Marine Snow

Marine Snow
Ep. 02 : Partner


__ADS_3

“Kau sangat hebat, Aiden!” seru pria dengan rambut spike yang bersandar di ujung meja kerjaku. “Aku mungkin tidak bisa membuat wajah Lincoln menjadi selucu itu. Apa kau lihat bagaimana ekspresinya, Nate?”


Seorang wanita yang duduk di seberangku mengangguk. “Tentu saja. Kau sendiri yang mengatakan padaku jika Tuan Lincoln akan membuat ekspresi yang unik, Dom. Bagaimana aku bisa tidak datang?”


Dominic Miller, pria yang bersandar di meja kerjaku, tertawa riang. Sudah bertahun-tahun aku berusaha untuk beradaptasi dengan tawa sumbangnya. Sayang, semua usahaku kandas dan sekarang, aku hanya memiliki usaha preventif. Menyumbat telinga dengan kedua tanganku atau permisi ke kamar mandi.


“Nate sayang, aku mengatakannya karena keyakinanku pada Aiden sangat tinggi. Bukankah kita sudah melihat bukti-buktinya? Semua kasus yang ditangani Aiden sukses besar dan berakhir dengan ekspresi lucu dari tersangka. Ini sungguh menyenangkan!”


Natalie Carter ─Dominic lebih sering memanggilnya Nate- menatapku seolah meminta persetujuan untuk berbicara. Dia selalu melakukannya. Seolah-olah, setiap perbuatannya diharuskan memiliki ijin dariku sebagai seseorang dengan pangkat lebih tinggi.


Seandainya dia tahu jika aku tidak peduli, pasti sekarang dia akan meringkus mulut Dominic yang selalu mengeluh-eluhkan namaku. Pasti.


“Benar. Sangat menyenangkan,” ujar Natalie pada akhir kediamannya. Wanita itu memaksakan sebuah senyuman untukku dan satu yang tulus untuk Dominic. “Tidakkah kau ingin menjadi Jaksa, Dom? Kupikir hal itu juga sama menyenangkannya.”


Dasar wanita.


“Aiden, bagaimana menurutmu?”


Aku tahu, saat ini Dominic sedang menatapku. Wajahnya yang terlalu banyak tersenyum itu membentuk raut ingin tahu. Sekali lagi, aku tidak peduli. Kesalahan besar jika wanita sejenis Natalie Carter berusaha mengintimidasiku dengan cara rendahan seperti ini.


“Kau pasti akan setuju dengan Nate,” ujar Dominic lagi. “Tetapi aku tidak bisa. Jaksa Penuntut Umum bukanlah posisi yang dapat dianggap enteng. Butuh banyak pengalaman dalam menyampaikan pendapat dan menyudutkan tersangka. Aku tidak bisa melampaui Aiden.”


Kurasa aku tidak perlu menjelaskan situasi Dominic. Pria itu memang selalu pesimis pada dirinya sendiri dan berharap telalu tinggi padaku. Terkadang aku tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Dalam sehari, dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat menyebalkan ─seperti saat ini. Di hari atau jam lainnya, Dominic Miller mendadak memiliki otak setajam belati.


Kejadian yang tidak pernah kulupakan tentang kebiasaan pria bermata coklat terang itu adalah rutinitas ‘mendukung’ di setiap persidanganku. Seperti yang dilakukannya beberapa jam yang lalu. Meneriaki namaku, melambai-lambaikan tangan kepadaku, sesekali bersorak riang jika aku melempar kartu As ke hadapan semua elemen pengadilan, dan berakhir dengan diseret paksa keluar dari ruang persidangan. Harus kuakui bahwa kebiasaan Dominic Miller sangat mengganggu. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa pun untuk menghentikannya.


Itulah karmaku.


Aku tidak bisa menyingkirkan nama Dominic Miller dari kehidupanku. Apalagi setelah melihat bagaimana kecakapannya dalam menguak rahasia-rahasia yang coba disembunyikan oleh tersangka. Aku membutuhkannya dalam tim ini. Karena alasan itulah Natalie membenciku. Aku memanfaatkan Dominic Miller.


Dominic masih saja berbicara tentang semua kehebatanku yang pasti dianggap angin lalu oleh Natalie. Aku sendiri hampir bosan mendengarnya. Jadi, saat ini, kucoba menerbangkan ingatanku ke lobby Tennessee Supreme Court dua tahun yang lalu. Tepat saat Helga menyapa kami ─aku dan Dominic, lalu menyebut kami sebagai duo dengan ikatan tak kasat mata.


Sahabat.


Saat itu ─bahkan sampai sekarang- aku tidak terlalu peduli bagaimana pendapat orang lain tentang kami. Aku membutuhkan Dominic Miller. Dan sebatas observasiku selama ini, dia juga membutuhkan kehadiranku. Bukan dalam arti hubungan tak lazim yang pernah dituduhkan Natalie pada kami. Gay. Big no! Aku lebih memilih menjadi sahabat seorang Dominic Miller daripada terjun ke dunia antah berantah itu.


“… Nate, kau harus paham betapa mengagumkannya Aiden Johnson. Bukankah kau seorang wanita?”


Aku ingin segera pergi dari sini. Pola pikir Dominic sudah cukup menyiksaku. Dan sekarang, aku sedang tidak ingin berhadapan dengan wajah merah padam Natalie.


“Aku memang seorang wanita, Dom! Asal kau tahu, wanita masih memiliki hak untuk memilih pria yang menurutnya pantas, meskipun populasi pria lebih sedikit daripada wanita! Itu masalahku! Pria tidak perlu mencampuri urusan wanita dalam memilih pria! Kami memiliki hak! Mengerti?!”


Usaha pelarianku gagal. Natalie terlanjur berdiri dari kursinya dan menghalangi pintu. Tujuannya agar Dominic tidak bisa kabur sehingga dapat mempertanggungjawabkan konsekuensi atas ucapannya. Namun aku tahu, Natalie juga tidak akan membiarkanku pergi. Ini masalah antara wanita dan pria. Tentu saja aku termasuk di dalamnya.

__ADS_1


Aku adalah seorang pria.


***


Aku hampir mencapai Scene keempat Act pertama dari buku usang pemberian Dad ketika tersadar bahwa pintu lift untuk lantai 5 telah terbuka. Hamlet. Naskah drama karya William Shakespeare yang ditulis di akhir abad 15. Bahasa yang digunakan memang membingungkan. Terutama bagiku yang saat itu baru saja masuk ke Memphis University School. Aku hampir tidak mengerti setengah dari isi buku itu.


“Why, what should be the fear?I do not set my life at a pin's fee; And for my soul, what can it do to that, Being a thing immortal as itself?”


Bergumam. Berusaha mendalami sosok Hamlet. Aku tidak tahu mengapa dua hal itu selalu terjadi ketika Hamlet sedang berada di tanganku, menari-nari di mataku, dan bermain di otakku. Mungkin karena aku terlalu menyukainya. Dan bisa saja, karena efek persuasif dari Dad. Hamlet adalah karya Shakespeare di urutan teratas. Aku sangat ingat bagaimana ekspresi Dad saat mengatakan kalimat itu.


Tidak banyak yang setuju dengan pendapatku dan Dad. Terutama orang-orang di sekelilingku. Dominic selalu menutup telinga ketika salah satu sajak Hamlet kubacakan. Biasanya, dia juga melarikan diri. Sikapnya itu segera dicontoh oleh Natalie Carter. Wanita itu pasti telah menemukan alasan lain tentang mengapa aku harus dibenci dan dijauhi.


Karena aku membaca Hamlet. Konyol, bukan?


Setelah berjalan melalui lorong di sisi kanan lift, lalu berbelok ke kiri, aku berhenti tepat di depan pintu apartemenku. Password telah kumasukkan dan bunyi lonceng terdengar sekali, tanda pintu telah terbuka. Pantofel yang sudah melekat selama 9 jam di kakiku dalam seharian ini, segera kulepas dan kuletakkan di rak sepatu di sisi kiri pintu. Beberapa detik setelahnya, aku melangkah dengan menggunakan selop hitam pemberian Dominic di ulang tahunku yang lalu.


Hidungku mengendus. Pizza. Aku tidak mungkin salah mengenali aroma khasnya. Terutama karena Dominic sering kali memakan makanan siap saji itu. Dia tidak pernah membuatnya sendiri. Dapur bukanlah sahabatnya, melainkan aku. Benar. Akulah satu-satunya sahabat Dominic Miller.


Aku memutuskan untuk pergi ke dapur. Kututup Hamlet, lalu memasukkannya ke dalam tas kerjaku yang hampir berbentuk persegi sempurna. Ada sebuah tempat khusus untuknya, ritsleting panjang di saf kedua. Hamlet akan aman di sana. Tidak tercampur dengan berkas-berkas kasus yang kubawa pulang atau tidak tertinggal di apartemen. Aku tidak dapat bertahan dalam jam kosong tanpa Hamlet.


“Oh, kau sudah pulang? Aku tidak mendengar suara pintu.”


Tidak berniat menjawab, aku berjalan ke meja makan dan melihat apa yang ada di atasnya. Tidak ada apa pun di atas meja. Seharusnya aku tahu, ini Kamis. Salah satu dari dua hari dalam seminggu yang selalu menurunkan nafsu makan malamku. Karena hari Kamis dan Minggu adalah giliran Dominic membuat makan malam.


Aku berkata sambil meletakkan tas kerjaku di atas meja. Setelah berbalik, satu lirikan kulemparkan untuk pria yang mengenakan kaos oblong hitam dan celana piyama bergaris merah itu. Senyuman lebar kudapatkan sebagai jawaban. Dia bahkan mengacuhkanku, beralih pada microwave di belakangnya, dan mengeluarkan pizza berukuran sedang dari sana.


Dominic tersenyum lagi. “Sebaiknya kau tidak mengeluh, Aiden. Kau sangat tahu jika aku tidak bisa beradaptasi dengan dapur.”


Bola mataku mengikuti sosok tinggi itu keluar dari dapur kecil, kemudian berjalan melewatiku. Aroma pizza turut mengikuti setiap langkahnya. Tidak butuh waktu lama untuk menggeser posisi tas kerjaku dan menggantinya dengan pizza yang telah dihangatkan.


“Kali ini aku memesan pizza dengan topping kesukaanmu, beef. Tidak ada jamur dalam topping-nya. Aku berani bersumpah,” katanya lagi.


“Aku percaya,” ucapku sambil melirik sinis ke arah makanan tak sehat yang sebentar lagi akan masuk ke dalam tubuhku. Kulihat Dominic menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia menginginkan pengakuan atas hasil kerja kerasnya. “Bukankah kau sudah tahu jika aku menghindari junk food? Dan kebetulan sekali, pizza ada di dalam kategori itu.”


“Ayolah, Aiden!”


Dominic memaksaku duduk di salah satu dari dua kursi kayu dengan bantalan hitam empuk. Setelah melalui sedikit adegan gulat, dia duduk di hadapanku dan mengambil sepotong pizza. “Aku tidak bisa memasak.”


“Aku tahu.”


“Aku tidak sepertimu yang bisa melakukan semua hal, Aiden. Dan aku tidak menyukai makanan lain selain masakan buatanmu dan pizza.” Dia menggigit ujung pizza-nya, mengunyah cepat, lalu menelannya. “Kurasa aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali. Mengapa kau belum paham juga?”


“Kupikir kau bisa berubah,” jawabku singkat.

__ADS_1


Perutku yang kosong memaksa otot-otot tanganku untuk mengambil seiris pizza dan menjejalkannya ke dalam mulut. Wajah Dominic berubah menjadi cerah. Dia lantas menguliahiku tentang junk food. Mulai dari inovasi rasa, bentuk, dan kualitas. Aku tidak terlalu paham dengan ucapannya. Tetapi yang kutahu, rasa pizza ini enak.


“Kau ingin mengatakan sesuatu, Aiden?” tanya Dominic ketika aku akan menggigit potongan pizza keduaku.


Mendengar pertanyaannya, sontak aku berhenti. Aku tidak ingin terlihat konyol dengan tersedak, lalu terbatuk-batuk seperti yang biasa terjadi pada pemain film akibat pertanyaan mendadak. “Ini enak,” jawabku jujur.


Dia tertawa lebar, lalu mulai mencondongkan tubuhnya ke depan. “Akhirnya kau mengakui kalau pizza memang enak! Kurasa dua tahun sudah cukup untuk membuatmu berubah pikiran.”


“Ya. Sudah dua tahun kita tinggal di Nashville,” gumamku sambil meletakkan kembali potongan junk food ke atas piring. Otakku memutarkan potongan kejadian dua tahun silam. Aku bahkan bisa memunculkan sensasi berat tas ransel hijau besar yang kugunakan saat itu. Juga wajah Dominic yang merah padam.


Pria di hadapanku tidak merespon. Dia terlalu asyik mengunyah makanan kesukaannya sambil menatap balkon apartemen yang berjarak tiga langkah dari meja makan. Terkadang, aku berpikir betapa strategisnya posisi meja makan ini. Kami selalu bisa melihat langit hitam legam Nashville. Sangat indah, meskipun tidak selalu ada bintang.


“Kau ingin bertanya padaku?” Dominic menggeser rahangnya hingga setengah wajahnya menghadapku. “Tanyakan saja, Aiden. Aku akan menjawabnya kali ini.”


Dia mengenalku dengan baik. Memang, sudah lama aku penasaran dengan alasan wajah memerahnya. “Apa sesuatu terjadi saat itu?”


“Ya,” ujarnya. Kulihat dia telah memusatkan seluruh perhatiannya kepadaku. Kedua alisnya terangkat, kemudian Dominic mulai berbicara. “Mom marah besar ketika aku meminta ijin agar bisa pergi denganmu ke Nashville. Dan kau tahu bagaimana Mom.”


Overprotective, terkadang temperamental, dan cenderung memiliki pola pikir kuno. Pertama kali aku bertemu dengan Cindy Miller adalah ketika mengantarkan buku catatan Dominic yang tertinggal di rumahku ─dulu kami memang sering mengerjakan tugas bersama. Awalnya wanita itu menyambutku dengan ramah. Tetapi ketika aku memperkenalkan diri sebagai Aiden Johnson, dia mulai mengatakan hal-hal tidak penting.


“Mom selalu meremehkanmu, Aiden. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana kejamnya dia ketika memaki. Saat itu aku membelamu dan dia menamparku. Aku melakukan hal yang benar dengan marah kepadanya. Lalu aku mengikutimu dan tidak menyesal sama sekali.”


Ucapannya benar-benar telah menjelaskan alasan wajah merah padamnya. Dominic yang marah memang selalu berubah menjadi merah. Bukan hijau seperti Hulk. “Dominic, kurasa kau melakukan sebuah kesalahan.”


Tangannya berhenti menggapai pizza. “Apa kesalahanku? Marah pada Mom?”


“Bukan. Tapi kau tahu kalau aku melarikan diri dari rumah. Jika kau ingin mengikutiku, seharusnya kau melakukannya tanpa meminta ijin kepada Nyonya Miller. Itu menyalahi aturan.”


Tawa Dominic kembali pecah. Akhirnya dia mengambil potongan pizza, membiarkannya tergantung di udara, dan melanjutkan tawa sumbang memuakkan itu. “Aturan? Sejak kapan kabur dari rumah memiliki peraturan, Aiden? Kau sangat lucu! Lagi pula aku tidak kabur dari rumah. Aku hanya mengikuti jejakmu agar sukses.”


Kami saling melemparkan argumen setelah ucapan itu. Dominic bertahan dengan pendapatnya tentang melarikan diri dari rumah tidak memiliki aturan. Sedangkan aku mendukung sisi lainnya. Adu argumen itu berlangsung sampai punggungku terasa sakit dan jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tetapi kami belum menyerah.


“Tidak akan pernah ada pasal untuk tindakan melarikan diri, Aiden. Hukum tidak mau mengaturnya.”


“Memang tidak ada aturan tertulis tentangnya. Tetapi jika kau ingin melakukan─” Aku berhenti sejenak ketika jemari Dominic menggapai pizza terakhir dan melahapnya. Sontak perutku berteriak. “Hei! Bukankah itu pizza-ku?! Mengapa kau memakan lima dan aku hanya satu?!”


Sial!


Aku selalu kehilangan nafsu makan setiap malam di hari Kamis dan Minggu. Juga kendali atas tubuhku. Hanya karena pizza kesukaan Dominic, semua omong kosong, dan kelakuannya. Aku pernah mengatakannya, bukan?


Dominic Miller adalah pria yang sangat menjengkelkan.


***

__ADS_1


__ADS_2