Marine Snow

Marine Snow
Ep. 8 : Rumah Duka


__ADS_3

Di sepanjang sisa perjalanan, aku terdiam. Tidak berminat melihat atau menghitung banyaknya perubahan yang terjadi di tempat ini. Semakin cepat laju taksi, semakin tipis oksigen yang dikonsumsi otakku. Keadaan yang buruk. Dengan seluruh tubuh yang hampir tidak dapat bekerja sama, rasanya sangat mustahil untuk menghadapi rumah bercat putih di Alexander street itu. Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku tidak memiliki rencana.


Beberapa menit kemudian, aku mencoba meringankan beban dalam pikiranku dengan membaca Hamlet. Aku sudah menyelesaikan Scene IV dan V beberapa hari yang lalu. Sekarang, awal dari Act II sudah kubuka. Tanpa membacanya, otakku sudah lebih dahulu memunculkan garis besar dari cerita itu.


Bertempat di salah satu ruangan dalam rumah Polonius, pria dengan dua anak itu sedang memberikan tugas pada pelayan setianya, Reynaldo. Mengantarkan uang dan sebuah catatan untuk anak pertamanya, Laertes, yang ada di Prancis. Tak lama setelah Reynaldo pergi, Ophelia, anak perempuan Polonius, datang sambil mengatakan bahwa dia tengah ketakutan.


Hamlet datang ke ruangan perempuan itu dengan keadaan kacau. Wajahnya pucat, tidak ada topi yang biasa dikenakannya, kaus kakinya kotor dan melorot hingga ke pergelangan kakinya. Ophelia tidak pernah melihat Hamlet bertingkah seperti itu sebelumnya. Yang semakin mengejutkan gadis itu adalah ketika Hamlet mengunci pergelangan tangannya, mengangguk tiga kali, lalu mendesah sedalam mungkin agar kesedihan dalam hati pria itu keluar.


“Apa kau yakin, kau baik-baik saja? Wajahmu semakin pucat sejak terbangun.”


Aku menutup Hamlet, mendongakkan kepalaku, dan menatap pantulan wajahku dalam spion kecil yang ada di dalam taksi. Perkataan Dominic benar. Tidak ada yang bisa menyangkal kekuatan Tuhan dalam tubuh manusia, gumamku agak kesal. Sekarang, aku tidak bisa berbohong bahwa aku baik-baik saja.


Dominic mendengus beberapa detik kemudian. “Aku sudah mengirim pesan kepada Nyonya Johnson bahwa kau sakit dan butuh bantuan Dr. Hawkins secepatnya. Dokter keluargamu itu pasti sedang dalam perjalanan atau bisa jadi dia sekarang duduk di ruang tengah dan menunggu kedatanganmu.”


Waktuku untuk berpikir dan menata ekspresi semakin sempit ketika taksi yang kami tumpangi memasuki Joffre Avenue. Ingatanku tentang jalan yang sangat dekat dengan rumahku itu bergerak cepat. Aku sering menghabiskan waktu dengan bersepeda dan beradu lari dengan Dad dan Dominic di sana. Kami melakukannya setiap pagi di hari-hari libur.


Sang Sopir membelokkan taksi seperti arahan Dominic. Alexander Street. Kecepatan taksi semakin menurun saat pria di sampingku mengatakan ciri-ciri rumahku. Cat putih, pintu berpola bunga matahari dalam vas di tengahnya, juga cerobong asap di sayap kiri. Sang Sopir mengangguk-angguk, lalu mendengus lega. Dia menemukannya.


“211C, Alexander Street, Memphis,” ucapnya. “Perjalanan yang cukup panjang dan menegangkan, Tuan.”


Dominic tertawa renyah sambil menyerahkan ongkos jasa taksi kepada Sang Sopir. “Terima kasih, Joseph. Kuharap kau tidak menceritakan penculikan yang sedang kulakukan.”


Sambil menerima bayarannya, Joseph entah siapa, mengangguk mantap. “Jika ini dilakukan demi kebaikan Tuan Johnson, mulutku akan tetap terkunci.”


Wow. Aku tidak menyangka, Dominic berkomplot dengan sopir taksi hanya untuk membawaku pulang. Dia benar-benar keterlaluan. Bagaimanapun caranya, aku pasti akan membalas setiap detail kelakuan sok tahu-nya itu secepatnya. Tetapi bukan sekarang. Nanti, setelah aku berhasil melewati rumah itu dengan segala kejadian dan kenangan yang ada di dalamnya.


“Ayo keluar, Aiden,” tutur Dominic pelan. Setelah menghela nafas dalam-dalam, dia melanjutkan. “Kau tidak ingin membuat Victoria menunggu terlalu lama, bukan?”


Dengan berakhirnya ucapan Dominic dan perdebatan di dalam benakku, tubuhku bergerak. Sepatu pantofelku menginjak aspal Alexander Street yang sudah 2 tahun tidak kutapaki ketika Dominic mengambil tas kerjaku dan ranselnya di bagasi. Angin musim gugur Memphis kembali menerpa wajahku, menyapa, sekaligus mengingatkanku pada pertemuan pertamaku dengan Victoria Black, 11 tahun yang lalu.


Kini, taksi Joseph mulai berjalan menjauh dari tempatku berdiri. Aku melihatnya berbelok dan menghilang di persimpangan antara Alexander Street dan Central Avenue. Aku lantas berpikir, sekarang, tidak ada yang bisa membuatku kembali ke zona nyaman dan amanku di Nashville.

__ADS_1


Sudah terlalu terlambat untuk kembali, Aiden.


“Aiden? Kaukah itu?”


Suara berat setengah serak itu membuatku menoleh. Aku menatap sosok jangkung dan kekar yang berdiri beberapa langkah dari pintu rumahku yang terbuka, dengan segala kebencian yang kupunya. Pria itu melakukan kesalahan besar di masa laluku. Dan sekarang, lihat yang dilakukannya! Apa dia sedang mencoba melucu dengan menyambut kedatanganku?


“Oh, selamat siang, Tuan Black!” Dominic berlari kecil melewati halaman rumahku yang hampir tertutup dedaunan berwarna coklat dan segera menjabat tangan David Black. “Saya turut berduka cita,” gumamnya kemudian.


David, pria itu, tersenyum masam. “Terima kasih, Dom. Terima kasih juga karena telah membawa Aiden kembali.”


Dominic menoleh ke arahku yang masih berdiri di pinggir jalan. “Tak masalah, Tuan Black. Aiden memang harus kembali ke Memphis secepatnya. Dia masih belum sadar jika dia membutuhkan ‘rumah’.”


“Terima kasih, Dom. Terima kasih banyak. Aku berhutang kepadamu,” ujar David sambil menatapku. Pria itu lantas mengalihkan pandangan ke Dominic, menepuk bahunya, dan berusaha tersenyum. “Kau bisa masuk ke dalam dan menemui Victoria. Kuyakin dia akan senang saat melihatmu.”


Sebelum melangkah memasuki rumahku, Dominic memberikan kode agar aku segera menyusul. Aku merespon dengan mendengus, dan mau tidak mau, melangkah mendekati rumah. David menghentikan langkahku dengan berdiri menutupi pintu. Untuk yang kesekian kalinya, aku berdecak di hadapannya.


“Terima kasih,” ucapnya. “Shofia dan Victoria pasti akan senang dengan kepulanganmu.”


Aku hendak melangkah ketika pria itu kembali memanggilku. “Aiden, bukankah aku sudah menjelaskan alasanku menikah dengan ibumu? Seharusnya kau bisa memaklum─”


“Apa menurutmu alasan bahwa Dad memintamu menjadi pengganti bagi Shofia, dapat kuterima begitu saja?!” potongku cepat.


Demi menghindari ledakan emosi, kukepalkan kedua tanganku. Otakku ─dengan segala kaidah rasional yang dimilikinya- mengatakan, bertengkar dengan pria tak tahu diri ini tidak akan membuahkan hasil. Tenagaku hanya akan terkuras habis dan tidak ada yang akan berubah.


“Aiden, bisakah kita setidakny─”


“Kita sudah membicarakan hal ini berkali-kali, Black. Dan berpuaslah dengan status orang asing yang kuberikan.”


Aku mendengar dengusan pelannya. Karena tak ingin membentuk percakapan hambar lainnya, aku menerobos masuk ke dalam rumah. Ruang tengah yang dipenuhi beberapa orang dengan wajah yang tak kukenal, tidak mempengaruhiku sama sekali. Mungkin lebih tepatnya jika dikatakan bahwa aku mengacuhkan mereka. Kepalaku kembali berdenyut menyakitkan dan aku ingin segera bertemu dengan Dr. Hawkins agar dapat meminta ─minimal- obat sakit kepala.


“Aiden?”

__ADS_1


Seorang wanita berdiri dan memisahkan diri dari kerumunan orang-orang yang tidak kukenal. Seluruh pakaiannya berwarna hitam, termasuk anting dan gelang yang dipakainya. Aku hampir menyangka dia akan pergi ke pesta anak ghotic, jika mata sembabnya tak tertangkap oleh retinaku.


“Hai, Shofia,” sapaku. Lidahku terlalu kelu untuk mengucapkan hal lainnya seperti menanyakan kabar, apa yang sudah terjadi, dan mengapa semua ini terlihat sangat tidak realistis.


Shofia berjalan ke arahku dengan terseok-seok, lalu memelukku erat. “Terima kasih, Tuhan. Engkau mengabulkan doaku.”


Beberapa detik kemudian, wanita itu menangis. Semua orang yang ada di ruang tengah menatapku. Membuatku merasa tidak punya pilihan lain selain mencoba menenangkannya. Dengan pelan, aku menepuk-nepuk punggungnya. Di saat itulah aku menyadari satu kejanggalan. Shofia lebih kurus dan rapuh dari yang selama ini kuingat.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya sesaat setelah tangisannya mereda. “Dr. Hawkins akan datang satu jam lagi. Urusannya di rumah sakit tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Apa kau akan baik-baik saja dengan keadaan itu?”


Aku mengangguk sambil melepaskan pelukannya. “Ya.”


Shofia mengusap jejak air matanya dan berusaha tersenyum seperti yang dilakukan David. “Victoria ada di dalam kamarnya. Kau ingin bertemu dengannya, bukan?”


“Ya, aku akan ke sana.”


Kutinggalkan wanita dengan rambut tembaga itu untuk menuju ke kamar Victoria yang berada di samping ruang tengah, berhadapan dengan kamar lamaku. Pintu kamarnya terbuka lebar. Aku bisa melihat Dominic duduk di ujung ranjang Victoria sambil mengatur pernafasannya. Ranselnya dan tas kerjaku diletakkan di kaki ranjang, tepat di sisi kirinya.


“Aku bisa pergi jika kau memerlukan privasi dengannya,” ucap Dominic pelan.


“Tidak perlu.”


Kakiku sudah melangkah masuk dan berhenti setelah iris biruku menangkap sosok Victoria Black yang tertidur di atas ranjangnya. Dia mengenakan blouse beludru hitam lusuh yang selalu kuhina karena modelnya ketinggalan zaman. Lalu dress putih tulang selutut dengan renda mengelilingi ujungnya. Aku juga pernah mengejek pakaian itu.


Aku berdecak sebelum berjalan mendekatinya. “Apa kau ingin mendengar ejekanku, huh?”


Victoria mempertahankan wajah damai dalam tidurnya. Tidak ada sorot kelabu yang balas menatap tajam. Tidak ada satu paragraf pembelaan diri atas kesalahannya. Tidak ada senyum mengejek yang sangat menyebalkan. Tidak ada yang tersisa. Semua itu telah tersegel dalam satu ekspresi kelegaan di wajahnya.


“Baik, jika itu yang kau inginkan. Jangan sampai aku melihat air matamu setelah aku melakukannya.”


Setelah jeda beberapa detik, suaraku kembali terdengar. Tetapi aku merasa tidak sepenuhnya memegang kendali. Iblis itu terlepas dari belenggunya.

__ADS_1


“Apa kau sudah gila?! Berani-beraninya kau melakukan cara licik seperti ini untuk membawaku kembali ke tempat ini! Dan selamat! Kau berhasil, V! Tetapi bukan berarti kau bisa memutuskan segala hal di tanganmu! Apa kau ingin mempermalukan kakakmu di hadapan Tuhan dengan menggunakan pakaian kunomu itu?! Di mana otakmu, Victoria Black?!”


__ADS_2