
Mereka menatapku dengan waspada. Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang mereka gumamkan beberapa menit yang lalu. Tetapi selama aku bekerja di sini, keduanya tidak pernah membahas hal lain selain aku. Ya, itulah satu-satunya topik yang dapat menyatukan mereka. Tidak jarang, mereka berdebat hebat di depanku. Dan aku tidak menyukainya.
“Katakanlah, Aiden. Kasus apa yang akan kita tangani kali ini?” tanya Dominic sambil menyeret kursinya mendekati meja kerjaku.
Aku mendengus kuat. Masih merasa marah akibat pizza yang tidak dia bagi, sehingga membuatku keluar dari apartemen demi makan malam ekstra. Sejak malam itu, empat hari yang lalu, aku sering mengacuhkannya. Terutama ketika Dominic mulai membahas makan malam. Rasanya tak sudi berbagi makanan lagi dengannya.
Segera kusingkirkan makan malam tragis yang berujung perut keroncongan, lalu fokus pada map merah yang terbuka lebar di atas mejaku. “Kasus lanjutan Danielle Lincoln. Detektif Harold mengirimkannya padaku pagi ini. Dia mengutus seseorang ke Memphis kemarin dan mendapatkan hal mengejutkan. Dia bertanya padaku apakah aku juga menemukan fakta ini.”
Natalie terlihat mulai tertarik. Wanita itu merapatkan diri ke meja kerjanya. “Fakta apa yang Detektif Harold ketahui, Tuan Johnson?”
“Organisasi,” jawabku. Sambil mengulang paragraf tentang keterangan dari seorang pencopet bernama Harry Dixon di dalam otak, aku memandang kedua rekanku secara bergantian. “Memphis memiliki organisasi yang menampung para penjahat. Harry Dixon, pencopet, tidak berani mengatakan nama organisasi itu meskipun orang suruhan Detektif Harold telah mengiming-imingi sejumlah uang.”
“Organisasi yang besar?” tanya Dominic.
Aku mengangkat bahu. “Sampai saat ini, kita hanya menyelidiki usaha peminjaman uang Danielle Lincoln. Kurasa ada sesuatu yang bisa kita ambil dari sana. Apa catatan rekening milik Danielle masih ada di dalam arsipmu, Nona Carter?”
“Akan kucari salinannya,” ucap Natalie, kemudian berlalu dan menghilang di balik lemari besar berisi salinan arsip kasus yang kami tangani.
“Kurasa Danielle juga terlibat dalam organisasi itu,” kata Dominic tiba-tiba. Dia tidak menatapku lagi, melainkan beralih ke arah jendela bertirai yang ada di belakangku. “Apa kau ingat jika usahanya pernah redup di tahun 2010? Tetapi, Danielle mampu bertahan hingga tahun ini. Pasti ada suntikan dana dari luar.”
“Organisasi itu yang menyuplai dana bagi Danielle Lincoln hingga akhirnya dia dapat bangkit dan mandiri setengah tahun ini,” sahutku.
Dominic mengangguk. Dia bersandar di punggung kursinya sambil menatap lemari arsip yang diacak-acak Natalie. “Benar. Sebaiknya kita asumsikan seperti itu.”
__ADS_1
Aku tidak membantah. Asumsi seperti itu memang terpikirkan dalam benakku saat membaca berkas yang dikirim Detektif Harold. Apabila organisasi penjahat itu terlibat di dalamnya, masalah ini akan semakin rumit. Aku tidak bisa menjamin semuanya akan terselesaikan dalam sekali pukul.
Terlebih jika organisasi itu benar-benar mengayomi banyak penjahat seperti yang dikatakan Harry Dixon. Itu berarti kami akan menghadapi seluruh penjahat Memphis, dan bisa saja seluruh Tennessee ─Fakta mengungkapkan bahwa Memphis memiliki angka tinggi di bidang kriminal. Kedengarannya berita ini ─jika terbukti- akan menjadi tajuk utama yang akan menyedot perhatian seluruh warga Tennessee. Bahkan Amerika Serikat.
“Ini catatan rekening Danielle Lincoln. Maaf, berkasnya sempat terselip di dalam arsip tahun kemarin,” ujar Natalie sambil meletakkan sebendel kertas di mejaku. Dia lantas kembali berkata. “Apakah Danielle Lincoln akan dituntut dengan tuduhan lain? Maksudku, tuntutan atas bekerja sama dengan organisasi kejahatan.”
Baik Dominic maupun aku, tidak menjawab pertanyaan Natalie. Aku sedang sibuk memilah catatan rekening Danielle Lincoln, sedangkan Dominic tengah menatapku tanpa berkedip. Dia sering melakukannya jika aku sedang serius mengerjakan sesuatu. Inilah salah satu bukti yang mendasari pernyataan Natalie Carter tentang dugaan hubungan kami.
Aku berhenti di halaman kesebelas dari berkas itu. Dengan cepat, bola mataku menyisir bulan-bulan awal hingga akhir dari tahun 2010. Dan hanya menemukan beberapa transaksi mencurigakan. Transaksi pertama dan kedua dilakukan di pertengahan Oktober, selisih dua hari, dari pengirim yang berbeda. Jumlah uang yang ditransfer ke dalam rekening Danielle Lincoln masing-masing berjumlah 50 juta dolar.
Aku menunjukkan penemuanku pada Dominic dan Natalie. “50 juta dolar di pertengahan Oktober. Bagaimana menurut kalian?”
“Jumlah yang sangat besar!” pekik Natalie. Kurasa dia sedang membayangkan uang yang bertumpuk-tumpuk di hadapannya.
Dominic melakukan hal sebaliknya. Dia terdiam beberapa detik sambil memejamkan mata. Kemudian, pria itu bergumam. “Putra Danielle Lincoln mengalami kecelakaan di 20 April dan dinyatakan meninggal dunia tiga hari setelahnya. Hal itu membuatnya shock dan menghentikan bisnis sementara.”
Hingga di pertengahan Oktober.
Rekening Danielle Lincoln yang tertidur, kembali bangun setelah transaksi awal itu. Keluar-masuknya uang tercatat sebanyak 4 kali dengan jumlah total yang kurang dari 100 juta dolar ke 4 rekening yang berbeda. Di akhir tahun 2010, juga tercatat bahwa 4 rekening itu telah menyetorkan sejumlah uang plus bunga. Aku bisa tahu dari jumlah uang yang ditransfer oleh Danielle ke nomor-nomor rekening itu.
Dengan terbayarnya keempat pinjaman itu, Danielle Lincoln dapat melunasi hutang 100 juta dolar-nya. Itu sebabnya, tepat tanggal 31 Desember 2010, 100 juta dolar keluar dari rekeningnya menuju rekening pemasok itu. Dengan kata lain, pemilik rekening itu tidak memungut bunga. Dan bagiku, kenyataan ini sangat aneh.
“Nona Carter, periksa siapa pemilik nomor rekening yang menyetorkan 100 juta dolar ke rekening Danielle Lincoln,” perintahku yang ditanggapi dengan anggukan pelan Natalie. Aku lantas beralih pada Dominic. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”
__ADS_1
“Tentu. Bekerja sama dengan Detektif Harold,” jawab Dominic.
Aku menggeleng. Dia salah kali ini. “Memphis. Aku ingin kau menghubungi Kepolisian Memphis untuk menanyakan dugaan adanya organisasi kejahatan di sana. Dan aku sendiri yang akan menemui Detektif Harold.”
“Mengapa bukan kau yang menghubungi Kepolisian Memphis?”
Sontak, aku mendengus kuat. Seharusnya dia tahu, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan Memphis. Semua tentang Memphis adalah musuh bagiku. Aku sendiri sudah membatasi diri. Setelah persidangan Danielle Lincoln kemarin, tidak akan ada lagi Memphis yang hadir di sekitarku. Dan sepertinya aku harus melakukan pengecualian lagi.
“Pergi, dan hubungi mereka,” kataku sambil menatap Dominic dengan tajam. “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”
Dominic berdiri dari kursinya, ikut mendengus kuat sepertiku, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Memphis adalah masa lalu kita, Aiden. Kau harus belajar menerimanya untuk melangkah ke masa depan.”
“Hanya kau yang memiliki masa depan di Memphis!” Aku tidak akan sadar bahwa teriakanku cukup keras, jika Natalie tidak menoleh cepat ke arahku. Tetapi aku tidak peduli. Dominic yang memulainya.
“Gadis yang kau cintai dan keluargamu ada di sana! Jangan kau pikir aku tidak tahu jika Nyonya Miller mengirim puluhan ribu dolar setiap bulan dalam bentuk cash untukmu! Lalu ada kado Natal dan coklat di hari Valentine dari gadis yang tinggal di tempat itu! Hanya kau yang memiliki masa depan di Memphis! Hanya kau, Dominic Miller!”
Ini kelemahanku. Dominic selalu memiliki cara agar aku teringat pada Memphis dan segala kenangan buruk di sana. Dan tanpa bisa mencegah, aku sering berteriak serta memakinya. Aku tidak keterlaluan. Dominic-lah yang bersikap begitu.
“Baik, terserah kau saja,” ujarnya dengan tenang. Tidak ada emosi di dalamnya. Dominic memang sering merespon teriakanku dengan bersikap acuh. Tetapi aku tahu, dia sedang meredam emosinya sendiri dan berusaha tidak terpancing pada ucapan kasarku.
Natalie dan aku memandang Dominic yang berjalan ke meja kerjanya, memungut tas ransel hitamnya, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum memutuskan untuk keluar, dia berbalik. Secara bergantian, pria yang menggunakan kemeja hijau tua itu menatap kami.
“Memphis adalah rumah kita, Aiden. Kau tidak akan bisa mengubahnya. Dan suatu saat nanti, aku yakin kau akan kembali,” tutur Dominic.
__ADS_1
Aku membatu. Kalimat itu pernah kudengar sebelumnya. Ini seperti Déjà vu. Tidak ada penambahan atau pengurangan di bagian-bagiannya. Bahkan diucapkan dengan ekspresi, emosi, dan situasi yang sama. Namun orang yang mengatakan jauh berbeda.
Kalimat itu milik Victoria Black, adik tiriku.