang sudah tertata rapi mendadak mundur. Aku tidak menyukai perubahan jadwal. Seharusnya, jika mereka peduli terhadap Victoria, mereka sudah berada di Memphis sejak kemarin.
__ADS_1
“Aiden, apa kau sudah tidur? Jika belum, boleh aku masuk?”
Suara Dominic yang berada di balik pintu membuatku mendengus. Kupikir pria itu sudah kembali atau setidaknya mengunjungi rumahnya yang berada dua blok dari sini. Dia masih memiliki keluarga yang utuh dan seharusnya dia tidak menelantarkan mereka.
“Masuklah,” ucapku pada akhirnya.
Dominic membuka pintu perlahan-lahan dan menutupnya dengan cara yang sama. Dia mengeluarkan kursi dari meja belajar lamaku dan duduk di atasnya. “Aku tahu seharusnya kau butuh istirahat. Tetapi aku yakin kau tidak dapat melakukannya karena otakmu sangat penuh. Dan aku berada di sini agar kau bisa mengeluarkan seluruh isi otakmu.”
Aku hanya melihatnya sekilas, kemudian merapikan letak bantalku. “Kau lebih tahu bagaimana diriku, Dominic. Apa yang ada di dalam otakku tidak akan keluar dengan mudah.”
“Tetapi kau selalu melakukannya di hadapan Victoria,” ujarnya.
Dominic mendapat seluruh perhatianku, sekarang. Ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Tidak biasanya Dominic bersikap tenang dan sedikit pendiam. Meskipun kedua iris hazelnya itu menyisir setiap benda dalam kamarku yang tidak berubah, tetap saja ada kekosongan di sana. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat setelah mencapai satu kesimpulan.
Kematian Victoria juga mempengaruhinya.
“Apa menurutmu dia melakukannya dengan sengaja? Maksudku, kematiannya.” Dominic lantas mengangkat wajah, menatap langit-langit kamarku. “Dia bukan tipikal orang yang akan mengakhiri hidupnya tanpa alasan yang jelas. Bagaimana menurutmu, Aiden?”
Pria itu lantas menatapku, bersandar di punggung kursi, dan memainkan buku-buku jarinya. “Di dalam bukumu, Hamlet, ada tokoh bernama Ophelia, bukan?”
Meskipun sedikit terkejut, aku tetap merespon pertanyaannya dengan baik. “Ya. Dia anak perempuan Polonius, juga adik Laertes.”
“Dalam cerita itu, dia meninggal karena tenggelam di sungai. Mengapa aku berpikir bahwa Victoria melakukan hal yang sama sepertinya? Tentu kecuali lokasinya… Lalu mengapa aku mengira bahwa dia berusaha menjadi salah satu tokoh dari drama kesukaanmu, Aiden? Bisakah kau katakan kepadaku bahwa seluruh pertanyaanku salah?”
“Pikiranmu terlalu berlebihan.”
Hanya kalimat itu yang dapat kukatakan. Pemikiran Dominic yang kukenal selama ini hampir tidak pernah meleset. Dan itulah yang membuatku mendadak takut. Tetapi ini saatnya berpikir rasional. Tidak ada waktu untuk bermain-main.
Baik, akan kuanggap seluruh pertanyaan Dominic adalah pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan keadaan Victoria. Sekarang, aku harus mencari letak kesalahannya.
“Sebelum meninggal, Ophelia menjadi gila.” Otakku bersorak. Kutemukan poin pentingnya. “Dia menjadi gila karena Polonius terbunuh. Dan jika kau berpikir Victoria berusaha menjadi Ophelia, maka seharusnya David terbunuh lebih dulu.”
__ADS_1
“Benarkah?” Dominic tampak sangat terkejut. Dia terdiam sebentar. “Bagaimana jika dia berusaha menjadi Ophelia yang lain? Maksudku, dia menyimpan seluruh permasalahannya sendirian sehingga tidak ada korban lainnya. Pernyataan itu sedikit masuk akal dengan jalannya cerita dalam Hamlet.”
Kepalaku menggeleng kuat. “Kematian Ophelia disusul dengan kematian lainnya. Laertes yang ingin membalas dendam kepada Hamlet, bekerja sama dengan Claudius. Pedang Laertes telah dilumuri racun sebelum pertandingannya dengan Hamlet dimulai. Dari pedang itu, Laertes, Hamlet, dan Claudius terbunuh. Sedangkan Gertrude meminum minuman beracun.”
Aku berusaha menganalisis raut wajah Dominic. Tidak ada perbedaan yang berarti, bahkan ketika aku memancingnya lebih jauh. “Jika Victoria benar-benar ingin menjadi Ophelia, mungkin sebentar lagi David dan Shofia akan terbunuh.”
“Tidak mungkin, Aiden. Begini.. Pernahkah kau bertanya, mengapa Shakespeare menulis Hamlet?” Dominic menyisir rambut kemerahannya ke belakang. “Agar tidak ada umat manusia yang terjerumus pada sifat duniawi. Sama seperti yang pernah dikatakan Victoria saat kita pergi makan malam bersama.”
Keningku semakin berkerut. “Lalu?”
“Tuan Black hanya mengatakan potongan kecil ingatannya sebelum Victoria ditemukan mengapung di kolam renang beberapa jam kemudian. Victoria menyembunyikan sesuatu, Aiden. Dia pergi sambil mengatakan bahwa dia akan melindungi dan mengubah nasib beberapa tokoh dalam Hamlet.”
Dominic berdiri dari kursi, berjalan mendekati meja belajar lamaku, dan mengambil fotoku bersama Dad yang dibingkai dengan pigura biru. Seulas senyum tertata di bibirnya. Tetapi detik berikutnya, senyuman itu menghilang tanpa jejak. Meninggalkan wajah yang diliputi ketegangan dan kemarahan. Dalam sekejap, aku merasa tidak mengenali Dominic.
“Aku tidak menemukan posisi yang cocok untuk Tuan Black, juga Tuan dan Nyonya Johnson dalam Hamlet, meskipun pada kenyataannya mereka tampak selaras dengan kisah Claudius, Raja Lama, dan Gertrude,” gumam Dominic. “Tetapi lucunya, dalam kacamata Victoria sebagai Ophelia, kau mendapat peran ganda.”
Aku semakin tidak mengerti. “Apa maksudmu, Dominic?”
Kulihat dia meletakkan fotoku ke tempat semula sebelum berbalik untuk menatapku. “Victoria memberikan kebebasan padamu untuk memilih. Menjadi Laertes atau Hamlet. Keduanya memiliki akhir dan kepedulian yang sama untuk Ophelia. Jadi, mana yang akan kau pilih?”
Pernyataan macam apa itu? Selamanya aku hanya menjadi Aiden Johnson. Aku tidak pernah menganggap Victoria termasuk dalam hubungan keluarga dan sangat mustahil menjadikannya salah satu bagian dari hatiku. Bahkan jika diukur dari sikapku kepadanya, aku tidak akan pernah termasuk di antara Hamlet maupun Laertes.
“Tidurlah, Aiden. Kau tidak bisa menghadiri upacara pemakamannya jika kesehatanmu sangat meragukan,” ujar Dominic sambil melangkah pelan menuju pintu dan membukanya. “Maaf sudah mengganggumu.”
“Tunggu, Dominic!” Aku tidak bermaksud mencegahnya. Tetapi teriakan ini benar-benar refleks kulakukan.
“Ya?”
“Jika semua perkataanmu benar, apa kau mendapatkan peran di dalamnya?”
Dominic mengatur senyumnya, mendongak sebentar, kemudian menatapku. “Hamlet. Dia memberikanku peran itu, Aiden. Lelaki yang tergila-gila pada Ophelia.”
__ADS_1