Marine Snow

Marine Snow
Ep. 6 : Pagi Terburuk


__ADS_3

Aku terbangun tepat satu menit sebelum alarm pukul 7 pagiku menyala. Setelah merapikan tempat tidur, aku beranjak ke dekat jendela lalu menyibak tirai. Kubiarkan cahaya mentari menerpa tubuhku untuk beberapa menit. Ini kegiatan yang menyenangkan. Hangat dan damai. Terlebih karena Dominic tidak ada di sini.


“Ouch!”


Sudut bibir kiriku sakit. Lebih tepatnya lagi, robek. Penyebabnya adalah kejadian semalam. Beruntung, kemarin aku segera mengobati dan mengompresnya. Jika tidak, pagi ini aku akan memilih untuk tidak bekerja. Reputasi sebagai JPU yang tak ramah sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin menambahkan ‘dan suka berkelahi’ di belakangnya.


Kurapikan rambutku dengan jemari sebelum tersadar bahwa aku harus segera mandi dan mencuci rambut. Perlahan, kakiku melangkah memasuki kamar mandi dan kuntaskan semua keperluanku di dalam sana. Lima belas menit kemudian, aku keluar menggunakan bathrobe yang segera kuganti dengan kemeja putih, jas dan celana biru dongker, serta dasi biru laut.


“Bagus,” gumamku saat mematut diri dalam cermin.


Ada sisa 30 menit sebelum berangkat ke Tennessee Supreme Court. Sebaiknya kugunakan untuk sarapan dan mendengar berita pagi. Kini, berjalan menuju dapur terasa sangat berat. Terlebih ketika mengingat tempat itu adalah tempat Dominic hampir menghajarku semalam.


“Keluargamu adalah keluargaku juga, Aiden! Mengapa kau tidak bisa mengerti?!”


Suara Dominic menggema di setiap sudut dapur seolah memintaku untuk mengingat seluruh runtutan kejadian kemarin malam. Berita kematian Victoria Black, tubuhku yang membeku, Dominic yang segera berlari ke dalam kamarnya dan mengambil seluruh barang yang diperlukan, juga sebuah ajakan yang kutolak.


Ajakan itulah yang memicu sebuah pukulan keras tepat di pipi kiriku.


“Bagaimana kau bisa tetap tidak peduli pada Victoria hingga di akhir kehidupannya?! Kau adalah kakaknya, Aiden! Pulanglah bersamaku sekarang, atau susul aku besok! Ini kesempatan terakhirmu untuk meminta maaf dan bertemu dengannya! Jangan membuat penyesalanmu menjadi semakin buruk dengan tidak pulang ke Memphis!”


Dominic mengatakannya dengan wajah merah padam yang sama seperti dua tahun yang lalu. Aku ingat jawaban yang kuberikan tetap tidak. Kemudian, dia pergi dengan ransel hitamnya, meninggalkan kunci Mazda miliknya agar bisa kugunakan untuk pergi ke tempat itu jika keputusanku berubah. Dan hal itu tidak akan terjadi.

__ADS_1


Menyeretku kembali ke neraka itu tidak akan mudah.


Tak sadar, aku sudah berada di dapur, tepatnya di depan toaster dan beberapa potongan roti. Segera kumasukkan dua potong roti ke dalam toaster, menekan tombolnya, lalu menunggu tiga menit. Aku mencoba untuk tidak memikirkan apa pun selama menunggu. Tetapi hal itu sangat sulit kulakukan. Aku adalah pemikir sejati.


Ucapan Dominic, kematian Victoria, dan egoku bertempur hebat hingga kepalaku pening.


“Ck! Apa yang harus kulakukan?”


Bunyi tanda toaster telah melakukan tugasnya terdengar bersamaan dengan dering ponselku. Setelah mengangkat roti panggang dari toaster dan meletakkannya di piring, kuambil ponsel yang kuletakkan di meja makan. Natalie Carter. Nama itu tercetak di layar dan aku segera menerima teleponnya. Pasti ada urusan mendadak yang mengakibatkan Natalie menelponku sepagi ini.


“Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?” tanyaku langsung pada topiknya.


Hanya ada satu kalimat yang kuteriakkan di dalam hati. Stupid bastard! Aku tidak akan melepaskannya kali ini.


“Natalie, aku tetap masuk. Robek surat ijin cuti itu untukku. Kita akan bertemu setengah jam lagi.”


Segera kuputus sambungan telepon kami, lalu beranjak mengambil roti bakar serta selai kacang yang ada di lemari pendingin. Setelah kembali ke meja makan, aku menyatukan dua paduan sarapan pagi yang kusukai dan memakannya dengan lahap. Kurasa aku masih punya 5 menit sebelum turun ke bawah.


“Sudah saatnya,” kataku sambil bangkit membersihkan sisa sarapanku. Tas kerjaku sudah siap di atas sofa di ruang tengah. Aku akan mengambilnya nanti.


Kunci Mazda yang tergeletak di atas nakas tempat koran pagi di sisi kiri televisi flat hanya kulirik dengan ekor mataku ketika aku memungut tas kerja. Sama sekali tidak ada keinginan untuk mengambil bahkan menggunakannya. Kali ini Dominic harus diberi sedikit pelajaran. Ini hidupku. Dia tidak bisa membantu. Setidaknya, bersikap sebagai sahabat yang baik tidak akan pernah membuahkan hasil.

__ADS_1


Keluar dari kamar apartemenku, aku melangkah cepat menuju lift. Kutekan tombol ke bawah, kemudian menunggu. Lift itu ada di lantai 8 dan sedang dalam perjalanan turun. Biasanya, setengah menit dibutuhkan untuk turun dari lantai satu ke lantai lainnya. Itu artinya aku harus menunggu sekitar satu setengah menit lagi, paling lambat, dua menit.


“Selamat pagi, Tuan Johnson,” ucap seorang Office Boy bernama Mark White sesaat setelah lift berdenting dan terbuka.


Dia pemuda lugu dengan penampilan yang agak berantakan. Rambutnya hampir tidak pernah disisir, dua kancing teratas seragamnya selalu terbuka, dan ada tato di lengannya. Kedua orang tua Mark meninggalkannya saat berusia 15 tahun untuk pergi ke Kansas. Dia tidak ingin mencari atau kembali pada mereka ─sama sepertiku- dan berniat akan mandiri sebagai wujud amarahnya terhadap mereka.


Aku melangkah masuk. Ketika tanganku terulur untuk menekan tombol lantai Ground, seseorang telah menekannya terlebih dahulu. Dari tangannya yang bertato singa, aku bisa menebak. “Selamat pagi, Mark. Dan terima kasih sudah menekan tombolnya.”


Mark mengibas-ngibaskan tangannya. “Jangan sungkan, Tuan Johnson. Anda dan Tuan Miller sangat baik kepada saya. Bagaimana mungkin saya bisa mengabaikan seorang jaksa yang pernah mengundang saya untuk makan malam?”


Hanya senyum simpul yang kuberikan untuk Mark. Seandainya saja dia tahu, bukan aku yang mengundangnya ─melainkan Dominic- aku bertaruh Mark White akan menempatkanku di daftar hitamnya. Alasannya? Karena aku tidak mengatakan sejujurnya dan malah diam menikmati pujian yang ia berikan.


“Sampai jumpa, Mark,” ujarku saat pintu lift untuk lantai Ground terbuka. Mark menyahut dengan semangat yang berlebihan sebelum mengikuti langkahku keluar lift.


Kami berpisah di sana, di depan lift. Mark menuju belakang gedung sambil sesekali menyapa teman seprofesinya. Sementara itu, aku menuju ke pintu depan dan berharap akan ada taksi yang hilir mudik di sepanjang jalan. Dan benar, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpangnya. Tanganku melambai saat itu juga dan berlari cepat untuk masuk ke dalam taksi.


“Tennessee Supreme Court, Seventh Aven─”


Pintu di sampingku terbuka. Belum sempat aku melancarkan protes keras, seorang pria bermasker masuk ke dalam. Hal yang terjadi setelahnya adalah tubuhku dikunci dan sebuah saputangan menutup hidungku. Rasa sesak menghampiriku tak lama setelah gerakan untuk lepas dari kuncian itu sia-sia. Kepalaku yang terasa benar-benar pening membuatku melupakan cara untuk berpikir tenang dan rasional, serta melihat.


Blackout.

__ADS_1


__ADS_2