
Aku sengaja pulang setengah jam lebih awal untuk mampir ke supermarket. Ada beberapa bahan makanan yang harus kusiapkan untuk makan malam. Daging ayam, lemon, dan terakhir kali kulihat persediaan di lemari pendingin, aku kehabisan Rosemary kering dan tomat.
“Apa yang kau masak kali ini, Aiden?”
Adegan berbelanjaku perlahan menghilang dari pandangan dan digantikan oleh tomat yang hampir tepotong semua. Jarum jam menunjukkan pukul enam lebih empat belas menit ketika kulirik arloji di tangan kiriku. Aku menggeleng pelan. Bagaimana bisa aku teringat pada adegan berbelanja di tengah-tengah acara memasakku?
Baik, aku kembali kehilangan fokus.
“Aiden? Mengapa kau diam saja? Aku sudah sangat kelaparan. Kau tahu, berbicara pada kepolisian Memphis ternyata hampir menguras seluruh tenagaku. Mereka tidak percaya jika kau mengutusku. Karena kau sedang tidak ada di kantor, aku harus membujuk Helga agar dia bisa mengurus kebenaran posisiku di telinga mereka.”
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh. Setelah menemukan sosok Dominic Miller yang duduk tenang di meja makan, kuberikan sorot paling tajam yang mampu diciptakan mataku. Cih. Ini sangat lucu. Beberapa hari yang lalu pria itu memakan jatah makananku, dan sekarang malah merecokiku yang masih saja berbaik hati dengan memasak untuknya.
Dominic membuka mulutnya sambil memandangku dengan tatapan kosong yang aneh. Jujur, itu membuatku merasa tak nyaman. Tetapi Dominic memang selalu begitu. Dia sangat pintar mengubah suasana di sekelilingku sesuai dengan keinginannya ─yang kebanyakan menimbulkan efek buruk untukku. Sehingga, kuputuskan untuk kembali fokus pada masakanku.
“Aiden, apa kau ingat? Kau pernah membuat raut mengerikan itu sebelumnya. Juga di hadapanku,” ucap Dominic sambil terkekeh. Dia tidak berhenti bicara meskipun aku tidak menghiraukannya. “Kau melakukannya setelah aku menarikmu dari tengah jalan.”
Oh, kejadian itu. Otakku melaju cepat dan dalam beberapa detik memunculkan bayang-bayang masa laluku. Musim panas yang kurang beruntung sebelas tahun yang lalu. Penelitianku terhadap perbedaan temperatur di beberapa daerah di Memphis, gagal akibat ulah konyol Dominic. Dia mendorongku hingga menabrak pohon di sisi kanan jalan. Thermometerku pecah dan kepalaku hampir bernasib sama.
Kudengar Dominic masih tertawa. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat itu sehingga ingin bunuh diri dengan cara konyol. Membawa thermometer dan berdiri di tengah jalan? Kau benar-benar gila, Aiden!”
Jangan terpancing, Aiden.
Jangan terpancing..
Aku memperingatkan diriku sendiri. Bermain ‘Ingat masa lalumu’ bersama Dominic merupakan hal yang patut dihindari. Efeknya juga sangat buruk pada tubuhku. Dua hari tidak bekerja akibat panas tinggi yang dipicu adu argumen semalaman tanpa jeda. Sejarah tidak akan pernah mencatat Dominic Miller kelelahan di tengah-tengah adu argumen.
“Haruskah aku ingatkan apa yang kau katakan sesaat setelah kuselamatkan, Aiden?” Dominic lantas menunggu respon yang tidak akan pernah kuberikan. Tetapi dia tidak menunggu terlalu lama, karena bibirnya kembali terbuka. “Baik, akan kuingatkan!”
Dominic melangkah mendekatiku. Ketika aku akan mengambil daging ayam yang ada di lemari pendingin, tubuh tingginya menghalangi. Dia memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil berkacak pinggang. Kedua alisku bertaut dan dengan sekali sentakan aku mencoba menyingkirkan Dominic dari hadapanku.
__ADS_1
“Jangan mengganggu. Duduk dan tunggu saja.”
Dia menggeleng dan kini beranjak menutupi pintu lemari pendingin. “Bukan seperti itu intonasinya, Aiden. Kau berteriak dengan sangat keras. Coba ulangi lagi.”
“Dominic, jangan menguji kesabaranku,” ucapku.
Belum beranjak dari tempatnya, Dominic kembali berkata. “Coba lagi.”
Sekarang, kedua tanganku ikut berpartisipasi dalam menyingkirkan Dominic dari lemari pendingin. Aku mencoba mendorongnya dan dia malah terkekeh. Dasar aneh! “Dominic! Aku hanya ingin mengambil ayam dari sana! Dan jika tidak kulakukan, makan malam ini akan terancam!”
“Usaha yang bagus, Aiden. Tetapi tidak cukup keras. Cob─”
“DOMINIC MILLER! MENYINGKIR DARI SANA ATAU KUDEPAK KAU DARI APARTEMEN MALAM INI JUGA!”
Damn it!
Kekehan Dominic semakin menjadi-jadi. Tubuhnya merosot ke lantai akibat luapan tawa, lalu berguling ke arah meja makan agar aku bisa mengakses lemari pendingin dengan leluasa. Dominic Miller sudah gila. Dan lucunya, aku mengikuti alur permainannya. Itu berarti aku sama dengannya. Aku sudah gila.
Aku berhenti sejenak dari aktivitasku ─memasukkan potongan tomat, kentang, dan lemon ke dalam ayam utuh- untuk menatapnya. “Jika aku menjawab ‘ya’, apa kau akan berhenti dan diam? Kurasa tidak. Jadi berhenti menggangguku, Dominic. Kita sudah cukup terlambat untuk makan malam.”
Dominic terdiam. Sepertinya dia memang kelaparan. Setelah mengunci isian dalam ayam dengan tusuk gigi dan menambahkan potongan kecil tomat serta kentang di sisi-sisinya, kumasukkan calon makan malam kami ke dalam oven. Sekarang, kurang lebih 1 jam lain harus kuhabiskan untuk hal yang berguna. Mungkin aku harus membersihkan dapur, lalu mengambil Hamlet dan membacanya.
“Lemon Grilled Chicken, eh?” tutur Dominic. Kepalaku sedikit menoleh untuk melihat ekspresinya. Dia sedang menopang dagu sambil tersenyum. Sorot matanya menerawang hingga menembus pikiranku. “Apa kau merindukan Tuan Johnson, Aiden?”
Tidak dapat menjawab. Segera kualihkan perhatianku untuk membersihkan sisa-sisa bahan makanan di dapur. Tetapi semua itu sia-sia. Aku kehilangan fokus dan kembali pada topik utama dari tema makan malamku, juga seseorang yang dimaksud Dominic. Seseorang yang memiliki iris biru, rambut dan kulit kecoklatan yang sama sepertiku. Dia Aaron Johnson.
Sambil menatap ayam panggang yang berada di dalam oven, pikiranku berteriak. Benar, aku merindukannya. Aku merindukan sosok Dad yang selalu memasak Lemon Grilled Chicken untukku. Aku merindukan sosok Dad yang selalu mengapresiasi setiap karyaku. Aku merindukan sosok Dad yang selalu menggebu-gebu saat membacakan Hamlet untukku. Aku merindukannya. Sangat merindukannya hingga aku tidak bisa kembali ke rumah.
“Kau harus pulang, Aiden. Hanya itu yang kau butuhkan sekarang. Kasus Lincoln sepertinya menyita kesehatanmu. Belakangan ini kau tampak pucat dan tidak bersemangat.”
__ADS_1
Dominic berkata dengan tenang, hal yang selalu dilakukannya untuk membujukku. Namun tidak akan ada yang terjadi. Aku tetap berada di sini. Di Nashville, tempatku bekerja dan berkembang. Kembali ke Memphis adalah penghianatan bagi Dad. Meskipun itu berarti tidak mengunjungi makamnya.
“Kau harus bertemu dengan keluarg─”
“Tidak!” potongku cepat. “Aku tidak akan menginjakkan kakiku di sana. Mereka bukan keluargaku, Dominic.”
Kudengar Dominic mendengus. “Victoria dan Nyonya Johnson merindukanmu. Aku yakin Tuan Black juga merasakan hal yang sama.”
“Johnson katamu?” Aku tertawa miris. Dominic benar-benar kehilangan akalnya. “Wanita itu sudah tidak berhak menyandang nama Johnson di belakang namanya. Dia Shofia Black, Dominic. Bukan Johnson. Bukan keluargaku. Tolong ingat hal itu.”
“Tidakkah kau takut jika mereka terluka atau semacamnya? Kasus yang kita hadapi sekarang berhubungan dengan organisasi penjahat Memphis. Mereka bisa saj─”
“Sekali tidak, tetap tidak,” ucapku tegas.
Sahabatku itu kembali menopang dagu. Arah pandangannya masih tertuju padaku. Kedua alisnya bertaut menandakan rasa lelah untuk memikirkan rencana selanjutnya. Beberapa detik kemudian, dia menutup mata. “Apakah kau menunggu mereka dalam keadaan bahaya, lalu menyelamatkannya seperti pahlawan kesiangan?”
Aku hendak membalas pertanyaan Dominic ketika ponselku berdering. Deretan nomor dan nama yang tercetak di layar ponsel, sudah kuhafal di luar kepala. Victoria Black, wanita yang berumur tiga tahun lebih muda dariku. Sifat cerewetnya masih terbawa hingga aku melarikan diri dan hidup di Nashville. Dia selalu mengirim beberapa pesan setiap harinya dan seminggu sekali menelponku. Kurasa, malam ini saatnya mendengarkan ocehan tentang murid-murid Sekolah Dasar-nya yang nakal.
Kuterima telepon itu, dan segera bicara. Jika tidak, Victoria akan menerobos tanpa bisa dihentikan. “Night, V. Aku hanya punya waktu beberapa menit sebelum ayam panggangku siap dihidangkan. Jadi, cepatlah.”
Tidak ada suara yang terdengar setelah itu, kecuali helaan nafas teratur seseorang di seberang. Aku kembali memanggil namanya. Berusaha menyadarkan bahwa waktu adalah benda paling berharga di muka bumi ini. Dan aku tidak ingin membuangnya tanpa alasan yang jelas.
“Aiden,” panggil seorang wanita di seberang.
Aku tahu dia bukan Victoria. Dia Shofia Black. Kubiarkan iblis menguasai diriku untuk sesaat. “Mengapa kau tidak menggunakan ponselmu sendiri? Kau ingin menjebakku atau ada usaha lainn─”
“Dengarkan Mom, Aiden! Victoria meninggal dunia sore ini! Kumohon kembalilah ke Memphis untuk upacara terakhirnya! Kumohon, Aiden… Pulanglah.”
Bibirku terkatup rapat. Otot dan otakku tidak bekerja dengan seharusnya sehingga membuat tubuhku membeku dalam beberapa menit kemudian. Sungguh reaksi yang sangat hebat. Bahkan ketika Dominic bertanya tentang apa yang sudah kudengar, aku tidak bisa berkata apa pun.
__ADS_1
Victoria Black, adik tiriku yang menyebalkan, dikabarkan meninggal dunia sore ini.